Pages

Saturday, June 11, 2016

A lovely commuter called Monika

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komuter berarti (n) ulang alik: pesawat jet -- berkecepatan tinggi. Sementara, wikipedia mendefisikannya sebagai berikut :

Komuter (berasal dari bahasa Inggris Commuter; dalam bahasa Indonesia juga disebut penglaju atau penglajo) adalah seseorang yang bepergian ke suatu kota untuk bekerja dan kembali ke kota tempat tinggalnya setiap hari, biasanya dari tempat tinggal yang cukup jauh dari tempat bekerjanya.
Saya setuju dengan definisi versi wikipedia karena sesuai dengan kondisi saya. Jadi begini, saya bekerja di Jakarta, rumah di Bekasi, kadang-kadang tinggal di Bogor juga. Tapi sumpah, KTP saya Bekasi, dan saya terdaftar di lingkungan saya tinggal. Akibatnya, setiap Senin sampai Jumat aktivitas saya adalah bolak balik Bekasi - Jakarta untuk bekerja. Oke, intinya hampir setiap hari saya menyesaki udara Jakarta untuk beraktivitas.

Sebagai seorang komuter, transportasi adalah kunci sukses untuk survive di tempat tujuan. Ada beberapa pilihan transportasi yang bisa saya gunakan, mulai dari naik mikrolet 26 jurusan Kalimalang - Kampung Melayu, Kereta commuterline, kendaraan pribadi, gojek, grabcar, atau jalan sehat bisa dilakukan. Tapi dari semua opsi itu, yang sering saya gunakan adalah kereta commuterline yang lebih terkenal dengan sebutan KRL dan naik kendaraan sendiri (kata sendiri perlu di emphasize untuk menunjukkan saya bukan pejabat yang bawa kendaraan dinas). Dua transportasi itu sangat akrab dengan saya sejak saya tinggal di Bekasi. Apakah saya tidak pernah menggunakan mikrolet? Jawabannya pernah, tapi frekuensinya tidak sebanyak dua jenis transportasi tadi.

Di postingan saya sebelum-sebelumnya, saya pernah menyampaikan plus minus menggunakan dua transportasi ini, kali ini saya ingin membagi pengalaman menjadi seorang komuter yang lovely.. (mohon abaikan ke-alay-an saya).

Postingan ini saya buat karena saya mengalami banyak hal seminggu ini terkait dengan perjalanan kekomuteran saya. Kejadiannya dimulai dari Senin lalu yang juga hari pertama umat Islam puasa Ramadhan. Jadwal kerja saya memang berubah menjadi jam 08.00 sampai jam 15.00. Saya berangkat seperti biasa, jam 06.30. Tapi ketika saya menyusuri tol Cikampek... Oh My God, macet tralala trilili. Saya pikir kalau saya berangkat seperti biasa, sementara jam masuk kantor lebih lambat setengah jam, saya akan diuntungkan dan bisa datang lebih pagi, tapi realitanya sungguh berbeda. Baiklah, ini Qodratullah.. sudah kehendak Allah memang begini. Saya tetap berpikir positif bahwa nanti ketika pulang lalu lintas akan lebih bersahabat dengan saya. Alhamdulillah, lalu lintas memang lagi pro ke saya, Hanya diperlukan waktu satu jam untuk sampai rumah dengan waktu pulang yang jam 15.00. Saya masih bisa begini begitu menyiapkan buka puasa. (namanya juga emak-emak).

Hari berikutnya, kejadian di pagi hari sebelumnya berulang. Macet tak terkira. Tapi waktu itu saya berpikir memang salah saya yang berangkat setengah jam lebih lambat dari jadwal keberangkatan saya. Tapi masih aman, saya tidak terlambat seperti yang dialami beberapa rekan kerja saya, padahal jarak rumah mereka ke kantor hanya 4 km (mereka tinggal di rumah dinas). Nah pulangnya, penderitaan di pagi hari berulang di sore hari. Ini jadi semacam pengambilan sampel yang berulang dengan replacement. Peluangnya sama terus euy...

Waktu pulang macet-macetan itu, saya sering membatin, kenapa tadi ga naik commuterline aja, Jadi bisa lebih cepat sampai rumah. Ga apa-apa lah berdesak-desakan (oiya, berdesak-desakan adalah salah satu fitur yang disajikan commuterline) yang penting sampai rumah on time. Kalau ramadhan saya tidak boleh terlambat masuk dan tidak boleh terlambat pulang. Nanti siapa yang nyiapin buka puasa? (ini emak-emak sok berarti banget ya). Tapi yang seperti itu kan tidak bisa disesali, soalnya saya sudah terjebak macet di tol cikampek.

Tol cikampek itu, adalah tol favorit para truk dan komuter Bekasi-Jakarta. Keberadaan tol ini sama pentingnya dengan oksigen yang saya hirup setiap detik. Mereka yang hendak bepergian ke Bandung dari Jabodetabek, harus melalui tol ini. Begitu juga dengan para pengusaha yang memiliki pabrik di Kawasan Industri di Bekasi dan Karawang yang hendak mendistribusikan barangnya melalui pelabuhan dan bandara atau para importir yang hendak mengambil barangnya dari pelabuhan. Sejak tol Cikampek terintegrasi dengan tol Cipularang dan JORR, kesesakan tol ini sangat terasa. Bisa melalui tol ini dengan kecepatan 80 km/jam rasanya seperti menjuarai race Formula 1 karena penggunaan gear 5 itu jarang terjadi pada rush hour. Kemacetan ini semakin didukung sejak dibukanya kembali Halim Perdana Kusuma untuk penerbangan komersil. Kenapa? karena traffic light Halim seperti tak berdaya mengatur aliran kendaraan yang hendak ke bandara. Apalagi kalau sudah jelang weekend, long weekend, dan holiday. Ampun deh, terkadang saya butuh waktu satu jam untuk lolos dari exit Halim sampai ke Cawang.

Terus kalau lagi terkena traffic jam, saya ngapain?. Pertama, saya berpikir positif dulu. Oh ini mungkin ada voorijder yang lagi mengawal pejabat atau orang penting. Percaya deh, saya pernah sampai di overtake 5 voorijder ketika pulang kantor. itu artinya ada lima orang penting yang melalui tol Cikampek. Atau saya akan berpikir mungkin ada kecelakaan, aduh kasihan banget, mudah-mudahan dia ga kenapa-kenapa, kalau kenapa-kenapa juga jangan sampai lebih kenapa-kenapa lagi.

Kedua, saya akan bersikap pasrah mengarah tidak peduli. Oke ini macet, mari kita nikmati kebersamaan ini dengan para truk dan kendaraan lainnya yang terjebak macet sambil mendengarkan radio. Atau mendengarkan koleksi mp3 saja yang belum saya update playlistnya. Sebenarnya saya tidak punya playlist yang banyak, paling dalam satu playlist itu ada 5-7 lagu yang durasinya 3-4 menit. Jadi kalau terjebak macet, saya bisa mendengarkan playlist itu sampai beberapa kali, akibatnya otak saya keracuanan lagu yang ada di playlist tersebut. Masalah akan bertambah besar, ketika playlist yang saya masukkan adalah lagu korea. Hahaha... masalah besar buat saya yang ga ngerti bahasa korea. Akhir-akhir ini saya lagi suka mendengar lagunya eric nam yang beberapa bulan lalu merilis mini album yang judulnya interview. Alhasil saya keracunan lagu-lagunya eric nam.

Ketiga, kalau saya terjebak macet, saya akan melakukan perawatan diri. Di mobil, saya menyediakan handbody, gunting kuku, sama body mist. Jadi, kalau lagi kena macet, saya akan oles-oles lotion yang wangi.. yah hitung-hitung ini adalah aroma terapi pengurang stres karena macet di jalan. Kadang-kadang saya juga gunting kuku kalau pas kukunya panjang.

Di hari ketiga Ramadhan, saya masih konsisten untuk mengalami kemacetan saat berangkat kerja dan pulang kerja. Saya juga masih konsisten menyesali kenapa tidak naik commuterline saja. Tapi istimewanya, hari ketiga itu ternyata commuterline Bekasi juga mengalami gangguan karena kabel yang terbakar dan tawuran antar warga di Klender. Saya batal menyesal tidak naik commuterline..

Sebenarnya apa sih yang menjadi sponsor kemacetan tol cikampek?
Berdasarkan pengalaman tiga tahun yang hampir setiap harinya menyusuri tol cikampek, saya akan menyebutkan sponsor kemacetan tol ini.

Pertama, seperti yang sudah diuraikan di atas, tol cikampek adalah urat nadi transportasi yang menghubungkan bagian barat Pulau Jawa ke bagian timurnya. Ada alternatif lain seperti kereta api atau jalur selatan, tetapi jalur ini tetap memiliki kenyamanan paling tinggi. Akibatnya, volume kendaraan meningkat dan terjadilah kemacetan. Saya menyebut ini sebagai teori kemacetan klasik, karena kemacetan bersumber dari meningkatnya volume kendaraan.

Kedua, tol cikampek yang juga tol favorit para truk dan trailer, membuat tol ini jadi semakin macet. Truk dan trailer itu, selain menghabiskan luas jalan dengan bodynya yang besar, kecepatannya juga seringkali tidak layak untuk berjalan di tol. Suka lihat kan rambu lalu lintas yang menunjukkan batas minimal dan maksimal kecepatan di jalan tol? Nah, truk ini, bisa melaju dengan kecepetan 40 km per jam saja sudah harus dikasih medali. Terus terang saya sendiri kalau berada di tol, sangat ilfil sama yang namanya truk. Mereka itu sangat akrab satu sama lain. Saking akrabnya, kalau jalan, mereka akan mengambil semua jalur, dari jalur satu sampai jalur empat. Bayangkan, dengan kecepatan yang lambat, jalur yang terpakai semuanya, terus kami-kami ini yang sudah susah payah menabung untuk membeli mobil dengan kecepatan standar, tidak bisa menyalip truk-truk itu karena mereka memblok jalan. Memang ada peraturan bahwa truk dan trailer dan juga bus, jalan di lajur kiri karena kecepatan mereka yang lambat. Tapi masalahnya, mereka tidak merasa kecepatan mereka lambat. Hasilnya, kita macet-macetan dong..

Ketiga, tol cikampek punya banyak exit. Saya tidak tahu bagaimana aturan baku untuk membangun jalan tol. Yang jelas, tol Cikampek punya exit yang banyak, karena setiap hampir 5 km ada exit. Apalagi kalau ada perumahan baru yang lokasinya dekat jalan tol, biasanya tinggal tunggu waktu saja akan ada exit di lokasi dekat situ. Exit ini juga memberikan kontribusi dalam urusan macet. Kalau volume yang exit dan entry di tol banyak, bisa dipastikan pengguna tol yang sudah berada di tol akan terganggu lajunya. Dan ini akan berujung pada macet. Selain exit, kebijakan menghubungkan tol cikampek dengan JORR hingga ke Tangerang juga memberikan kontribusi kemacetan. Sejak dibukanya tol ke arah Tangerang, semua truk yang hendak ke Tangerang mengantri di km 10 tol cikampek. Kalau mengantrinya di lajur kiri sih tidak masalah. Ini mereka mengambil semua jalur untuk belok di km 10. Pokoknya bisa bikin emosi jiwa deh.

Tapi, apapun itu, yang namanya kemacetan di tol cikampek sudah menjadi dinamika hidup saya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan menjadi bagian dari para komuter yang menyesaki Jakarta, Saya sering memikirkan bagaimana caranya supaya tol cikampek ini tidak macet. Mungkin kalau tol JORR yang di utara sudah jadi, truk-truk itu akan langsung dari Karawang dan Cikarang melalui tol JORR yang di utara. Mungkin kalau double reel yang dicanangkan bisa digunakan Agustus ini benar sudah jadi, commuterline Bekasi akan lebih on time dan tidak penuh sesak karena perjalanannya tidak terganggu dengan kereta jarak jauh. Mungkin kalau MRT beneran jadi dibangun, dan revitalisasi jalan kalimalang selesai, kemacetan ini bisa terurai. Dan banyak kemungkinan lagi..

Spesialnya jadi seorang komuter di bulan Ramadhan ini adalah ketika pulang kantor. Sekarang saya tidak terlalu gelisah dan resah kalau terlambat pulang kantor menjelang buka puasa. Mengingat anak-anak sudah semakin tinggi menjulang dan memiliki daya survival yang tinggi, saya tinggal memberi perintah saja untuk menyiapkan buka puasa dengan beli makanan jadi. Alhamdulillah, tidak ada yang tidak bisa disyukuri selama kita bisa melihat sisi positif dari suatu kejadian.

Anyway, selamat berpuasa, jangan lupa tarawihnya, amal sholehnya, tadarusnya. Semoga puasa di Ramadhan kali ini membuat kita stronger than yesterday..