Pages

Sunday, November 21, 2010

adaptasi psikologis

Charles Darwin, si bapak evolusi pernah bilang kira-kira begini "bukan makhluk yang paling kuat atau paling pintar yang mampu bertahan, tetapi makhluk yang bisa beradaptasilah yang mampu bertahan". Dulu, waktu masih mengenakan seragam abu-abu (maksudnya SMA, karena sekarang pun kalo ke kantor juga pakai seragam abu-abu) saya selalu terkesima dengan kesimpulan darwin tersebut. Sekarang, maknanya bisa jauh lebih dalam lagi..

Maksudnya begini, orang kuat memang banyak, orang pintar apalagi.. banyak juga. Tetapi, memang bukan orang yang paling kuat atau paling pintar lah yang mampu bertahan hidup (mungkin lebih tepat eksis), tetapi orang yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan.

Sejarah mencatat bahwa bangsa barbar memang merupakan orang-orang yang kuat, tapi ada daya.. mereka tidak bisa beradaptasi dengan dinginnya suhu di belahan bumi yang lain (kalau tidak salah waktu mereka menginvasi Rusia). Sebagai hasilnya, kaum mereka menjadi punah.

Siapa pun mengakui kalau bangsa Eropa dan Amerika memiliki teknologi canggih dan up to date. Tetapi, mereka tidak beradaptasi dengan baik terhadap perubahan global. Seperti design, harga, kemudahan mendapatkan barang. Hasilnya, bangsa Jepang lah yang paling banyak memperoleh keuntungan dari pengembangan teknologi yang semula dirintis oleh bangsa Eropa dan Amerika.

Soal adaptasi ini juga terjadi terhadap psikologis seseorang. Stress yang berkepanjangan misalnya, merupakan salah satu contoh sulitnya beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan (menghadapi permasalahan yang berbeda-beda dan terus berkembang). Kesulitan adaptasi psikologis mungkin juga menjadi penyebab mengapa banyak anak muda kita yang terjebak dalam penyalahgunaan narkoba.

Di dalam dunia kerja, kesulitan adaptasi psikologis sepertinya tidak hanya berupa stress saja. Tetapi juga dalam penyimpangan perilaku kerja. Korupsi contohnya, bisa menjadi contoh sulitnya untuk beradaptasi secara psikologis. Terbukanya kesempatan, dorongan kebutuhan ekonomi, dan lemahnya pengawasan membuat psikologis seseorang menjadi rentan dan melupakan semua norma dalam bekerja. Akibatnya, seperti Gayus itulah.. Dia adalah contoh aktual dari sulitnya adaptasi psikologis dalam lingkungan kerja.

Orang yang sanggup beradaptasi psikologis dalam dunia kerja, pasti akan memunculkan potensi-potensi positif dalam dirinya yang membuatnya menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh. Sehingga dia akan mampu bertahan dalam situasi apapun.

Yah, ini cuma sedikit pemikiran saya saja di malam hari, karena terkena dampak kafein yang ternyata bekerja dengan sangat sempurna.. he he he

Semoga, saya mampu beradaptasi psikologis. Baik dalam lingkungan, keluarga, pekerjaan dan keseharian saya.. Amien..

No comments: