Pages

Monday, November 19, 2012

It's all about the money

Uang merupakan souvenir from 20th century. Saya mengetahuinya dari suatu acara di BBC knowledge sekitar tahun 2010. Waktu itu masih langganan indovision (sekarang telkomvision). Di channel BBC knowledge, dulu itu kalau mau pergantian acara suka ada semacam klip tentang souvenir from 20th century, dan salah satunya adalah uang. Kenapa hari saya ingin cerita tentang uang? Karena saya habis baca bukunya DR. Ahmad Riawan Amin yang berjudul Satanic Finance - bikin umat miskin -. Di buku itu dijelaskan bagaimana uang membuat umat menjadi semakin miskin. Beliau adalah Presiden Direktur Bank Muammalat 1999 - 2008 dan seorang trainer kelas dunia.

Ceritanya dimulai dengan fiat money. Dulu, orang melakukan transaksi dengan sistem barter, lalu muncul mata uang emas, kemudian timbul uang kertas yang digadang-gadang lebih efisien dibandingkan uang emas. Tetapi, menurut buku tersebut justru adanya uang kertas lah maka terjadi berbagai krisis ekonomi yang salah satunya pernah kita alami di tahun 1997-1998. Menurut wikipedia, fiat money adalah uang yang nilainya berasal dari peraturan pemerintah atau undang-undang. Istilah ini berasal dari bahasa Latin fiat ("let it be done", "itu akan terjadi"). Uang yang diciptakan tanpa didukung (back up) dengan logam mulia seperti emas secuil pun. Uang ini bisa dicetak oleh penguasa dan tidak bisa ditukar dengan koin emas (karena memang tidak ada emas yang dicadangkan untuk mendukung pencetakan uang tersebut). Uang ini menjadi berharga dan berfungsi sebagai alat pembayaran barang dan jasa karena diterbitkan oleh pemerintah yang diakui. Artinya, kalau pemerintah kehilangan kepercayaan maka uang tersebut menjadi tidak berharga, kecuali senilai harga kertas dan biaya produksi untuk mencetaknya.

Karena tidak perlu back up logam mulia, otoritas moneter gampang tergoda untuk mencetak uang. Satu-satunya batasan yang harus diperhatikan adalah agar tidak menimbulkan inflasi. Jadi, kalau uang dicetak melebihi jumlah barang dan jasa atau output riil yang bisa diproduksi (kita mengenalnya dengan PDB menurut lapangan usaha) maka fenomena inflasi terjadi. Harga-harga barang dan jasa mengalami tren naik dari waktu ke waktu. Bagi mereka yang memiliki penghasilan tetap (orang gajian, karyawan dan semacamnya) adalah golongan yang paling terkena dampak inflasi karena nilai riilnya terpotong dengan sebesar persentase inflasinya. Hal ini diperparah kalau yang menguasai perekonomian akhirnya mengatur budaya dan bahkan mengambilalih kepemimpinan setempat. Uang kertas tidak menambah produktivitas! Kecuali produktivitas maya yang membuat para penggunanya terus menerus bekerja hanya untuk mendapatkan kompensasi sumber daya yang sedikit. Akhirnya mereka yang tadinya baik, ramah dan suka menolong berubah menjadi individualis mementingkan diri sendiri.

Kondisi ini diperparah dengan adanya Fractional Reserve Requirement (FRR). FRR adalah cadangan yang disyarakatkan oleh bank sentral untuk memenuhi kondisi normal permintaan dari para deposan yang menarik tabungan atau depositonya. Besarnya jauh di bawah 100 persen. Aturannya begini, misal FRR 10%. Bank bisa meminjamkan 90% bagian lainnya kepada nasabah atau para deposan yang membutuhkan. Misalnya Bank A menerima deposit dari nasabah 1 juta. Berarti bank tersebut bisa meminjamkan 9 juta kepada nasabah lainnya. Sepintas ini keliatannya normal, tapi ini membuat aturan FRR menempatkan bank secara tidak langsung sebagai agen yang turut mensuplai uang (money supply). Dengan kata lain, bank (selain bank sentral) juga ikut mencetak uang, mencetak fiat money dan menggandakannya.

Hal lain yang memperparah perekonomian adalah interset (bunga). Bunga merupakan biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya. Lalu bagaimana semua ini bekerja?

