Pages

Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Wednesday, February 12, 2014

A little thing called Supply and Use Table (SUT)

Seharusnya, hari ini saya mensubmit soal untuk ujian IO, SUT dan Nesparnas. Tapi entah kenapa sampai detik ini belum ada chemistry ke arah itu. Terus, saya teringat untuk memposting sesuatu di blog ini. Supaya saya ada chemistry dengan pembuatan soal itu, kenapa tidak saya bahas saja sekalian sedikit cerita tentang bagian kecil dari kuliah itu, Supply and Use Table atau Tabel Penyediaan dan Penggunaan.

Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...

Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.

Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini

SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.

Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional

Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :


Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.

Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.

Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.

Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.

Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he

Monday, January 20, 2014

A little thing about neparnas

Cuaca memang sedang tidak mendukung. Sudah seminggu ini hujan turun terus menerus seolah menuntaskan rindunya pada bumi. Hehehe hujan itu sanggup membuat orang jadi ber-melow ria ya. Hujan juga sanggup membuat aktivitas yang rutin dijalani tiba-tiba berubah 180 derajat dari posisi awalnya. Bayangkan, lalu lintas arah Jakarta dari Bekasi yang biasanya sudah macet jadi lebih macet lagi karena hujan yang turun membuat genangan di beberapa tempat, sehingga kendaraan yang lewat harus menurunkan kecepatannya. Ya bukan salah hujannya juga sih, salah manage kota aja.

Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.

Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.

Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.

Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.

Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata

Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.

Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.

Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..

Saturday, January 26, 2013

Ciri Khas Sistem Ekonomi

Saya menjadi follower @felixshiauw sudah cukup lama, saya mengagumi kedalaman ilmunya dan caranya memotivasi umat untuk berada di jalan Islam. Tetapi, selama itu saya tidak pernah membaca bio dari akun twitternya. Baru pagi ini saya membaca bio yang tertulis di akun twitternya, dan itu pun tanpa saya sengaja. Beliau menulis di bio nya : pengemban dakwah | re-establishment of Syariah-Khilafah | membaca untuk menulis, mendengar untuk menyampaikan | dan berharap berbagi surga bersama para syuhada.

Subhanallah.. itu sungguh-sungguh membuat hati saya mencelat.Terutama untuk kata-kata re-establishment of Syariah-Khilafah. Bagaimana tidak, saya sering sekali mengingatkan kepada anak-anak saya bahwa Indonesia itu negara dengan populasi Islam terbanyak di dunia, jadi mereka sebagai orang muslim harus menjadi muslim terbaik di bidangnya supaya Islam segera berjaya kembali. Dan ketika membaca bio felix, saya kembali teringat dan bersemangat untuk menjadi muslim terbaik di bidangnya untuk re-establihment of syariah-khilafah.

Saat ini sebenarnya saya sedang membaca buku Sistem Ekonomi Islam - Prinsip Dasar, yang ditulis oleh Dr. Muhammad Sharif Chaudhry, MA, LLB, Ph,D. Beliau adalah seorang hakim agung di Pakistan dan telah wafat tanggal 29 Juni 2009, semoga Allah mengampuni semua dosanya, menerima semua amal salehnya dan memasukkannya ke dalam surga. Naskah buku ini aslinya dapat didownload di http://www.muslimtents.com/ . Uniknya copyright nya gratis. Saya sendiri sengaja membeli buku ini di toko buku karena memang sangat tertarik dengan ekonomi Islam dan sangat antusias untuk mempelajarinya,

Bab pertama buku ini bercerita tentang ciri khas setiap sistem ekonomi. Dan itu adalah sedikit hal yang ingin saya bagi hari ini. Setiap sistem ekonomi memiliki ciri khasnya sendiri yang menjadi dasarnya. Dari dasarnya itulah maka sistem ekonomi tersebut dapat dikenali. Setidaknya ada 4 sistem ekonomi yang memiliki ciri khas.

Pertama, sistem kapitalis modern. Ini adalah sistem ekonomi yang saat ini banyak dianut oleh negara-negara di dunia. Kapitalisme modern muncul karena adanya industrialisasi yang cepat serta difasilitasi oleh kemajuan yang dicapai oleh manusia dalam sains dan teknologi, didasarkan pada ide perkeonomian pasar bebas, tanpa atau sedikit sekali campur tangan pemerintah di bidang ekonomi, bunga, dan perbankan. Jujur saja, ini adalah sistem ekonomi yang pertama kali saya pelajari dalam hidup saya.

Kedua, sistem sosialisme. Sistem ini muncul sebagai reaksi terhadap kapitalisme. Menganut kontrol negara sepenuhnya terhadap perekonomian dan pemilikan alat produksi oleh negara atau masyarakat. Sistem ini sempat mengalami masa jayanya setelah era perang dunia II.

Ketiga, sistem ekonomi feodal. Feodalisme berarti pemilikan tanah oleh sedikit orang atau keluarga dan menjadikan mayoritas masyarakat sebagai penyewa atau pekerja yang menggarap tanah, baik sebagai budak para tuan tanah atau sekadar berbagi hasil pertanian.

Keempat, sistem ekonomi Islam, yang sedang saya pelajari saat ini. Islam menganut keadilan dan kejujuran di lapangan ekonomi. Menurut Islam, manusia adalah khalifah atau wakil Tuhan dalam seluruh rencana Tuhan, dan telah diberi hak pemilikan terbatas atas alat-alat produksi. Islam mengakui adanya campur tangan negara dalam kegiatan ekonomi demi menjamin kesejahteraan warganya. Penghapusan bunga, pelembagaan sedekah dan zakat, konsep halal dan haram, distribusi kekayaan yang merata, dilarangnya penimbunan dan menekankan pentingnya sirkulasi keakayaan, konsen dengan kesejahteraan kaum miskin adalah ciri khas sistem ekonomi Islam. Saya menuliskan ini dengan apa adanya dari buku tersebut.

Walaupun saya masih dalam proses membaca buku tersebut, tetapi seperti kata felix shiauw dalam bio twitternya - membaca untuk menulis, saya tidak segan untuk menuliskannya.

Monday, November 19, 2012

It's all about the money

Uang merupakan souvenir from 20th century. Saya mengetahuinya dari suatu acara di BBC knowledge sekitar tahun 2010. Waktu itu masih langganan indovision (sekarang telkomvision). Di channel BBC knowledge, dulu itu kalau mau pergantian acara suka ada semacam klip tentang souvenir from 20th century, dan salah satunya adalah uang. Kenapa hari saya ingin cerita tentang uang? Karena saya habis baca bukunya DR. Ahmad Riawan Amin yang berjudul Satanic Finance - bikin umat miskin -. Di buku itu dijelaskan bagaimana uang membuat umat menjadi semakin miskin. Beliau adalah Presiden Direktur Bank Muammalat 1999 - 2008 dan seorang trainer kelas dunia.

Ceritanya dimulai dengan fiat money. Dulu, orang melakukan transaksi dengan sistem barter, lalu muncul mata uang emas, kemudian timbul uang kertas yang digadang-gadang lebih efisien dibandingkan uang emas. Tetapi, menurut buku tersebut justru adanya uang kertas lah maka terjadi berbagai krisis ekonomi yang salah satunya pernah kita alami di tahun 1997-1998. Menurut wikipedia, fiat money adalah uang yang nilainya berasal dari peraturan pemerintah atau undang-undang. Istilah ini berasal dari bahasa Latin fiat ("let it be done", "itu akan terjadi"). Uang yang diciptakan tanpa didukung (back up) dengan logam mulia seperti emas secuil pun. Uang ini bisa dicetak oleh penguasa dan tidak bisa ditukar dengan koin emas (karena memang tidak ada emas yang dicadangkan untuk mendukung pencetakan uang tersebut). Uang ini menjadi berharga dan berfungsi sebagai alat pembayaran barang dan jasa karena diterbitkan oleh pemerintah yang diakui. Artinya, kalau pemerintah kehilangan kepercayaan maka uang tersebut menjadi tidak berharga, kecuali senilai harga kertas dan biaya produksi untuk mencetaknya.

Karena tidak perlu back up logam mulia, otoritas moneter gampang tergoda untuk mencetak uang. Satu-satunya batasan yang harus diperhatikan adalah agar tidak menimbulkan inflasi. Jadi, kalau uang dicetak melebihi jumlah barang dan jasa atau output riil yang bisa diproduksi (kita mengenalnya dengan PDB menurut lapangan usaha) maka fenomena inflasi terjadi. Harga-harga barang dan jasa mengalami tren naik dari waktu ke waktu. Bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap (orang gajian, karyawan dan semacamnya) adalah golongan yang paling terkena dampak inflasi karena nilai riilnya terpotong dengan sebesar persentase inflasinya. Hal ini diperparah kalau yang menguasai perekonomian akhirnya mengatur budaya dan bahkan mengambilalih kepemimpinan setempat. Uang kertas tidak menambah produktivitas! Kecuali produktivitas maya yang membuat para penggunanya terus menerus bekerja hanya untuk mendapatkan kompensasi sumber daya yang sedikit. Akhirnya mereka yang tadinya baik, ramah dan suka menolong berubah menjadi individualis mementingkan diri sendiri.

Kondisi ini diperparah dengan adanya Fractional Reserve Requirement (FRR). FRR adalah cadangan yang disyarakatkan oleh bank sentral untuk memenuhi kondisi normal permintaan dari para deposan yang menarik tabungan atau depositonya. Besarnya jauh di bawah 100 persen. Aturannya begini, misal FRR 10%. Bank bisa meminjamkan 90% bagian lainnya kepada nasabah atau para deposan yang membutuhkan. Misalnya Bank A menerima deposit dari nasabah 1 juta. Berarti bank tersebut bisa meminjamkan 9 juta kepada nasabah lainnya. Sepintas ini keliatannya normal, tapi ini membuat aturan FRR menempatkan bank secara tidak langsung sebagai agen yang turut mensuplai uang (money supply). Dengan kata lain, bank (selain bank sentral) juga ikut mencetak uang, mencetak fiat money dan menggandakannya.

Hal lain yang memperparah perekonomian adalah interset (bunga). Bunga merupakan biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya. Lalu bagaimana semua ini bekerja?

Masih ingat persamaan kuantitas uang

MV = PY

M : Money supply (suplai uang)
V : Velocity of money (perputaran uang)
P : Price (tingkat harga) -> diukur dengan inflasi
Y . output riil barang dan jasa

Persamaan tersebut dibaca sebagai berikut : jumlah uang adalah sama dengan perkalian harga dengan kuantitas barang yang ditransaksikan.
Kalau bank mencetak uang, maka M mengalami kenaikan, artinya ada penambahan jumlah uang. Bila penambahan uang ini tidak diimbangi dengan peningkatan produk barang dan jasa (Y) maka harga-harga (P) mengalami kenaikan, dengan asumsi kecepatan peredaran uang (V) tetap. Apa yang terjadi? Inflasi..

Inflasi ini diperparah dengan aturan FRR dan adanya bunga yang diterapkan oleh bank yang mendanai sektor riil. Semua ini disebabkan oleh apa? Fiat money!

Padahal di atas tadi kita tahu, fiat money itu tanpa diback up oleh cadangan logam mulia dan hanya berdasarkan pada kepercayaan pada pemerintahan saja. Inilah yang menyebabkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998.

Ketika itu sejumlah spekulan (ya kita tahulah siapa yang menonjol, ya George Soros itu) mempermainkan mata uang kita dengan menarik simpanannya di sejumlah bank di Indonesia. Padahal kita tahu dari uraian FRR di atas bahwa kalau ada yang menyimpan uang di bank, bank bisa meminjamkan lebih dari yang dicadangkan itu. Jadi begitu simpanannya ditarik yang terjadi adalah gagal bayar dan membuat kepercayaan terhadap pemerintah berkurang dan mengakibatkan nilai uang kita terdepresiasi.

Itulah sebabnya BI selaku bank sentral menerapkan kebijakan pengendalian inflasi. Karena berdasarkan persamaan di atas, bila P sudah ditetapkan, maka BI bisa mengendalikan M untuk pencetakan uang (BI bisa menetapkan berapa persen FRR yang 'pantas').

Fiat money, Fractional Reserve Requirement (FRR) dan Interest adalah tiga pilar satanic finance yang membuat umat semakin miskin. And it's all about the money...

Monday, October 15, 2012

Happynomics

Minggu lalu, saya lagi jalan-jalan ke toko buku sama teman-teman dan menemukan buku yang cukup menarik. Judulnya 50 gagasan ekonomi yang perlu anda ketahui, yang ditulis oleh Edmund Conway. Buku ini enak dibacanya bahkan bila kita sama sekali tidak pernah belajar tentang ekonomi. Akhirnya saya beli buku itu dan mulai membacanya weekend ini. Oh ya, Edmund Conway itu editor ekonomi pada beberapa harian ternama di Amerika dan good looking guy pastinya (kenapa ahli ekonomi itu jarang yang jelek ya..)

Ok, waktu membaca buku itu tulisannya enak dibaca, gampang dimengerti (walaupun terjemahan) dan mengingatkan saya pada saat jatuh bangun belajar ekonomi dulu (background saya statistik, jadi pernah ada masa-masa kesulitan memahami ekonomi). Mungkin itu karena dia biasa jadi editor, jadi bisa menjelaskan hal yang sulit jadi mudah dimengerti.

Terus, sampailah saya pada chapter 49. Ok, sebenarnya saya baca secara random, karena judul di chapter 49 itu menarik sekali. Judulnya Happynomics. Dia mengkategorikan bab ini ke dalam ekonomi alternatif. Happynomics merupakan gagasan yang menyatakan bahwa ekonomi tidak selalu mengenai uang.

Happynomics diawali cerita tentang kondisi ekonomi di Bhutan tahun 1970-an. Ceritanya, di negara tersebut hampir seluruh ukuran ekonomi seperti PDB, pendapatan nasional, kesempatan kerja dan lain sebagainya tumbuh dengan sangat lamban. Jadi raja Bhutan akhirnya mengambil keputusan bahwa untuk mengukur kemajuan Bhutan tidak lagi diukur dengan indikator ekonomi tradisional melainkan oleh gross national happiness (kebahagaiaan nasional bruto).

Sang raja telah muncul dnegan gagasan yang akan tumbuh menjadi studi yang penting dan semakin dihormati, yaitu happiness economics. Ini merupakan subjek yang terhubung dengan diri kita. Sebagai bangsa dan sebagai individu, hampir semua orang menjadi lebih kaya dan lebh sehat daripada sebelumnya. Namun kekayaan tersebut berjalan beriringan dengan perasaan tidak puas. Mereka yang berada di negara kaya telah menjadi semakin tidak bahagia selama 50 tahun terakhir.

Pencarian kebahagiaan telah membuahkan hasil yang pasti di Bhutan. Sejak mengukur indeks kebahagiaan nasional bruto, negara tersebut telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa bahkan dalam istilah ekonomi konvensional. Pada tahun 2007, negara itu merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, sembari terus mempertahankan peningkatan kebahagiaan nasional brutonya. Sebagai upaya untuk mempertahankan kebahagiaan orang, terdapat keputusan bahwa 60 persen wilayah negara tersebut harus tetap tertutup oleh hutan, sementara turisme, yang ternyata mengurangi kebahagiaan, diturunkan setiap tahunnya. Uang didistribusikan kembali dari orang kaya ke orang miskin guna membantu menghilangkan kemiskinan massal.

Upaya untuk membuat Bhutan lebih bahagia tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan sebuah survei tahun 2005, hanya tiga persen penduduk yang dilaporkan tidak merasa bahagia, sementara hampir setengah dari populasi berkata bahwa mereka sangat bahagia. Namun survei semacam itu sering kali tidak jelas, tidak meyakinkan, dan sulit untuk dibandingkan secara empiris. Kebahagiaan jauh lebih sulit untuk diukur daripada misalnya tingkat kekayaan atau harapan hidup, dan itulah yang menyebabkan kebahagiaan diabaikan dalam ekonomi.

Pada dekade belakangan ini, para ekonomi dan psikolog telah, untuk pertama kalinya, mulai mengukur, secara jujur, kebahagiaan orang dalam penelitian panjang. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah walaupun kebahagiaan seseorang meningkat ketika ia berubah dari miskin menjadi kaya, tingkat kepuasannya mulai menurun ketika seseorang semakin jauh dari garis kemiskinan. Menurut Richard Layard, seorang ekonom Inggris yang berspesialisasi dalam ekonomi kebahagiaan, ketika gaji rata-rata sebuah negara berada di atas $20.000, kenaikan penghasilan berhenti membuat orang merasa lebih bahagia dan secara bertahap menjadikan mereka lebih tidak puas. Dalam konteks ekonomi, terdapat diminishing return untuk kebahagiaan setelah melalui titik tersebut.

Anyway, bagaimanapun juga saya masih berpegang teguh pada prinsip saya, bahwa bahagia itu optional. Adalah kita yang memilih untuk bahagia atau tidak..

Tuesday, July 10, 2012

Memahami Faktor Pencetus Inflasi Indonesia

KOMPAS.com - Di setiap awal bulan, berbagai data fundamental ekonomi domestik mulai dirilis oleh pemerintah. Baik itu data inflasi, ekspor, impor serta neraca perdagangan Indonesia. Salah satu data penting yang kerap menjadi perhatian adalah data inflasi.

Inflasi menurut ilmu ekonomi sederhananya adalah peristiwa di mana terjadi peningkatan harga barang-barang secara umum & terus menerus dalam suatu periode /kontinyu berkaitan dengn mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan hukum permintaan dan persediaan dari suatu barang atau jasa tertentu. Sedangkan jika yang terjadi sebaliknya, maka kondisi itu disebut deflasi.

Untuk konteks Indonesia, inflasi lebih sering terjadi. Berbeda misalnya dengan Jepang yang lebih cenderung terus menerus mengalami deflasi dalam jangka panjang. Mengapa di Indonesia lebih sering terjadi inflasi?

Pada dasarnya secara umum inflasi disebabkan oleh dua faktor yaitu karena yang dikenal dengan istilah demand pull inflation & cost push inflation. Demand pull inflation atau inflasi karena naiknya permintaan, lebih banyak terjadi pada saat-saat tertentu.

Datangnya tahun ajaran baru misalnya, akan menaikkan permintaan pemenuhan kebutuhan biaya dan perlengkapan sekolah. Peristiwa lainnya adalah menjelang datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa sampai dengan Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga secara otomatis akan menggerek kenaikan permintaan. Mulai dari makanan, pakaian bahkan juga kendaraan akan bergerak naik. Implikasinya, pada momen tersebut biasanya inflasi di di dalam negeri akan meningkat.

Selanjutnya adalah memasuki bulan Desember, saat Natal dan Tahun Baru. Kebutuhan biasanya ikut meningkat seiring perayaan Natal dan liburan tahun baru yang mendorong peak season tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk menggambarkan penyebab terjadinya cost push inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya, contoh yang paling populer adalah kenaikan harga bahan bakar minyak. Jika harga BBM naik berarti ongkos produksi meningkat. Maka produsen yang tidak ingin kehilangan profit akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga jualnya. Akibatnya, harga barang-barang secara bersama-sama akan naik sehingga terjadi inflasi.

