Sunday, January 18, 2009
Life Before June 08
Everything is so light.
No tensions
No frictions
No text message traffic
No emails traffic
Uugh how life changes so fast
Welcome to the fast track..
Sunday, December 14, 2008
Investasi di jaman Nabi Yusuf

Dan begitulah ekonomi bekerja. Selalu ada masa-masa sulit dan masa-masa menyenangkan. Namun di masa-masa yang sulit sekalipun selalu ada jalan keluarnya. Salah satunya dengan saving. Seperti dalam teori Keynes, Y = C+I, pengeluaran terdiri dari konsumsi dan investasi, dimana I = S atau investasi dianalogikan dengan saving. Setiap dari kita selalu harus menyisihkan apa yang kita peroleh untuk ditabung guna menghadapi masa-masa sulit.
Dalam surat Yusuf itu juga disebutkan agar tidak menghabiskan semua bulir gandum melainkan menyisakan sebagian untuk simpanan dan sebagai investasinya dalam bentuk bibit. Maha besar Allah, yang sudah memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya arti saving dan investasi ini.
Relevansinya dengan kondisi sekarang bagaimana? Kondisi perekonomian global yang saar ini sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kegagalan mekanisme di sektor finansial harus belajar banyak dari pelajaran yang bisa diambil dari Surat Yusuf tersebut. Bahwa dalam perilaku untuk berinvestasi, perhatikan cara dan mekanismenya. Bila di surat Yusuf disebutkan untuk berinvestasi menyimpan bibit di batangnya untuk mengurangi cost of inventory, maka langkah yang bijaksana yang patut diambil oleh kita adalah dengan mengurangi cost of risk atau biaya resiko. Karena tidak memperhatikan aspek resiko berinvestasi inilah yang membuat banyak perusahaan besar dan tua bertumbangan. Selain itu, pernah dalam suatu interview di tahun 2003 Robert T Kiyosaki pernah mengatakan bahwa sebaiknya tidak berinvestasi di satu keranjang saja, melainkan di beberapa tempat. Sehingga bila investasi di satu tempat kolaps maka masih ada investasi lainnya.
Sunday, November 23, 2008
It’s not the economy stupid anymore, it’s nationalism!
Resesi ekonomi yang dihadapi Amerika sebagai akibat dari kekacauan sector financial mau tidak mau, suka tidak suka akan berimbas terhadap perekonomian
Inti permasalahannya bukan seberapa besar Indonesia akan terkena imbasnya, melainkan bagaimana Indonesia bisa mengelola krisis ini dengan cerdas. Sudah banyak tulisan-tulisan ekonomi berbau krisis yang mengatakan bahwa Indonesia akan terkena dampak yang sangat hebat dalam waktu singkat plus resep-resep menghadapinya.
Intinya, kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini selain masalah finansial adalah ketidakseimbangan demand-supply. Maksudnya begini, Indonesia selain sebagai produsen juga merupakan pasar yang besar (inget ga waktu SD kita sudah diajari hal ini, jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pasar bagi negeri kita).
Volume ekspor kita yang turun sebagai akibat menurunnya daya beli di negara-negara tujuan ekspor (terutama Amerika) membuat pengusaha-pengusaha yang ada di Indonesia kebingungan karena berkurangnya permintaan dari luar negeri. Sebenarnya mereka juga berpikir bagaimana kalau barang yang diekspor itu dijual di pasar dalam negeri atau domestik. Namun, mereka menghadapi kendala lain.
Negeri Cina yang beberapa tahun terakhir ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat juga mengalami kesulitan mengekspor ke negara-negara yang kini terkena krisis. Sehingga barang yang sedianya diekspor ke negara-negara tersebut dialihkan pasarnya ke Asia, khususnya Indonesia yang penduduknya juga besar.
Dalam mengelola krisis ini dengan cerdas, Indonesia bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan memperkuat pasar domestik yang dibarengi dengan mengecilkan kran import, terlebih lagi waspada terhadap barang import ilegal. Memang, siapa sih yang tidak tergiur dengan harga murah dari negeri lain. Disinilah peran nasionalisme muncul.
Logikanya, bila kita membeli barang yang diproduksi oleh negeri sendiri, otomatis perusahaan-perusahaan yang memproduksi barang tersebut akan tetap eksis karena adanya permintaan dari dalam negeri, sehingga yang namanya PHK bisa diminimalisir. Dengan demikian timbullah daya beli di masyarakat, dan siklus bisnis pun terjadi.
Permasalahan dengan inflasi yang tinggi sebenarnya tidak perlu terlalu diributkan, karena inflasi itu seperti air yang mencari keseimbangannya sendiri (walaupun tetap harus dijaga dengan kerangka inflation targeting frameworknya Bank Indonesia). BI rate yang masih 9,5 persen memang menyulitkan dunia usaha yang akan meminjam ke bank akibat suku bunga kredit yang tinggi (karena mengacu pada BI rate). Namun bila permintaan dalam negeri dapat dipenuhi dan import dibatasi, maka hal tersebut tidak terlalu mengganggu jalannya siklus bisnis tadi.
Yang harus diwaspadai saat ini adalah rencana Amerika untuk mengeluarkan Surat Utang. Dengan diterbitkannya surat utang Amerika, maka nilai rupiah kita akan semakin terdepresiasi akibat permintaan dollar yang tinggi. Lagi-lagi keseimbangan demand-supply terkoreksi, inilah ekonomi.
Sekali lagi untuk Indonesia, nasionalisme perlu dijaga untuk menjaga keseimbangan demand-supply. It’s not the economy stupid anymore but nationalism!