Masih ingat persamaan kuantitas uang

MV = PY

M : Money supply (suplai uang)
V : Velocity of money (perputaran uang)
P : Price (tingkat harga) -> diukur dengan inflasi
Y . output riil barang dan jasa

Persamaan tersebut dibaca sebagai berikut : jumlah uang adalah sama dengan perkalian harga dengan kuantitas barang yang ditransaksikan.
Kalau bank mencetak uang, maka M mengalami kenaikan, artinya ada penambahan jumlah uang. Bila penambahan uang ini tidak diimbangi dengan peningkatan produk barang dan jasa (Y) maka harga-harga (P) mengalami kenaikan, dengan asumsi kecepatan peredaran uang (V) tetap. Apa yang terjadi? Inflasi..

Inflasi ini diperparah dengan aturan FRR dan adanya bunga yang diterapkan oleh bank yang mendanai sektor riil. Semua ini disebabkan oleh apa? Fiat money!

Padahal di atas tadi kita tahu, fiat money itu tanpa diback up oleh cadangan logam mulia dan hanya berdasarkan pada kepercayaan pada pemerintahan saja. Inilah yang menyebabkan krisis moneter di Indonesia tahun 1998.

Ketika itu sejumlah spekulan (ya kita tahulah siapa yang menonjol, ya George Soros itu) mempermainkan mata uang kita dengan menarik simpanannya di sejumlah bank di Indonesia. Padahal kita tahu dari uraian FRR di atas bahwa kalau ada yang menyimpan uang di bank, bank bisa meminjamkan lebih dari yang dicadangkan itu. Jadi begitu simpanannya ditarik yang terjadi adalah gagal bayar dan membuat kepercayaan terhadap pemerintah berkurang dan mengakibatkan nilai uang kita terdepresiasi.

Itulah sebabnya BI selaku bank sentral menerapkan kebijakan pengendalian inflasi. Karena berdasarkan persamaan di atas, bila P sudah ditetapkan, maka BI bisa mengendalikan M untuk pencetakan uang (BI bisa menetapkan berapa persen FRR yang 'pantas').

Fiat money, Fractional Reserve Requirement (FRR) dan Interest adalah tiga pilar satanic finance yang membuat umat semakin miskin. And it's all about the money...

Monday, October 15, 2012

Happynomics

Minggu lalu, saya lagi jalan-jalan ke toko buku sama teman-teman dan menemukan buku yang cukup menarik. Judulnya 50 gagasan ekonomi yang perlu anda ketahui, yang ditulis oleh Edmund Conway. Buku ini enak dibacanya bahkan bila kita sama sekali tidak pernah belajar tentang ekonomi. Akhirnya saya beli buku itu dan mulai membacanya weekend ini. Oh ya, Edmund Conway itu editor ekonomi pada beberapa harian ternama di Amerika dan good looking guy pastinya (kenapa ahli ekonomi itu jarang yang jelek ya..)

Ok, waktu membaca buku itu tulisannya enak dibaca, gampang dimengerti (walaupun terjemahan) dan mengingatkan saya pada saat jatuh bangun belajar ekonomi dulu (background saya statistik, jadi pernah ada masa-masa kesulitan memahami ekonomi). Mungkin itu karena dia biasa jadi editor, jadi bisa menjelaskan hal yang sulit jadi mudah dimengerti.

Terus, sampailah saya pada chapter 49. Ok, sebenarnya saya baca secara random, karena judul di chapter 49 itu menarik sekali. Judulnya Happynomics. Dia mengkategorikan bab ini ke dalam ekonomi alternatif. Happynomics merupakan gagasan yang menyatakan bahwa ekonomi tidak selalu mengenai uang.

Happynomics diawali cerita tentang kondisi ekonomi di Bhutan tahun 1970-an. Ceritanya, di negara tersebut hampir seluruh ukuran ekonomi seperti PDB, pendapatan nasional, kesempatan kerja dan lain sebagainya tumbuh dengan sangat lamban. Jadi raja Bhutan akhirnya mengambil keputusan bahwa untuk mengukur kemajuan Bhutan tidak lagi diukur dengan indikator ekonomi tradisional melainkan oleh gross national happiness (kebahagaiaan nasional bruto).

Sang raja telah muncul dnegan gagasan yang akan tumbuh menjadi studi yang penting dan semakin dihormati, yaitu happiness economics. Ini merupakan subjek yang terhubung dengan diri kita. Sebagai bangsa dan sebagai individu, hampir semua orang menjadi lebih kaya dan lebh sehat daripada sebelumnya. Namun kekayaan tersebut berjalan beriringan dengan perasaan tidak puas. Mereka yang berada di negara kaya telah menjadi semakin tidak bahagia selama 50 tahun terakhir.

Pencarian kebahagiaan telah membuahkan hasil yang pasti di Bhutan. Sejak mengukur indeks kebahagiaan nasional bruto, negara tersebut telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa bahkan dalam istilah ekonomi konvensional. Pada tahun 2007, negara itu merupakan ekonomi dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, sembari terus mempertahankan peningkatan kebahagiaan nasional brutonya. Sebagai upaya untuk mempertahankan kebahagiaan orang, terdapat keputusan bahwa 60 persen wilayah negara tersebut harus tetap tertutup oleh hutan, sementara turisme, yang ternyata mengurangi kebahagiaan, diturunkan setiap tahunnya. Uang didistribusikan kembali dari orang kaya ke orang miskin guna membantu menghilangkan kemiskinan massal.

Upaya untuk membuat Bhutan lebih bahagia tampaknya membuahkan hasil yang memuaskan. Berdasarkan sebuah survei tahun 2005, hanya tiga persen penduduk yang dilaporkan tidak merasa bahagia, sementara hampir setengah dari populasi berkata bahwa mereka sangat bahagia. Namun survei semacam itu sering kali tidak jelas, tidak meyakinkan, dan sulit untuk dibandingkan secara empiris. Kebahagiaan jauh lebih sulit untuk diukur daripada misalnya tingkat kekayaan atau harapan hidup, dan itulah yang menyebabkan kebahagiaan diabaikan dalam ekonomi.

Pada dekade belakangan ini, para ekonomi dan psikolog telah, untuk pertama kalinya, mulai mengukur, secara jujur, kebahagiaan orang dalam penelitian panjang. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah walaupun kebahagiaan seseorang meningkat ketika ia berubah dari miskin menjadi kaya, tingkat kepuasannya mulai menurun ketika seseorang semakin jauh dari garis kemiskinan. Menurut Richard Layard, seorang ekonom Inggris yang berspesialisasi dalam ekonomi kebahagiaan, ketika gaji rata-rata sebuah negara berada di atas $20.000, kenaikan penghasilan berhenti membuat orang merasa lebih bahagia dan secara bertahap menjadikan mereka lebih tidak puas. Dalam konteks ekonomi, terdapat diminishing return untuk kebahagiaan setelah melalui titik tersebut.

Anyway, bagaimanapun juga saya masih berpegang teguh pada prinsip saya, bahwa bahagia itu optional. Adalah kita yang memilih untuk bahagia atau tidak..

Wednesday, August 1, 2012

How happy are you..

Terkait dengan kegiatan di kantor yang judulnya bikin tersenyum pertama kali mengetahui tentang hal ini yaitu studi mendalam mengenai kebahagiaan. Tssaaaah.. sempurna..

Jadi kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa bahagai responden yang diwawancarai. Absurd memang, tapi ini bukan yang pertama kali studi mengenai kebahagiaan dilakukan. Sebelumnya, sekitar dua minggu lalu, saya pernah mendengar hal ini di radio via streaming. Kalau saya sampai di kantor terlalu pagi, saya suka streaming radio. Macam-macam radio yang saya dengar, mulai dari radio yang mengkhususkan untuk anak muda, segmen profesi tertentu sampai radio tanpa iklan. Nah, pagi itu saya dengerin radio smart fm. Disitu ada arvan pradiansyah yang lagi membahas happiest country in the world. Untuk sampai pada kesimpulan negara mana yang merupakan negara paling bahagia di dunia, dilakukan survei. Sebenarnya ini sangat menarik, karena surveinya sendiri dilakukan oleh beberapa lembaga terhadap 150 negara, yang berlangsung dari tahun 2005 sampai 2011. Pada setiap Negara diambil sample terhadap seribu orang yang berusia 15 tahun ke atas. Dalam survey ini Amerika Serikat ada diperingkat ke-11, sedangkan Indonesia diperingkat ke-82.

Ini kejadiannya sebelum ada survei seperti itu di kantor lho.. Pertanyaan besarnya adalah mengapa kebahagiaan itu harus diukur? Menurut saya kebahagiaan itu pilihan. Kita yang memilih untuk berbahagia atau tidak dalam kondisi apapun. Yah itu kan pendapat saya aja.. Ga usah terlalu dipikirin.. So, how happy are you?

Gender.. Gender.. dan Gender

Kira-kira dua minggu yang lalu, saya ikutan TOT tentang perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. Karena kata kunci gender inilah makanya saya langsung triiing... ingin sekali menulis tentang gender. Salah satu teman saya pernah menulis tentang gender ini kaitannya dengan pencapaian MDG's di Indonesia.

Sebenarnya, kalau pertama kali mendengar kata gender, kita langsung mengasosiasikan dengan perempuan. Gender itu menurut kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak RI adalah perbedaan-perbedaan sifat, peranan, fungsi dan status antara laki-laki dan perempuan yang bukan bersasarkan pada perbedaan biologis, tetapi berdasarkan relasi sosial budaya yang dipengaruhi oleh struktur masyarakat yang lebih luas. Di TOT ini merupakan rangkaian dari program pengarustamaan gender (bahasa inggrisnya sih gender mainstream). Kenapa perencanaan dan penganggaran harus responsif gender? Pertama supaya efisien dengan tepat sasaran, mana yang untuk perempuan dan mana yang laki-laki. Kedua, supaya adil, jadi baik laki-laki maupun perempuan bisa sama-sama menikmati hasil pembangunan. Misalnya nih, dalam suatu pelatihan, seorang event organizer harus tau berapa peserta laki-laki dan perempuan untuk alokasi penginapan. Jangan sampai tercampur-campur... hehehe. Disinilah berperan data. Data terpilah menurut jenis kelamin sangat sakti digunakan dalam membuat suatu perencanaan dan penganggaran. Sempat berpikir nakal juga gimana kalau data terpilahnya itu berupa PDRB yang dihasilkan oleh laki-laki dan perempuan atau andil inflasi yang disebabkan oleh komoditas yang banyak digunakan laki-laki dan perempuan.. hehehe lucu kali ya.. Kalau TPAK laki-laki dan perempuan kan sudah biasa, nah ini PDRB laki-laki dan perempuan.. Owww..

Soal gender, jadi keinget artikel dari untukku.com yang pernah memposting tentang profesi perempuan yang tidak disukai pria. Di artikel tersebut disampaikan profesi apa saja yang tidak disukai pria dengan berbagai alasan. Salah satunya yang bikin jleb adalah PNS.. Artikel ini jadul banget sebenarnya (2008), tapi aku masih suka baca aja. Kalau mau liat baca di blog multiply.
Yah, hasil dari TOT itu intinya mah laki-laki dan perempuan itu memang berbeda dan memerlukan perhatian lebih dalam melakukan perencanaan dan penganggaran supaya diperoleh keadilan dan kenyamanan dalam hidup. Lumayan lah untuk menambah wawasan dan membuka pikiran.

Tuesday, July 10, 2012

Memahami Faktor Pencetus Inflasi Indonesia

KOMPAS.com - Di setiap awal bulan, berbagai data fundamental ekonomi domestik mulai dirilis oleh pemerintah. Baik itu data inflasi, ekspor, impor serta neraca perdagangan Indonesia. Salah satu data penting yang kerap menjadi perhatian adalah data inflasi.

Inflasi menurut ilmu ekonomi sederhananya adalah peristiwa di mana terjadi peningkatan harga barang-barang secara umum & terus menerus dalam suatu periode /kontinyu berkaitan dengn mekanisme pasar. Hal ini terkait dengan hukum permintaan dan persediaan dari suatu barang atau jasa tertentu. Sedangkan jika yang terjadi sebaliknya, maka kondisi itu disebut deflasi.

Untuk konteks Indonesia, inflasi lebih sering terjadi. Berbeda misalnya dengan Jepang yang lebih cenderung terus menerus mengalami deflasi dalam jangka panjang. Mengapa di Indonesia lebih sering terjadi inflasi?

Pada dasarnya secara umum inflasi disebabkan oleh dua faktor yaitu karena yang dikenal dengan istilah demand pull inflation & cost push inflation. Demand pull inflation atau inflasi karena naiknya permintaan, lebih banyak terjadi pada saat-saat tertentu.

Datangnya tahun ajaran baru misalnya, akan menaikkan permintaan pemenuhan kebutuhan biaya dan perlengkapan sekolah. Peristiwa lainnya adalah menjelang datangnya bulan Ramadhan atau bulan puasa sampai dengan Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan masyarakat cenderung meningkat sehingga secara otomatis akan menggerek kenaikan permintaan. Mulai dari makanan, pakaian bahkan juga kendaraan akan bergerak naik. Implikasinya, pada momen tersebut biasanya inflasi di di dalam negeri akan meningkat.

Selanjutnya adalah memasuki bulan Desember, saat Natal dan Tahun Baru. Kebutuhan biasanya ikut meningkat seiring perayaan Natal dan liburan tahun baru yang mendorong peak season tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk menggambarkan penyebab terjadinya cost push inflation atau inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya, contoh yang paling populer adalah kenaikan harga bahan bakar minyak. Jika harga BBM naik berarti ongkos produksi meningkat. Maka produsen yang tidak ingin kehilangan profit akan membebankan kenaikan biaya tersebut pada harga jualnya. Akibatnya, harga barang-barang secara bersama-sama akan naik sehingga terjadi inflasi.

Lebih spesifik untuk Indonesia, komponen inflasi di dalam negeri terdiri dari volatile foods (komponen harga bergejolak), administered price (komponen harga yang diatur pemerintah), core inflation (komponen inti) dan imported inflation (inflasi karena naiknya harga barang impor).

Apa sajakah yang memengaruhinya?
Yang tergolong dalam volatile foods adalah harga-harga barang yang tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK). Saat ini, indeks ini meliputi 7 (tujuh) kategori yang terdiri dari (1) Bahan makanan (2) Makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau ; (3) Perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; (4) Sandang; (5) Kesehatan; (6) Pendidikan, rekreasi dan olah raga serta terakhir (7) Transport dan komunikasi dan jasa keuangan.

Berarti jika ada kenaikan harga dari ketujuh kategori di atas, maka komponen volatile foods akan bergerak naik dan mendorong laju inflasi domestik. Khusus kenaikan harga bahan makanan, dikenal juga dengan istilah Agflasi atau agriculture inflation yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga produk pertanian.

Adapun untuk sisi administered price terdapat beberapa contoh yang terjadi di Indonesia. Misalnya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Oleh karena itu, biasanya jika pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi, maka akan berpotensi menggerek inflasi di dalam negeri. Namun selama ini, kenaikan inflasi akibat BBM biasanya cenderung berangsur turun karena masyarakat sudah mulai menyesuaikan kebutuhannya dan beradaptasi dengan kenaikan BBM itu sendiri. Maka inflasi di bulan-bulan berikutnya cenderung akan lebih rendah dibanding pada bulan pertama dan kedua penerapan harga BBM yang baru. Selain itu juga, kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik, kenaikan tarif tol dan lainnya akan mendorong terjadinya inflasi.

Selanjutnya, core inflation merupakan underlying inflation yang cenderung menetap dalam setiap pergerakan laju inflasi. Dibandingkan dengan komponen inflasi lainnya, inflasi ini cenderung dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh bank sentral atau BI karena umumnya bersifat demand pull inflation. Maksudnya jika inflasi inti cenderung naik, maka kenaikan suku bunga acuan dapat menurunkan daya beli sehingga secara keseluruhan inflasi akan mereda.

Terakhir adalah imported inflation. Semakin banyaknya kebutuhan masyarakat yang dipenuhi dari barang impor cenderung membuat komponen imported inflation kian berpengaruh dalam laju inflasi. Cara cepat untuk menangani inflasi jenis ini adalah dengan kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah. Jika rupiah menguat, maka imported inflation bisa ditekan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 2011 lalu. Namun sebaliknya, jika rupiah cenderung terdepresiasi maka inflasi barang impor berpotensi meningkat.

Satu hal lagi yang menjadi faktor pencetus tingginya inflasi domestik adalah kondisi geologis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dibandingkan negara lain di kawasan Asia misalnya, inflasi Indonesia cenderung tinggi. Diperlukan tambahan ongkos transportasi antar pulau yang biasanya akan menaikkan harga jual barang-barang. Akan tetapi, sebenarnya kondisi perekonomian dengan inflasi jauh lebih baik dibanding jika mengalami deflasi.

Mengapa demikian? Karena inflasi terutama yang disebabkan oleh demand pull inflation menunjukkan tingginya permintaan yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karenanya, di setiap negara umumnya memiliki target inflasi yang dianggap nyaman.