Lebih spesifik untuk Indonesia, komponen inflasi di dalam negeri terdiri dari volatile foods (komponen harga bergejolak), administered price (komponen harga yang diatur pemerintah), core inflation (komponen inti) dan imported inflation (inflasi karena naiknya harga barang impor).

Apa sajakah yang memengaruhinya?
Yang tergolong dalam volatile foods adalah harga-harga barang yang tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Saat ini, indeks ini meliputi 7 (tujuh) kategori yang terdiri dari (1) Bahan makanan (2) Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ; (3) Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, rekreasi dan olah raga serta terakhir (7) Transport dan komunikasi dan jasa keuangan.

Berarti jika ada kenaikan harga dari ketujuh kategori di atas, maka komponen volatile foods akan bergerak naik dan mendorong laju inflasi domestik. Khusus kenaikan harga bahan makanan, dikenal juga dengan istilah Agflasi atau agriculture inflation yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga produk pertanian.

Adapun untuk sisi administered price terdapat beberapa contoh yang terjadi di Indonesia. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Oleh karena itu, biasanya jika pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, maka akan berpotensi menggerek inflasi di dalam negeri. Namun selama ini, kenaikan inflasi akibat BBM biasanya cenderung berangsur turun karena masyarakat sudah mulai menyesuaikan kebutuhannya dan beradaptasi dengan kenaikan BBM itu sendiri. Maka inflasi di bulan-bulan berikutnya cenderung akan lebih rendah dibanding pada bulan pertama dan kedua penerapan harga BBM yang baru. Selain itu juga, kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik, kenaikan tarif tol dan lainnya akan mendorong terjadinya inflasi.

Selanjutnya, core inflation merupakan underlying inflation yang cenderung menetap dalam setiap pergerakan laju inflasi. Dibandingkan dengan komponen inflasi lainnya, inflasi ini cenderung dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh bank sentral atau BI karena umumnya bersifat demand pull inflation. Maksudnya jika inflasi inti cenderung naik, maka kenaikan suku bunga acuan dapat menurunkan daya beli sehingga secara keseluruhan inflasi akan mereda.

Terakhir adalah imported inflation. Semakin banyaknya kebutuhan masyarakat yang dipenuhi dari barang impor cenderung membuat komponen imported inflation kian berpengaruh dalam laju inflasi. Cara cepat untuk menangani inflasi jenis ini adalah dengan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika rupiah menguat, maka imported inflation bisa ditekan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sebaliknya, jika rupiah cenderung terdepresiasi maka inflasi barang impor berpotensi meningkat.

Satu hal lagi yang menjadi faktor pencetus tingginya inflasi domestik adalah kondisi geologis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia misalnya, inflasi Indonesia cenderung tinggi. Diperlukan tambahan ongkos transportasi antar pulau yang biasanya akan menaikkan harga jual barang-barang. Akan tetapi, sebenarnya kondisi perekonomian dengan inflasi jauh lebih baik dibanding jika mengalami deflasi.

Mengapa demikian? Karena inflasi terutama yang disebabkan oleh demand pull inflation menunjukkan tingginya permintaan yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karenanya, di setiap negara umumnya memiliki target inflasi yang dianggap nyaman.

Saat ini, BI mentargetkan inflasi Indonesia 2012 di kisaran 4,5 persen plus minus satu . Artinya jika inflasi bergerak di level 3,5 – 5,5 persen kondisi tersebut masih terhitung nyaman untuk perekonomian Indonesia. Jadi tidak perlu takut dengan inflasi selama masih dalam koridor aman seperti yang terjadi sekarang ini di mana inflasi Indonesia Mei 2012 dibandingkan dengan Mei 2011 sebesar 4,45 persen. (Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Tresuri Bank BNI)