Pages

Wednesday, August 1, 2012

How happy are you..

Terkait dengan kegiatan di kantor yang judulnya bikin tersenyum pertama kali mengetahui tentang hal ini yaitu studi mendalam mengenai kebahagiaan. Tssaaaah.. sempurna..

Jadi kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa bahagai responden yang diwawancarai. Absurd memang, tapi ini bukan yang pertama kali studi mengenai kebahagiaan dilakukan. Sebelumnya, sekitar dua minggu lalu, saya pernah mendengar hal ini di radio via streaming. Kalau saya sampai di kantor terlalu pagi, saya suka streaming radio. Macam-macam radio yang saya dengar, mulai dari radio yang mengkhususkan untuk anak muda, segmen profesi tertentu sampai radio tanpa iklan. Nah, pagi itu saya dengerin radio smart fm. Disitu ada arvan pradiansyah yang lagi membahas happiest country in the world. Untuk sampai pada kesimpulan negara mana yang merupakan negara paling bahagia di dunia, dilakukan survei. Sebenarnya ini sangat menarik, karena surveinya sendiri dilakukan oleh beberapa lembaga terhadap 150 negara, yang berlangsung dari tahun 2005 sampai 2011. Pada setiap Negara diambil sample terhadap seribu orang yang berusia 15 tahun ke atas. Dalam survey ini Amerika Serikat ada diperingkat ke-11, sedangkan Indonesia diperingkat ke-82.

Ini kejadiannya sebelum ada survei seperti itu di kantor lho.. Pertanyaan besarnya adalah mengapa kebahagiaan itu harus diukur? Menurut saya kebahagiaan itu pilihan. Kita yang memilih untuk berbahagia atau tidak dalam kondisi apapun. Yah itu kan pendapat saya aja.. Ga usah terlalu dipikirin.. So, how happy are you?

Gender.. Gender.. dan Gender

Kira-kira dua minggu yang lalu, saya ikutan TOT tentang perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Karena kata kunci gender inilah makanya saya langsung triiing... ingin sekali menulis tentang gender. Salah satu teman saya pernah menulis tentang gender ini kaitannya dengan pencapaian MDG's di Indonesia.

Sebenarnya, kalau pertama kali mendengar kata gender, kita langsung mengasosiasikan dengan perempuan. Gender itu menurut kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak RI adalah perbedaan-perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan yang bukan bersasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas. Di TOT ini merupakan rangkaian dari program pengarustamaan gender (bahasa inggrisnya sih gender mainstream). Kenapa perencanaan dan penganggaran harus responsif gender? Pertama supaya efisien dengan tepat sasaran, mana yang untuk perempuan dan mana yang laki-laki. Kedua, supaya adil, jadi baik laki-laki maupun perempuan bisa sama-sama menikmati hasil pembangunan. Misalnya nih, dalam suatu pelatihan, seorang event organizer harus tau berapa peserta laki-laki dan perempuan untuk alokasi penginapan. Jangan sampai tercampur-campur... hehehe. Disinilah berperan data. Data terpilah menurut jenis kelamin sangat sakti digunakan dalam membuat suatu perencanaan dan penganggaran. Sempat berpikir nakal juga gimana kalau data terpilahnya itu berupa PDRB yang dihasilkan oleh laki-laki dan perempuan atau andil inflasi yang disebabkan oleh komoditas yang banyak digunakan laki-laki dan perempuan.. hehehe lucu kali ya.. Kalau TPAK laki-laki dan perempuan kan sudah biasa, nah ini PDRB laki-laki dan perempuan.. Owww..

Soal gender, jadi keinget artikel dari untukku.com yang pernah memposting tentang profesi perempuan yang tidak disukai pria. Di artikel tersebut disampaikan profesi apa saja yang tidak disukai pria dengan berbagai alasan. Salah satunya yang bikin jleb adalah PNS.. Artikel ini jadul banget sebenarnya (2008), tapi aku masih suka baca aja. Kalau mau liat baca di blog multiply.
Yah, hasil dari TOT itu intinya mah laki-laki dan perempuan itu memang berbeda dan memerlukan perhatian lebih dalam melakukan perencanaan dan penganggaran supaya diperoleh keadilan dan kenyamanan dalam hidup. Lumayan lah untuk menambah wawasan dan membuka pikiran.