Pages

Friday, November 26, 2010

lets do it

My boys are going to stay at school tonight. They have a regular activity to stay at their school to contemplate and recite the Qur'an. On the other side, my daughter will be very busy with her social media network. So, I can simply imagine what my night will be without them at home.

I made a plan to finish my reading, the rosetti letter - hopefully - to start the weekend. In order to do so, I need a lot of spirit and willingness to do it. While this bad mood still on the go, what should I do then?

I'm still at the office waiting for the lunch time. It's friday, it's sunny and I have no to do list today.. Then, lets do it..

Tuesday, November 23, 2010

entahlah

Rencana untuk rapat hari ini, entah mengapa tidak jadi dilaksanakan. Padahal dari semalam saya sudah mempersiapkan bahannya. Tapi ya sudahlah kalau memang tidak jadi. Hari ini juga hampir semua teman-teman turun ke lapangan untuk membuser pekerjaan yang belum masuk.

Mood saya juga kurang baik hari ini. Saya lagi tidak ingin membaca, tidak ingin memperbaiki publikasi, tidak ingin chating, tidak ingin ngeblog, pokoknya tidakapa-apa. Praktis hari ini menjadi hari paling tidak produktif selama bulan ini. Tapi justru tanpa ada apa-apa itu capeknya malah luar biasa. Kepala rasanya berat, mata sangat mengantuk. Aneh ya, beda kalau sedang sibuk.

Hari ini, saya hanya berusaha menjadi pendengar dari teman-teman yang berkeluh kesah mengenai sistem, kondisi negara yang aneh dan lainnya. Dan itu membuat kepala saya terasa bertambah berat..

Mungkin kondisi tubuh saya memang kurang fit, atau saya nya lagi err.. he he he

Tentang euro

Mukaddimah
Syahdan, Wolfgang Kroger, seorang pakar ekonomi dari Institut fur Wirtschaftsforschung (Institut Penelitian Ekonomi) di Wiesbaden Jerman, pernah bertanya-tanya ketika melihat sebuah fenomena menarik yang dilakukan masyarakat Eropa : benarkah mereka sedang berniat membuat sebuah benteng pertahanan baru yang eksklusif ?

Entah keheranan macam apa yang membuat Kroger menjadi bertanya-tanya demikian. Namun yang jelas, sebuah fenomena menarik memang sedang dilakukan oleh sebagian masyarakat Eropa. Di awal Tahun Kelinci ini, mereka ‘melahirkan’ satu currency yang selama ini memang telah dipersiapkan menjadi bakal satu-satunya one currency in Europe : Euro.

Banyak pihak kemudian bersikap terhadap kelahiran mata uang ini yang diprediksikan akan menjadi strong currency dan menjadi rival sekaligus penanding kedigdayaan hard currencies yang telah ada selama ini.

Melihat potensi yang dimiliki masyarakat Eropa, harapan yang ditumpukan pada euro sebagai satu currency yang dapat mempengaruhi perekonomian Eropa dan dunia semestinya memang bukan sebuah utopia. Kendati demikian, pendapat yang bernada skeptis juga muncul seiring dengan optimisme yang dibangun ditengah maraknya diskursus yang penuh dengan euforia kelahiran mata uang baru berkode EUR itu. Sikap yang demikian adalah wajar, mengingat euro harus bersaing dengan USD Block dan FAR East Block yang begitu kuat menguasai perekonomian dunia.

Nah, mampukah euro menjadi satu acuan baru alternatif diversivikasi aset finansial global ?

Bermula dari Maastricht
Keinginan untuk membentuk satu mata uang tunggal euroland terjadi pada tahun 1957 ketika beberapa negara Eropa melakukan kesepakatan dalam Treaty Rome untuk saling bekerja sama di bidang ekonomi, politik dan keamanan.

Kerja sama di bidang ekonomi terus berlanjut hingga European Economic Cooperation yang kemudian tumbuh menjadi European Union (Belgia, Jerman, Spanyol, Prancis, Irlandia, Italia, Luksemburg, Austria, Belanda, Portugal dan Finlandia) bersepakat untuk membentuk sebuah sistem moneter eropa (european monetary system). Sistem yang disepakati kemudian untuk mengatur lalu lintas moneter di euroland adalah melalui pembentukan Economic and Monetary Union (EMU) pada tahun 1990.

Prinsip-prinsip dalam EMU tersebut kemudian dijabarkan melalui Maastricht Treaty pada tahun 1992 yang diantaranya berisi kesepakatan untuk menjadikan euro sebagai satu mata uang tunggal negara anggota EMU dan membentuk European Central Bank (ECB) sebagai bank sentral penerbit euro. Empat tahun kemudian dalam pertemuan Madrid, lahirlah euro sebagai bakal mata uang tunggal negara-negara anggota EMU. Benefit yang ingin diperoleh dari euro adalah sebagai media penguat European Single Market dan pen-support investasi di euroland dengan kemampuannya untuk mereduksi real interest rate. Selain itu, EMU berharap euro dapat menjadi intermediasi sekaligus katalis bagi proses integrasi politik Eropa.

Pada pertengahan Desember 1995, diputuskan untuk memberlakukan Euro mulai 1 Januari 1999 dan akan memasuki periode take-off pada tahun 2002. Dalam interval tersebut (periode transisi), ECB akan mengatur pencapaian nilai tukar euro secara permanen dengan menerapkan dual pricing system atau kebijakan ‘no prohibition, no compulsion’. Artinya, tidak ada keharusan dan larangan bagi individu atau perusahaan dalam menggunakan euro. Mereka masih dapat mempergunakan mata uang mereka sendiri dalam bertransaksi.
Nilai tukar mata uang euro — yang diperdagangkan di pasar valas semenjak 4 Januari 1999 — terhadap mata uang negara peserta sudah dipatok semenjak 31 Desember 1998 sampai dengan 1 Juli 2002. Pada permulaan tahun 2002, uang kertas dan koin euro akan diperkenalkan kepada masyarakat dan menarik uang kertas dan koin negara-negara peserta dari peredaran sampai dengan 30 Juni 2002.

Dampak Euro
Pada dasarnya, kelahiran euro lebih dirasakan manfaatnya oleh para negara peserta dikarenakan transaksi yang terjadi diantara mereka tidak akan bergantung lagi pada dollar US. Sebagaimana diketahui, lebih dari separo aktivitas perdagangan yang dilakukan di euroland dilakukan dalam dollar US. Padahal, Eropa mempunyai pangsa pasar yang lebih besar (21 %) dibanding Amerika Serikat (18 %) dalam perdagangan internasional.

Bagi negara-negara peserta, pemberlakuan euro akan dapat mereduksi biaya-biaya yang timbul dari berbagai macam transaksi yang selama ini terjadi seperti costs of exchanging money dan bank charges. Secara begitu, transaksi yang dilakukan di euroland akan menjadi lebih efektif dan efisien.

Efektif dikarenakan semua pihak yang melakukan aktivitas trading dan keuangan hanya akan menggunakan satu euro-account yang dengan demikian akan membuat mekanisme pembayaran antar negara EMU menjadi lebih efisien. Pada akhirnya, mereka dapat lebih berkompetisi di pasaran global yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara peserta. Selain itu, berkurangnya currency risk di euroland akibat penyederhanaan mata uang Eropa akan menjadi kaptivator tersendiri bagi para investor untuk datang.

Sedangkan bagi perusahaan-perusahaan negara peserta yang berkepentingan dengan euro, benefit yang dapat mereka petik adalah berkurangnya cost of exchanging currencies, hedging cost, cost of financing dan cross border transaction cost. Dengan demikian, harapan untuk menjadikan european single market yang kompetitif di pasar global akan semakin terwujud.
Lantas apa dampaknya bagi perekonomian luar Eropa ?

