Minggu lalu, saya lagi jalan-jalan ke toko buku sama teman-teman dan menemukan buku yang cukup menarik. Judulnya 50 gagasan ekonomi yang perlu anda ketahui, yang ditulis oleh Edmund Conway. Buku ini enak dibacanya bahkan bila kita sama sekali tidak pernah belajar tentang ekonomi. Akhirnya saya beli buku itu dan mulai membacanya weekend ini. Oh ya, Edmund Conway itu editor ekonomi pada beberapa harian ternama di Amerika dan good looking guy pastinya (kenapa ahli ekonomi itu jarang yang jelek ya..)
Ok, waktu membaca buku itu tulisannya enak dibaca, gampang dimengerti (walaupun terjemahan) dan mengingatkan saya pada saat jatuh bangun belajar ekonomi dulu (background saya statistik, jadi pernah ada masa-masa kesulitan memahami ekonomi). Mungkin itu karena dia biasa jadi editor, jadi bisa menjelaskan hal yang sulit jadi mudah dimengerti.
Terus, sampailah saya pada chapter 49. Ok, sebenarnya saya baca secara random, karena judul di chapter 49 itu menarik sekali. Judulnya Happynomics. Dia mengkategorikan bab ini ke dalam ekonomi alternatif. Happynomics merupakan gagasan yang menyatakan bahwa ekonomi tidak selalu mengenai uang.
Happynomics diawali cerita tentang kondisi ekonomi di Bhutan tahun 1970-an. Ceritanya, di negara tersebut hampir seluruh ukuran ekonomi seperti PDB, pendapatan nasional, kesempatan kerja dan lain sebagainya tumbuh dengan sangat lamban. Jadi raja Bhutan akhirnya mengambil keputusan bahwa untuk mengukur kemajuan Bhutan tidak lagi diukur dengan indikator ekonomi tradisional melainkan oleh gross national happiness (kebahagaiaan nasional bruto).
Sang raja telah muncul dnegan gagasan yang akan tumbuh menjadi studi yang penting dan semakin dihormati, yaitu happiness economics. Ini merupakan subjek yang terhubung dengan diri kita. Sebagai bangsa dan sebagai individu, hampir semua orang menjadi lebih kaya dan lebh sehat daripada sebelumnya. Namun kekayaan tersebut berjalan beriringan dengan perasaan tidak puas. Mereka yang berada di negara kaya telah menjadi semakin tidak bahagia selama 50 tahun terakhir.
Pencarian kebahagiaan telah membuahkan hasil yang pasti di Bhutan. Sejak mengukur indeks kebahagiaan nasional bruto, negara tersebut telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa bahkan dalam istilah ekonomi konvensional. Pada tahun 2007, negara itu merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, sembari terus mempertahankan peningkatan kebahagiaan nasional brutonya. Sebagai upaya untuk mempertahankan kebahagiaan orang, terdapat keputusan bahwa 60 persen wilayah negara tersebut harus tetap tertutup oleh hutan, sementara turisme, yang ternyata mengurangi kebahagiaan, diturunkan setiap tahunnya. Uang didistribusikan kembali dari orang kaya ke orang miskin guna membantu menghilangkan kemiskinan massal.
Upaya untuk membuat Bhutan lebih bahagia tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan sebuah survei tahun 2005, hanya tiga persen penduduk yang dilaporkan tidak merasa bahagia, sementara hampir setengah dari populasi berkata bahwa mereka sangat bahagia. Namun survei semacam itu sering kali tidak jelas, tidak meyakinkan, dan sulit untuk dibandingkan secara empiris. Kebahagiaan jauh lebih sulit untuk diukur daripada misalnya tingkat kekayaan atau harapan hidup, dan itulah yang menyebabkan kebahagiaan diabaikan dalam ekonomi.
Pada dekade belakangan ini, para ekonomi dan psikolog telah, untuk pertama kalinya, mulai mengukur, secara jujur, kebahagiaan orang dalam penelitian panjang. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah walaupun kebahagiaan seseorang meningkat ketika ia berubah dari miskin menjadi kaya, tingkat kepuasannya mulai menurun ketika seseorang semakin jauh dari garis kemiskinan. Menurut Richard Layard, seorang ekonom Inggris yang berspesialisasi dalam ekonomi kebahagiaan, ketika gaji rata-rata sebuah negara berada di atas $20.000, kenaikan penghasilan berhenti membuat orang merasa lebih bahagia dan secara bertahap menjadikan mereka lebih tidak puas. Dalam konteks ekonomi, terdapat diminishing return untuk kebahagiaan setelah melalui titik tersebut.
Anyway, bagaimanapun juga saya masih berpegang teguh pada prinsip saya, bahwa bahagia itu optional. Adalah kita yang memilih untuk bahagia atau tidak..