Seringkali tidak disadari kita sering mengeluh untuk hal-hal sepele. Seperti cuaca yang panas atau hujan, antrian yang panjang, kemacetan, pekerjaan yang belum selesai, bahkan sampai urusan pembantu, anak-anak maupun pasangan hidup pun selalu dikeluhkan. Dulu, waktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar saya sering mengeluhkan guru yang pilih kasih. Karena keseringan mengeluh walaupun dalam hati, prestasi saya pun melorot. Kejadiannya waktu kelas empat. Entah kenapa tiba-tiba saya mendapat semangat baru untuk tidak mempedulikan sikap guru tersebut dan hanya fokus pada pelajaran saja. Hasilnya menakjubkan! Nilai-nilai saya menjadi jauh lebih bagus dibandingkan saat saya banyak mengeluh.
Begitu pula pada saat kuliah, karena harus berangkat dari rumah jam 5.15 pagi. Padahal dari TK hingga SMA jarak antara rumah dan sekolah tidak pernah jauh. Awal kuliah adalah saat yang berat karena saya berangkat dari Bekasi ke Depok dengan angkutan umum pula. Tetapi, ketika saya diterima di sekolah kedinasan, saya malah merindukan saat-saat kuliah di UI. Karena kuliah di sekolah kedinasan trrsebut adaptasinya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi :)
Lalu, saya menerimanya begitu saja dan berhenti mengeluh, karena masa depan saya dirangkai disana. Hari demi demi hari dijalani saja tanpa banyak mengeluh. Macet di pulogadung dinikmati, pulang kuliah harus les bahasa inggris di LIA, ya dinikmati saja.. Akhirnya, selesai juga dan ditugaskan di tempat yang baik.
Sudah bekerja pun, saya masih suka mengeluh.. Harus ke lapangan sampai malam lah, dimarahin responden lah, rekan kerja yang ga friendly, kebijakan yang makan ati.. Selalu ada hal yang dikeluhkan. Tetapi semuanya sama, semakin saya sering mengeluh semakin tidak nyaman untuk dikerjakan dan semakin tidak berarti apa yang sudah dikerjakan. Pelajaran hidup yang mengagumkan ini saya dapat dari hasil mengamati kehidupan ibu saya.
Ibu, tidak memiliki pendidikan yang baik. SD saja beliau tidak tamat. Bapak saya juga bukan orang yang memiliki pekerjaan stabil. Pernah selama dua tahun bapak saya tidak bisa menafkahi kami karena sakit. Dan demi Allah, tidak sekalipun saya mendengar ibu saya mengeluh, padahal saat itu saya sedang duduk di bangku SMP dan membutuhkan biaya yang besar. Beliau hanya berusaha mencari jalan untuk mendapatkan uang tanpa harus berhutang. Padahal sekolah SD pun tidak dapat. Menurut beliau, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak bisa bersyukur dan tidsk akan mengatasi apapun.
Waktu ibu menunaikan ibadah haji tahun 2003 doa yang beliau panjatkan untukku adalah agar aku menjadi orang yang bersyukur. Katanya, kalau kita bersyukur maka nikmatnya akan ditambah oleh Allah. Padahal waktu itu saya menitip doa agar saya dibebaskan dari hutang. Bahkan, saya yang dianugerahi pendidikan yang jauh lebih baik tidak berpikir hingga kesitu.
Mengeluh memang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah hanya akan membuat kita tidak bersyukur. Dan bila kita tidak bersyukur, nikmatnya tidak akan ditambah oleh Allah SWT. Jadi, dilarang mengeluh!
No comments:
Post a Comment