Leburnya beberapa mata uang yang didukung dengan strong currency mark Jerman dan franch Prancis menjadi one currency in Europe akan lebih menyederhanakan jumlah mata uang dunia. Jelas hal ini akan mempermudah kerja otoritas-otoritas moneter yang berkepentingan dengan pasar keuangan di kawasan euro (dan internasional) dalam mengupayakan kestabilkan pasar uang. Kekhawatiran perubahan nilai tukar antar negara Eropa dan negara lainnya menjadi suatu hal yang tidak perlu dirisaukan kembali.

Selain itu, bergabungnya beberapa kekuatan besar negara Eropa akan menjadi penyeimbang kedigdayaan Amerika yang selama ini begitu pongah mendominasi aktivitas perekonomian global. Kekuatan ini akan menjadi lebih besar seandainya Inggris, Swedia, Denmark dan Yunani yang sementara ini masih ogah bergabung ikut lebur dalam EMU.

Pada akhirnya, setiap individu, institusi perusahaan atau negara akan mempunyai alternatif pilihan currency yang stabil sehingga dapat dipakai sebagai salah satu acuan aset finansial. Dunia sudah belajar banyak dari kenyataan bahwa krisis global yang terjadi belakangan ini lebih diakibatkan karena volatilitas nilai dollar US yang sedemikian fluktuatif dan penuh dengan ketidakpastian.

Potensi Euro
Optimisme euro bakal menjadi mata uang kuat yang dapat bersaing dengan hard currency yang selama ini mendominasi aktivitas perekonomian global sepertinya bukan sebuah sikap yang dibuat tanpa berlandaskan argumen yang mendasar. Dengan melihat beberapa potensi yang dimiliki oleh negara-negara euro, optimisme tersebut bukanlah sebuah utopia.

Negara-negara euro, memiliki beberapa potensi yang dapat menjadi sumber kekuatan bagi Eropa untuk bersaing dengan negara adi kuasa seperti jumlah penduduk, ukuran dan independensi ekonomi, perdagangan internasional dan relatif stabilnya kondisi ekonomi-politik.

Dengan 373.7 juta penduduk Europen Union, mereka mampu menguasai 21.66 % perdagangan internasional dan menghasilkan gross domestic product sebesar 8.4 triliun dollar US. Selain itu, jumlah cadangan devisa yang dimiliki bank-bank sentral negara EMU dapat mencapai nilai sebesar US$ 349.8 miliar, sementara Amerika dan Jepang masing-masing berjumlah US$ 49.1 miliar dan US$ 172.4 miliar.

Sumbangan gross domestic product kesebelas anggota EMU dalam Organization for Economic & Cooperation Development (OECD) juga memiliki porsi yang lebih besar ketimbang Amerika dan Jepang. Mereka mampu menghasilkan porsi sumbangan sebesar 38.3%, sedangkan Amerika dan Jepang masing-masing hanya sebesar 32.5% dan 20.5%.

Kondisi tersebut didukung dengan posisi European Central Bank (ECB) yang sangat independen sehingga peran-peran yang harus dimainkan oleh ECB untuk mempertahankan stabilitas harga, menentukan kebijakan nilai tukar dan kebijakan moneter serta mengelola likuiditas sehari-hari dapat terbebas dari intervensi pihak luar – termasuk pemerintah negara anggota EMU.

Konsolidasi neraca, pendanaan dan investasi yang lebih efektif dan efisien dari penggunaan TARGET (Trans-european Automated Real-time Gross settlement Express Transfer system) — sebagai sistem pembayaran antar negara euro — dan didukung oleh sistem kliring RTGS (Real Time Gross Settlement) akan sangat membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas kinerja pihak-pihak yang melakukan transaksi.