Saat ini, BI mentargetkan inflasi Indonesia 2012 di kisaran 4,5 persen plus minus satu . Artinya jika inflasi bergerak di level 3,5 – 5,5 persen kondisi tersebut masih terhitung nyaman untuk perekonomian Indonesia. Jadi tidak perlu takut dengan inflasi selama masih dalam koridor aman seperti yang terjadi sekarang ini di mana inflasi Indonesia Mei 2012 dibandingkan dengan Mei 2011 sebesar 4,45 persen. (Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Divisi Tresuri Bank BNI)

Wednesday, July 4, 2012

Kemiskinan

Hari ini, saya mau membahas tentang kemiskinan. Suatu topik yang sebenarnya kurang menarik untuk dibahas tapi dalam realita terjadi dimana-mana. Sebenarnya kemiskinan menempati urutan pertama dalam MDG (Millenium Development Goal), artinya saking perlunya kita memperhatikan masalah kemiskinan hingga tujuan pertama pembangunan milineum ini adalah mengentaskan kemiskinan.

Kemiskinan juga menjadi hal yang sering dijadikan komoditas dalam kancah perpolitikan seperti dalam masa-masa pemilu atau pilkada. Banyak yang mengklaim keberhasilan dalam mengentaskan kemiskinan dengan mengedepankan data kemiskinan. Sehingga data kemiskinan pun sering disalahartikan dan disalahgunakan. Tidak sedikit yang mengklaim data kemiskinan yang dikeluarkan oleh suatu instansi itu tidak benar dan mengatakan data tersebut salah. Padahal logikanya, kalau ada data yang salah berarti ada data yang benar. Sedangkan mereka tidak bisa menunjukkan data yang benar itu seperti apa. Jadi, bagaimana bisa mengklaim itu data yang salah.

Bagaimanapun juga, data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi mereka. BPS pertama kali melakukan penghitungan jumlah dan persentase penduduk miskin itu tahun 1984. Waktu itu, penghitungannya didasarkan pada data modul konsumsi Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional. Modul konsumsi Susenas waktu itu dilakukan setiap tiga tahun sekali. Akibatnya data jumlah penduduk miskinnya keluarnya juga tiga tahun sekali. Jadi, setelah tahun 1984, keluar lagi tahun 1987. Oh ya, data jumlah penduduk miskin yang tahun 1984 dan 1987 itu pun hanya untuk skala nasional karena sampel Susenas waktu itu memang tidak mumpuni untuk mengestimasi hingga tingkat propinsi apalagi kabupaten/kota. Nah, tahun 1990, data kemiskinannya sudah bisa dipisahkan sampai tingkat propinsi tapi masih beberapa propinsi masih digabung. Kenapa? Ya due to sample size tadi itulah. Sebagai informasi, untuk melaksanakan suatu survei itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi kalau surveinya skala nasional. Bayangkan dengan jumlah pegawai BPS yang terbatas itu harus mendata seluruh Indonesia.. Berapa biayanya untuk kuesioner, ekspedisi, operasional dan lain lain.. Padahal data yang didapatkan hanya data kemiskinan.. worth enough? Kalau menggunakan data kemiskinan, juga harus hati-hati. Dilihat dulu bagaimana konsep data tersebut dibangun. Kalau data kemiskinan yang dirilis BPS, itu menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemisikinan dipandang sebagai ketidakmpuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Sumber datanya ya dari Survei Sosial Ekonomi (Susenas) tadi. Sebagai informasi tambahan, sample untuk menghitung kemiskinan di tingkat kabupaten/kota tahun 2010 (bulan Juli) adalah 293.715 rumah tangga. Kebayang kan dengan mendata rumah tangga segitu harus mengestimasi rumah tangga miskin se-Indonesia.

Di dunia ini, indikator kemiskinan yang sering digunakan antara lain :
1. Head Count Index, yaitu persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. 2. Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index - P1) yang merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
3. Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index - P2) yang memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
4. Foster-Greer_Thorbecke,yang juga menggunakan garis kemiskinan dalam penghitungannya.

Intinya, dalam menyikapi masalah kemiskinan memang harus lebih terbuka dan mau memahami data yang ada. Tidak ada data yang sempurna, tapi bayangkan kalau sama sekali tidak ada datanya..

Friday, January 20, 2012

Something that money can't buy..

Actually these are quotations from Warren Buffet.. enjoy!

With Money you can buy a house, but not a home...
You can buy a clock, but not time..
You can buy a bed, but not sleep..

With Money you can buy a book, but not knowlege..
You can get a position, but not respect...

With Money you can buy blood, but not life..
So find your Happiness inside you :)