Pages

Monday, April 29, 2013

Day 3. The experience of Medina

27 April 2013

Kota Madinah merupakan kota yang bersih. Saya tidak melihat sampah yang menumpuk, entah bagaimana mereka mengelola sampahnya. Di hari ketiga ini, aktivitas lebih banyak difokuskan untuk ziarah ke tempat-tempat yang memiliki manfaat bagi ibadah. Pertama-tama kami mengunjungi masjid Quba, setelah sholat jamaah di masjid Nabawi. Ini adalah masjid yang pertama kali dikunjungi rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Dulu Madinah bernama Yastrib. Nah, ketika mampir di masjid ini, Rasulullah disambut dan diterima dengan baik oleh pemuda-pemudanya. Kami sholat tahyatul masid dan sholat Dhuha di masjid ini. Sholat di masjid ini pahalanya lebih besar dibanding tempat lainnya.

Kemudian kami pergi ke Jabal Uhud. Di masa Rasululah, tempat ini merupakan tempat terjadinya perang uhud dengan suku Quraish yang musyrik. Kala itu jumlah pasukan musuh tiga kali lebih besar daripada pasukan Rasulullah. Iklim negeri ini memang berbeda dengan di Indonesia. Saat ini baru mengawali musim panas. Tetapi panas di tempat ini memiliki kelembaban yang rendah dan sedikit berangin, sehingga panasnya tidak langsung membuat kita berkeringat tapi di kulit terasa sakit. Sunblock dan sun glasses adalah suatu keharusan kalau inhin menikmati pemandangan Jabal Uhud dengan nyaman.

Selanjutnya, sopir bus membawa kami ke kebun korma. Di tempat ini ada toko yang menjual korma. Produk unggulannya korma ajwa atau yang dikenal dengan korma nabi. Korma jenis ini adalah korma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah. Di toko kebun korma ini, kami minum teh sepuasnya gratis. Teh ini disediakan oleh pemilik kebun untuk pengunjung. Ada gulanya juga lho.. Di dalam toko, kami bisa mencicipi dagangan yang ada disitu. Halal, kata mereka. Ya, bukan cuma korma saja yang dijual disini, tapi ada coklat dan kacang-kacangan. Testernya tidak dibatasi. Itu yang bikin kami tidak enak kalau tidak membeli, walaupun harga disini jauh lebih mahal dibanding tempat lainnya. Ini merupakan teknik marketing yang jitu dari pengelola kebun.

Tidak lama di kebun Korma, kami pergi ke tempat percetakan Al Qur'an. Sayangnya, hanya laki-laki saja yang bisa masuk ke dalam pabriknya. O ya, mereka yang laki-laki mendapat sebuah Al Qur'an seukuran buku tulis, tetapi mereka harus wudhu dulu sebelum masuk pabriknya. Sedangkan buat perempuan, bisa membeli sendiri di toko resmi yang merupakan bagian dari pabrik. Ada banyak ukuran Al Qur'an yang di jual disini, juga ada Al Qur'an beserta terjemahan dalam bahasa negara lain, termasuk Indonesia tentunya. Keistimewaan Al Qur'an cetakan Madinah adalah, walau ukuran kecil, tulisannya tetap jelas dengan kertas yang tipis. Tempat ini tutup setelah jam 12 siang.

Kami mengejar waktu untuk sholat Dzuhur berjamaah di masjid Nabawi. Sehingga tidak pernah lama-lama di satu tempat. Saya dan lainnya bergegas menuju masjid Nabawi, untunglah hotel tempat kami menginap tidak jauh. Tidak sampai lima menit menuju masjid.

Selesai sholat, kami makan dan istirahat sebentar. Kemudian dilanjutkan sholat Ashar berjamaah di masjid Nabawi. Masjid ini jadi terasa makin istimewa buat saya. Ini pertama kalinya saya sholat lima waktu di sebuah masjid. Selesai Ashar, kami melihat Baqi. Itu merupakan tempat pemakaman massal bagi mereka yang wafat ketika sedang umrah atau haji. Ini mengingatkan saya akan kematian.

Selanjutnya kami berkeliling masjid nabawi. Walaupun saya sudah sholat lima waktu di masjid ini, saya belum menjelajahi semuanya. Payung-payung di halaman masjid ini berjumlah 1000 buah. Kubahnya bisa bergeser sehingga sirkulasi udara di dalam masjid terjaga. Sore itu, payung-payungnya menguncup, sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Rasanya sangat modern. Padahal ibu saya bilang itu sudah ada ketika ibu saya naik haji tahun 2003. Ini saya aja yang norak.

Berkeliling masjid Nabawi ternyata memakan waktu yang lama karena selama berkeliling kami disuguhi kisah tentang Rasulullah, hingga tibalah waktunya untuk sholat Maghrib berjamaah. Selesai maghrib, saya tetap berada dalam masjid menunggu Isya sambil membaca Al Qur'an. Jamaah masjid ini kebanyakan berasal dari negara timur tengah. Dari Indonesia juga banyak.. sangat banyak. Kami sangat mudah dikenali disini. Karena secara fisik, postur tubuh kita memang imut-imut, wajah dengan hidung yang mungil, pipi chubby dan doyan belanja. Orang Indonesia memang terkenal tukang belanja dan tukang nawar. Tidak heran semua pedagang disini bisa bahasa percakapan Indonesia. Kita tinggal nanya "ini berapa?" Mereka langsung ngerti dan menjawab dalam bahasa Indonesia juga. Bahkan, rupiah kita juga laku disini. Mereka sendiri yang akan menukarnya, jadi kita bayar rupish saja. Nice business here..hehehe.

No comments: