Monday, October 15, 2012
Happynomics
Ok, waktu membaca buku itu tulisannya enak dibaca, gampang dimengerti (walaupun terjemahan) dan mengingatkan saya pada saat jatuh bangun belajar ekonomi dulu (background saya statistik, jadi pernah ada masa-masa kesulitan memahami ekonomi). Mungkin itu karena dia biasa jadi editor, jadi bisa menjelaskan hal yang sulit jadi mudah dimengerti.
Terus, sampailah saya pada chapter 49. Ok, sebenarnya saya baca secara random, karena judul di chapter 49 itu menarik sekali. Judulnya Happynomics. Dia mengkategorikan bab ini ke dalam ekonomi alternatif. Happynomics merupakan gagasan yang menyatakan bahwa ekonomi tidak selalu mengenai uang.
Happynomics diawali cerita tentang kondisi ekonomi di Bhutan tahun 1970-an. Ceritanya, di negara tersebut hampir seluruh ukuran ekonomi seperti PDB, pendapatan nasional, kesempatan kerja dan lain sebagainya tumbuh dengan sangat lamban. Jadi raja Bhutan akhirnya mengambil keputusan bahwa untuk mengukur kemajuan Bhutan tidak lagi diukur dengan indikator ekonomi tradisional melainkan oleh gross national happiness (kebahagaiaan nasional bruto).
Sang raja telah muncul dnegan gagasan yang akan tumbuh menjadi studi yang penting dan semakin dihormati, yaitu happiness economics. Ini merupakan subjek yang terhubung dengan diri kita. Sebagai bangsa dan sebagai individu, hampir semua orang menjadi lebih kaya dan lebh sehat daripada sebelumnya. Namun kekayaan tersebut berjalan beriringan dengan perasaan tidak puas. Mereka yang berada di negara kaya telah menjadi semakin tidak bahagia selama 50 tahun terakhir.
Pencarian kebahagiaan telah membuahkan hasil yang pasti di Bhutan. Sejak mengukur indeks kebahagiaan nasional bruto, negara tersebut telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa bahkan dalam istilah ekonomi konvensional. Pada tahun 2007, negara itu merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, sembari terus mempertahankan peningkatan kebahagiaan nasional brutonya. Sebagai upaya untuk mempertahankan kebahagiaan orang, terdapat keputusan bahwa 60 persen wilayah negara tersebut harus tetap tertutup oleh hutan, sementara turisme, yang ternyata mengurangi kebahagiaan, diturunkan setiap tahunnya. Uang didistribusikan kembali dari orang kaya ke orang miskin guna membantu menghilangkan kemiskinan massal.
Upaya untuk membuat Bhutan lebih bahagia tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan sebuah survei tahun 2005, hanya tiga persen penduduk yang dilaporkan tidak merasa bahagia, sementara hampir setengah dari populasi berkata bahwa mereka sangat bahagia. Namun survei semacam itu sering kali tidak jelas, tidak meyakinkan, dan sulit untuk dibandingkan secara empiris. Kebahagiaan jauh lebih sulit untuk diukur daripada misalnya tingkat kekayaan atau harapan hidup, dan itulah yang menyebabkan kebahagiaan diabaikan dalam ekonomi.
Pada dekade belakangan ini, para ekonomi dan psikolog telah, untuk pertama kalinya, mulai mengukur, secara jujur, kebahagiaan orang dalam penelitian panjang. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah walaupun kebahagiaan seseorang meningkat ketika ia berubah dari miskin menjadi kaya, tingkat kepuasannya mulai menurun ketika seseorang semakin jauh dari garis kemiskinan. Menurut Richard Layard, seorang ekonom Inggris yang berspesialisasi dalam ekonomi kebahagiaan, ketika gaji rata-rata sebuah negara berada di atas $20.000, kenaikan penghasilan berhenti membuat orang merasa lebih bahagia dan secara bertahap menjadikan mereka lebih tidak puas. Dalam konteks ekonomi, terdapat diminishing return untuk kebahagiaan setelah melalui titik tersebut.
Anyway, bagaimanapun juga saya masih berpegang teguh pada prinsip saya, bahwa bahagia itu optional. Adalah kita yang memilih untuk bahagia atau tidak..
Tuesday, July 10, 2012
Memahami Faktor Pencetus Inflasi Indonesia
Inflasi menurut ilmu ekonomi sederhananya adalah peristiwa di mana terjadi peningkatan harga barang-barang secara umum & terus menerus dalam suatu periode /kontinyu berkaitan dengn mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan hukum permintaan dan persediaan dari suatu barang atau jasa tertentu. Sedangkan jika yang terjadi sebaliknya, maka kondisi itu disebut deflasi.
Untuk konteks Indonesia, inflasi lebih sering terjadi. Berbeda misalnya dengan Jepang yang lebih cenderung terus menerus mengalami deflasi dalam jangka panjang. Mengapa di Indonesia lebih sering terjadi inflasi?
Pada dasarnya secara umum inflasi disebabkan oleh dua faktor yaitu karena yang dikenal dengan istilah demand pull inflation & cost push inflation. Demand pull inflation atau inflasi karena naiknya permintaan, lebih banyak terjadi pada saat-saat tertentu.
Datangnya tahun ajaran baru misalnya, akan menaikkan permintaan pemenuhan kebutuhan biaya dan perlengkapan sekolah. Peristiwa lainnya adalah menjelang datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa sampai dengan Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga secara otomatis akan menggerek kenaikan permintaan. Mulai dari makanan, pakaian bahkan juga kendaraan akan bergerak naik. Implikasinya, pada momen tersebut biasanya inflasi di di dalam negeri akan meningkat.
Selanjutnya adalah memasuki bulan Desember, saat Natal dan Tahun Baru. Kebutuhan biasanya ikut meningkat seiring perayaan Natal dan liburan tahun baru yang mendorong peak season tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.
Untuk menggambarkan penyebab terjadinya cost push inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya, contoh yang paling populer adalah kenaikan harga bahan bakar minyak. Jika harga BBM naik berarti ongkos produksi meningkat. Maka produsen yang tidak ingin kehilangan profit akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga jualnya. Akibatnya, harga barang-barang secara bersama-sama akan naik sehingga terjadi inflasi.
Lebih spesifik untuk Indonesia, komponen inflasi di dalam negeri terdiri dari volatile foods (komponen harga bergejolak), administered price (komponen harga yang diatur pemerintah), core inflation (komponen inti) dan imported inflation (inflasi karena naiknya harga barang impor).
Apa sajakah yang memengaruhinya?
Yang tergolong dalam volatile foods adalah harga-harga barang yang tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Saat ini, indeks ini meliputi 7 (tujuh) kategori yang terdiri dari (1) Bahan makanan (2) Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ; (3) Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, rekreasi dan olah raga serta terakhir (7) Transport dan komunikasi dan jasa keuangan.
Berarti jika ada kenaikan harga dari ketujuh kategori di atas, maka komponen volatile foods akan bergerak naik dan mendorong laju inflasi domestik. Khusus kenaikan harga bahan makanan, dikenal juga dengan istilah Agflasi atau agriculture inflation yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga produk pertanian.
Adapun untuk sisi administered price terdapat beberapa contoh yang terjadi di Indonesia. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Oleh karena itu, biasanya jika pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, maka akan berpotensi menggerek inflasi di dalam negeri. Namun selama ini, kenaikan inflasi akibat BBM biasanya cenderung berangsur turun karena masyarakat sudah mulai menyesuaikan kebutuhannya dan beradaptasi dengan kenaikan BBM itu sendiri. Maka inflasi di bulan-bulan berikutnya cenderung akan lebih rendah dibanding pada bulan pertama dan kedua penerapan harga BBM yang baru. Selain itu juga, kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik, kenaikan tarif tol dan lainnya akan mendorong terjadinya inflasi.
Selanjutnya, core inflation merupakan underlying inflation yang cenderung menetap dalam setiap pergerakan laju inflasi. Dibandingkan dengan komponen inflasi lainnya, inflasi ini cenderung dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh bank sentral atau BI karena umumnya bersifat demand pull inflation. Maksudnya jika inflasi inti cenderung naik, maka kenaikan suku bunga acuan dapat menurunkan daya beli sehingga secara keseluruhan inflasi akan mereda.
Terakhir adalah imported inflation. Semakin banyaknya kebutuhan masyarakat yang dipenuhi dari barang impor cenderung membuat komponen imported inflation kian berpengaruh dalam laju inflasi. Cara cepat untuk menangani inflasi jenis ini adalah dengan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika rupiah menguat, maka imported inflation bisa ditekan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sebaliknya, jika rupiah cenderung terdepresiasi maka inflasi barang impor berpotensi meningkat.
Satu hal lagi yang menjadi faktor pencetus tingginya inflasi domestik adalah kondisi geologis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia misalnya, inflasi Indonesia cenderung tinggi. Diperlukan tambahan ongkos transportasi antar pulau yang biasanya akan menaikkan harga jual barang-barang. Akan tetapi, sebenarnya kondisi perekonomian dengan inflasi jauh lebih baik dibanding jika mengalami deflasi.
Mengapa demikian? Karena inflasi terutama yang disebabkan oleh demand pull inflation menunjukkan tingginya permintaan yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karenanya, di setiap negara umumnya memiliki target inflasi yang dianggap nyaman.
Saat ini, BI mentargetkan inflasi Indonesia 2012 di kisaran 4,5 persen plus minus satu . Artinya jika inflasi bergerak di level 3,5 – 5,5 persen kondisi tersebut masih terhitung nyaman untuk perekonomian Indonesia. Jadi tidak perlu takut dengan inflasi selama masih dalam koridor aman seperti yang terjadi sekarang ini di mana inflasi Indonesia Mei 2012 dibandingkan dengan Mei 2011 sebesar 4,45 persen. (Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Tresuri Bank BNI)
Wednesday, July 4, 2012
Kemiskinan
Kemiskinan juga menjadi hal yang sering dijadikan komoditas dalam kancah perpolitikan seperti dalam masa-masa pemilu atau pilkada. Banyak yang mengklaim keberhasilan dalam mengentaskan kemiskinan dengan mengedepankan data kemiskinan. Sehingga data kemiskinan pun sering disalahartikan dan disalahgunakan. Tidak sedikit yang mengklaim data kemiskinan yang dikeluarkan oleh suatu instansi itu tidak benar dan mengatakan data tersebut salah. Padahal logikanya, kalau ada data yang salah berarti ada data yang benar. Sedangkan mereka tidak bisa menunjukkan data yang benar itu seperti apa. Jadi, bagaimana bisa mengklaim itu data yang salah.
Bagaimanapun juga, data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi mereka. BPS pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin itu tahun 1984. Waktu itu, penghitungannya didasarkan pada data modul konsumsi Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional. Modul konsumsi Susenas waktu itu dilakukan setiap tiga tahun sekali. Akibatnya data jumlah penduduk miskinnya keluarnya juga tiga tahun sekali. Jadi, setelah tahun 1984, keluar lagi tahun 1987. Oh ya, data jumlah penduduk miskin yang tahun 1984 dan 1987 itu pun hanya untuk skala nasional karena sampel Susenas waktu itu memang tidak mumpuni untuk mengestimasi hingga tingkat propinsi apalagi kabupaten/kota. Nah, tahun 1990, data kemiskinannya sudah bisa dipisahkan sampai tingkat propinsi tapi masih beberapa propinsi masih digabung. Kenapa? Ya due to sample size tadi itulah. Sebagai informasi, untuk melaksanakan suatu survei itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau surveinya skala nasional. Bayangkan dengan jumlah pegawai BPS yang terbatas itu harus mendata seluruh Indonesia.. Berapa biayanya untuk kuesioner, ekspedisi, operasional dan lain lain.. Padahal data yang didapatkan hanya data kemiskinan.. worth enough? Kalau menggunakan data kemiskinan, juga harus hati-hati. Dilihat dulu bagaimana konsep data tersebut dibangun. Kalau data kemiskinan yang dirilis BPS, itu menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemisikinan dipandang sebagai ketidakmpuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Sumber datanya ya dari Survei Sosial Ekonomi (Susenas) tadi. Sebagai informasi tambahan, sample untuk menghitung kemiskinan di tingkat kabupaten/kota tahun 2010 (bulan Juli) adalah 293.715 rumah tangga. Kebayang kan dengan mendata rumah tangga segitu harus mengestimasi rumah tangga miskin se-Indonesia.
Di dunia ini, indikator kemiskinan yang sering digunakan antara lain :
1. Head Count Index, yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index - P1) yang merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
3. Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index - P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
4. Foster-Greer_Thorbecke,yang juga menggunakan garis kemiskinan dalam penghitungannya.
Intinya, dalam menyikapi masalah kemiskinan memang harus lebih terbuka dan mau memahami data yang ada. Tidak ada data yang sempurna, tapi bayangkan kalau sama sekali tidak ada datanya..
Tuesday, April 5, 2011
Proxy Mean Test
Statistics Indonesia is an official institution that provide macro data such as number of poor household, The data itself speaks not only to show where the position of Indonesia in the world, but also used to draw some policies. It is strategic but also tricky in term how the data is used.
I have this information from a friend who responsible for the methodology on how the data was collected and smoothed. After they collected data from the field (they use the term field to represent where the respondents is located), it was weighted and judged by several variables, But not only that. They have to be smoothed because there are many political aspects on this. That's why there is one more process called proxy mean test.
Proxy Mean Test is counted with the formula Ln (Yi) = BX + Err(i) The model is supported with Susenas data from 2003-2008 and Podes (2 point of years). Although the reability of those two kind of data is still questioned by data user, but those data is the best we have (in Indonesia). There is no other institution can provide data like that (with lower budget)
Say, you have only couple of billion to provide micro data to draw policies that affect the whole country. The difficulties of collecting data is high but the pay off is low. What would you do? Science takes it all! And proxy mean test is one of the methodology that help Statistics Indonesia to provide data. Pretty smart eh..
>> I posted this about 2 years ago in my multiply
Sunday, April 3, 2011
kekayaan --> kapital --> demokrasi
Tetapi, saya tidak sedang memposting review Secret Garden. Minggu siang ini saya juga baca e-magazine Prisma yang download dengan penuh kasih sayang oleh hubby. Menurutnya saya harus rajin membaca artikel-artikel di majalah tersebut supaya wawasan saya tambah luas dan tidak nonton DVD Koresn Series terus. Hehehe hopefully it works..
Artikel pertama yang saya baca dari majalah itu berjudul "Mengolah Kekayaan, Kapital dan Demokrasi". Itulah sebabnya judul postingan ini mirip dengan judul artikel tersebut dan bukannya secret garden:).
Artikel tersebut memceritakan bagaimana kita tertarik untuk menjadi kaya. Dalam sejarah manusia, dalam memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, yaitu makan, nenek moyang kita hanya mengumpulkan dan mengambil apa yang disediakan oleh alam. Sehingga dahulu manusia banyak berburu dan bergaya hidup nomaden yang berpindah-pindah, demi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Seiring dengan perkembangan manusia sebagai makhluk yang berakal, mulai dikenal cara hidup untuk berproduksi dengan bercocok tanam dan beternak dan mulai bertempat tinggal menetap. Lebih jauh lagi, karena untuk berproduksi diperlukan tenaga kerja yang banyak (sebelum era industrialisasi), kita juga mengenal istilah perbudakan. Bahkan, si penulis mengungkapkan perbedaan perbudakan berdasarkan letak geografis. Dia menceritakan perbudakan di Roma berbeda dengan perbudakan di Amerika. Di Roma, hasil perbudakan yang paling nyata hingga saat ini adalah Colasseum. Sementara di Amerika perbudakan di kebun-kebun kapas berupa kapital dan akumulasi kapital, yaitu kekayaan yang menghasilkan kekayaan lain sedemikian rupa, sehingga menjadi dasar imperialisme dalam segala arti. Mungkin maksudnya, karakter manusia yang tidak pernah puas dalam mengumpulkan kekayaan dengan berproduksi, beralih dengan melipatgandakan kekakayaan dengan kapital.
Terkait dengan itu, saya teringat dengan buku-bukunya Robert T. Kiyosaki (yang sialnya, saya miliki seriesnya). Kalau pernah baca Rich Dad Poor Dad pasti teringat dengan cashflow quadran dan kata-kata biarkan uang bekerja untuk anda. Lebih riilnya, melipatgandakan kekayaan melalui instrumen keuangan seperti saham dan portofolio. Sehingga kaptal tidak lagi bersentuhan dengan produksi nyata. Karena kapital/modal berlipat ganda menjadi kapital lagi.
Dan tebak, siapa yang memiliki peran dalam mengimbangi perubahan tersebut? Ya... Pemerintah. Adalah pemerintah yang memegang peranan dalam menjaga keseimbangan ekonomi tersebut. Disitulah kata demokrasi ditempatkan, menjadi sesuatu yang akan mengkatalisasi perubahan baik ke arah yang baik maupun yang buruk.
Jujur saja, buat saya artikel ini seperti mengingatkan kembali apa yang perlu saya perbaiki sebagai abdi negara. Terlepas dari segala kekisruhan politik yang semakin aneh dan membuat tidak nyaman berbagai media untuk saya nikmati (yang akhirnya membuat saua lebih sering nonton Korean Series, hehe justifikasi)
Dan, seperti yang ditampilkan dalam Secret Garden yang mengekspos bagaimana keluarga konglomerat bekerja, terlihat bagaimana peran pemerintah tetap tidak bisa diabaikan, dan disitulah politik bersentuhan dengan ekonomi. Oh dunia, semakin hari engkau semakin menunjukkan betapa harus berhati-hatinya menjalani hidup ini.
Selanjutnya artikel tersebut juga menjelaskan
Tuesday, November 23, 2010
Tentang euro
Syahdan, Wolfgang Kroger, seorang pakar ekonomi dari Institut fur Wirtschaftsforschung (Institut Penelitian Ekonomi) di Wiesbaden Jerman, pernah bertanya-tanya ketika melihat sebuah fenomena menarik yang dilakukan masyarakat Eropa : benarkah mereka sedang berniat membuat sebuah benteng pertahanan baru yang eksklusif ?
Entah keheranan macam apa yang membuat Kroger menjadi bertanya-tanya demikian. Namun yang jelas, sebuah fenomena menarik memang sedang dilakukan oleh sebagian masyarakat Eropa. Di awal Tahun Kelinci ini, mereka ‘melahirkan’ satu currency yang selama ini memang telah dipersiapkan menjadi bakal satu-satunya one currency in Europe : Euro.
Banyak pihak kemudian bersikap terhadap kelahiran mata uang ini yang diprediksikan akan menjadi strong currency dan menjadi rival sekaligus penanding kedigdayaan hard currencies yang telah ada selama ini.
Melihat potensi yang dimiliki masyarakat Eropa, harapan yang ditumpukan pada euro sebagai satu currency yang dapat mempengaruhi perekonomian Eropa dan dunia semestinya memang bukan sebuah utopia. Kendati demikian, pendapat yang bernada skeptis juga muncul seiring dengan optimisme yang dibangun ditengah maraknya diskursus yang penuh dengan euforia kelahiran mata uang baru berkode EUR itu. Sikap yang demikian adalah wajar, mengingat euro harus bersaing dengan USD Block dan FAR East Block yang begitu kuat menguasai perekonomian dunia.
Nah, mampukah euro menjadi satu acuan baru alternatif diversivikasi aset finansial global ?
Bermula dari Maastricht
Keinginan untuk membentuk satu mata uang tunggal euroland terjadi pada tahun 1957 ketika beberapa negara Eropa melakukan kesepakatan dalam Treaty Rome untuk saling bekerja sama di bidang ekonomi, politik dan keamanan.
Kerja sama di bidang ekonomi terus berlanjut hingga European Economic Cooperation yang kemudian tumbuh menjadi European Union (Belgia, Jerman, Spanyol, Prancis, Irlandia, Italia, Luksemburg, Austria, Belanda, Portugal dan Finlandia) bersepakat untuk membentuk sebuah sistem moneter eropa (european monetary system). Sistem yang disepakati kemudian untuk mengatur lalu lintas moneter di euroland adalah melalui pembentukan Economic and Monetary Union (EMU) pada tahun 1990.
Prinsip-prinsip dalam EMU tersebut kemudian dijabarkan melalui Maastricht Treaty pada tahun 1992 yang diantaranya berisi kesepakatan untuk menjadikan euro sebagai satu mata uang tunggal negara anggota EMU dan membentuk European Central Bank (ECB) sebagai bank sentral penerbit euro. Empat tahun kemudian dalam pertemuan Madrid, lahirlah euro sebagai bakal mata uang tunggal negara-negara anggota EMU. Benefit yang ingin diperoleh dari euro adalah sebagai media penguat European Single Market dan pen-support investasi di euroland dengan kemampuannya untuk mereduksi real interest rate. Selain itu, EMU berharap euro dapat menjadi intermediasi sekaligus katalis bagi proses integrasi politik Eropa.
Pada pertengahan Desember 1995, diputuskan untuk memberlakukan Euro mulai 1 Januari 1999 dan akan memasuki periode take-off pada tahun 2002. Dalam interval tersebut (periode transisi), ECB akan mengatur pencapaian nilai tukar euro secara permanen dengan menerapkan dual pricing system atau kebijakan ‘no prohibition, no compulsion’. Artinya, tidak ada keharusan dan larangan bagi individu atau perusahaan dalam menggunakan euro. Mereka masih dapat mempergunakan mata uang mereka sendiri dalam bertransaksi.
Nilai tukar mata uang euro — yang diperdagangkan di pasar valas semenjak 4 Januari 1999 — terhadap mata uang negara peserta sudah dipatok semenjak 31 Desember 1998 sampai dengan 1 Juli 2002. Pada permulaan tahun 2002, uang kertas dan koin euro akan diperkenalkan kepada masyarakat dan menarik uang kertas dan koin negara-negara peserta dari peredaran sampai dengan 30 Juni 2002.
Dampak Euro
Pada dasarnya, kelahiran euro lebih dirasakan manfaatnya oleh para negara peserta dikarenakan transaksi yang terjadi diantara mereka tidak akan bergantung lagi pada dollar US. Sebagaimana diketahui, lebih dari separo aktivitas perdagangan yang dilakukan di euroland dilakukan dalam dollar US. Padahal, Eropa mempunyai pangsa pasar yang lebih besar (21 %) dibanding Amerika Serikat (18 %) dalam perdagangan internasional.
Bagi negara-negara peserta, pemberlakuan euro akan dapat mereduksi biaya-biaya yang timbul dari berbagai macam transaksi yang selama ini terjadi seperti costs of exchanging money dan bank charges. Secara begitu, transaksi yang dilakukan di euroland akan menjadi lebih efektif dan efisien.
Efektif dikarenakan semua pihak yang melakukan aktivitas trading dan keuangan hanya akan menggunakan satu euro-account yang dengan demikian akan membuat mekanisme pembayaran antar negara EMU menjadi lebih efisien. Pada akhirnya, mereka dapat lebih berkompetisi di pasaran global yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara peserta. Selain itu, berkurangnya currency risk di euroland akibat penyederhanaan mata uang Eropa akan menjadi kaptivator tersendiri bagi para investor untuk datang.
Sedangkan bagi perusahaan-perusahaan negara peserta yang berkepentingan dengan euro, benefit yang dapat mereka petik adalah berkurangnya cost of exchanging currencies, hedging cost, cost of financing dan cross border transaction cost. Dengan demikian, harapan untuk menjadikan european single market yang kompetitif di pasar global akan semakin terwujud.
Lantas apa dampaknya bagi perekonomian luar Eropa ?
Leburnya beberapa mata uang yang didukung dengan strong currency mark Jerman dan franch Prancis menjadi one currency in Europe akan lebih menyederhanakan jumlah mata uang dunia. Jelas hal ini akan mempermudah kerja otoritas-otoritas moneter yang berkepentingan dengan pasar keuangan di kawasan euro (dan internasional) dalam mengupayakan kestabilkan pasar uang. Kekhawatiran perubahan nilai tukar antar negara Eropa dan negara lainnya menjadi suatu hal yang tidak perlu dirisaukan kembali.
Selain itu, bergabungnya beberapa kekuatan besar negara Eropa akan menjadi penyeimbang kedigdayaan Amerika yang selama ini begitu pongah mendominasi aktivitas perekonomian global. Kekuatan ini akan menjadi lebih besar seandainya Inggris, Swedia, Denmark dan Yunani yang sementara ini masih ogah bergabung ikut lebur dalam EMU.
Pada akhirnya, setiap individu, institusi perusahaan atau negara akan mempunyai alternatif pilihan currency yang stabil sehingga dapat dipakai sebagai salah satu acuan aset finansial. Dunia sudah belajar banyak dari kenyataan bahwa krisis global yang terjadi belakangan ini lebih diakibatkan karena volatilitas nilai dollar US yang sedemikian fluktuatif dan penuh dengan ketidakpastian.
Potensi Euro
Optimisme euro bakal menjadi mata uang kuat yang dapat bersaing dengan hard currency yang selama ini mendominasi aktivitas perekonomian global sepertinya bukan sebuah sikap yang dibuat tanpa berlandaskan argumen yang mendasar. Dengan melihat beberapa potensi yang dimiliki oleh negara-negara euro, optimisme tersebut bukanlah sebuah utopia.
Negara-negara euro, memiliki beberapa potensi yang dapat menjadi sumber kekuatan bagi Eropa untuk bersaing dengan negara adi kuasa seperti jumlah penduduk, ukuran dan independensi ekonomi, perdagangan internasional dan relatif stabilnya kondisi ekonomi-politik.
Dengan 373.7 juta penduduk Europen Union, mereka mampu menguasai 21.66 % perdagangan internasional dan menghasilkan gross domestic product sebesar 8.4 triliun dollar US. Selain itu, jumlah cadangan devisa yang dimiliki bank-bank sentral negara EMU dapat mencapai nilai sebesar US$ 349.8 miliar, sementara Amerika dan Jepang masing-masing berjumlah US$ 49.1 miliar dan US$ 172.4 miliar.
Sumbangan gross domestic product kesebelas anggota EMU dalam Organization for Economic & Cooperation Development (OECD) juga memiliki porsi yang lebih besar ketimbang Amerika dan Jepang. Mereka mampu menghasilkan porsi sumbangan sebesar 38.3%, sedangkan Amerika dan Jepang masing-masing hanya sebesar 32.5% dan 20.5%.
Kondisi tersebut didukung dengan posisi European Central Bank (ECB) yang sangat independen sehingga peran-peran yang harus dimainkan oleh ECB untuk mempertahankan stabilitas harga, menentukan kebijakan nilai tukar dan kebijakan moneter serta mengelola likuiditas sehari-hari dapat terbebas dari intervensi pihak luar – termasuk pemerintah negara anggota EMU.
Konsolidasi neraca, pendanaan dan investasi yang lebih efektif dan efisien dari penggunaan TARGET (Trans-european Automated Real-time Gross settlement Express Transfer system) — sebagai sistem pembayaran antar negara euro — dan didukung oleh sistem kliring RTGS (Real Time Gross Settlement) akan sangat membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas kinerja pihak-pihak yang melakukan transaksi.
Diperkirakan, kombinasi equity capital markets di euroland sebagai akibat dari more fixed rate issuance by nonsovereigns akan dapat menciptakan total kapitalisasi pasar yang hampir setara dengan US$ 5.2 triliun. Besarnya jumlah ini memang sangat memungkinkan jika mengingat lebih dari 60% transaksi perdagangan Eropa yang dilakukan terjadi diantara sesama negara Eropa itu sendiri.
Jika kekuatan-kekuatan tersebut dapat benar-benar terealisir, bukan suatu hal yang mustahil negara-negara euro dapat menjadi penyeimbang negara Clinton di pentas perdagangan global. Artinya, tidak akan ada lagi disparitas yang terlalu melebar antara negara-negara euro dengan negara adi kuasa yang sempat geger lantaran skandal Lewinsky itu. Peluang yang dapat segera dimanfaatkan euro adalah menurunnya jumlah foreign reserve bank–bank sentral secara global dalam dollar US dari 77% (1973) menjadi 51% (1995). Bank for International Settlement (BIS), International Monetary Fund (IMF), Citibank, Goldman Sachs dan Merill Lynch bahkan memperkirakan euro bakal menjadi eksodus foreign reserve bank-bank sentral di seluruh dunia dengan merubah komposisi cadangan devisa mereka.
Portofolio modal swasta Eropa di seluruh dunia juga mengalami peningkatan dari 13% di tahun 1981 menjadi 37% pada tahun 1995. Sementara porsi dollar US mengalami penurunan dari 67% (1981) menjadi 40% (1995).
Di Asia, negara yang langsung bereaksi dengan munculnya euro di pentas perdagangan internasional adalah Hongkong. Negara mantan jajahan Inggris itu sudah memindahkan sebagian aset-nya dalam euro sehingga nilai dollar US sempat melemah akibat sentimen pasar yang berubah. Korea Selatan, Cina dan Filipina juga sudah berniat untuk mempergunakan euro sebagai salah satu mata uang cadangan devisa. Presiden Filipina Joseph Estrada dalam KTT ASEAN di Hanoi beberapa waktu yang lalu bahkan melontarkan satu gagasan untuk meniru euroland dengan membentuk satu mata uang tunggal bagi negara-negara Asia.
Bagaimana dengan Indonesia ? Gubernur BI Syahril Sabirin dalam suatu kesempatan sudah menyinggung kemungkinan diterapkannya euro dalam cadangan devisa negara kita. Selama ini, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia masih mempergunakan basket currency dollar US, yen, deutsche mark dan poundsterling. Peluang lain yang dapat dimanfaatkan Indonesia adalah kenyataan bahwa perdagangan Indonesia-Eropa mempunya porsi yang sangat besar.
Masa Depan Euro
Pertanyaan yang kemudian patut kita gagas adalah mampukah euro menjadi a new hard currency ? Jawab dari pertanyaan ini akan kembali kepada negara-negara peserta EMU itu sendiri untuk mengupayakan terciptanya sebuah sistem keuangan yang efisien dan kuat.
Untuk dapat membuat kondisi tersebut, peran yang harus dimainkan ECB menjadi sangat strategis namun juga berat. Dalam jangka pendek, ECB harus dapat mengkonsolidasikan kebijakan masing-masing negara peserta EMU yang tentu saja masih mempunyai kepentingan dan kondisi yang amat beragam agar kriteria keanggotaan yang telah disepakati dalam Maastricht Treaty dapat dicapai.
Sebagaimana diketahui, Maastricht Treaty 1992 menetapkan lima kriteria yang harus dipenuhi oleh negara peserta EMU, yaitu :
Stabilitas harga yang tinggi. Parameter yang dipakai untuk mengukur tingkat kestabilan ini adalah laju inflasi yang tidak boleh lebih dari 1.5% laju inflasi terendah tiga anggota EMU.
Rasio defisit anggaran yang tidak boleh lebih dari 3% gross domestic product. Jika terjadi satu negara mempunya rasio melebihi 3%, hal tersebut dianggap sebagai suatu pengecualian yang bersifat sementara saja.
Rasio utang terhadap gross domestic product tidak boleh lebih dari 60%.
Fluktuasi margin normal yang diperkenankan melalui mekanisme nilai tukar dapat dicapai sedikitnya dalam dua tahun tanpa melakukan devaluasi atas mata uang Eropa lain; dan
Suku bunga nominal jangka panjang tak boleh melebihi 2% poin diatas suku bunga tiga negara anggota EMU yang memiliki inflasi terbaik.
Jika poin-poin kesepakatan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, pengkondisian one currency in Europe diperkirakan akan berjalan dengan baik dikarenakan saling kesepahaman dan kesamaan masing-masing negara peserta sudah dapat tertata.
Dalam jangka panjang, institusi independen yang dikomandani wong Belanda Wim Duisenberg itu harus dapat menjaga kestabilan nilai euro. Kondisi yang demikian harus terus dibangun agar euro dapat menjadi satu alternatif portofolio keuangan internasional yang benar-benar kredibel. Langkah konkrit yang sudah dilakukan ECB untuk memelihara tingkat kestabilan di pasar uang internasional adalah dengan mengambil tindakan membeli dan menyimpan yen dalam cadangan devisa negara Eropa. Sebab, Jepang adalah motor penggerak perekonomian Asia yang masih dan akan menjadi pasar yang besar bagi investasi Eropa.
Relatif stabilnya nilai euro yang didukung dengan leburnya strong currency semacam mark Jerman dan franch Prancis, memungkinkan pihak-pihak yang selama ini mempergunakan basket currency seperti dollar US dan yen akan segera mempertimbangkan penggunaan mata uang ini.
Kendati demikian, EMU harus mewaspadai ‘ancaman’ pihak eksternal (baca : Amerika) yang jelas-jelas tidak akan membiarkan begitu saja misi dan dominasinya di pasar global terancam. Sampai saat ini, pasar dollar US masih memonopoli 80% perdagangan dunia dengan total perdagangan sebesar US$ 250 miliar – US$ 300 miliar. Sikap Amerika terlihat jelas dengan meniupkan ancaman resesi global dan membuat dollar melemah di pasar uang pada saat pertama peluncuran euro.
Nah, mampukah euro menjadi sebuah kekuatan baru ? Just wait and see, begitu kata orang Inggris.
(artikel lawas ini dipublikasikan di Jurnal PRESTASI No.2/ I/1999)
Monday, July 19, 2010
the moment of truth..
Tadi pagi menjelang siang, saya menghadiri rapat koordinasi dengan beberapa stakeholder. Yang menakjubkan adalah, betapa kondisi the moment of truth itu really happen.. Banyak hal yang bisa dieksplor lebih jauh lagi, lebih cepat lagi, lebih bermutu lagi, dan lebih-lebih lainnya..
Kemudian, saya membandingkannya dengan FGD yang mungkin mirip-mirip dengan the moment of truth ini. Wikipedia bilang, A focus group is a form of qualitative research in which a group of people are asked about their perceptions, opinions, beliefs and attitudes towards a product, service, concept, advertisement, idea, or packaging.
Mirip-miripkah? Ya.. Sedikit perbedaan terletak pada feedback yang diberikan. FGD mensyaratkan feedback yang diperlukan, sedangkan the moment of truth akan memunculkan the moment of impact.
The moment of impact adalah semua kejadian interaksi ketika anggota melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang inovatif yang di luar dugaan. Seperti memunculkan ide-ide baru untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.
The moment of truth juga merupakan salah satu game yang populer di amerika yang menghadirkan pertanyaan2 konyol dan memalukan yang harus dijawab oleh lawannya. Jawaban bisa di luar dugaan, dengan reaksi yang juga bisa di luar dugaan.
Anyway, I guess I found myself in the moment of truth today.. Thank you Allah..
Wednesday, September 9, 2009
Lagi-lagi LPE..
Menurutnya, item ekspor netto dalam PDRB penggunaan terasa aneh, karena dia merasa yang namanya ekspor itu harus ke luar negeri, sedangkan kalau di PDRB penggunaan, arus barang antar kabupaten/kota sudah bisa dibilang ekspor. Ketika saya tanya, by definition ekspor itu artinya apa? Jawabnya ada barang keluar dari suatu wilayah. Nah, sesuai kan dengan pengertian dalam PDRB Penggunaan.
Masih belum puas juga..
Saya minta dia mengingat kembali pelajaran ekonomi makronya tentang siklus bisnis (kebetulan dia SE), lalu saya gambarkan skema yang setiap mahasiswa ekonomi pasti pernah melihatnya.. Hal yang kayak gini kan ada di buku teks ekonomi makro karangan siapa pun.
Baru dia ngeh..
Dia bertanya lagi, kenapa kadang-kadang PDRB yang saya buat tidak konsisten dengan kondisi sosial ekonomi di sini? Lho siapa bilang? Kalau Laju pertumbuhan ekonomi naik terus dan angka pengangguran juga tidak turun, mungkin memang begitu adanya. Justifikasinya, Bekasi itu masih ditunjang oleh share atau kontribusi yang besar dari sektor industri. Nah, output dari sektor industri itu besar sekali, padahal tenaga kerja yang terserap disana bukanlah yang terbesar. Artinya karakteristik industri yang ada di Bekasi bukan merupakan industi yang padat karya, melainkan padat modal.
Share kedua terbesar berasal dari perdagangan. Kita tahu, berapa sih tenaga kerja yang bisa diserap oleh sektor ini. Share ketiga terbesar berasal dari jasa. Apalagi sektor yang satu ini, semakin minimalis tenaga kerjanya semakin efisien dengan output yang besar.
Saya masih ingat di buku laporan tahunannya Bank Indonesia, di salah satu box nya ada tulisan mengenai pertumbuhan yang tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan disertai dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.
Menurut saya, sebelum membicarakan masalah pertumbuhan, pengangguran, kemiskinan dan indikator-indikator lainnya, sebaiknya kita harus memahami dahulu definisi-definisinya dengan jelas dan harus konsisten dengan sumbernya. Karena tidak mungkin saya menggunakan angka kemiskinan yang dipublikasikan oleh BPS tetapi menggunakan definisi yang dikeluarkan oleh instansi lain. Datanya jelas akan terlihat aneh.
Jadi, dengan sok taunya, saya menjelaskan panjang lebar bagaimana pertumbuhan itu dihitung, korelasinya dengan pengangguran, inflasi dan kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi kita dihitung dari PDRB, sedangkan PDRB itu sendiri masih menggunakan konsep nasional yang di'daerah'kan, maka tidak salah kalau ada saja yang berpendapat kalau begitu jumlah PDRB semua kab/kota di Indonesia akan sama dengan PDB yang merupakan angka nasional.
Sebenarnya, tidak harus begitu. Lho kok bisa? Ya jelas saja, source of datanya lihat dulu dong. Kadang-kadang (atau hampir selalu ya) data yang kita peroleh di dinas/instansi di tiap daerah tidak sama dengan data yang berasal dari level daerah di atasnya. Ah, masa? Yah, ini kan Indonesia, kesadaran untuk mengarsipkan data dengan baik masih kurang.. Hal ini berakibat kepada kualitas data yang diproduksi BPS, yang berlanjut pada masukan untuk pemerintah daerah yang bisa saja jadi salah arah..
Tapi kenapa ya yang disalahkan selalu BPS, padahal ini kan kesalahan person in charge di setiap sendi pemerintahan juga.. nasib.. nasib..
Sunday, July 26, 2009
Globalisasi 3.0
Friedman menuliskan sepuluh kejadian yang telah mendatarkan dunia (istilah the world is flat sebenarnya digulirkan oleh seorang kolumnus New York Times yang mendapat hadiah Pulitzer). Menurutnya kesepuluh kejadian atau keberadaan teknologi berikut ini benar-benar telah membuat dunia menyatu. Kesepuluh kejadian yang disebutnya Globalization 3.0 (globalisasi generasi ketiga) itu adalah :
1. Runtuhnya tembok Berlin (9 November 1989)
2. Dunia terhubung oleh web dan netscape (6 Agustus 1991)
Berners-Lee, pembuat website pertama di duia yang menjelaskan cara kerja dunia maya ini. Majalah Times (14 Juni 1999) menjulukinya sebagai Thomas Edison abad ke-20. Dalam waktu yang relatif singkat, dunia pun terhubung, tak peduli apakah anda pengusaha atau pekerja; pelajar atau pengajar; anak kecil atau kakek-nenek; semua telah dapat terhubung secara bebas, menembus batas ruang dan waktu.
3. Pekerjaan antarmesin terhubung
Pekerjaan-pekerjaan kolaboratif terhubung kala mesin-mesin produksi bisa berbicara dalam bahasa yang saling mengerti. Software mengenai workflow mendorong kolaborasi-kolaborasi lainnya ke dalam pendataran berikut, yaitu uploading, outsourcing, offshoring, supply chaining, insourcing dan informing. Dunia mencatat kolaborasi itu merupakan kesepakatn dair berbagai penguasa dunia seperti pembayaran lewat dunia web yang dikoordinasi oleh PayPal yang diluncurkan tahun 1998, yang dilanjutkan oleh kolahorator-kolaborator lain seperti ebay, microsoft, yahoo, SAP, dan penggagas-penggagas dunia animasi, hiburan, perdagangan, sampai pendidikan dan engineering.
4. Uploading
Semua orang sekarang bisa berkolaborasi apa saja, mulai dari pemilihan kepala daerah, pembelian buku, penulisan cerita, sampai membuat software. Semua orang bisa bekerja memasukkan data sendiri-sendiri ke dalam dunia maya. Kala metode Open Source telah dirangkai oleh para penjelajah dunia maya, muncullah kebiasaan-kebiasaan baru membangun komunitas bersama-sama, mulai dari software Linux, sampai Wikipedia - siapa pun boleh ikut berpartisipasi dan mengembangkan, seolah ini milik bersama.
