Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
No comments:
Post a Comment