Saturday, July 31, 2010
Monday, July 26, 2010
menghilangkan rasa bete
Beberapa hari yang lalu, teman facebook saya menulis di statusnya,"lagi bete". Keadaan seperti itu pasti pernah dialami oleh banyak orang. Ketika kebosanan mulai melanda, tak puguh lagu mau ngapain, begini salah begitu salah, tidak ingin berada di tempat dimana dia berada.. dll.. dll..
Saya tulis di status teman saya itu supaya tidak bete, dia tarik napas dalam-dalam, tahan lima detik, lalu dikeluarkan perlahan.. kalau tidak berhasil berarti salah resep. Iya, karena itu sebenarnya untuk menahan emosi.
Rasa-rasanya saya pernah memposting judul yang sama di blog multiply sekitar dua tahun yang lalu.. (ketika saya sangat menggilai blog). Waktu itu, saya menulis tentang apa saja yang dilakukan untuk menghilangkan rasa bete. Beberapa diantara mungkin akan saya tulis lagi.. dengan versi yang lain..
Pertama, turn the music on.. biasanya bisa mengurangi rasa bete
Kedua, keluar sebentar, liat-liat situasi.. tapi jangan lupa balik lagi..
Ketiga, nge-blog.. seperti saya ini .. lagi bete neh!
Saya tulis di status teman saya itu supaya tidak bete, dia tarik napas dalam-dalam, tahan lima detik, lalu dikeluarkan perlahan.. kalau tidak berhasil berarti salah resep. Iya, karena itu sebenarnya untuk menahan emosi.
Rasa-rasanya saya pernah memposting judul yang sama di blog multiply sekitar dua tahun yang lalu.. (ketika saya sangat menggilai blog). Waktu itu, saya menulis tentang apa saja yang dilakukan untuk menghilangkan rasa bete. Beberapa diantara mungkin akan saya tulis lagi.. dengan versi yang lain..
Pertama, turn the music on.. biasanya bisa mengurangi rasa bete
Kedua, keluar sebentar, liat-liat situasi.. tapi jangan lupa balik lagi..
Ketiga, nge-blog.. seperti saya ini .. lagi bete neh!
Sunday, July 25, 2010
lesson learned today..
Tadi siang, ketika makan bareng anak-anak di d'cost (punten nyebut tempat) ada hal-hal menarik yang menambah semangat untuk menempuh hidup dengan lebih baik lagi.
Sebelum kita menikmati hidangan, kita masuk waiting list.. he he ini memang bukan resto mewah tapi demand-nya lumayan, mungkin karena harganya yang rada miring.. (sekali lagi rada..)
Akhirnya, kita dapat table, order bla..bla..bla.. dan menunggu pesanan tiba. Sambil menunggu pesanan which are udang mayonaise, gurame asem manis, kerang saus tiram, sapi lada hitam, tumis tauge ikan asin, kangkung balacan, cumi saos padang.. (he he banyak.. maklum rakyatnya yang makan juga banyak) kita sholat dzuhur dulu bergantian.. (di resto ini ada tempat sholatnya.. please ini ga promosi).
Setelah saya selesai sholat, gantian hubby yang sholat.. he he segitunya nungguin meja sampai sholat aja gantian.. maklum tadi agak lama waiting listnya.
Sambil menunggu makanan tiba, saya lihat2 list orderan saya sambil memanjangkan leher ke arah dapur (maksudnya celingak celinguk kali aja pesanan saya sudah jadi). Eh, tau-tau ada pria berumur jelang lima puluhan mendatangi saya, dan bertanya "ada yang bisa dibantu bu?".. He he rada malu, saya bilang, "ga ada kok cuma ngecek pesanan saya ada yang kurang apa ga"
Tidak berapa lama pesanan datang, dan kita langsung menyantap.. dengan penuh semangat tentunya.. yah maklumlah lagi lapar berat..
Sekilas saya melihat pria setengah baya itu bergerak kesana kemari, gayanya tenang.. akurat.. meyakinkan.. Kalau ada customer yang ingin pesan tambahan dia segera menghampiri. Kalau ada table yang sudah selesai, segera dia turut membantu pelayan disitu.
Dilihat tampilannya, pastilah dia bukan pelayan atau sekedar pegawai biasa, mungkin owner.. mungkin area manager.. atau semacam store manager.. atau manager in charge atau apalah.. pokoknya bukan waitress.
Dengan headset di kepala, saya perhatikan dia sesekali memberi perintah hampir setengah berbisik, mengecek ke PDA, bergerak menyambangi customer, mengecek dapur etc etc etc.. Menilik penampilannya yang tidak lagi muda, gayanya yang tenang namun luar biasa efisien (catatan : restoran sedang ramai2nya), membuat saya salut sama beliau..
