Pages

Thursday, July 31, 2014

Rasa bersalah yang tak kunjung hilang

Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.

Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe

Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."

Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..

Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.

Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..

Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.

Monday, July 21, 2014

Ramadhan yang luar biasa

Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa.. sangat berbeda dengan Bulan Ramadhan yang sudah-sudah. Di bulan ini, saya dihadapkan pada banyak sekali pengumuman. Pasalnya, ada dua anak saya yang akan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Caca tahun ini lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, Ali lulus SMP dan akan masuk ke SMA. Anak ketiga sih naik ke kelas 2 SMP. Untuk pengumuman masuk SMA saya harus memantau PPDB online dan membuat berbagai skenario supaya anak kedua saya bisa masuk di SMA favorit. Di Kota Bekasi, jenis SMA yang menggunakan sistem PPDB online ini ada 3, pertama adalah sekolah model (SMA 1 dan SMA 5), kedua sekolah standar nasional (SMA 2 dan SMA 4), ketiga sekolah reguler (sisanya). Untuk mendaftar sekolah model, calon siswa harus melakukan verifikasi nilai rapot. Anak saya memilih di SMA 1 dan lulus verifikasi, tapi pada saat seleksi PPDB onlinenya tidak diterima. Hal itu membuat saya ketar-ketir kalau dia tidak diterima di sekolah standar nasional. Alhamdulillah akhirnya dia lolos di seleksi untuk SMA 2. Saya mendaftarkannya hanya 9 menit sebelum closing PPDB Online. Stressful..

Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..

Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..

Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.

Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..

Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?

Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..

Thursday, July 3, 2014

Telepon itu..

Kemarin sore, saya sedang berjuang melawan kemacetan tol Cikampek yang diakibatkan volume kendaraan berjenis truk dan kontainer dalam jumlah besar. Ya, tol Cikampek sore itu memang macet luar biasa karena perusahaan ekpedisi sedang kejar setoran supaya supply barang sampai di tempat tujuan sebelum 5 hari menjelang hari raya. Biasanya H-5 itu tol cikampek sudah steril dari truk dan container karena arus mudik pasti sangat besar.

Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.

Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..

Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he