Diperkirakan, kombinasi equity capital markets di euroland sebagai akibat dari more fixed rate issuance by nonsovereigns akan dapat menciptakan total kapitalisasi pasar yang hampir setara dengan US$ 5.2 triliun. Besarnya jumlah ini memang sangat memungkinkan jika mengingat lebih dari 60% transaksi perdagangan Eropa yang dilakukan terjadi diantara sesama negara Eropa itu sendiri.

Jika kekuatan-kekuatan tersebut dapat benar-benar terealisir, bukan suatu hal yang mustahil negara-negara euro dapat menjadi penyeimbang negara Clinton di pentas perdagangan global. Artinya, tidak akan ada lagi disparitas yang terlalu melebar antara negara-negara euro dengan negara adi kuasa yang sempat geger lantaran skandal Lewinsky itu. Peluang yang dapat segera dimanfaatkan euro adalah menurunnya jumlah foreign reserve bank–bank sentral secara global dalam dollar US dari 77% (1973) menjadi 51% (1995). Bank for International Settlement (BIS), International Monetary Fund (IMF), Citibank, Goldman Sachs dan Merill Lynch bahkan memperkirakan euro bakal menjadi eksodus foreign reserve bank-bank sentral di seluruh dunia dengan merubah komposisi cadangan devisa mereka.

Portofolio modal swasta Eropa di seluruh dunia juga mengalami peningkatan dari 13% di tahun 1981 menjadi 37% pada tahun 1995. Sementara porsi dollar US mengalami penurunan dari 67% (1981) menjadi 40% (1995).
Di Asia, negara yang langsung bereaksi dengan munculnya euro di pentas perdagangan internasional adalah Hongkong. Negara mantan jajahan Inggris itu sudah memindahkan sebagian aset-nya dalam euro sehingga nilai dollar US sempat melemah akibat sentimen pasar yang berubah. Korea Selatan, Cina dan Filipina juga sudah berniat untuk mempergunakan euro sebagai salah satu mata uang cadangan devisa. Presiden Filipina Joseph Estrada dalam KTT ASEAN di Hanoi beberapa waktu yang lalu bahkan melontarkan satu gagasan untuk meniru euroland dengan membentuk satu mata uang tunggal bagi negara-negara Asia.

Bagaimana dengan Indonesia ? Gubernur BI Syahril Sabirin dalam suatu kesempatan sudah menyinggung kemungkinan diterapkannya euro dalam cadangan devisa negara kita. Selama ini, cadangan devisa yang dimiliki Indonesia masih mempergunakan basket currency dollar US, yen, deutsche mark dan poundsterling. Peluang lain yang dapat dimanfaatkan Indonesia adalah kenyataan bahwa perdagangan Indonesia-Eropa mempunya porsi yang sangat besar.

Masa Depan Euro
Pertanyaan yang kemudian patut kita gagas adalah mampukah euro menjadi a new hard currency ? Jawab dari pertanyaan ini akan kembali kepada negara-negara peserta EMU itu sendiri untuk mengupayakan terciptanya sebuah sistem keuangan yang efisien dan kuat.

Untuk dapat membuat kondisi tersebut, peran yang harus dimainkan ECB menjadi sangat strategis namun juga berat. Dalam jangka pendek, ECB harus dapat mengkonsolidasikan kebijakan masing-masing negara peserta EMU yang tentu saja masih mempunyai kepentingan dan kondisi yang amat beragam agar kriteria keanggotaan yang telah disepakati dalam Maastricht Treaty dapat dicapai.

Sebagaimana diketahui, Maastricht Treaty 1992 menetapkan lima kriteria yang harus dipenuhi oleh negara peserta EMU, yaitu :

Stabilitas harga yang tinggi. Parameter yang dipakai untuk mengukur tingkat kestabilan ini adalah laju inflasi yang tidak boleh lebih dari 1.5% laju inflasi terendah tiga anggota EMU.
Rasio defisit anggaran yang tidak boleh lebih dari 3% gross domestic product. Jika terjadi satu negara mempunya rasio melebihi 3%, hal tersebut dianggap sebagai suatu pengecualian yang bersifat sementara saja.
Rasio utang terhadap gross domestic product tidak boleh lebih dari 60%.
Fluktuasi margin normal yang diperkenankan melalui mekanisme nilai tukar dapat dicapai sedikitnya dalam dua tahun tanpa melakukan devaluasi atas mata uang Eropa lain; dan
Suku bunga nominal jangka panjang tak boleh melebihi 2% poin diatas suku bunga tiga negara anggota EMU yang memiliki inflasi terbaik.
Jika poin-poin kesepakatan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, pengkondisian one currency in Europe diperkirakan akan berjalan dengan baik dikarenakan saling kesepahaman dan kesamaan masing-masing negara peserta sudah dapat tertata.

Dalam jangka panjang, institusi independen yang dikomandani wong Belanda Wim Duisenberg itu harus dapat menjaga kestabilan nilai euro. Kondisi yang demikian harus terus dibangun agar euro dapat menjadi satu alternatif portofolio keuangan internasional yang benar-benar kredibel. Langkah konkrit yang sudah dilakukan ECB untuk memelihara tingkat kestabilan di pasar uang internasional adalah dengan mengambil tindakan membeli dan menyimpan yen dalam cadangan devisa negara Eropa. Sebab, Jepang adalah motor penggerak perekonomian Asia yang masih dan akan menjadi pasar yang besar bagi investasi Eropa.

Relatif stabilnya nilai euro yang didukung dengan leburnya strong currency semacam mark Jerman dan franch Prancis, memungkinkan pihak-pihak yang selama ini mempergunakan basket currency seperti dollar US dan yen akan segera mempertimbangkan penggunaan mata uang ini.

Kendati demikian, EMU harus mewaspadai ‘ancaman’ pihak eksternal (baca : Amerika) yang jelas-jelas tidak akan membiarkan begitu saja misi dan dominasinya di pasar global terancam. Sampai saat ini, pasar dollar US masih memonopoli 80% perdagangan dunia dengan total perdagangan sebesar US$ 250 miliar – US$ 300 miliar. Sikap Amerika terlihat jelas dengan meniupkan ancaman resesi global dan membuat dollar melemah di pasar uang pada saat pertama peluncuran euro.

Nah, mampukah euro menjadi sebuah kekuatan baru ? Just wait and see, begitu kata orang Inggris.

(artikel lawas ini dipublikasikan di Jurnal PRESTASI No.2/ I/1999)

Sunday, November 21, 2010

adaptasi psikologis

Charles Darwin, si bapak evolusi pernah bilang kira-kira begini "bukan makhluk yang paling kuat atau paling pintar yang mampu bertahan, tetapi makhluk yang bisa beradaptasilah yang mampu bertahan". Dulu, waktu masih mengenakan seragam abu-abu (maksudnya SMA, karena sekarang pun kalo ke kantor juga pakai seragam abu-abu) saya selalu terkesima dengan kesimpulan darwin tersebut. Sekarang, maknanya bisa jauh lebih dalam lagi..

Maksudnya begini, orang kuat memang banyak, orang pintar apalagi.. banyak juga. Tetapi, memang bukan orang yang paling kuat atau paling pintar lah yang mampu bertahan hidup (mungkin lebih tepat eksis), tetapi orang yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan.

Sejarah mencatat bahwa bangsa barbar memang merupakan orang-orang yang kuat, tapi ada daya.. mereka tidak bisa beradaptasi dengan dinginnya suhu di belahan bumi yang lain (kalau tidak salah waktu mereka menginvasi Rusia). Sebagai hasilnya, kaum mereka menjadi punah.

Siapa pun mengakui kalau bangsa Eropa dan Amerika memiliki teknologi canggih dan up to date. Tetapi, mereka tidak beradaptasi dengan baik terhadap perubahan global. Seperti design, harga, kemudahan mendapatkan barang. Hasilnya, bangsa Jepang lah yang paling banyak memperoleh keuntungan dari pengembangan teknologi yang semula dirintis oleh bangsa Eropa dan Amerika.

Soal adaptasi ini juga terjadi terhadap psikologis seseorang. Stress yang berkepanjangan misalnya, merupakan salah satu contoh sulitnya beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan (menghadapi permasalahan yang berbeda-beda dan terus berkembang). Kesulitan adaptasi psikologis mungkin juga menjadi penyebab mengapa banyak anak muda kita yang terjebak dalam penyalahgunaan narkoba.

Di dalam dunia kerja, kesulitan adaptasi psikologis sepertinya tidak hanya berupa stress saja. Tetapi juga dalam penyimpangan perilaku kerja. Korupsi contohnya, bisa menjadi contoh sulitnya untuk beradaptasi secara psikologis. Terbukanya kesempatan, dorongan kebutuhan ekonomi, dan lemahnya pengawasan membuat psikologis seseorang menjadi rentan dan melupakan semua norma dalam bekerja. Akibatnya, seperti Gayus itulah.. Dia adalah contoh aktual dari sulitnya adaptasi psikologis dalam lingkungan kerja.

Orang yang sanggup beradaptasi psikologis dalam dunia kerja, pasti akan memunculkan potensi-potensi positif dalam dirinya yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh. Sehingga dia akan mampu bertahan dalam situasi apapun.

Yah, ini cuma sedikit pemikiran saya saja di malam hari, karena terkena dampak kafein yang ternyata bekerja dengan sangat sempurna.. he he he

Semoga, saya mampu beradaptasi psikologis. Baik dalam lingkungan, keluarga, pekerjaan dan keseharian saya.. Amien..

Sunday, November 7, 2010

#merapi

Takdir hanya Alloh yang tahu..
Sejak Gunung Merapi meletus 26 Oktober yang lalu hingga kini, masih gonjang ganjing tak menentu, membuat saya semakin pasrah kepada pencipta saya. Yah, manusia memang cuma bisa merencanakan, mengusahakan, tapi takdir memang kepunyaan Alloh semata.

Saudara sepupu saya tinggal di Muntilan, yang masuk dalam zona lingkar merapi. Mau tak mau saya mengkhawatirkan keselamatannya sekeluarga. Sempat saya minta mengungsi ke Bekasi walaupun mereka sudah mengungsi di sekitar Borobudur. Gimana ya, rasanya khawatir saja..

Saya juga memfollow @jalinmerapi di twitter saya. Hmm, sebuah akun koordinasi untuk mengatasi bencana alam di gunung merapi. Dari akun inilah saya mendapat informasi real time mengenai arus pengungsian, logistik dan status gunung merapi. Saya sangat berharap di lingkar merapi selalu terdapat sinyal yang baik agar koordinasi yang sangat tergantung dengan sinyal ini bisa terus eksis dan melaporkan kondisi terakhir di lingkar merapi.

Untuk mereka yang terpaksa mengungsi dari lingkar merapi. Yang terpaksa harus meninggalkan sementara (semoga) lingkungan sehari-harinya, semoga diberi ketabahan dan kesabaran yang luar biasa. Semoga bencana ini segera usai, saya selalu meyakini bahwa segala sesuatu itu pasti berakhir baik, kalau belum baik, artinya itu memang belum berakhir..

Inilah salah satu pelajaran hidup dari sekian banyak pelajaran hidup saya yang berharga, bahwa dalam kondisi seperti ini tidak ada yang dapat menolong selain Alloh semata. Semoga, mereka yang berada di lingkar merapi selalu mendapat pertolongan Alloh SWT. Amien..