Pages

Sunday, July 25, 2010

when i want to say the f word

Terkadang, ada saat-saat tertentu dimana kita ingin sekali mengucapkan the f word. Walau secara etika itu absolutely not okay for us to do so, tapi pastilah ada masanya ketika kekesalan mencapai puncaknya. Ini adalah beberapa kejadian yang membuat saya ingin sekali mengucapkan the f word itu.. walaupun tidak terucap.

1. Ketika ada yang menyerobot antrian (terutama di kasir)
2. Ketika lagi jalan, ada motor/mobil yang nyelonong dan membuat cipratan tak enak dipandang mata terkena baju kita.. (lagi apes deh)
3. Ketika ada orang yang mengakui hasil karya kita (sering bow..)
4. Ketika kita difitnah orang (wah, kalo ini.. langsung berdoa banyak-banyak biar dibales sama Allah)
5. Ketika kita merasa apa yang sudah diprediksikan pasti terjadi tapi ternyata meleset dari perkiraan (biasanya kalo lagi nonton bola atau f1)
6. Ketika ada yang mengambil hak kita (yang ini seringkali berkaitan dengan honor)
7. Ketika lagi naik motor dan sedang menunggu kereta api lewat di perlintasan kereta api, ada mobil yang bannya melindas kaki.. (oh, that's really.. really.. f..)

and many more..

Monday, July 19, 2010

the moment of truth..

Hasil googling dari kata kunci the moment of truth yang paling pas buat saya adalah suatu istilah yang diciptakan oleh Jan Carlzon, CEO Scandinavian Airline System (SAS) yang mengadakan pertemuan antara penyedia service dengan para pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan dari perusahaan yang bersangkutan. Inilah yang dimaksud Carlzon dengan Moments of Truth.

Tadi pagi menjelang siang, saya menghadiri rapat koordinasi dengan beberapa stakeholder. Yang menakjubkan adalah, betapa kondisi the moment of truth itu really happen.. Banyak hal yang bisa dieksplor lebih jauh lagi, lebih cepat lagi, lebih bermutu lagi, dan lebih-lebih lainnya..

Kemudian, saya membandingkannya dengan FGD yang mungkin mirip-mirip dengan the moment of truth ini. Wikipedia bilang, A focus group is a form of qualitative research in which a group of people are asked about their perceptions, opinions, beliefs and attitudes towards a product, service, concept, advertisement, idea, or packaging.

Mirip-miripkah? Ya.. Sedikit perbedaan terletak pada feedback yang diberikan. FGD mensyaratkan feedback yang diperlukan, sedangkan the moment of truth akan memunculkan the moment of impact.

The moment of impact adalah semua kejadian interaksi ketika anggota melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang inovatif yang di luar dugaan. Seperti memunculkan ide-ide baru untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.

The moment of truth juga merupakan salah satu game yang populer di amerika yang menghadirkan pertanyaan2 konyol dan memalukan yang harus dijawab oleh lawannya. Jawaban bisa di luar dugaan, dengan reaksi yang juga bisa di luar dugaan.

Anyway, I guess I found myself in the moment of truth today.. Thank you Allah..

Saturday, May 1, 2010

Kau Dengan Gunung Mu, Aku Dengan Gunung Ku

ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer & penulis


“Begitu banyak orang takut akan persaingan. Ini aneh. Karena permulaan kehadiran kita didunia ini dimulai dalam sebuah proses persaingan. Mungkin kita dapat belajar dari sebuah proses pembuahan. Sel sperma yang berjuta-juta itu harus bersaing sedemikian rupa untuk membuahi satu sel telur. Mereka harus berlomba berenang begitu cepat, berebut untuk mengawini satu sel telur tersebut. Dan yang kuat, cepat, tangguh akan keluar sebagai pemenang”

Demikianlah uraian yang berulang kali ku dengar dari salah seorang ulama yang sangat terkenal, guru sekaligus seseorang yang sangat kukagumi. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak terlalu sependapat dengannya. Uraian beliau tentang persaingan kuanggap tidak seratus persen benar.

Mengapa ?

Aku dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang memelihara sebuah persaingan sebagai budaya tak terlepaskan dari kehidupan mereka. (Siapa sih yang tidak ? Aku rasa kita semua mengalami nasib yang sama).

Mula-mula di dunia pendidikan. Sebagian besar dari kita terbiasa/terpaksa belajar dan memperoleh prestasi, seolah-olah seperti dalam sebuah arena persaingan. Juara satu, dua dan tiga. Ranking sepuluh besar. Kebiasaan ini diteruskan dalam dunia kerja, baik dunia profesional maupun bisnis.

Tips dan trick memenangkan kompetisi.
Kiat mengalahkan pesaing.
Cara mengetahui strategi Competitor.
Sebelas langkah untuk segera dipromosikan.
Seratus jurus untuk melampaui karir atasan Anda di kantor.

Kepala ini sudah terlanjur terdoktrin tentang dengan hal-hal seperti itu sehingga hampir tidak ada lagi yang berani bertanya : apakah semua ini mutlak benar ? Benarkah segalanya begitu terbatas ? Benarkah hidup ini tidak menyediakan kecukupan untuk semua orang ? Benarkan TUHAN yang sangat tidak terbatas itu sedemikian miskin, sehingga kita ‘ditakdirkan’ harus saling sikut, saling rampas, adu cepat, adu licik, main dukun, sogok sana sini hanya atas nama memenangkan persaingan. Sementara DIA diatas sana berdiri sebagai wasit –sang pengadu domba- mengganjari para pemenang dan menertawai pecundang-pecundang malang.

Kontradiksi dengan semuanya itu. Bukankah sedari kecil kita juga telah sering mendengar pengajaran-pengajar an sebagai berikut :

“Mungkin bukan rejeki kita”
“Sudah menjadi rejeki dia”
“Rejeki itu sudah kita bawa ketika kita lahir”
“Setiap manusia sudah punya rejeki masing-masing”
“Menjemput rejeki”
“Rejeki tidak mungkin tertukar”
“Iri hati kita tidak menambah atau mengurangi rejeki orang lain”

Periksalah seluruh kitab suci di atas muka bumi ini dan temukan sebuah ayat tentang persaingan. Tentang betapa sedikitnya kemampuan TUHAN memberikan rejeki pada umat-NYA. Tentang betapa terbatasnya segala sesuatu. Dari sana kita akan mendapat gambaran yang jauh berbeda dengan dunia yang didalamnya kita sudha bernafas sejak kecil.

Lalu dari mana doktrin ini berasal ? Apakah pendapat dunia sekuler telah begitu mencemari kita ?

Kita tahu bahwa ada dua jenis manusia didunia ini. Mereka yang beriman dan mereka yang berotak. Ini tidak berarti orang-orang beriman tidak memiliki otak sama sekali dikepala mereka, atau begitu juga sebaliknya mereka yang berotak sama sekali tidak memiliki iman dihati mereka. Ini hanya sebuah istilah yang ingin menggambarkan “tentang apa yang mendominasi kehidupan mereka sehari-hari”.

Bagi mereka yang mengagung-agungkan otak, lebih percaya hanya kepada apa yang mereka lihat, alami dan pelajari. Namun kaum beriman –yang seringkali bersandar pada hati- menaruh kepercayaan pada apa yang tidak kasat mata. Janji TUHAN, pahala, dan lain sebagainya.

Kedua golongan ini saling berinteraksi, saling mempengaruhi satu dengan lain. Mungkinkah diktat besar mengenai persaingan kemudian ditandatangani disini, lalu diterima sebagai sebuah kebenaran turun temurun ?

Kita belajar karena ingin menduduki ranking tertentu atau bahkan lebih parah dari itu : karena takut tidak lulus dan takut tidak memenuhi syarat pekerjaan di masyarakat. Hanya segelintir orang yang belajar karena rasa ingin tahu yang tulus.

Ingin mendapat pendapatan atau jabatan yang lebih tinggi. Bisnis yang lebih hebat. Uang yang lebih banyak. Lalu mulai bermanuver, politiking, si-sa-si-ji- sa-si : sikut sana sini, jilat sana-sini. Apakah pendekatan ‘memberikan yang terbaik dan berkarya sehebat mungkin’ sudah terlalu kuno dan kurang efektif lagi ?

Bukankah ‘memperbaiki diri’ adalah salah satu takdir yang harus kita penuhi ? Bahwa orang yang keadaannya sama saja dengan hari kemarin adalah orang-orang yang merugi dan bahwa orang-orang yang keadaannya lebih buruk dari kemarin adalah orang-orang terkutuk ? Sama sekali bukan alasan siapa menang dan siapa kalah. Siapa yang mendapat dan siapa yang terpaksa menyerahkan.

Lalu untuk apa kita belajar, memperoleh gelar Prof, Dr., SH, S. Kom, MBA, MSI, TKW, HIV ? Untuk apa seluruh daya upaya, pengorbanan, keringat, strategi, riset, kreatifitas dan usaha yang telah kita dikerahkan ?

Untuk menggali tambang emas gunung rejeki kita masing-masing !

Itu juga berarti, sama sekali tidak menjadi masalah jika kita saling membantu, saling sokong, saling memberi informasi rahasia, saling menyumbangkan tips dan trik, karena kita tidak sedang berebutan menggali satu gunung rame-rame, tapi yang kita lakukan adalah menggali gunung rejeki kita masing-masing, yang sudah ditentukan TUHAN menjadi bagian kita sejak kita lahir.

Saling jegal ? Buat apa !?
Itu hanya sebuah pemborosan energi yang sudah pasti membuat pekerjaan menambang emas kita masing-masing jauh lebih lambat dari kecepatan sebenarnya. Lebih jauh dari itu, hanya merupakan kegiatan yang mengotori hati nurani dan mengundang hal-hal buruk terjadi pada hidup kita.

Sedikit banyak ini merupakan kabar baik bagi para pencundang, bahwa ternyata masih begitu banyak harapan dalam hidup ini. Sebaliknya merupakan kabar buruk buat mereka-mereka yang selama ini membusungkan dada, karena merasa telah mengalahkan banyak orang dalam hidupnya. Bahwa ternyata kemenangan yang mereka raih adalah palsu. Para pemenang palsu ini berlari kesetanan padahal tidak ada yang mengejar mereka. Menggali membabi buta, padahal yang mereka gali adalah gunung mereka sendiri, yang tidak mungkin diganggu gugat oleh siapapun. Oooh poor fake winner…

Bahkan Sun Tzu dalam strategi perangnya mengatakan secara implisit bahwa musuh yang sebenarnya ada dalam diri kita. Sehingga seorang jenderal perang yang ceroboh, akan terbunuh. Penakut, akan tertangkap. Lekas marah, akan mudah terprovokasi dan mereka yang begitu sensitif akan kehormatan akan dengan mudah dipermalukan. Bukankah itu semua ada dalam diri kita ? Dengan kata lain yang membuat kita terbunuh, tertangkap, marah, dan dipermalukan adalah diri kita sendiri dan sama sekali bukan orang lain. Jadi pemenang sejati adalah mereka yang mengalahkan bagian dari diri mereka yang buruk dan sama sekali bukan mengalahkan orang lain.

Jadi bagaimana membuat persaingan tidak relevan lagi ?

Agak sedikit berbeda dengan pendekatan yang Blue Ocean Strategy tawarkan (ada baiknya jika kita kembali kepada kebenaran awal, takdir mula-mula manusia) bahwa : kau berhadapan dengan gunung rejeki mu dan aku berhadapan dengan gunung rejeki ku.

Otomatis persaingan menjadi sangat tidak relevan lagi.

Apakah perenungan ini valid ? Apakah ini sebuah kebenaran yang terlupakan atau lamunan iseng keblinger dari orang yang baru hidup sepertiga abad ? Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing tetapi apapun itu : “Terjadilah sesuai dengan iman mu !!!” atau dalam bahasa lain “TUHAN adalah seperti prasangka hamba-NYA”.

Oh iya ada sesuatu yang hampir saja terlupakan. Mengenai analogi sel sperma dan sel telur diatas.

Mungkin ada baiknya jika kita melihat dari sudut pandang berbeda. Yaitu sudut pandang sel telur. Bahkan satu sel telur tidak perlu merasa kuatir akan sel sperma untuknya, karena TUHAN telah menyediakan berjuta-juta sel sperma, yang tanpa diminta berenang dan berusaha membuahinya.

Pola pandang seperti ini memang cenderung ganjil dan nyeleneh.

Tapi paling lewat pola pandang seperti ini berakibat
hidup menjadi begitu luar biasa,
sesama yang selama ini dipandang sebagai ancaman, berubah menjadi partner yang menyenangkan,
hati yang semula bergejolak dalam pertempuran yang tidak perlu kini mengalir teduh dan
TUHAN dimuliakan karena ketidakterbatasan kemampuan BELIAU menyediakan segala sesuatu untuk semua.

What a wonderfull world !
What an abundance life !!
What an exciting journey !!!

Sunday, April 25, 2010

Indonesia.. Are You Ready??

In facing national programme called Sensus Penduduk, that will be held during May 2010, I have been think about a lot of things. Like, will the people receive us, or will they give us the answer correctly..

So far, as I know.. people respond to incentives. I kept meet people who always asked what will they get if they answered our questions.. even my friends,,

Their mindset are not changing even when I told them that data we collect will be used by the government to draw some policies..They do not understand the importance of collecting data. or maybe they don't want to understand?

On Sensus Penduduk, the preparation is final. The execution is just counting for the date. So, Indonesia.. Are You Ready??

Alamat penting..

KEMENTERIAN KOORDINATOR

Bidang Kesejahteraan Rakyat

Bidang Perekonomian
Alamat : Jl. Lapangan Banteng Timur 2-4 Jakarta 10310
Telepon : (021) 3808384, 3850119
Fax : (021) 3440394

Bidang Politik dan Keamanan
Alamat : Jl. Merdeka Utara No. 7 Jakarta 10110
Telepon : (021) 3849453, 3451064
Fax : (021) 3450918

DEPARTEMEN

Departemen Agama (Ministry of Religious Affairs)
Alamat : Jl. Lapangan Banteng Barat No. 3-4 Jakarta 10710
Telepon : (021) 381-1679
Fax : (021) 381-1436

Departemen Dalam Negeri (Ministry of Home Affairs)
Alamat : Jl. Merdeka Utara No. 7 Jakarta 10110
Telepon : (021) 345-0058, 384-2222
Fax : (021) 383-1193

Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (Ministry of Energy and Mineral Resources)
Alamat : Jl. Merdeka Selatan 18 Jakarta 10110
Telepon : (021) 380-4242, 381-3233
Fax : (021) 384-7461

Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM) (Ministry of Justice and Human Rights)
Alamat : Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan, Jakarta 12940
Telepon : (021) 525-3004 Ext. 258, 526-5989
Fax : (021) 526-3082

Departemen Kehutanan (Ministry of Forestry)
Alamat : Gedung Manggala Wanabakti, Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta
Telepon : (021) 573-1820
Fax : (021) 570-0226

Departemen Kelautan dan Perikanan (Ministry of Marine Affairs and Fisheries)
Alamat : Ex. Gedung Humpuss, Jl. Merdeka Timur No. 16, Jakarta
Telepon : (021) 350-0023
Fax : (021) 351-9133

Departemen Kesehatan (Ministry of Health)
Alamat : Jl. H.R. Rasuna Said Blok X 5 Kav. 4-9, Blok A, 2nd Floor,
Jakarta 12950
Telepon : (021) 520-1590
Fax : (021) 520-1591

Departemen Keuangan (Ministry of Finance)
Alamat : Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta 10710
Telepon : (021) 384-1067, 381-4324
Fax : (021) 380-8395

Departemen Luar Negeri (Ministry of Foreign Affairs)
Alamat : Jl. Taman Pejambon No. 6 Jakarta
Telepon : (021) 344-1508, 345-6014
Fax : (021) 380-5511

Departemen Pendidikan (Ministry of National Education)
Alamat : Jend. Sudirman Pintu 1, Senayan, Jakarta 10002
Telepon : (021) 573-1618, 573-6870
Fax : (021) 573-6870

Departemen Perhubungan (Ministry of Communication)
Alamat : Jl. Merdeka Barat No. 8 Jakarta 10110javascript:void(0)
Telepon : (021) 381-1308
Fax : (021) 345-1657

Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Ministry of Industry and Trade)
Alamat : Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 52-53, 2nd Floor, Jakarta 12950
Telepon : (021) 525-6548
Fax : (021) 522-9592

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Ministry of Settlement and Regional Infrastructure)
Alamat : Jl. Patimura No. 20, Kebayoran Baru, Jakarta
Telepon : (021) 724-7564, 739-7758
Fax : (021) 726-0855

Departemen Pertahanan (Ministry of Defence)
Alamat : Jl. Merdeka Barat 13-14 Jakarta 10110
Telepon : (021) 345-6184, 381-2028
Fax :

Departemen Pertanian (Ministry of Agriculture)
Alamat : Jl. Harsono RM. No. 3 Ragunan , Pasar Minggu Jakarta 12550
Telepon : (021) 780-4056
Fax : (021) 780-4237

Departemen Sosial (Ministry of Social Affairs)
Alamat : Jl. Salemba Raya No. 28 Jakarta 10430
Telepon : (021) 310-3781, 310-3591
Fax : (021) 310-3783

Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Ministry of Manpower and Transmigration)
Alamat : Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Jakarta 12950
Telepon : (021) 522-9285, 798-9924
Fax : (021) 797-4488

NON DEPARTEMEN/KEMENTERIAN NEGARA

Bank Indonesia (Bank of Indonesia)
Alamat : Jl. MH Thamrin 2, Jakarta 10010
Telepon : (021) 231-0847, 231-0408
Fax : (021) 350-1867

Kejaksaan Agung (Attorney General)
Alamat : Jl. Sultan Hasanudin No. 1 Kebayoran Baru, Jakarta 12160
Telepon : (021) 720-8577, 725-1403
Fax : (021) 725-1277

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Ministry of State Owned Enterprises)
Alamat : Jl. Dr. Wahidin Raya No. 2 Jakarta
Telepon : (021) 577-2776, 386-4449
Fax : (021) 384-1094

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Ministry of Culture and Tourism)
Alamat : Jl. Medan Merdeka Barat 17, Jakarta 10110
Telepon : (021) 384-9142, 345-6705
Fax : (021) 387-7600, 384-8245

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Ministry of Communications and Information)
Alamat : Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta 10110
Telepon : (021) 384-4227
Fax : (021) 386-7600

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Ministry of Cooperatives, Small and Medium Enterprises)
Alamat : H.R. Rasuna Said Kav. 3-5, Kuningan, Jakarta 12940
Telepon : (021) 520-4375
Fax : (021) 522-0849

Kementerian Lingkungan Hidup (Ministry of Environment)
Alamat : B Building, 2nd Floor, Jl. DI. Panjaitan, Kav. 24 Kebon Nanas,
Jakarta 13410
Telepon : (021) 858-0103
Fax : (021) 858-0101

Kementerian Pemberdayaan Perempuan (Ministry of Women Empowerment)
Alamat : Jl. Medan Merdeka Barat No. 15 Jakarta 10110
Telepon : (021) 380-539, 380-563
Fax : (021) 381-0052

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Ministry of Administrative Reform)
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Kav. 69, Jakarta
Telepon : (021) 739-8381, 739-8341
Fax : (021) 739-8385, 739-8389

Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia
Alamat : Menara Saidah, 18th floor. Jl. MT Haryono Kav. 29-30 Jakarta
Telepon : (021) 7918-6444, 7918-6654
Fax : (021) 7918-6654

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Ministry of National Development Planning)
Alamat : Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta
Telepon : (021) 334-811, 3190-6288
Fax : (021) 314-5374

Kementerian Riset dan Teknologi (Ministry of Research and Technology)
Alamat : Gedung BPPT II, 2nd Floor, Jl. MH. Thamrin 8, Jakarta 10340
Telepon : (021) 316-9960, 316-9961
Fax : (021) 391-1789

Panglima TNI (Military Commander in Chief)
Alamat : Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta 13870
Telepon : (021) 8459-1244, 8459-1243
Fax : (021) 845-6805

Sekretariat Negara Republik Indonesia (State Secretary Republic of Indonesia)
Alamat : Gedung Utama Setneg, Jl. Veteran No. 17 Jakarta 10110
Telepon : (021) 384-5627, Ext. 4201, 4202

Wednesday, April 21, 2010

from Garut with dodol!!

Just arrived..
Believe it or not, I have a lot of things to do just couple days ahead. After simultaneous consultation at Garut, I think a lot of things need to be carried out in order to construct that damn table..
That table itself drives me crazy since the deal is not satisfied me at all. Well, since I have positive mind inside and goodwill to finish what I've done, I think I'm gonna finish it no matter what..
So, here I am.. blog walking at night again, just like what I do two years ago..
And about that dodol.. like dodol.. it's hard to chew.. he he he...

Saturday, April 10, 2010

what if

Looking back on the things I've done is become a habit lately. I tried to get the value in it. Somehow, when you look back, you may find out that there were a lot of dissatisfaction. It's natural, but what if it made you loose your spirit to be a better one?