Pages

Friday, June 19, 2009

"being" versus "having"

Sebuah artikel yang berkaitan dengan gengsi ditulis oleh jeng Eileen dari One-day Assessment Centre di kompas (surely psychology is not my area). Bercerita tentang gengsi para pemimpin yang berusia lebih tua untuk mengakui bahwa ada orang-orang muda yang memiliki kapabilitas yang besar untuk memimpin namun tidak memberi kesempatan dengan alasan gengsi. Gengsi yang sementara ini masih menjadi budaya kita, dan sulit untuk meninggalkannya.

Bila kita mau sedikit mawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal sebatas kedudukan, kekayaan dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermilyar dolar, gonta ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan popular seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata public bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seseorang dibandingkan dengan ”having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”nya tetapi belum tahu dari mana sumbernya.

Kita bisa menggarisbawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakikat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kit merasa gengsi naik sepeda ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru tetapi gaptek dalam menggunakannya.

Artikel itu membuat saya mengkaji ulang lagi ingin menjadi pribadi yang seperti mana saya di area ”being” ini. Bersikap baik dan akomodatif terhadap orang-orang yang memerlukan bantuan rasanya masih belum cukup, tetapi menjadi ekspertis di bidang yang saya tekuni juga masih belum mumpuni. Artinya banyak pe er yang harus segera dituntaskan.

No comments: