Pages

Friday, April 19, 2013

It's a damn statistics..

Saya baru saja melihat video Kimi Raikkonen sedang berlatih. Kimi adalah driver mobil formula F1. Formula 1 adalah salah satu olah raga berbiaya tinggi dan membutuhkan kebugaran driver yang prima. Tahu tidak, bagaimana seorang driver mobil Formula 1 harus menjaga kebugaran tubuhnya supaya ketika sedang balapan bisa menang. Kebayang ga sih dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam dan tikungan-tikungan yang akan menyebabkan gaya sentrifugal, dia harus menahan semua itu supaya mobilnya tetap stabil dalam kecepatan tinggi. Belum lagi tekanan dan panas yang berasal dari dalam kokpit mobilnya plus konsentrasi yang harus dijaga agar tidak bertabrakan atau menyentuh gravel. Pembalap formula 1 juga harus pintar mengatur strategi dan berkoordinasi dengan kru di pitstop dan pitwall supaya bisa juara satu. Jadi, kelihatannya saja gampang hanya memainkan setir, tetapi lebih dari itu, olahraga yang sesungguhnya itu ya di persiapannya itu.

Nah, seperti halnya dengan pembalap formula 1, BPS juga begitu. Persiapan setiap kali akan menyelenggarakan sensus dan survei besar itu sungguh luar biasa. Mulai dari desain kuesioner, uji coba kuesioner, pilot survei, pelatihan, sampai pelaksanaan dan dilanjutkan pengolahannya. Pada saat pelaksanaannya pun memerlukan strategi untuk menjaga time reference dan kualitas. Kemudian juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak, sehingga pelaksanaan dan pengolahan datanya berjalan lancar. Tidak sampai disitu, setelah angkanya keluar masih harus dianalisis dahulu, disandingkan secara series beserta indikator lainnya.

Pembuktian datanya? Agak susah memang. Buat saya pribadi, data itu tidak ada yang salah. Yang ada kurang tepat penggunaannya. Karena data se’sampah’ apapun masih bisa digunakan selama tahu bagaimana menggunakannya. Agak berlebihan memang, tapi ini realitanya. Contohnya data kemiskinan. Banyak yang menyatakan data kemiskinan yang ada dan beredar serta digunakan saat ini salah. Harusnya kalau ada data yang salah pasti ada data yang benar. Nyatanya, data yang dianggap ‘sampah’ itu tetap digunakan terutama di kalangan politisi. Sebagian mengklaim keberhasilan kepemimpinannya, sebagian lagi untuk menjatuhkan lawannya. Lalu bagaimana dengan data yang benar? Who knows...

Garis bawahnya adalah, setiap kali kita akan melaksanakan suatu sensus, survei atau kajian, selalu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan untuk meminimalisir ‘error term’. Angka yang dihasilkan akan selalu mengandung ‘error term. Bukan tidak boleh percaya dengan angka-angak tersebut, tapi bijaksanalah menggunakannya. Pahami dulu konsep definisinya, batasan-batasannya, asumsi-asumsinya. Ingat-ingatlah bahwa. Statistik adalah suatu ilmu yang menghasilkan fakta yang sulit diandalkan dari angka yang diandalkan (Definition of statistics: The science of producing unreliable facts from reliable figures).

Ini cuma simple thought saya hari ini, di tengah penyelesaian pekerjaan angka statistik itu.. ^_^

No comments: