Adalah slogan It’s the economy stupid yang mengantarkan Bill Clinton memenangi pemilihan umum Amerika tahun 1992, yang kemudian agak diulangi oleh Obama yang membawa tema perubahan (change) dengan tag line Yes, We Can. Tema-tema seperti itu seperti membius orang untuk berpikir hal yang sama yaitu perhatian terhadap kondisi ekonomi. Resesi ekonomi yang dihadapi Amerika sebagai akibat dari kekacauan sector financial mau tidak mau, suka tidak suka akan berimbas terhadap perekonomian Indonesia. Dan itu pelan tapi pasti dan terus terakselerasi terjadi. Efek sistemik dari krisis finansial itu mulai terasa sejak anjloknya IHSG, menurunnya nilai ekspor, terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dollar, dan tergerusnya cadangan devisa sebagai biaya yang harus dikeluarkan untuk mengintervensi rupiah. Malah sudah seminggu ini Bank Indonesia enggan menyebutkan berapa cadangan devisa Indonesia sebenarnya.
Inti permasalahannya bukan seberapa besar Indonesia akan terkena imbasnya, melainkan bagaimana Indonesia bisa mengelola krisis ini dengan cerdas. Sudah banyak tulisan-tulisan ekonomi berbau krisis yang mengatakan bahwa Indonesia akan terkena dampak yang sangat hebat dalam waktu singkat plus resep-resep menghadapinya.
Intinya, kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini selain masalah finansial adalah ketidakseimbangan demand-supply. Maksudnya begini, Indonesia selain sebagai produsen juga merupakan pasar yang besar (inget ga waktu SD kita sudah diajari hal ini, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pasar bagi negeri kita).
Volume ekspor kita yang turun sebagai akibat menurunnya daya beli di negara-negara tujuan ekspor (terutama Amerika) membuat pengusaha-pengusaha yang ada di Indonesia kebingungan karena berkurangnya permintaan dari luar negeri. Sebenarnya mereka juga berpikir bagaimana kalau barang yang diekspor itu dijual di pasar dalam negeri atau domestik. Namun, mereka menghadapi kendala lain.
Negeri Cina yang beberapa tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat juga mengalami kesulitan mengekspor ke negara-negara yang kini terkena krisis. Sehingga barang yang sedianya diekspor ke negara-negara tersebut dialihkan pasarnya ke Asia, khususnya Indonesia yang penduduknya juga besar.
Dalam mengelola krisis ini dengan cerdas, Indonesia bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan memperkuat pasar domestik yang dibarengi dengan mengecilkan kran import, terlebih lagi waspada terhadap barang import ilegal. Memang, siapa sih yang tidak tergiur dengan harga murah dari negeri lain. Disinilah peran nasionalisme muncul.
Logikanya, bila kita membeli barang yang diproduksi oleh negeri sendiri, otomatis perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang tersebut akan tetap eksis karena adanya permintaan dari dalam negeri, sehingga yang namanya PHK bisa diminimalisir. Dengan demikian timbullah daya beli di masyarakat, dan siklus bisnis pun terjadi.
Permasalahan dengan inflasi yang tinggi sebenarnya tidak perlu terlalu diributkan, karena inflasi itu seperti air yang mencari keseimbangannya sendiri (walaupun tetap harus dijaga dengan kerangka inflation targeting frameworknya Bank Indonesia). BI rate yang masih 9,5 persen memang menyulitkan dunia usaha yang akan meminjam ke bank akibat suku bunga kredit yang tinggi (karena mengacu pada BI rate). Namun bila permintaan dalam negeri dapat dipenuhi dan import dibatasi, maka hal tersebut tidak terlalu mengganggu jalannya siklus bisnis tadi.
Yang harus diwaspadai saat ini adalah rencana Amerika untuk mengeluarkan Surat Utang. Dengan diterbitkannya surat utang Amerika, maka nilai rupiah kita akan semakin terdepresiasi akibat permintaan dollar yang tinggi. Lagi-lagi keseimbangan demand-supply terkoreksi, inilah ekonomi.
Sekali lagi untuk Indonesia, nasionalisme perlu dijaga untuk menjaga keseimbangan demand-supply. It’s not the economy stupid anymore but nationalism!