Monday, November 24, 2014
Bukan hari yang indah
Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..
Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe
Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.
Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.
Thursday, February 13, 2014
On the right track..
Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!
Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.
Friday, April 19, 2013
It's a damn statistics..
Nah, seperti halnya dengan pembalap formula 1, BPS juga begitu. Persiapan setiap kali akan menyelenggarakan sensus dan survei besar itu sungguh luar biasa. Mulai dari desain kuesioner, uji coba kuesioner, pilot survei, pelatihan, sampai pelaksanaan dan dilanjutkan pengolahannya. Pada saat pelaksanaannya pun memerlukan strategi untuk menjaga time reference dan kualitas. Kemudian juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak, sehingga pelaksanaan dan pengolahan datanya berjalan lancar. Tidak sampai disitu, setelah angkanya keluar masih harus dianalisis dahulu, disandingkan secara series beserta indikator lainnya.
Pembuktian datanya? Agak susah memang. Buat saya pribadi, data itu tidak ada yang salah. Yang ada kurang tepat penggunaannya. Karena data se’sampah’ apapun masih bisa digunakan selama tahu bagaimana menggunakannya. Agak berlebihan memang, tapi ini realitanya. Contohnya data kemiskinan. Banyak yang menyatakan data kemiskinan yang ada dan beredar serta digunakan saat ini salah. Harusnya kalau ada data yang salah pasti ada data yang benar. Nyatanya, data yang dianggap ‘sampah’ itu tetap digunakan terutama di kalangan politisi. Sebagian mengklaim keberhasilan kepemimpinannya, sebagian lagi untuk menjatuhkan lawannya. Lalu bagaimana dengan data yang benar? Who knows...
Garis bawahnya adalah, setiap kali kita akan melaksanakan suatu sensus, survei atau kajian, selalu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan untuk meminimalisir ‘error term’. Angka yang dihasilkan akan selalu mengandung ‘error term. Bukan tidak boleh percaya dengan angka-angak tersebut, tapi bijaksanalah menggunakannya. Pahami dulu konsep definisinya, batasan-batasannya, asumsi-asumsinya. Ingat-ingatlah bahwa. Statistik adalah suatu ilmu yang menghasilkan fakta yang sulit diandalkan dari angka yang diandalkan (Definition of statistics: The science of producing unreliable facts from reliable figures).
Ini cuma simple thought saya hari ini, di tengah penyelesaian pekerjaan angka statistik itu.. ^_^
Monday, April 8, 2013
I'm not perfect
Due date yang saya miliki kali ini memang semena-mena ditengah kesibukan rekan kerja yang lainnya. Tapi ini tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. Memang sih kalau sudah tepat waktu juga tidak ada rewardnya, tapi yang pasti banyak orang yang senang dan kita tidak memiliki tagihan lagi. Saat ini, kalau mengukur waktu, loading kerjaan dan tenaganya, rasa-rasanya sulit. Tapi akan lebih sulit lagi kalau tidak dikerjakan. Yah, saya bukan lah orang yang sempurna, tapi berusaha itu harus kan..
Ini adalah simple thought siang ini.. karena harus tepat makan, saya harus segera makan siang...^_^
Sunday, April 7, 2013
Sisi lain perikanan
Seperti biasanya, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan peserta yang memiliki usaha perikanan. Selain tambak bandeng dan udang, usaha penangkapan ikan di laut dan sungai juga dilakoni oleh sebagian besar penduduk di kecamatan ini. Dari sisi produksi, biaya produksi di bidang perikanan cukup membuat mereka kesulitan dalam melakukan usahanya. Misalnya untuk penangkapan ikan. Kapal yang diperlukan untuk melaut itu harganya mahal, belum lagi solar dan peralatan lainnya seperti jaring dan pukat. Oleh karena itu, ketika melaut mereka melakukannya secara berkelompok dan modalnya ditanggung bersama, termasuk juga menyewa kapal kalau salah satu diantara mereka tidak memiliki kapal. Hasilnya mereka bagi sesuai dengan persentase modal yang mereka setor.
Masalahnya, bagaimana mereka memasarkan hasil tangkapannya? Mereka mengaku menjual langsung di pasar ikan Cilincing dan Marunda. Kebetulan disana sekarang sudah ada tempat pelelangan ikan. Jadi mereka tinggal membawa hasil melautnya kesana untuk dijual.
Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang mengusahakan ikan di tambak. Mereka menjualnya ke TPI, hanya saja sarana transportasinya kurang baik. Mereka juga bercerita kalau saat ini di wilayah mereka yang memiliki tambak dan kapal kebanyakan bukan penduduk setempat. Artinya, kapital yang mereka miliki bukanlah berasal dari daerah tersebut. Mereka hanya merupakan bagian dari faktor produksi.
Biasanya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan modal. Sejauh apa bantuan tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan mereka jika sistemnya seperti ini? Sebesar apapun bantuan yang diberikan oleh pemerintah, kalau sistemnya belum mendukung, memang akan sulit untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.
Ini adalah salah satu simple thought hari ini dari pengalaman di tempat pelatihan ini.
Friday, April 5, 2013
Petaniku sayang, petaniku malang..
Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar pelatihan sensus pertanian 2013 gelombang pertama dari dua gelombang di Kab. Bekasi. Sedikit merasa ketar ketir apakah materi yang saya sampaikan terterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Pasalnya dari 24 peserta, hanya 6 orang saja yang sudah pernah mengikuti pelatihan sensus atau survei yang diselenggarakan BPS. Sungguh, ini merupakan tantangan tersendiri buat saya. Bagaimana caranya agar mereka bisa memahami dan mengikuti konsep definisi dan alur kerjanya BPS. Maklum saja, beberapa di antara mereka adalah petani sungguhan. Beberapa lagi malah seperti fresh graduate dari SMA kalau dilihat tampangnya. Tapi, tampang kan bukan jaminan seseorang akan lebih mudah menerima materi.
Sekarang, mereka sedang menjawab soal pendalaman materi. Perasaan saya jadi harap-harap cemas, khawatir mereka tidak bisa mengisi lembar jawaban mereka dengan benar. Bukankah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana mereka menerima materi itu diukur dari hasil pendalaman ini.. Memang ini bukanlah pengalaman pertama saya mengajar materi sensus atau survei, tapi perasaan seperti ini kerap saya rasakan di akhir pelatihan. Bagaimana tidak, kalau mereka sampai tidak paham betul dengan kegiatan ini, hasilnya sudah dipastikan jauh dari baik.
Sebelumnya, saya sempat berbincang-bincang dengan petani sungguhan yang ikut pelatihan ini. Dia cerita bagaimana proses produksi padi, kendala produksinya, cara menjualnya sampai ketidakpastian harga yang mereka terima dari tengkulak. Jadi, salah satu kendala terbesar mereka dalam proses produksi adalah sulitnya supply pupuk dengan harga yang pas. Seringkali mereka harus berhutang ke supplier pupuk untuk mendapatkan pupuk. Itupun kalau stok pupuknya tersedia. Biasanya mereka harus mengalami penundaan untuk menanam karena pupuknya tidak ada dan harganya mahal.
Dari sisi penjualan juga mereka seperti terperangkap dalam suatu sistem yang seperti vicious cycle atau lingkaran setan. Hasil padi yang mereka peroleh dengan biaya produksi yang cukup besar itu, dijual dengan harga empat ratus ribu per kuintal. Padahal, menurut pengakuan mereka, dari satu hektar lahan sawah menghasilkan lima ton padi atau lima puluh kuintal padi. Bila diuangkan menjadi empat juta rupiah. Ini belum dikurangi biaya produksi seperti pupuk yang harganya 1.900 rupiah per kilo untuk pupuk urea dan 2.300 rupiah per kilo untuk pupuk TSP. Mereka memerlukan dua kuintal urea dan satu kuintal TSP untuk lahan satu hektar. Biaya produksi itu belum termasuk biaya buruh taninya. Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk hasil rata-rata 5 ton beras per hektar. Kemudian, mereka menjualnya kepada tengkulak bukan ke KUD. Itu belum mempertimbangkan sistem pengelolaan lahannya yang seringkali tidak dimiliki sendiri oleh mereka.
Miris ya.. tapi itulah kenyataannya. Di dalam ekonomi mikro, dikatakan people respond to incentive. Sekarang bagaimana petani-petani tersebut terpacu untuk meningkatkan produksinya kalau biaya produksinya besar, harga jualnya kecil dan sistem pengelolaan lahan yang kurang fair. Jadi tidak heran kalau generasi mudanya tidak ingin menjadi petani karena prospek sektor pertaniannya tidak cerah. Bahkan petani yang memiliki lahan sendiri, memilih untuk menjual lahannya dan beralih ke sektor lain ketimbang meningkatkan produksi padi. Kalau sudah begini dijamin produksi padi kita akan terus berkuang. Padahal, makanan utama bangsa Indonesia adalah beras yang berasal dari padi.
Sudah jelas peran pemerintah sangat besar di sektor ini. Pemerintah bisa menyederhanakan distribusi pupuk agar harganya bisa lebih murah untuk memangkas biaya produksi. Pemerintah juga bisa menetapkan harga yang 'pantas' supaya kesejahteraan petani terjaga. Misalnya, pada pasar komoditi, pemerintah bisa menetapkan hedging price. Selain itu, pemerintah juga bisa membeli padi yang dihasilkan dan melakukan pengolahannya menjadi beras. Jadi, petaninya hanya akan memikirkan bagaimana caranya supaya produksinya meningkat. Kalau begini kan mereka tinggal mempelajari teknologi peningkatan produksi padi.
Tapi, kenapa pemerintah kelihatan sulit sekali melakukan hal itu? Pemerintah lebih memilih membuka kran impor beras untuk menstabilkan harga beras. Memang dalam jangka pendek, impor beras diperlukan untuk menstabilkan harga, tetapi kalau proses produksinya tidak diperbaiki yang ada kita akan terjebak pada ketergantungan dengan negara lain yang menjadi pengekspor beras. Atau apa memang sudah ada konspirasi internasional supaya Indonesia tidak berkutik dalam ketahanan pangannya? Supaya lebih mudah menguasainya? Perasaan ngeri kini mulai merambati pikiran saya..
Begitulah simple thought hari ini. Saya harus mempersiapkan diri saya untuk mengajar gelombang ketiga di tempat ini juga. Pulang hampir larut malam selama lima hari berturut-turut akan tetal saya lakoni kalau itu bisa membuat Indonesia jadi lebih baik..
Saturday, February 23, 2013
Shine like a diamond
Bahan dasar berlian adalah karbon yang mengalami tekanan sangat kuat di muka bumi, kira-kira 5 giga pascal. Ketahuilah, 5 giga pascal itu sama dengan 725.188,689 psi. Sebagai perbandingan, tekanan angin ban mobil itu biasanya 32 psi. Karbon ini mengalami pemanasan sekitar 1.200 derajat celcius.
Terbayang, kombinasi tekanan, suhu yang tinggi, proses yang lama hingga jutaan tahun bahan miliaran, akhirnya menghasilkan Kristal yang sangat keras dan sangat padat.
Itu pun belum berhenti sampai disini. Karena Kristal berlian itu harus dipotong untuk mendapatkan bentuk yang indah. Yang memotong tentunya orang yang ahli, memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memotongnya.
Cerita tentang diamond di atas itu, saya dapat dari bukunya Noveldy dan mbak Nunik yang judulnya menikah untuk bahagia. Kenapa saya cerita tentang berlian? Karena saya ingin berlian? Iya lah itu pasti. Tapi saat ini bukan cuma itu, kalau dipikir-pikir (karena ini simple thought, jadi saya mikir yang simple aja) manusia untuk berkilau dan bernilai tinggi juga harus seperti berlian itu. Rela mengalami tekanan, suasana panas, proses yang panjang dan juga harus rela dibuang bagian-bagian buruknya untuk mendapatkan bentuk yang memancarkan kilau yang indah.
Mengalami tekanan hidup, pekerjaan, semacam survivatory sungguh bukan hal yang enak untuk dijalani, tapi itu harus dijalani. Suasana yang tidak enak, atmosfer yang tidak kondusif sehingga rasanya seperti kekurangan oksigen dan membuat dada sesak mau tak mau harus dipaksakan. Mengeluh jelas tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Prosesnya lama dan harus rela dibentuk.
Masalahnya, relanya itu semacam apa? Nah itu..
Macgyver bilang think!
Sunday, February 10, 2013
Parkir
Hari Minggu ini rencananya ingin memaksimalkan leyeh-leyeh di rumah sambil baca novel, tapi tadi pagi adik yang di Bogor telpon dan mengajak ketemu di rumah orang tua yang berjarak 14 kilometer dari rumah. Sepertinya saya harus telpon ibu saya untuk konfirmasi kedatangan saya dan adik saya, karena rumah ibu saya itu susah parkirnya. Kebayang nanti kalo mbak Silvy (sebutan mobil saya) dan Ce Mumun (sebutan mobil adik saya) datang, tidak dapat parkir.
Dulu, kalau saya ke rumah ibu, bebas mau parkir dimana saja karena belum banyak mobil. Sekarang memang agak repot karena banyak tetangga ibu saya yang parkir di depan rumah.
Saya jadi ingat kemarin juga saya dan hubby kesulitan dapat parkir di metmall. Sepertinya parkir sudah menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah. Meningkatnya kepemilikan kendaraan roda empat di Bekasi memicu kurangnya lahan parkir di rempat umum. Bahkan ketika saya hendak sholat maghrib di masjid Al Barkah (masjid terbesar di Kota Bekasi), saya juga kesulitan mendapat parkir.
Saya pikir, tidak heran kalau pemprov DKI menaikkan tarif parkir menjadi 4000 per jam karena terbatasnya lahan parkir. Itu akan menstimulus masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Berbeda dengan tarif parkir di Kota Bekasi yang masih 2000 per jam. Kebijakan di DKI biasanya mendapat perhatian bagi Pemkot Bekasi. Ini seperti game theory dimana setiap daerah melirik strategi yang diterapkan daerah sekitarnya.
Tahun 2009, saya pernah mengumpulkan data parkir di empat mall besar di Kota Bekasi. Saya melakukan itu untuk menghitung PDRB subsektor jasa penunjang angkutan. Waktu itu saya mencurigai sepertinya pendapatan dari parkir yang dikelola swasta ini lumayan besar dan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap sektor angkutan.
Saya tidak bisa mengungkapkan hasil survey tersebut karena kerahasian datanya, yang jelas sharenya lumayan. Saya sendiri waktu itu sempat tercengang dengan potensi parkir terhadap sektor angkutan. Perparkiran yang digarap swasta ini memang bisnis yang menggiurkan. Belum lagi parkir di sekitar stasiun dan pintu tol yang dikelola oleh perorangan.
Parkir kelihatannya sepele, tapi nyatanya memiliki potensi untuk dikelola secara profesional demi ketertiban umum.
Friday, February 8, 2013
Perubahan
Ketika sedang wawancara untuk mendapat paspor, bapak-bapak yang mewawancarai saya tertegun waktu saya bilang saya PNS di Badan Pusat Statistik. Katanya dulu dia pernah ikut pelatihan analisis statistik dasar di BPS sekitar tahun 92-an (dia lupa tahunnya).
Lalu, jiwa pencacah saya pun keluar. Saya tanya tahun berapa bapak mulai bekerja di imigrasi. Dia bilang sudah bekerja sejak tahun 1986. Saya berkomentar bahwa bapak ini pasti sudah mengalami banyak perubahan sistem di imigrasi selama bekerja, karena saya hafal betul bagaimana bentuk kantor imigrasi yg selalu saya lewati dulu ketika kuliah. Dia tertawa, katanya dia sudah melalui tiga jaman.
Dia tidak bertanya yang macem-macem lho, cuma mencocokkan data di dokumen dan yang di formulir. Kemudian dia bercerita bagaimana ripuhnya jaman dulu ketika dia mulai bekerja, dilanjutkan penggunaan teknologi komputer.
Terus dia juga cerita bagaimana proses adaptasinya pakai komputer. Sampai akhirnya kita bertukar cerita soal anak. Bahaya teknologi informasi terhadap anak-anak dan lain sebagainya.
Saya jadi tahu anaknya ada 3, yang paling besar kuliah, dan yang bungsu kelas 4 SD. Saya juga jadi mengerti bahwa beliau perlu usaha yang lebih untuk beradaptasi dengan perubahan sistem di imigrasi, mulai dari aturannya, etikanya, teknologinya dan lain-lain.
Saya juga mendengarkan keluhannya mengenai pegawai-pegawai baru yang dianggapnya kurang giat dalam bekerja padahal mereka masuk berbekal ijasah sarjana. Keluhan yang sama yang sering saya dengar di kantor saya.
Alhasil wawancaranya jadi lama. Hubby yang dapat jadwal wawancara lebih dulu terlihat bingung kenapa saya lama sekali. Waktu dia tanya apa yang membuat saya lama, saya bilang "Biasa lah A, jiwa pencacah saya suka muncul di waktu yang tak tepat. Suka kepo aja gitu".
Bapak pewawancara itu telah menunjukkan bahwa apa yang dibilang Charles Darwin tentang bukan yang terkuat dan terpintarlah yang mampu bertahan, melainkan yang bisa beradaptasi terhadap perubahan, memang benar adanya. Kotaro Minami di film serial Satria Baja Hitam bilang : kalau saya tidak berubah, saya tidak bisa menang. Jadi, siap-siaplah berubah!
Menunggu asyik..
Saat menuliskan ini, saya sedang berada di kantor imigrasi, menunggu untuk difoto. Kemudian terlintaslah di benak saya apakah model model kalau mau difoto juga seperti saya, menunggu, menanti giliran di sekitar set foto. Imaginasi saya memang suka berlebihan kalau lagi menunggu. Mungkin aroma bulgari dari emak-emak sebelah saya ini yang bikin saya membayangkan model segala.
Minggu lalu, saya juga dalam posisi yang sama seperti ini. Menunggu ketika sedang memperpanjang SIM di Polres Bekasi. Tapi namanya juga perlu jadi ya dilakoni saja.
Katanya pelayanan publik sudah diperbaiki dan ditertibkan. Nyatanya tetap saja calo bermain. Saya melihat petugas resmi yang terlihat asyik berbicara dengan calonya. Gimana sih? Malahan waktu saya tanya prosedur pengurusannya, si petugas me'refer' ke seorang calo.
Ups, saya tidak bermaksud mengeluhkan pelayanan publik. Hanya saja, saat ini memang pelayanan publiknya belum standar. Tidak perlu jauh-jauh ke ketepatan waktu dan lain sebagainya. Calonya saja masih eksis. Suka tidak suka harus saya akui memang tidak mudah memulai ini semua. Tapi kalau tidak dimulai kapan ada hasilnya.
Ah sebentar lagi nomor antrian saya dipanggil. Saya harus sudahi postingan ini. Padahal wifinya sedang kenceng-kencengnya. Layanan free wifi ini jadi poin positif pelayanan publik. Ya, apapun mungkin di dunia ini untuk berubah lebih baik..
Sunday, February 3, 2013
Bukan Komoditas Biasa
Ketika sedang mengisi bbm di SPBU dekat rumah, hubby secara tidak sengaja bicara mengenai minyak yang merupakan komoditas dengan karakteristik yang khusus. Katanya dibandingkan komoditas lainnya, minyak (sebutan yang lebih sederhana) memiliki serentetan peristiwa yang banyak. Minyak adalah komoditas energi. Karena minyak lah maka terjadi perang, inflasi, perubahan asumsi, dan menarik minat politikus.
Seperti komoditas lainnya, misalnya jagung atau emas, minyak (dan gas alam, yang memiliki kaitan erat dan perilaku yang sama) merupakan sebuah aktiva yang dapat diperdagangkan di pasar future, dan harganya naik turun mengikuti naik turunnya permintaan di pasar. Namun komoditas energi berbeda karena dua alasan utama.
Pertama, energi merupakan elemen penting bagi negara sehingga politikus cenderung memandangnya sebagai masalah keamanan nasional. Dan jika politikus sudah terlibat dalam sesuatu, maka asumsi yang biasa berlaku mengenai penawaran, permintaan dan harga cenderung tidak bisa lagi diterapkan.
Kedua, harga energi merefleksikan biaya jangka panjang terhadap kumpulan polusi. Membakar bahan bakar fosil menghasilkan campuran gas yang terkait dengan pemanasan global. Dampak tidak langsung semacam ini dari sebuah aktivitas, yaitu ketika tindakan seseorang dapat menimbulkan bahaya atau kerusakan besar terhadap orang lain yang tidak bersalah tanpa disertai keharusan membayar atau bertanggung jawab untuk itu adalah sesuatu yang disebut eksternalitas oleh para ekonom.
Yang membuat saya tersenyum adalah ketika hubby merefleksikan minyak ke dalam puisi yang jadi aneh kalau dibaca. Tapi saya ga akan menyampaikannya, karena ini bukan komoditas biasa..
Wednesday, August 1, 2012
Gender.. Gender.. dan Gender
Sebenarnya, kalau pertama kali mendengar kata gender, kita langsung mengasosiasikan dengan perempuan. Gender itu menurut kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak RI adalah perbedaan-perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan yang bukan bersasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas. Di TOT ini merupakan rangkaian dari program pengarustamaan gender (bahasa inggrisnya sih gender mainstream). Kenapa perencanaan dan penganggaran harus responsif gender? Pertama supaya efisien dengan tepat sasaran, mana yang untuk perempuan dan mana yang laki-laki. Kedua, supaya adil, jadi baik laki-laki maupun perempuan bisa sama-sama menikmati hasil pembangunan. Misalnya nih, dalam suatu pelatihan, seorang event organizer harus tau berapa peserta laki-laki dan perempuan untuk alokasi penginapan. Jangan sampai tercampur-campur... hehehe. Disinilah berperan data. Data terpilah menurut jenis kelamin sangat sakti digunakan dalam membuat suatu perencanaan dan penganggaran. Sempat berpikir nakal juga gimana kalau data terpilahnya itu berupa PDRB yang dihasilkan oleh laki-laki dan perempuan atau andil inflasi yang disebabkan oleh komoditas yang banyak digunakan laki-laki dan perempuan.. hehehe lucu kali ya.. Kalau TPAK laki-laki dan perempuan kan sudah biasa, nah ini PDRB laki-laki dan perempuan.. Owww..
Soal gender, jadi keinget artikel dari untukku.com yang pernah memposting tentang profesi perempuan yang tidak disukai pria. Di artikel tersebut disampaikan profesi apa saja yang tidak disukai pria dengan berbagai alasan. Salah satunya yang bikin jleb adalah PNS.. Artikel ini jadul banget sebenarnya (2008), tapi aku masih suka baca aja. Kalau mau liat baca di blog multiply.
Yah, hasil dari TOT itu intinya mah laki-laki dan perempuan itu memang berbeda dan memerlukan perhatian lebih dalam melakukan perencanaan dan penganggaran supaya diperoleh keadilan dan kenyamanan dalam hidup. Lumayan lah untuk menambah wawasan dan membuka pikiran.
Thursday, April 21, 2011
diam itu.. tidak ngomong..
Dulu, saya suka berpikir kenapa orang yang ditangkap harus diam? Memangnya kalau dia teriak-teriak akan ada orang yang menolong? Yang menangkap kan polisi.. mana ada yang mau nolongin dia.. (dulu disini maksudnya sekitar tahun 85-an). Akhirnya, saya mengerti, kenapa sang buronan punya hak untuk diam (right to remind silent). Maksudnya, apapun keterangan yang keluar dari mulutnya saat itu bisa digunakan dalam persidangan nantinya sebagai bukti..
Sebegitunya.. bahkan seorang buronan pun punya hak untuk diam. Menurut agama saya, kalau kita tergoda untuk marah, sebaiknya diam. Karena kalau dalam kondisi marah, kita banyak bicara, kemungkinan besar apa yang keluar dari mulut kita hanya berisi hal-hal yang tidak baik. Jadi teringat, pernah ada yang menulis status "segala sesuatu yang diawali dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu". Jadi alangkah baiknya kalau dalam kondisi marah, sebaiknya ya diam saja.
Diam itu emas.. diam itu tidak ngomong..
Sunday, March 20, 2011
From Korean Series
1. Mereka cinta produk dalam negeri.
Sepertinya saya belum pernah melihat sebuah screen yang tidak menampilkan produk asli Korea. Mulai dari mobil yang mereka gunakan (terutama untuk Korean Series yang baru2) yang ditampilkan selalu mobil-mobil produksi mereka macam hyundai atau KIA. Begitu juga handphone kalo ga LG ya Samsung. Gadget mereka, yang ditampilkan adalah produk bikinan mereka walaupun hasil meniru. Dan mereka bangga!
2. Kuliner mereka lestari
Dalam Korean Series, walaupun ceritanya tentang remaja atau anak sekolahan, tapi gaya kuliner mereka tetap Korea yang makan nasi, sayuran dan buah. Tidak terlihat di screen mereka lagi nongkrong di McD atau franchise barat lainnya. Kalaupun ada frame yang menceritakan lagi makan burger atau hotdog, itu adalah resto mereka bukan franchise dari barat.
3. Aja aja fighting!
Kata kata ini hampir selalu ada di setiap Korean Series yang sudah ditonton. Ini adalah kata-kata penyemangat kalau lagi down. Maksudnya supaya tidak segera menyerah dan tetap berusaha.
4. Pemandangan
Tidak perlu diragukan lagi, mereka pinter ngambil view yang bagus. Musim dingin diolah sedemikian rupa jadi lebih menarik. Musim gugur juga begitu, ranting-ranting kering kenapa jadi enak dilihat ya? Hal sepele diolah dan dikemas sedemikian rupa menjadi luar biasa dan enak dilihat.
5. Lesson of life
Korean Series memang tak ubahnya sinetron di Indonesia. Ceritanya sederhana dan mudah dicerna serta tidak pakai ribet dan terkadang sedikit lebay dan bertele-tele. Tetapi dalam setiap Korean Series, mereka selalu memasukkan pelajaran hidup di dalam adegan dan ceritanya. Tanpa terkesan menggurui dan mendikte. Ini yang menjadi kekurangan dalam sinetron di Indonesia. Kalaupun ada message nya terkesan sangat menggurui.
