
Sebuah kisah dari Al-Quran yang bisa menggambarkan bagaimana seharusnya perekonomian bekerja. Dalam surat Yusuf (QS:12, 43-49) diceritakan bagaimana Nabi Yusuf menafsirkan mimpi raja tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh lainnya yang kering. Nabi Yusuf menerjemahkan mimpi itu …Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan….
Dan begitulah ekonomi bekerja. Selalu ada masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Namun di masa-masa yang sulit sekalipun selalu ada jalan keluarnya. Salah satunya dengan saving. Seperti dalam teori Keynes, Y = C+I, pengeluaran terdiri dari konsumsi dan investasi, dimana I = S atau investasi dianalogikan dengan saving. Setiap dari kita selalu harus menyisihkan apa yang kita peroleh untuk ditabung guna menghadapi masa-masa sulit.
Dalam surat Yusuf itu juga disebutkan agar tidak menghabiskan semua bulir gandum melainkan menyisakan sebagian untuk simpanan dan sebagai investasinya dalam bentuk bibit. Maha besar Allah, yang sudah memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya arti saving dan investasi ini.
Relevansinya dengan kondisi sekarang bagaimana? Kondisi perekonomian global yang saar ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kegagalan mekanisme di sektor finansial harus belajar banyak dari pelajaran yang bisa diambil dari Surat Yusuf tersebut. Bahwa dalam perilaku untuk berinvestasi, perhatikan cara dan mekanismenya. Bila di surat Yusuf disebutkan untuk berinvestasi menyimpan bibit di batangnya untuk mengurangi cost of inventory, maka langkah yang bijaksana yang patut diambil oleh kita adalah dengan mengurangi cost of risk atau biaya resiko. Karena tidak memperhatikan aspek resiko berinvestasi inilah yang membuat banyak perusahaan besar dan tua bertumbangan. Selain itu, pernah dalam suatu interview di tahun 2003 Robert T Kiyosaki pernah mengatakan bahwa sebaiknya tidak berinvestasi di satu keranjang saja, melainkan di beberapa tempat. Sehingga bila investasi di satu tempat kolaps maka masih ada investasi lainnya.
Dan begitulah ekonomi bekerja. Selalu ada masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Namun di masa-masa yang sulit sekalipun selalu ada jalan keluarnya. Salah satunya dengan saving. Seperti dalam teori Keynes, Y = C+I, pengeluaran terdiri dari konsumsi dan investasi, dimana I = S atau investasi dianalogikan dengan saving. Setiap dari kita selalu harus menyisihkan apa yang kita peroleh untuk ditabung guna menghadapi masa-masa sulit.
Dalam surat Yusuf itu juga disebutkan agar tidak menghabiskan semua bulir gandum melainkan menyisakan sebagian untuk simpanan dan sebagai investasinya dalam bentuk bibit. Maha besar Allah, yang sudah memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya arti saving dan investasi ini.
Relevansinya dengan kondisi sekarang bagaimana? Kondisi perekonomian global yang saar ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kegagalan mekanisme di sektor finansial harus belajar banyak dari pelajaran yang bisa diambil dari Surat Yusuf tersebut. Bahwa dalam perilaku untuk berinvestasi, perhatikan cara dan mekanismenya. Bila di surat Yusuf disebutkan untuk berinvestasi menyimpan bibit di batangnya untuk mengurangi cost of inventory, maka langkah yang bijaksana yang patut diambil oleh kita adalah dengan mengurangi cost of risk atau biaya resiko. Karena tidak memperhatikan aspek resiko berinvestasi inilah yang membuat banyak perusahaan besar dan tua bertumbangan. Selain itu, pernah dalam suatu interview di tahun 2003 Robert T Kiyosaki pernah mengatakan bahwa sebaiknya tidak berinvestasi di satu keranjang saja, melainkan di beberapa tempat. Sehingga bila investasi di satu tempat kolaps maka masih ada investasi lainnya.