Artikel ini diambil dari buku barunya Rhenald Khasali berjudul Marketing in Crisis. Di dalam salah satu box-nya ada tulisan yang dia cuplik juga dari harian Kompas 1 Desember 2008, bagus dan membuat kita terus berpikir..
"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Kalau Anda juga kehilangan pekerjaan, itu depresi"Berapa pun besarnya pesangon, menjadi penganggur sungguh tidak enak. Menurut Harvey Brenner, setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik 1,2%, serangan jantung 1,7%, bunuh diri 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun.
Namun, ada kabar gembira, orang yang kepepet bisa hijarah menjadi pengusaha, asalkan lingkungannya kondusif. Minggu lalu, Organisasi Buruh Internasional mengumumkan krisis keuangan global akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja 20 jutra orang. Padahal, tanpa krisis, 190 juta orang menganggur, Di AS, angka PHK baru 1,2 juta. Lantas, dimana pengangguran terbesar? Sebagian besar menduga CIna.
Namun Dirjen ILO menyebut Cina relatif aman karena pasar domewstiknya kuat. Di Thailand, 1 juta orang akan menganggur. Singapura sama, tetapi parlemen mengizinkan pemerintah mengatur keuangan agar lebih adaptif.
Di Indonesia, mereka yang pesimis menyebut pengangguran akan menyentuh 2 juta orang, sementara yang moderat menyebut 1 juta. Hitungan ekonominya, penurunan ekonomi 1 persen membuat lapangan pekerjaan menyusut 150.000. Di lapangan, sebagai antisipasi krisis,pengusaha mulai menahan ekspansi. Konsumsi listrik untuk industri di Jawa sebulan terakhir turun lebih dari 5 persen.
Namun, benarkah ancaman pahit itu akan menjadi kenyataan? Di AS, yanng paling terkena krisis adalah jasa keuangan, perumahan, ritel, otomotif, dan konstruksi. Di negara lain, yang terimbas adalah sektor-sektor ekspor, seperti faren, furnitur dan bahan mentah.
Namun, di Indonesia, segala industri, juga UMKM, bisa terkena kalau respons operasional birokrasi lamban dan inkonsisten. Kita ambil saja dua contoh, industri kertas dan UMKM. Dalam industri kertas, Indonesia punya keunggulan daya saing alamiah sehingga berpotensi menggeser kompetitior dari negara yang sedang terimbas krisis.
Di khatulistiwa, pohon akasia dapat dipanen 6 tahun, sementara di Eropa Utara butuh 20-40 tahun. RAPP dan INdah Indah Kiat masing-masing menanam investasi lebih dari Rp. 50 triliun. Perangkat hukum hutan tanaman industri muali dari UU No 41.1999 sampai PP No 6/2007 sudah lengkap. Kalau kondusif, industri ini bisa jadi powerhouse ekonomi.
Studi LPEM FEUI (2008) menemukan mulitplier tenaga kerjanya 2,381 sehingga berhasil menstimulasi lapangan pekerjaan di Provinsi Riau sekitar 250.000 (2005). sMAPAI BULAN sEPTEMBER 2008, RAPP masih menjual dolar ke BI sebesar 500 juta dolar AS. Namun karena setahun terakhir ini aparat di lapangan bertikai dan saling menuding, pasokan kayu pun menipis.
Kita tahu, polisi saat itu ingin membongkar sindikat pembalakan hutan. Kejaksaan juga ingin dapat nama dalam pemberantasan korupsi. Namun, ibarat kaum bisu tuli dalam tarian The Thousand Hands of Buddha, hanya satu orang yang boleh di depan. Nyatanya semua ingin ke depan sehingga timbul kekacauan dan rantai suplai yang dibangun bertahun-tahun hancur.
Dalam situasi demikian, bulan lalu RAPP mem-PHK 1000 karyawan tetapnya.
Lain lagi UMKM. Dari pengalaman di Korea Selatan, Thailand, dan Cina, pengembangan UMKM tidak boleh dipisahkan dari industri penopangnya yang berseifat komplementer sehingga hrus membentuk klaster. Dalam setiap klaster ada 2-3 perusahaan besar yang menjadi lokomotif bagi gerbong-gerbong itu.
Karena tidak integratif, penanganan UMKM di Indonesia tidak efektif. Yang satu memberikan bantuan, Satpol PP menggusurnya. UMKM ditanam sporadis sehingga menimbulkan banyak benturan. Karena itu, UMKM belum bisa menjadi alat pencipta kesejahteraan yang stabil. Angka kematiannya pun sangat tinggi.
Dua contoh itu menunjukkan pentingnya membangun spirit Indonesia yang sejalan. Semua kekacauan itu dimulai dari visi yang belum terurai sampai level operasional, malah masing-masing asyik dengan "hobinya" dan ingin tampil ke depan sendiri-sendiri.
Upaya mengatasi resesi dan depresi dapat diibaratkan dengan dua kalajengking milik presiden, yang ditaruh dalam gelas. Obama dan pemimpin kita sama-sama menggenggam kalajengking. Begitu air dimasukkan ke dalam gelas, dalam hitungan menit gelas Obama sudah kosong. Kalajengking yang satu mengatakan kepada temannya, "Ini benar-benar sudah gawat, kita bisa mati. Naiki pundak saya, sampai di atas tolong tarik saya." Mereka sepakat, seperti slogan kampanyenya "
Change, You Can Believe In".
Bagaimana kalajengking di gelas pemimpin kita? Begitu yang satu naik sedikit, kawannya buka mendorong ke atas, malah menarik kakinya ke bawah. Walhasil, kdeduanya sama-sama mati. Siapa yang menarik kaki kalajengking itu?
Pada akhirnya, kita hanya bisa keluar dari resesi bukan karena kehebatan kita, melainkan apakah kita benar-benar percaya bahwa ancaman krisis dan PHK ini bisa menjadi riil dan tidak main-main, lalu apakah kita mau bekerja sama dan beradaptasi?...