6. Friendly episode
Jumlah episode Korean Series memang bener2 friendly, sekitar 15-30 episode tiap judulnya. Ini dikemas dalam 3-4 DVD. Kalau beli bajakan pun sekitar 30 ribuan. Satu seri bisa ditonton untuk seminggu, tergantung kondisi, mau stripping nontonnya atau santai. Dibandingkan kalau saya membeli novel yang harganya sudah diatas 50 ribuan dan habis dalam sekejap (kpm saya tinggi) acara nonton Korean Series ini jadi alternatif hiburan yang murah. Tapi mata saya lebih cepat lelah menonton dibandingkan membaca.
Okay, itu saja beberapa catatan dari Korean Series. Ambil bagusnya buang jeleknya. Tiru baiknya lupakan buruknya..
Friday, March 18, 2011
Mengeluh tidak menyelesaikan masalah
Begitu pula pada saat kuliah, karena harus berangkat dari rumah jam 5.15 pagi. Padahal dari TK hingga SMA jarak antara rumah dan sekolah tidak pernah jauh. Awal kuliah adalah saat yang berat karena saya berangkat dari Bekasi ke Depok dengan angkutan umum pula. Tetapi, ketika saya diterima di sekolah kedinasan, saya malah merindukan saat-saat kuliah di UI. Karena kuliah di sekolah kedinasan trrsebut adaptasinya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi :)
Lalu, saya menerimanya begitu saja dan berhenti mengeluh, karena masa depan saya dirangkai disana. Hari demi demi hari dijalani saja tanpa banyak mengeluh. Macet di pulogadung dinikmati, pulang kuliah harus les bahasa inggris di LIA, ya dinikmati saja.. Akhirnya, selesai juga dan ditugaskan di tempat yang baik.
Sudah bekerja pun, saya masih suka mengeluh.. Harus ke lapangan sampai malam lah, dimarahin responden lah, rekan kerja yang ga friendly, kebijakan yang makan ati.. Selalu ada hal yang dikeluhkan. Tetapi semuanya sama, semakin saya sering mengeluh semakin tidak nyaman untuk dikerjakan dan semakin tidak berarti apa yang sudah dikerjakan. Pelajaran hidup yang mengagumkan ini saya dapat dari hasil mengamati kehidupan ibu saya.
Ibu, tidak memiliki pendidikan yang baik. SD saja beliau tidak tamat. Bapak saya juga bukan orang yang memiliki pekerjaan stabil. Pernah selama dua tahun bapak saya tidak bisa menafkahi kami karena sakit. Dan demi Allah, tidak sekalipun saya mendengar ibu saya mengeluh, padahal saat itu saya sedang duduk di bangku SMP dan membutuhkan biaya yang besar. Beliau hanya berusaha mencari jalan untuk mendapatkan uang tanpa harus berhutang. Padahal sekolah SD pun tidak dapat. Menurut beliau, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak bisa bersyukur dan tidsk akan mengatasi apapun.
Waktu ibu menunaikan ibadah haji tahun 2003 doa yang beliau panjatkan untukku adalah agar aku menjadi orang yang bersyukur. Katanya, kalau kita bersyukur maka nikmatnya akan ditambah oleh Allah. Padahal waktu itu saya menitip doa agar saya dibebaskan dari hutang. Bahkan, saya yang dianugerahi pendidikan yang jauh lebih baik tidak berpikir hingga kesitu.
Mengeluh memang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah hanya akan membuat kita tidak bersyukur. Dan bila kita tidak bersyukur, nikmatnya tidak akan ditambah oleh Allah SWT. Jadi, dilarang mengeluh!
Monday, March 14, 2011
Jumlah Si Miskin
Sejumlah tokoh lintas agama membuat pernyataan terbuka. Mereka menyebut pemerintah telah berbohong. Tidak tanggung-tanggung kebohongan itu. Jumlahnya delapan belas, terdiri dari sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru. Demikian tersua di pelbagai media.
Karena pernyataan terbuka ini merupakan seruan moral tokoh lintas agama yang tak punya kepentingan politik praktis, gaungnya ke mana-mana. Pemerintah berusaha membela diri, tetapi membikin situasi justru lebih buruk. Pemerintah dinilai kurang arif dan tak mau menerima masukan konstruktif.
Salah satu kebohongan lama yang disebutkan adalah perihal penyampaian angka kemiskinan. Pemerintah dituduh berbohong karena menyatakan jumlah penduduk miskin 2010 adalah 31,02 juta jiwa, padahal data penduduk yang layak menerima beras miskin 70 juta jiwa.
Pertanyaannya, mengapa sampai ada dua angka kemiskinan yang jauh berbeda, padahal keduanya sama-sama berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Data kemiskinan makro
Mencoba menghitung jumlah penduduk miskin bukan pekerjaan mudah. Setakat ini belum satu pun metodologi yang sempurna memotret kemiskinan. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi maknanya sangat luas sehingga bisa mengundang perdebatan panjang. Contohnya, apa yang dimaksud dengan kehidupan bermartabat. Apa pula yang termasuk hak-hak dasar? Apalagi, tidak semua hak dasar dapat dikuantifikasi, seperti rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.
Dari definisi itu terlihat bahwa kemiskinan merupakan masalah multidimensi. Sulit mengukurnya sehingga perlu kesepakatan pendekatan pengukuran yang dipakai.
Salah satu konsep penghitungan kemiskinan yang diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan konsep ini, definisi kemiskinan yang sangat luas mengalami penyempitan makna karena kemiskinan hanya dipandang sebagai ketakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Dalam terapannya, dihitunglah garis kemiskinan absolut. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin. Penghitungan penduduk miskin ini didasarkan pada data sampel, bukan data sensus, sehingga hasilnya sebetulnya hanyalah estimasi.
Data yang dihasilkan biasa disebut data kemiskinan makro. Di Indonesia, sumber data yang digunakan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional. Pencacahannya dilakukan setiap Maret dengan jumlah sampel 68.000 rumah tangga. BPS menyajikan data kemiskinan makro ini sejak tahun 1984 sehingga perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin bisa diikuti dari waktu ke waktu.
Salah satu data kemiskinan yang mengundang polemik panjang adalah data kemiskinan pada Maret 2006. BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta jiwa (15,97 persen) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta jiwa (17,75 persen) pada Maret 2006 karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Data kemiskinan makro yang terakhir dikeluarkan BPS adalah posisi Maret 2010 ketika jumlah penduduk miskin 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen total penduduk Indonesia. Data ini hanya menunjukkan estimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan serta evaluasi program kemiskinan dengan target geografis.
Akan tetapi, data itu tidak dapat menunjukkan siapa dan di mana alamat penduduk miskin sehingga tidak operasional untuk program penyaluran bantuan langsung, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Data kemiskinan mikro
Masalah muncul saat pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun 2005 dan ingin memberi kompensasi kepada penduduk lapisan bawah berupa penyaluran bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat. Orientasi program penanggulangan kemiskinan di Indonesia mendadak berubah total.
Di zaman Orde Baru, program penanggulangan kemiskinan memakai pendekatan geografis (desa), seperti Inpres Desa Tertinggal. Sejak tahun 2005, yang digunakan pendekatan individu atau rumah tangga, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Penyaluran bantuan langsung tak bisa memakai data kemiskinan makro sebab memerlukan nama dan alamat si miskin. Pengumpulan data harus dengan sensus, bukan sampel, sehingga data yang dihasilkan disebut sebagai data kemiskinan mikro. Ini berbeda dengan metode penghitungan kemiskinan makro dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Pengumpulan data kemiskinan mikro didasarkan pada ciri-ciri rumah tangga miskin supaya pendataan bisa cepat dan hemat biaya.
Sampai saat ini baru dua kali BPS mengumpulkan data kemiskinan mikro: Oktober 2005 dan September 2008. Data yang diperoleh disebut data rumah tangga sasaran (RTS) dan mencakup bukan hanya rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan.
Jumlah RTS hasil pendataan September 2008 adalah 17,5 juta. Dengan asumsi kasar rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang, diperoleh angka 70 juta jiwa. Jadi, sebetulnya tak ada dua angka kemiskinan. Data 31,02 juta menunjukkan penduduk miskin, sementara data 70 juta menunjukkan penduduk miskin plus hampir miskin.
Selisih di antara keduanya menunjukkan besarnya penduduk hampir miskin di Indonesia. Mereka tidak tergolong miskin, tetapi sangat rentan terhadap kemiskinan. Sedikit gejolak ekonomi akan menyebabkan mereka mudah berubah status menjadi miskin. Maka, setiap kebijakan yang diambil harus memperhitungkan dampaknya bukan hanya pada rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin. Sehari-hari keduanya sering tak berbeda nyata.
Kecuk Suhariyanto Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik, BPS
Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2011/01/21/04361281/jumlah.si.miskin
Thursday, January 27, 2011
memori yang kacau..
Lalu, tiba-tiba dia pm saya dan memastikan bahwa saya adalah orang yang dia kenal. Haduh.. dia tau saya, dan ternyata dia teman SMP saya. Dia konfirmasi mengenai kegiatan saya waktu masih SMP dulu. Parahnya, saya tidak ingat siapa dia.. walaupun saya sudah browsing foto-fotonya.. oh dear..
Saya mencoba mengingat-ingat siapa dia, dan kira-kira pada momen apa saya berinteraksi dengannya, tapi tetap saja tidak ingat. Akhirnya saya tanya-tanya ke teman yang lain via twitter dan bbm, kali aja ada yang bisa bantu saya mengingat-ingat.
Dari bbm, saya dikasih tau ciri-cirinya waktu SMP dulu, dan kegiatan-kegiatannya. Tapi tetap saja tidak ada di memori otak ini. Oh dear, saya tidak suka kalau begini. Sudah berapa kali yang seperti ini terjadi.. Sepertinya saya memang harus punya diari supaya kalau saya lupa, saya bisa baca lagi apa saja yang telah terjadi. Atau dituliskan di blog saja ya..
Tuesday, January 25, 2011
how to avoid KTA offer
Soal telemarketer yang menjengkelkan itu, saya pernah menggunakan dua cara berikut ini untuk menghindari telemarketer KTA (terutama seringnya jualan ini).
1. Cara jutek..
Sebenarnya tidak jutek-jutek amat. Pertama kali dia telpon, dia pasti akan mengkonfirmasi nama kita. Nah, saat itulah jurusnya dimulai. Biasanya saya akan langsung balik bertanya seperti ini "Mbak/Mas tau nomor telpon saya dari siapa?" si telemarketer akan bilang begini "dari pusat data kami bu.." Saya jawab lagi "apa nama perusahaannya?" Kalau si telemarketer pantang menyerah, biasanya dia akan menyebutkan nama perusahaannya. Terus saya tanya lagi "Bisa saya tau nomor telponnya?" Nah, yang sudah-sudah dia akan bilang "tunggu sebentar ya bu" Terus dia bicara lagi dengan kita dan bilang tidak bisa. Saya lalu bilang begini "Saya tidak bersedia memberikan data saya kalau saya tidak bisa bicara dengan PIC yang sudah tau nomor saya. Masa saya tidak boleh tau nomor telpon data centernya padahal mereka tau nomor telpon saya" jreng..jreng.. dan dia akan undur diri atau langsung tutup telpon.. klek..
2. Cara telemarketer..
Pernah dengar fight fire with fire. Ya ini adalah cara yang kurang lebih sama. Begini, kalau ada telpon dari telemarketer dan dia mulai mengkonfirmasi nama, saya dengan lebay nya akan berkata "Oh, begini mbak/mas saya juga lagi cari nasabah KTA nih, gimana kalau mbak/mas jadi nasabah KTA kita aja. Dari bank ******* , bunganya kompetitif lho.. syarat-syaratnya gampang kok, cuma fotocopy KTP dan konfirmasi data aja..." Dan si telemarketer di seberang sana akan klek... tutup telpon. Hahaha jeruk makan jeruk itu namanya..
Sementara baru dua cara itu aja yang sukses dilakukan.. Nanti kalau ada pengalaman lain akan saya posting..
Thursday, January 20, 2011
google before you ask..
Oke, hari ini saya mau cerita tentang pertanyaan.
Tadi pagi, kolega saya di instansi lain telpon. Dia bilang saat ini sedang dengar pendapat dengan DPRD dan beliau mendapat pertanyaan yang menurutnya saya bisa bantu menjawabnya. Idiiih...
Saya sih oke aja, selama bisa membantu kenapa ga? Jadi, ssya tawarkan beberapa opsi dalam hal bantu membantu ini, pertama apakah kita harus bertemu face ton face hanya untuk membahas hal ini? *Ugh, saya lagi males jalan..* jadi, saya minta untuk chating aja, tapi dia menolak *mungkin gadgetnya blm mumpuni atau apalah* Yang jelas saya ga bisa beredar hari ini karena masalah renstra yang gregetin itu.. Akhirnya, kesepakatan pun terjadi, dia kirim email.. he he he
Waktu baca pertanyaan-pertanyaan anggota dewan yang terhormat itu, saya agak senyum-senyum, karena menurut pikiran saya, mereka tuh tau ga sih apa yang ditanyain? Karena semua itu sebenarnya sudah ada di indikator ekonomi makro yang setiap tahun dibuat.
Misalnya nih, katanya tidak ada data korelasi antara laju pertumbuhan ekonomi dengan penyerapan tenaga kerja. Oh, get real dong.. itu data LPE dan TPAK kan bisa dilihat.. Tiap tahun juga kita kasih kok.. hohoho.. ketahuan ya apa yang selama ini kita lakukan tidak pernah difollow up..
Atau misalnya, dia tanya kenapa tidak ada data kredit yang diberikan oleh bank.. Saya sih jawab aja, kenapa ga browsing www.bi.go.id ? Di situs itu semua data perbankan sampai tingkat 2 ada. Makanya read before you talk, google before you ask..
So, akhirnya saya bisa tau bagaimana kualitas anggota dewan di kota bekasi..
Friday, January 14, 2011
Another day in blog
Biasanya, tahapan-tahapan senamnya itu seperti ini : pertama senam jantung sehat, kedua senam pembentukan (kadang-kadang aerobik, kadang-kadang BL, jadi ibu-ibu pada suka), ketiga senam santai, seperti senam pompom atau senam poco-poco. Nah hari ini, kita diajarin senam country. Senam country itu sebenarnya mirip-mirip dance country yang tap-tap gitu. Gimana ya mendeskripsikannya? Yah, yang jelas saya sangat menikmati senam country ini. Apalagi musik pengiringnya agak akrab di telinga saya, achy breaky heart..
Yang saya suka kalau senam itu, badan jadi terasa lebih bugar dan fit. Kemarin, saya masih merasakan sisa-sisa masuk angin. Setelah senam eh hilang deh.. pegel-pegelnya sudah pergi. Biasanya, kalau paginya senam, tidur pun jadi nyenyak.. beneran lho!
Cuman.. senam itu juga ada efek sampingnya. Si instruktur itu rupanya orang yang jeli melihat peluang dan pasar. Setiap kali datang, ada saja yang dia tawarkan untuk kita-kita yang kebanyakan ibu-ibu ini..
Pertama-tama, dia bawa CD kompilasi yang isinya kompilasi lagu-lagu yang lagi hit tapi diremix ala house music itu, yang suka dibuat senam aerobik. Berikutnya, dia bawa brosur kosmetik, dia tawarin itu deodoran, make up, bedak, dan lain sebagainya.. Selanjutnya, dia tawarin celana training yang seksi seperti yang dia pakai.. "Bisa bayar dua kali kalau gajian", begitu katanya kalau berpromosi hihihi..
Tadi, coba tebak apa yang dia bawa?.. Dia bawa kaos kaki! Katanya supaya matching sama celana training yang beberapa waktu lalu dia bawa dan laris diborong ibu-ibu! Hayyyahhh!!! Tak tanggung-tanggung, dia juga bawa kaos yang dimatchingin sama kaos kakinya.. hahahaha...
Kira-kira minggu depan dia bawa apa ya??? *berpikir keras, anggap aja ini senam otak*