Setelah kita selesai makan, saya antri di kasir. Ketika saya sedang mengantri, orang di depan saya rupanya ada masalah dengan ordernya. Sepertinya ada item yang tidak diakuinya.. Si kasir berbicara melalui headsetnya mengenai kondisi tersebut, kayaknya sih ke pria tadi..dengan nada seperti bawahan ke atasan.. karena ketika saya menengok ke belakang untuk mengecek kondisi anak-anak, si pria paruh baya itu sedang bergerak ke arah kasir.. dengan tenang dan efisien..
Si bapak itu langsung mengecek ke monitor komputer, dan si customer di depan saya itu menganulir klaimnya setelah dihampiri oleh temannya.. masalah selesai..
Lalu, saya membayar makanan saya..
Ketika keluar restoran itu, saya masih sempat melihat pria paruh baya itu sedang membantu pelayan membersihkan table..
Hmmm.. tebakan saya dia pasti manager.. tapi seorang manager dengan responsibility sense yang luar biasa. Bayangkan dia bisa berada di segala lini pelayanan.. dengan emosi yang terjaga, tenang, dan gerakan yang luar biasa efisien..
Thank you Allah, I've learned something today..
Sebelum kita menikmati hidangan, kita masuk waiting list.. he he ini memang bukan resto mewah tapi demand-nya lumayan, mungkin karena harganya yang rada miring.. (sekali lagi rada..)
Akhirnya, kita dapat table, order bla..bla..bla.. dan menunggu pesanan tiba. Sambil menunggu pesanan which are udang mayonaise, gurame asem manis, kerang saus tiram, sapi lada hitam, tumis tauge ikan asin, kangkung balacan, cumi saos padang.. (he he banyak.. maklum rakyatnya yang makan juga banyak) kita sholat dzuhur dulu bergantian.. (di resto ini ada tempat sholatnya.. please ini ga promosi).
Setelah saya selesai sholat, gantian hubby yang sholat.. he he segitunya nungguin meja sampai sholat aja gantian.. maklum tadi agak lama waiting listnya.
Sambil menunggu makanan tiba, saya lihat2 list orderan saya sambil memanjangkan leher ke arah dapur (maksudnya celingak celinguk kali aja pesanan saya sudah jadi). Eh, tau-tau ada pria berumur jelang lima puluhan mendatangi saya, dan bertanya "ada yang bisa dibantu bu?".. He he rada malu, saya bilang, "ga ada kok cuma ngecek pesanan saya ada yang kurang apa ga"
Tidak berapa lama pesanan datang, dan kita langsung menyantap.. dengan penuh semangat tentunya.. yah maklumlah lagi lapar berat..
Sekilas saya melihat pria setengah baya itu bergerak kesana kemari, gayanya tenang.. akurat.. meyakinkan.. Kalau ada customer yang ingin pesan tambahan dia segera menghampiri. Kalau ada table yang sudah selesai, segera dia turut membantu pelayan disitu.
Dilihat tampilannya, pastilah dia bukan pelayan atau sekedar pegawai biasa, mungkin owner.. mungkin area manager.. atau semacam store manager.. atau manager in charge atau apalah.. pokoknya bukan waitress.
Dengan headset di kepala, saya perhatikan dia sesekali memberi perintah hampir setengah berbisik, mengecek ke PDA, bergerak menyambangi customer, mengecek dapur etc etc etc.. Menilik penampilannya yang tidak lagi muda, gayanya yang tenang namun luar biasa efisien (catatan : restoran sedang ramai2nya), membuat saya salut sama beliau..
Setelah kita selesai makan, saya antri di kasir. Ketika saya sedang mengantri, orang di depan saya rupanya ada masalah dengan ordernya. Sepertinya ada item yang tidak diakuinya.. Si kasir berbicara melalui headsetnya mengenai kondisi tersebut, kayaknya sih ke pria tadi..dengan nada seperti bawahan ke atasan.. karena ketika saya menengok ke belakang untuk mengecek kondisi anak-anak, si pria paruh baya itu sedang bergerak ke arah kasir.. dengan tenang dan efisien..
Si bapak itu langsung mengecek ke monitor komputer, dan si customer di depan saya itu menganulir klaimnya setelah dihampiri oleh temannya.. masalah selesai..
Lalu, saya membayar makanan saya..
Ketika keluar restoran itu, saya masih sempat melihat pria paruh baya itu sedang membantu pelayan membersihkan table..
Hmmm.. tebakan saya dia pasti manager.. tapi seorang manager dengan responsibility sense yang luar biasa. Bayangkan dia bisa berada di segala lini pelayanan.. dengan emosi yang terjaga, tenang, dan gerakan yang luar biasa efisien..
Thank you Allah, I've learned something today..
when i want to say the f word
Terkadang, ada saat-saat tertentu dimana kita ingin sekali mengucapkan the f word. Walau secara etika itu absolutely not okay for us to do so, tapi pastilah ada masanya ketika kekesalan mencapai puncaknya. Ini adalah beberapa kejadian yang membuat saya ingin sekali mengucapkan the f word itu.. walaupun tidak terucap.
1. Ketika ada yang menyerobot antrian (terutama di kasir)
2. Ketika lagi jalan, ada motor/mobil yang nyelonong dan membuat cipratan tak enak dipandang mata terkena baju kita.. (lagi apes deh)
3. Ketika ada orang yang mengakui hasil karya kita (sering bow..)
4. Ketika kita difitnah orang (wah, kalo ini.. langsung berdoa banyak-banyak biar dibales sama Allah)
5. Ketika kita merasa apa yang sudah diprediksikan pasti terjadi tapi ternyata meleset dari perkiraan (biasanya kalo lagi nonton bola atau f1)
6. Ketika ada yang mengambil hak kita (yang ini seringkali berkaitan dengan honor)
7. Ketika lagi naik motor dan sedang menunggu kereta api lewat di perlintasan kereta api, ada mobil yang bannya melindas kaki.. (oh, that's really.. really.. f..)
and many more..
1. Ketika ada yang menyerobot antrian (terutama di kasir)
2. Ketika lagi jalan, ada motor/mobil yang nyelonong dan membuat cipratan tak enak dipandang mata terkena baju kita.. (lagi apes deh)
3. Ketika ada orang yang mengakui hasil karya kita (sering bow..)
4. Ketika kita difitnah orang (wah, kalo ini.. langsung berdoa banyak-banyak biar dibales sama Allah)
5. Ketika kita merasa apa yang sudah diprediksikan pasti terjadi tapi ternyata meleset dari perkiraan (biasanya kalo lagi nonton bola atau f1)
6. Ketika ada yang mengambil hak kita (yang ini seringkali berkaitan dengan honor)
7. Ketika lagi naik motor dan sedang menunggu kereta api lewat di perlintasan kereta api, ada mobil yang bannya melindas kaki.. (oh, that's really.. really.. f..)
and many more..
Monday, July 19, 2010
the moment of truth..
Hasil googling dari kata kunci the moment of truth yang paling pas buat saya adalah suatu istilah yang diciptakan oleh Jan Carlzon, CEO Scandinavian Airline System (SAS) yang mengadakan pertemuan antara penyedia service dengan para pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan dari perusahaan yang bersangkutan. Inilah yang dimaksud Carlzon dengan Moments of Truth.
Tadi pagi menjelang siang, saya menghadiri rapat koordinasi dengan beberapa stakeholder. Yang menakjubkan adalah, betapa kondisi the moment of truth itu really happen.. Banyak hal yang bisa dieksplor lebih jauh lagi, lebih cepat lagi, lebih bermutu lagi, dan lebih-lebih lainnya..
Kemudian, saya membandingkannya dengan FGD yang mungkin mirip-mirip dengan the moment of truth ini. Wikipedia bilang, A focus group is a form of qualitative research in which a group of people are asked about their perceptions, opinions, beliefs and attitudes towards a product, service, concept, advertisement, idea, or packaging.
Mirip-miripkah? Ya.. Sedikit perbedaan terletak pada feedback yang diberikan. FGD mensyaratkan feedback yang diperlukan, sedangkan the moment of truth akan memunculkan the moment of impact.
The moment of impact adalah semua kejadian interaksi ketika anggota melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang inovatif yang di luar dugaan. Seperti memunculkan ide-ide baru untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.
The moment of truth juga merupakan salah satu game yang populer di amerika yang menghadirkan pertanyaan2 konyol dan memalukan yang harus dijawab oleh lawannya. Jawaban bisa di luar dugaan, dengan reaksi yang juga bisa di luar dugaan.
Anyway, I guess I found myself in the moment of truth today.. Thank you Allah..
Tadi pagi menjelang siang, saya menghadiri rapat koordinasi dengan beberapa stakeholder. Yang menakjubkan adalah, betapa kondisi the moment of truth itu really happen.. Banyak hal yang bisa dieksplor lebih jauh lagi, lebih cepat lagi, lebih bermutu lagi, dan lebih-lebih lainnya..
Kemudian, saya membandingkannya dengan FGD yang mungkin mirip-mirip dengan the moment of truth ini. Wikipedia bilang, A focus group is a form of qualitative research in which a group of people are asked about their perceptions, opinions, beliefs and attitudes towards a product, service, concept, advertisement, idea, or packaging.
Mirip-miripkah? Ya.. Sedikit perbedaan terletak pada feedback yang diberikan. FGD mensyaratkan feedback yang diperlukan, sedangkan the moment of truth akan memunculkan the moment of impact.
The moment of impact adalah semua kejadian interaksi ketika anggota melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang inovatif yang di luar dugaan. Seperti memunculkan ide-ide baru untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.
The moment of truth juga merupakan salah satu game yang populer di amerika yang menghadirkan pertanyaan2 konyol dan memalukan yang harus dijawab oleh lawannya. Jawaban bisa di luar dugaan, dengan reaksi yang juga bisa di luar dugaan.
Anyway, I guess I found myself in the moment of truth today.. Thank you Allah..
Subscribe to:
Comments (Atom)