5. Outsourcing
Inilah peristiwa penting lain yang ditakuti oleh para aktivis dunia perburuhan. Outsourcing dianggap sebagai ancaman karena perusahaan mulai mengurangi karyawan dan tidak lagi menginginkan pos 'payroll'-nya diisi oleh karyawan-karyawan tetap yang digaji secara tetap, ada atau tidak ada produksi. Perusahaan-perusahaan menginginkan biayanya berubah menjadi variabel, bukan biaya tetap. Variabel atau fleksibel berarti sangat luas, yaitu bisa diambil dari mana di seluruh dunia ini (seperti call center perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang ditaruh di India, atau Call center XL Commindo yang ditaruh di Jogyakarta tapi berkantor pusat di Jakarta), dan jumlahnya bisa diubah kapan saja (tidak ada ketentuan). Sekali pun berupa ancaman, ada peluang bagi munculnya pengelola-pengelola jasa outsourcing.
6. Offshoring
Sejak pemimpin China, almarhum Deng Xiaoping mengumumkan bahwa China akan menempuh Jalan Kapitalisme pada tahun 1997, dunia pun mulai mengarahkan matanya ke sana. Sejak saat itu, China pun berubah, apalagi sejak ia bergabung dengan WTO (11 Desember 2001), dan sepakat mematuhi hukum internasional sehingga menjadi lebih menarik di mata investor. Perpindahan pusat produksi secara fisik ke China terjadi secara besar-besaran sehingga mendorong cara kerja baru yang dikenal dengan metode offshoring. Metode ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh China, tetapi juga negara-negara eks Uni Soviet, Malaysia, Thailand, dan sebagian masuk ke Indonesia.
7. Modernisasi Mata Rantai Pemasok (Supply Chaining)
Modernisasi itu tengah terjadi secara besar-besaran. Kala mata rantai logistik sembako di Indonesia carut-marut dan birokrasi tak kuasa mengendalikan perputaran pupuk, minyak goreng, garam, rotan, migas, beras, dan lain-lainnya, perusahaan-perusahaan skala global memukau dunia dengan mata rantai yang efisien, tepat waktu, dan memahami kebutuhan konsumen-konsumennya.
8. Kolaborasi Horizontal Untuk Menciptakan Nilai Tambah (insourcing)
Mata rantai pasokan global yang kompleks dan mahal kini menjadi lebih murah lagi kala industri jasa pengiriman bergeser perannya menjadi pelaku penting dalam bidang logistik. Dalam bidang itu kita saksikan para pelakuk usaha memasuki era baru yang mereka sebut sebagai "total solution", yang artinya mereka bukan cuma sekadar mengirim, melainkan juga memperbaiki dan mengambil peran-peran strategis lainnya. Itulah yang dilakukan pasukan bercelana pendek coklat UPS yang turut memperbaiki produk-produk milik klien-kliennya.
9. Terciptanya Mesin Pencari dan Klarifikasi (informing)
Ketika banyak orang mengeluh sulitnya menjadi manusia yang baik, menjadi orang jahat di abad ini juga semakin tidak mudah. Semua itu terjadi karena dunia sudah semakin akrab dengan mesin pencari yang sangat canggih yang antara lain dipelopori oleh Google. Semua orang bisa dengan begitu cepat mengecek track record calon-calon karyawan atau pimpinan, bahkan sampai mencari anggota keluarga yang tersesat dan menelusuri jejak si penjahat. Kita cukup menulis sebuah kata kunci untuk pencarian itu, dan dalam sekejap klarifikasi pun muncul, kita tinggal memilih mana yang paling mendekati atau tepat.
10. Berkembang Pesatnya Teknologi-teknologi Supercanggih
Friedman menamakan gejala ini sebagai steroid yang ditandai dengan kecepatan masuk keluarnya data (computing), terobosan dalam pengiriman pesan dan file sharing panggilan telepon melalui internet, video conferencing yang lebih canggih, game komputer dan teknologi nirkabel. Semua itu mengakibatkan mesin kini bisa berbicara dengan mesin-mesin lain dalam bahasa yang sama dan begitu cepat, mudah dan murah. Meja kerja juga bisa ikut pergi kemana pun anda berada.
Nah, kesepuluh hal tersebut lah yang dipercaya Friedman telah mendatarkan dunia, sehingga dunia tidak lagi terbagi-bagi menurut suku, agama, warna kulit, geografis dan sebagainya.
Globalisasi ini pula yang melandasi pemikiran banyak ekonom dalam menyikapi terjadinya krisis finansial global. Sehingga mereka beranggapan bahwa bila ekonomi Amerika Serikat sedang buruk, maka seluruh dunia akan ikut perasakan pahitnya. Begitukah?
Sumber : Marketing in Crisis, Rhenald Kasali
Sunday, May 10, 2009
Supply and Use Table
Supply and Used Table sebenarnya digunakan sebagai alat kontrol untuk melihat konsistensi antara penyusunan PDRB dari sisi sektoral (lapangan usaha) dan PDRB dari sisi penggunaan (expenditure). Sebagaimana diketahui, data PDRB atau PDB atau data makro ekonomi lainnya yang merupakan produk BPS seringkali dikritik karena ketidakkonsistenannya. Dalam beberapa kesempatan, hal ini juga pernah saya alami di kelas-kelas ekonomi yang saya ikuti dahulu. Dan karena saya bekerja untuk BPS, saya pun harus menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi karena saya sering ditanya kenapa kok bisa begitu.
Harus diakui, database kita belum bagus, tapi usaha untuk membuatnya lebih baik selalu ada dan terus dilakukan. Termasuk salah satunya penggunaan Supply and Used Table ini.
SUT sendiri sebenarnya merupakan inti dari SNA (System of National Account), menggambarkan total ekonomi menurut kelompok produk, sumber dan penggunaan barang dan jasa. Aliran barang dan jasa ditelusuri dari produsennya sampai penggunanya. Untuk setiap produk total supply harus sama dengan total penggunaannya.
SUT terdiri dari dua bagian yaitu Supply Table dan Used Table. Supply Table memberikan informasi mengenai sumber barang dan jasa, bagaimana suatu produk disuply apakah merupakan produksi domestik atau impor. Produk dalam Supply Table ini disajikan dalam bentuk baris sesuai dengan ketentuan Central Product Classification (CPC), sedangkan kolomnya merupakan industri menurut ISIC (International Standard for Industry Classification), juga import dan penyesuaian item seperti tax dikurangi subsidi dan TTM (tax and transport margin). Bagian utama dari Supply Table adalah pada basic price. Namun, untuk menyeimbangkannya dengan penggunaannya pada purchase price (seperti yang dipresentasikan pada Use Table), ditambahkan kolom sehingga didapat total supply pada purchase price.
Sedangkan Use Table memberikan informasi mengenai penggunaan barang dan jasa, serta struktur biaya dari industri. Use Table terdiri dari intermediate use (intermediate consumption) dan final use (final consumption, capital formation dan ekspor).
Bentuk persamaan dasarnya adalah sebagai berikut
output + import (total supply) = intermediate consumption + export + gross domestic capital formation + final consumption + changes in inventories (total use)Sisi kiri persamaan adalah PDRB atau PDB menurut lapangan usaha (sektoral) sedangkan sisi kiri adalah PDRB atau PDB menurut penggunaan (expenditure)
Jujur saja, sepintas ini mirip dengan tabel input output. Tapi pada tabel input-output diterapkan banyak asumsi dan terdiri dari 3 kuadran, sedangkan pada SUT tidak demikian. Selain itu ada dua harga yang diterapkan disini yaitu basic price dan purchase price. Artinya kita juga mempertimbangkan harga (dengan kata lain menguasai masalah IHK, IHPB)
Dengan penggunaan SUT ini, diharapkan data PDRB sektoral dan penggunaan menjadi konsisten. Misalnya tidak terjadi lagi kesalahan kenapa ekspor turun (di PDRB penggunaan) tapi produk2 orientasi ekspor (di PDRB sektoral) malah mengalami pertumbuhan yang tinggi. Atau mengapa konsumsi naik tapi di PDRB sektoralnya mengalami penurunan produksi dan lain sebagainya..
Preparation, selalu begitu yang saya terapkan untuk semua pekerjaan yang sedang dan akan dilaksanakan. Semoga apa yang sedang disiapkan ini benar-benar membuat kualitas data yang dihasilkan menjadi jauh lebih baik..
Friday, April 24, 2009
Resesi, Depresi dan PHK
"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Kalau Anda juga kehilangan pekerjaan, itu depresi"
Berapa pun besarnya pesangon, menjadi penganggur sungguh tidak enak. Menurut Harvey Brenner, setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik 1,2%, serangan jantung 1,7%, bunuh diri 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun.
Namun, ada kabar gembira, orang yang kepepet bisa hijarah menjadi pengusaha, asalkan lingkungannya kondusif. Minggu lalu, Organisasi Buruh Internasional mengumumkan krisis keuangan global akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja 20 jutra orang. Padahal, tanpa krisis, 190 juta orang menganggur, Di AS, angka PHK baru 1,2 juta. Lantas, dimana pengangguran terbesar? Sebagian besar menduga CIna.
Namun Dirjen ILO menyebut Cina relatif aman karena pasar domewstiknya kuat. Di Thailand, 1 juta orang akan menganggur. Singapura sama, tetapi parlemen mengizinkan pemerintah mengatur keuangan agar lebih adaptif.
Di Indonesia, mereka yang pesimis menyebut pengangguran akan menyentuh 2 juta orang, sementara yang moderat menyebut 1 juta. Hitungan ekonominya, penurunan ekonomi 1 persen membuat lapangan pekerjaan menyusut 150.000. Di lapangan, sebagai antisipasi krisis,pengusaha mulai menahan ekspansi. Konsumsi listrik untuk industri di Jawa sebulan terakhir turun lebih dari 5 persen.
Namun, benarkah ancaman pahit itu akan menjadi kenyataan? Di AS, yanng paling terkena krisis adalah jasa keuangan, perumahan, ritel, otomotif, dan konstruksi. Di negara lain, yang terimbas adalah sektor-sektor ekspor, seperti faren, furnitur dan bahan mentah.
Namun, di Indonesia, segala industri, juga UMKM, bisa terkena kalau respons operasional birokrasi lamban dan inkonsisten. Kita ambil saja dua contoh, industri kertas dan UMKM. Dalam industri kertas, Indonesia punya keunggulan daya saing alamiah sehingga berpotensi menggeser kompetitior dari negara yang sedang terimbas krisis.
Di khatulistiwa, pohon akasia dapat dipanen 6 tahun, sementara di Eropa Utara butuh 20-40 tahun. RAPP dan INdah Indah Kiat masing-masing menanam investasi lebih dari Rp. 50 triliun. Perangkat hukum hutan tanaman industri muali dari UU No 41.1999 sampai PP No 6/2007 sudah lengkap. Kalau kondusif, industri ini bisa jadi powerhouse ekonomi.
Studi LPEM FEUI (2008) menemukan mulitplier tenaga kerjanya 2,381 sehingga berhasil menstimulasi lapangan pekerjaan di Provinsi Riau sekitar 250.000 (2005). sMAPAI BULAN sEPTEMBER 2008, RAPP masih menjual dolar ke BI sebesar 500 juta dolar AS. Namun karena setahun terakhir ini aparat di lapangan bertikai dan saling menuding, pasokan kayu pun menipis.
Kita tahu, polisi saat itu ingin membongkar sindikat pembalakan hutan. Kejaksaan juga ingin dapat nama dalam pemberantasan korupsi. Namun, ibarat kaum bisu tuli dalam tarian The Thousand Hands of Buddha, hanya satu orang yang boleh di depan. Nyatanya semua ingin ke depan sehingga timbul kekacauan dan rantai suplai yang dibangun bertahun-tahun hancur.
Dalam situasi demikian, bulan lalu RAPP mem-PHK 1000 karyawan tetapnya.
Lain lagi UMKM. Dari pengalaman di Korea Selatan, Thailand, dan Cina, pengembangan UMKM tidak boleh dipisahkan dari industri penopangnya yang berseifat komplementer sehingga hrus membentuk klaster. Dalam setiap klaster ada 2-3 perusahaan besar yang menjadi lokomotif bagi gerbong-gerbong itu.
Karena tidak integratif, penanganan UMKM di Indonesia tidak efektif. Yang satu memberikan bantuan, Satpol PP menggusurnya. UMKM ditanam sporadis sehingga menimbulkan banyak benturan. Karena itu, UMKM belum bisa menjadi alat pencipta kesejahteraan yang stabil. Angka kematiannya pun sangat tinggi.
Dua contoh itu menunjukkan pentingnya membangun spirit Indonesia yang sejalan. Semua kekacauan itu dimulai dari visi yang belum terurai sampai level operasional, malah masing-masing asyik dengan "hobinya" dan ingin tampil ke depan sendiri-sendiri.
Upaya mengatasi resesi dan depresi dapat diibaratkan dengan dua kalajengking milik presiden, yang ditaruh dalam gelas. Obama dan pemimpin kita sama-sama menggenggam kalajengking. Begitu air dimasukkan ke dalam gelas, dalam hitungan menit gelas Obama sudah kosong. Kalajengking yang satu mengatakan kepada temannya, "Ini benar-benar sudah gawat, kita bisa mati. Naiki pundak saya, sampai di atas tolong tarik saya." Mereka sepakat, seperti slogan kampanyenya "Change, You Can Believe In".
Bagaimana kalajengking di gelas pemimpin kita? Begitu yang satu naik sedikit, kawannya buka mendorong ke atas, malah menarik kakinya ke bawah. Walhasil, kdeduanya sama-sama mati. Siapa yang menarik kaki kalajengking itu?
Pada akhirnya, kita hanya bisa keluar dari resesi bukan karena kehebatan kita, melainkan apakah kita benar-benar percaya bahwa ancaman krisis dan PHK ini bisa menjadi riil dan tidak main-main, lalu apakah kita mau bekerja sama dan beradaptasi?...
Saturday, April 18, 2009
Golput
Ada lagi yang bilang golput itu golongan putih, ada yang bilang golput itu golongan luput.. ada-ada aja. Bandingkan proses dan result pemilu kali ini dengan proses dan result pemilu 2004, lebih rapih yang 2004 kan... ya iya lah.. walaupun ada kekurangan disana sini, tapi jauh lebih rapih dan transparan.. kalau sekarang kan validitasnya belum-belum sudah banyak yang mengkomplain..
Tapi bagaimanapun juga sebagai anggota masyarakat, harusnya kita tetap menghargai kerja KPU, bagaimanapun juga di antara berantakannya DPT masih tetap ada orang-orang yang telah bekerja sungguh-sungguh. Dan kita juga harus menyikapinya dengan dewasa (KPU juga harus menyikapi kritik ini dengan dewasa juga lho..). Biarkan hasilnya sampai final barulah disikapi dan dievaluasi...
Wednesday, April 15, 2009
I call it negotiation
Mulai darimana ya ceritanya.. (sampe bingung deh.. ).
Begini, akhir-akhir ini aku sedang diuji mengenai masalah negosiasi.. Ya apa saja, negosiasi itu kan bukan hanya negosiasi harga, tapi juga masalah tugas, wewenang, dan lain sebagainya.. you name it.. Masalahnya, as a JUNIOR, kadang-kadang kita suka dilewatin begitu aja atau tidak dianggap sama sekali.. hehehe klasik ya..
Sampai kemarin itu, akhirnya aku pake trik jaim dan sempat-sempatnya mengintimidasi dengan cara yang halus tapi mematikan.. cie.. seperti biasa lah fakta-faktanya aku uraikan satu demi satu kemudian konsekuensi yang akan dihadapinya apa saja dan ... vuala! terintimidasilah orang itu. And it feels really good.. hahaha... haduh setan apa sih yang merasuki aku sampe seneng liat orang lain terintimidasi oleh aku sendiri..
Bukannya apa-apa, aku baca di buku saku negotiating karangan siapa gitu.. (serial manajemen kalo ga salah) trik seperti ini kadang-kadang harus diterapkan kalau kita ingin memenangkan negosiasi..
Hasilnya sejauh ini aku cukup membuat kehebohan. Ratingku naik beberapa poin (karena jadi bahan pembicaraan kali ye..), tapi paling ga sekarang aku diperhitungkan lah.. ga sembarangan lagi kalau sudah menyangkut aku.. hehehe.. Betul juga kata orang tuaku, ilmu itu memang sangat berharga.. Beberapa kali aku dihadapkan pada fakta ini, maka jangan malas belajar..
Monday, April 13, 2009
Feel free to ask..
One of the local government employee came in, introduced himself to us as a data user. He needed Human Development Index data to accomplish his mission from his boss. We gave him the only book we have (we used to have lots of copy but they apparently to be disappeared since those data users borrowed from us). He insisted to borrow that only book. We pursued him to copy them rather than borrowed. He didn't want to know, he told us that he is a trustworthy guy and would return it as soon as he can. We told him that most of Bappeda guy used the same reason and they never returned it back..
I told him that if he really needed I can gave him the soft copy.. all he had to do was just submit his USB to us. He agreed.. and wondered why he couldn't borrow that only one book but he can get the soft copy.. I told him it is part of our service.. all he have to do is just ASK..
Lelang.. lelang...
Masih jelas teringat pagi itu tanggal 2 April, beliau kelabakan ketika menerima pemberitahuan mengenai matrik anggaran untuk pelatihan pemetaan. Walaupun angka itu masih perkiraan kasar alias belum fixed, tapi dia ragu-ragu apa yang harus dilakukannya. Dan aku.. tidak bisa lepas dari kalkulator untuk menghitung prediksi-prediksi yang mungkin terjadi dengan beberapa besaran rupiah yang akan digelontorkan.
Sejak awal aku sudah mengukuhkan diri untuk mengadakan lelang karena sesuai dengan ketentuan Keppres 80, kegiatan pengadaan barang dan jasa di atas 50 juta harus lelang, dan aku sudah segera memberitahu beliau untuk memasang pengumuman pada hari itu juga atau paling telat esok hari jika ingin mengadakan kegiatan paling lambat akhir bulan ini. (Itu kalau mau mensinkronkan antara aturan hukum dengan aturan dari pimpinan yang menginginkan agar pelatihan tidak dilaksanakan di bulan Mei). Tapi yah.. begitulah... aku kan paling junior disini, jadi pendapat dan saranku perlu justifikasi dari banyak pihak untuk segera disetujui. Setelah klarifikasi sana sini, telpon sana telpon sini beliau agak terpaksa untuk memasang iklan. Itupun setelah kami (yang lulus keppres 80 : Pak Muktar, Pak Ade dan aku) menyarankan untuk rembugan dengan kantor tetangga alias Kabupaten Bekasi.
Pendapatku sederhana, kita punya juklak, punya pedoman, punya ketentuan yang harus dan merupakan syarat cukup dan perlu dalam sebuah kegiatan pengadaan barang dan jasa yaitu keppres 80, maka ikutilah alurnya.. dan vuala.. pada rapat tadi pagi bunda bilang ternyata hanya 3 kab kota yang mengadakan lelang (karena nilainya di atas 50jt), yaitu kota bekasi, kab bekasi dan kab bogor. Tiga serangkai itu memang saling terkoneksi dengan baik. Sampai-sampai Kab. Bandung minta difax bagaimana sih bentuk pengumuman yang harus disubmit ke koran.. Padahal preparasi di kita sudah sampai menyiapkan semua kelengkapan dokumennya.. Hmm.. cuma sekedar menunjukkan bahwa kita bekerja tidak setengah-setengah...
I don't know.. somehow I feel like I'm on the edge of mountain.. feels like winning something.. what I think, what I feel, what I ever predict is just happen.. and it feels really good..
The bottom line is.. be carefull on what you do.. although the assignment came from the chief.. if it didn't suit the law.. don't do that.. it is your life you're gambling with...
Sunday, December 14, 2008
Investasi di jaman Nabi Yusuf

Dan begitulah ekonomi bekerja. Selalu ada masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Namun di masa-masa yang sulit sekalipun selalu ada jalan keluarnya. Salah satunya dengan saving. Seperti dalam teori Keynes, Y = C+I, pengeluaran terdiri dari konsumsi dan investasi, dimana I = S atau investasi dianalogikan dengan saving. Setiap dari kita selalu harus menyisihkan apa yang kita peroleh untuk ditabung guna menghadapi masa-masa sulit.
Dalam surat Yusuf itu juga disebutkan agar tidak menghabiskan semua bulir gandum melainkan menyisakan sebagian untuk simpanan dan sebagai investasinya dalam bentuk bibit. Maha besar Allah, yang sudah memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya arti saving dan investasi ini.
Relevansinya dengan kondisi sekarang bagaimana? Kondisi perekonomian global yang saar ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kegagalan mekanisme di sektor finansial harus belajar banyak dari pelajaran yang bisa diambil dari Surat Yusuf tersebut. Bahwa dalam perilaku untuk berinvestasi, perhatikan cara dan mekanismenya. Bila di surat Yusuf disebutkan untuk berinvestasi menyimpan bibit di batangnya untuk mengurangi cost of inventory, maka langkah yang bijaksana yang patut diambil oleh kita adalah dengan mengurangi cost of risk atau biaya resiko. Karena tidak memperhatikan aspek resiko berinvestasi inilah yang membuat banyak perusahaan besar dan tua bertumbangan. Selain itu, pernah dalam suatu interview di tahun 2003 Robert T Kiyosaki pernah mengatakan bahwa sebaiknya tidak berinvestasi di satu keranjang saja, melainkan di beberapa tempat. Sehingga bila investasi di satu tempat kolaps maka masih ada investasi lainnya.
Sunday, November 23, 2008
It’s not the economy stupid anymore, it’s nationalism!
Resesi ekonomi yang dihadapi Amerika sebagai akibat dari kekacauan sector financial mau tidak mau, suka tidak suka akan berimbas terhadap perekonomian
Inti permasalahannya bukan seberapa besar Indonesia akan terkena imbasnya, melainkan bagaimana Indonesia bisa mengelola krisis ini dengan cerdas. Sudah banyak tulisan-tulisan ekonomi berbau krisis yang mengatakan bahwa Indonesia akan terkena dampak yang sangat hebat dalam waktu singkat plus resep-resep menghadapinya.
Intinya, kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini selain masalah finansial adalah ketidakseimbangan demand-supply. Maksudnya begini, Indonesia selain sebagai produsen juga merupakan pasar yang besar (inget ga waktu SD kita sudah diajari hal ini, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pasar bagi negeri kita).
Volume ekspor kita yang turun sebagai akibat menurunnya daya beli di negara-negara tujuan ekspor (terutama Amerika) membuat pengusaha-pengusaha yang ada di Indonesia kebingungan karena berkurangnya permintaan dari luar negeri. Sebenarnya mereka juga berpikir bagaimana kalau barang yang diekspor itu dijual di pasar dalam negeri atau domestik. Namun, mereka menghadapi kendala lain.
Negeri Cina yang beberapa tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat juga mengalami kesulitan mengekspor ke negara-negara yang kini terkena krisis. Sehingga barang yang sedianya diekspor ke negara-negara tersebut dialihkan pasarnya ke Asia, khususnya Indonesia yang penduduknya juga besar.
Dalam mengelola krisis ini dengan cerdas, Indonesia bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan memperkuat pasar domestik yang dibarengi dengan mengecilkan kran import, terlebih lagi waspada terhadap barang import ilegal. Memang, siapa sih yang tidak tergiur dengan harga murah dari negeri lain. Disinilah peran nasionalisme muncul.
Logikanya, bila kita membeli barang yang diproduksi oleh negeri sendiri, otomatis perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang tersebut akan tetap eksis karena adanya permintaan dari dalam negeri, sehingga yang namanya PHK bisa diminimalisir. Dengan demikian timbullah daya beli di masyarakat, dan siklus bisnis pun terjadi.
Permasalahan dengan inflasi yang tinggi sebenarnya tidak perlu terlalu diributkan, karena inflasi itu seperti air yang mencari keseimbangannya sendiri (walaupun tetap harus dijaga dengan kerangka inflation targeting frameworknya Bank Indonesia). BI rate yang masih 9,5 persen memang menyulitkan dunia usaha yang akan meminjam ke bank akibat suku bunga kredit yang tinggi (karena mengacu pada BI rate). Namun bila permintaan dalam negeri dapat dipenuhi dan import dibatasi, maka hal tersebut tidak terlalu mengganggu jalannya siklus bisnis tadi.
Yang harus diwaspadai saat ini adalah rencana Amerika untuk mengeluarkan Surat Utang. Dengan diterbitkannya surat utang Amerika, maka nilai rupiah kita akan semakin terdepresiasi akibat permintaan dollar yang tinggi. Lagi-lagi keseimbangan demand-supply terkoreksi, inilah ekonomi.
Sekali lagi untuk Indonesia, nasionalisme perlu dijaga untuk menjaga keseimbangan demand-supply. It’s not the economy stupid anymore but nationalism!