Ketika saya memutuskan untuk mengganti pola karir saya di instansi pemerintah ini, beberapa teman mempertanyakan keputusan saya. Ada yang mendukung, ada yang tidak mengerti, kebanyakan sih cuek aja. Hehehe memangnya saya siapa sampai segitunya dipikirin. Saya menganggapnya sebagai dinamika kantor. Keputusan saya untuk merubah pola karir sebenarnya tidak lepas dari keluarga, terutama anak-anak saya. Saya pernah iseng tanya ke anak sulung saya apakah dia bangga kalau mamanya jadinya mentri. Jawabnya tidak. Katanya dia ga bangga kalau mamanya jadi mentri atau pemegang jabatan lainnya karena dia akan selalu khawatir akan mamanya. Saya agak bingung kenapa dia harus khawatir? Alasan dia khawatir kalau mamanya jadi pejabat adalah takut mamanya dijebak dalam suatu konspirasi politik. Anak sulung saya itu memang kerap menggunakan kata-kata yang tidak biasa bila mengungkapkan pikirannya. Menurutnya, ada banyak cara dengan apa yang saya bisa untuk membuatnya bangga.
Menjadi kebanggaan anak-anak itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya butuh tiga elemen penting yang harus bersinergi. Elemen pertama adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat baik itu ilmu agama maupun duniawi, Insya Allah akan membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ceritanya saya punya seorang sahabat yang orangtuanya berpendidikan tinggi (setidaknya dibandingkan dengan pendidikan orang tua saya), ibunya merupakan pejabat di Pemkot Jakarta Pusat. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Sahabat saya itu selalu menceritakan kedua orang tuanya dengan penuh rasa bangga. Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya juga bangga dengan kedua orangtua saya yang menurut saya walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi memiliki skill dan ilmu yang luar biasa. Ibu saya itu pintar menjahit. Hingga saat ini pun saya masih suka dibuatkan baju oleh ibu. Saya juga bisa menjahit karena diajar oleh ibu saya. Selain menjahit, ibu saya juga pandai berdagang. Beliau memiliki kios di pasar tradisional yang digunakan untuk menjual kain. Hebatnya, ibu saya SD pun tak tamat. Sementara bapak saya juga tidak kalah hebat. Buat saya, bapak adalah pakar matematika yang jauh lebih pintar daripada guru-guru saya. Bapak, cuma sampai STM. Tapi, kalau soal ngerjain tugas matematika, saya larinya ke bapak. Bapak juga pandai mengaji, suka menghafal Al Quran. Yang membuat bapak menjadi hebat adalah kemauannya untuk selalu belajar. Saya selalu berharap itu adalah sifat genetik dan diturunkan ke saya hehe.. Asal tahu saja, waktu saya kecil, bapak sering belajar dari textbook civil engineering, yang belakangan ini saya tau merupakan textbook mahasiswa teknik sipil. Sampai sekarang di usianya yang jelang 70 tahun, beliau masih sering browsing di internet. Yang sedang dipelajarinya saat ini adalah obat-obatan herbal karena beliau memang sering sakit.
Elemen kedua adalah lingkungan yang mendukung. Ini saya pelajari dari kedua orangtua saya. Ya, sebegitu bangganya saya dengan mereka, sampai saya berusaha mencari tahu apa rahasianya. Bapak ibu saya selalu berpesan kepada saya agar saya selalu berada di lingkungan yang baik, di rumah maupun di kantor. Berteman dengan orang-orang yang baik agar ikut menjadi baik dan memilih komunitas yang memiliki energi positif supaya tetap bersemangat menjalani hidup. Menjadi orang baik itu harus diusahakan, anak akan bangga dengan orang tuanya bila lingkungannya baik. Itu juga yang menjadi alasan saya untuk mengubah jalur karir saya. Bukan berarti di tempat lama saya kerja merupakan lingkungan yang buruk. Saya pikir kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak.
Elemen terakhir yang menurut saya perlu ada adalah mendukung anak semaksimal mungkin. Lagi-lagi ini saya pelajari dari orangtua saya. Dulu, ditengah segala keterbatasan finansial mereka, fasilitas pendidikan full saya peroleh dari mereka. Kadang sedih juga melihat mereka bela-belain beli buku buat saya, bayarin les saya yang lebih mahal dibandingkan spp waktu itu. Usaha mereka untuk membuat saya tetap bisa bersekolah sungguh luar biasa. Mereka sering menasehati saya untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Katanya jaman sekarang orang pintar itu banyak, tapi yang akhlaknya mulia itu sedikit. Jadi saya diminta untuk memperhatikan kedua hal tersebut, pintar dan berakhlak mulia.
Bagaimanapun juga, saya harus terus berusaha lebih keras lagi untuk menjadi kebanggaan anak-anak supaya mereka selalu mendoakan saya. Bukankah mereka nanti yang mendoakan kita kalau kita sudah mati. Dan bukankah doa anak-anak kita yang menyambung amal kita kalau kita sudah mati.
Demikian postingan ini saya buat untuk simple thought. Now you know my story..