Entah kenapa, bulan November ini rasanya seperti inversia dari kejadian-kejadian baik. Saya tetap berusaha untuk berada dalam kerangka baik sangka atas kejadian-kejadian ini. Workshop yang terganggu kuliah, harta yang hilang, jadwal yang tidak ramah, anak sakit, sampai bikin lecet mobil orang dan saya harus mengganti kerugiannya itu. Semuanya campur aduk membentuk suatu sistem yang memiliki dampak sistemik pada pola hidup saya. Hehehe..
Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..
Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe
Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.
Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.