Pages

Monday, November 19, 2012

It's all about the money

Uang merupakan souvenir from 20th century. Saya mengetahuinya dari suatu acara di BBC knowledge sekitar tahun 2010. Waktu itu masih langganan indovision (sekarang telkomvision). Di channel BBC knowledge, dulu itu kalau mau pergantian acara suka ada semacam klip tentang souvenir from 20th century, dan salah satunya adalah uang. Kenapa hari saya ingin cerita tentang uang? Karena saya habis baca bukunya DR. Ahmad Riawan Amin yang berjudul Satanic Finance - bikin umat miskin -. Di buku itu dijelaskan bagaimana uang membuat umat menjadi semakin miskin. Beliau adalah Presiden Direktur Bank Muammalat 1999 - 2008 dan seorang trainer kelas dunia.

Ceritanya dimulai dengan fiat money. Dulu, orang melakukan transaksi dengan sistem barter, lalu muncul mata uang emas, kemudian timbul uang kertas yang digadang-gadang lebih efisien dibandingkan uang emas. Tetapi, menurut buku tersebut justru adanya uang kertas lah maka terjadi berbagai krisis ekonomi yang salah satunya pernah kita alami di tahun 1997-1998. Menurut wikipedia, fiat money adalah uang yang nilainya berasal dari peraturan pemerintah atau undang-undang. Istilah ini berasal dari bahasa Latin fiat ("let it be done", "itu akan terjadi"). Uang yang diciptakan tanpa didukung (back up) dengan logam mulia seperti emas secuil pun. Uang ini bisa dicetak oleh penguasa dan tidak bisa ditukar dengan koin emas (karena memang tidak ada emas yang dicadangkan untuk mendukung pencetakan uang tersebut). Uang ini menjadi berharga dan berfungsi sebagai alat pembayaran barang dan jasa karena diterbitkan oleh pemerintah yang diakui. Artinya, kalau pemerintah kehilangan kepercayaan maka uang tersebut menjadi tidak berharga, kecuali senilai harga kertas dan biaya produksi untuk mencetaknya.

Karena tidak perlu back up logam mulia, otoritas moneter gampang tergoda untuk mencetak uang. Satu-satunya batasan yang harus diperhatikan adalah agar tidak menimbulkan inflasi. Jadi, kalau uang dicetak melebihi jumlah barang dan jasa atau output riil yang bisa diproduksi (kita mengenalnya dengan PDB menurut lapangan usaha) maka fenomena inflasi terjadi. Harga-harga barang dan jasa mengalami tren naik dari waktu ke waktu. Bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap (orang gajian, karyawan dan semacamnya) adalah golongan yang paling terkena dampak inflasi karena nilai riilnya terpotong dengan sebesar persentase inflasinya. Hal ini diperparah kalau yang menguasai perekonomian akhirnya mengatur budaya dan bahkan mengambilalih kepemimpinan setempat. Uang kertas tidak menambah produktivitas! Kecuali produktivitas maya yang membuat para penggunanya terus menerus bekerja hanya untuk mendapatkan kompensasi sumber daya yang sedikit. Akhirnya mereka yang tadinya baik, ramah dan suka menolong berubah menjadi individualis mementingkan diri sendiri.

Kondisi ini diperparah dengan adanya Fractional Reserve Requirement (FRR). FRR adalah cadangan yang disyarakatkan oleh bank sentral untuk memenuhi kondisi normal permintaan dari para deposan yang menarik tabungan atau depositonya. Besarnya jauh di bawah 100 persen. Aturannya begini, misal FRR 10%. Bank bisa meminjamkan 90% bagian lainnya kepada nasabah atau para deposan yang membutuhkan. Misalnya Bank A menerima deposit dari nasabah 1 juta. Berarti bank tersebut bisa meminjamkan 9 juta kepada nasabah lainnya. Sepintas ini keliatannya normal, tapi ini membuat aturan FRR menempatkan bank secara tidak langsung sebagai agen yang turut mensuplai uang (money supply). Dengan kata lain, bank (selain bank sentral) juga ikut mencetak uang, mencetak fiat money dan menggandakannya.

Hal lain yang memperparah perekonomian adalah interset (bunga). Bunga merupakan biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya. Lalu bagaimana semua ini bekerja?

Masih ingat persamaan kuantitas uang

MV = PY

M : Money supply (suplai uang)
V : Velocity of money (perputaran uang)
P : Price (tingkat harga) -> diukur dengan inflasi
Y . output riil barang dan jasa

Persamaan tersebut dibaca sebagai berikut : jumlah uang adalah sama dengan perkalian harga dengan kuantitas barang yang ditransaksikan.
Kalau bank mencetak uang, maka M mengalami kenaikan, artinya ada penambahan jumlah uang. Bila penambahan uang ini tidak diimbangi dengan peningkatan produk barang dan jasa (Y) maka harga-harga (P) mengalami kenaikan, dengan asumsi kecepatan peredaran uang (V) tetap. Apa yang terjadi? Inflasi..

Inflasi ini diperparah dengan aturan FRR dan adanya bunga yang diterapkan oleh bank yang mendanai sektor riil. Semua ini disebabkan oleh apa? Fiat money!

Padahal di atas tadi kita tahu, fiat money itu tanpa diback up oleh cadangan logam mulia dan hanya berdasarkan pada kepercayaan pada pemerintahan saja. Inilah yang menyebabkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998.

Ketika itu sejumlah spekulan (ya kita tahulah siapa yang menonjol, ya George Soros itu) mempermainkan mata uang kita dengan menarik simpanannya di sejumlah bank di Indonesia. Padahal kita tahu dari uraian FRR di atas bahwa kalau ada yang menyimpan uang di bank, bank bisa meminjamkan lebih dari yang dicadangkan itu. Jadi begitu simpanannya ditarik yang terjadi adalah gagal bayar dan membuat kepercayaan terhadap pemerintah berkurang dan mengakibatkan nilai uang kita terdepresiasi.

Itulah sebabnya BI selaku bank sentral menerapkan kebijakan pengendalian inflasi. Karena berdasarkan persamaan di atas, bila P sudah ditetapkan, maka BI bisa mengendalikan M untuk pencetakan uang (BI bisa menetapkan berapa persen FRR yang 'pantas').

Fiat money, Fractional Reserve Requirement (FRR) dan Interest adalah tiga pilar satanic finance yang membuat umat semakin miskin. And it's all about the money...

2 comments:

marisa wajdi said...

Bu, keren bangetz, empat jempol bengkak deh! ;)

marisa wajdi said...
This comment has been removed by the author.