Well, it is only a simple thought that suddenly came up my mind this evening.,
I’m about in the middle of a big work for the next couple week. Arranging an event in order to accomplish my task to succeed my office program. A lot of work to be done and more works is coming up, although the goals has been set up and arrangement has been made, but still there is a disguise deep inside.
As I predicted, the event is not run very well.. At least, according to my opinion (who am I anyway trying to judge this!). It is not only financial matter, it includes the arrangement itself. It is far away from my expectations. There’s a different point of view among us, but that’s okay..
The problem is I feel like has been trapped. I can’t imagine what will happened if I signed those silly contracts!
The contract said that they will be paid at least five days after the treasury dept send the money to our account. Am I going to be the first person to contact by them if the time has come? Them here refers to about five thousand people! OH MY GOD!!!
And I don’t even think it’s worth enough with the payment. Do you think it’s worth enough?
Thursday, April 1, 2010
Semut dan Lalat
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tong sampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah.
Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu.
Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk,
namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu,
dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca.
Demikian terus menerus dan berulang-ulang.
Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan.
Esok paginya,
nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati.
Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,
"Ada apa dengan lalat ini, Pak?
Mengapa dia sekarat?"
"Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini.
Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya
jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.
" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi,
"Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras ?
Kenapa tidak berhasil ? "
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,
"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali,
hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama."
Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius,
" Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama
tapi mengharapkan hasil yang berbeda,
maka nasib kamu akan seperti lalat ini. "
" Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda,
mereka hanya melakukannya dengan CARA yang berbeda. "
Note :
CARA yg berbeda itu adalah : USAHA yg terus menerus terhubung dgn Alloh Ta'ala.
Bukan setelah berusaha lalu santai2 menyerahkan cucian piring kotor ke Alloh Ta'ala.
Kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu.
Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.
Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk,
namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu,
dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca.
Demikian terus menerus dan berulang-ulang.
Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan.
Esok paginya,
nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati.
Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua,
"Ada apa dengan lalat ini, Pak?
Mengapa dia sekarat?"
"Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini.
Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya
jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.
" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi,
"Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras ?
Kenapa tidak berhasil ? "
Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab,
"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali,
hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama."
Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius,
" Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama
tapi mengharapkan hasil yang berbeda,
maka nasib kamu akan seperti lalat ini. "
" Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda,
mereka hanya melakukannya dengan CARA yang berbeda. "
Note :
CARA yg berbeda itu adalah : USAHA yg terus menerus terhubung dgn Alloh Ta'ala.
Bukan setelah berusaha lalu santai2 menyerahkan cucian piring kotor ke Alloh Ta'ala.
Wednesday, February 3, 2010
konsisten..
Hi there!
Ternyata menjadi konsisten itu tidak mudah dan memerlukan usaha yang tidak sedikit. Pada prinsipnya saya berusaha konsisten untuk mengisi blog-blog saya secara reguler sesuai dengan segmentasinya.. tapi itulah bila terjadi chaos dalam kehidupan.
Ternyata menjadi konsisten itu tidak mudah dan memerlukan usaha yang tidak sedikit. Pada prinsipnya saya berusaha konsisten untuk mengisi blog-blog saya secara reguler sesuai dengan segmentasinya.. tapi itulah bila terjadi chaos dalam kehidupan.
Friday, December 18, 2009
after blog walking..
Hello everyone..
Lama sekali tidak menulis, bukan karena sibuk, bukan karena ga ada bahan bukan karena menghindar, tapi karena kena penyakit malas. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, review 2009 economic, economy outlook 2010 de el el de el el. Tapi ya itulah, kalau di sudah sit down @ office, langsung terbawa iramanya dan lupa lagi deh idenya..
Hari ini, baru blog walking lagi.. kebiasaan lama yang hampir punah sejak facebook dan twitter mendominasi history internet saya.. Sulit untuk memungkiri kalau irama hidup tidak terpengaruh oleh dua situs itu. Although I realized that those social network sites totally disturb my productive life, I have a high frequency on using it. No denial at all..
Bagaimanapun juga, segala sesuatu itu ada masanya. Mudah-mudahan setelah blog walking malam ini, akan diperoleh equilibrium yang baru.. (hadoooh.. segitunya.. berasa ga seimbangkah?)
Momennya pas.. pas tahun baru hijriah..
Selamat tahun baru hijriah semuanya, semoga tambah semangat untuk menjadi yang terbaik.. Amien..
Lama sekali tidak menulis, bukan karena sibuk, bukan karena ga ada bahan bukan karena menghindar, tapi karena kena penyakit malas. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, review 2009 economic, economy outlook 2010 de el el de el el. Tapi ya itulah, kalau di sudah sit down @ office, langsung terbawa iramanya dan lupa lagi deh idenya..
Hari ini, baru blog walking lagi.. kebiasaan lama yang hampir punah sejak facebook dan twitter mendominasi history internet saya.. Sulit untuk memungkiri kalau irama hidup tidak terpengaruh oleh dua situs itu. Although I realized that those social network sites totally disturb my productive life, I have a high frequency on using it. No denial at all..
Bagaimanapun juga, segala sesuatu itu ada masanya. Mudah-mudahan setelah blog walking malam ini, akan diperoleh equilibrium yang baru.. (hadoooh.. segitunya.. berasa ga seimbangkah?)
Momennya pas.. pas tahun baru hijriah..
Selamat tahun baru hijriah semuanya, semoga tambah semangat untuk menjadi yang terbaik.. Amien..
Saturday, September 12, 2009
Working atmosphere..
Bekerja di sebuah instansi vertikal pada level terendah (baca: tingkat II atau kabupaten/kota) sungguh merupakan suatu berkah, penuh dinamika dan tidak monoton. Selalu saja ada hal baru yang bisa dipelajari dan diambil hikmahnya. Padahal sebelumnya, saya mengawali karir saya di tingkat pusat yang serba terlayani.
Namun karena saya hanyalah seorang perempuan biasa yang juga harus mengurus keluarga (karena saya hanya mampu membeli rumah di sister city, dengan berat hati saya minta dimutasi ke level terendah tersebut. Awalnya memang berat dan terasa aneh. Tapi, seiring berjalannya waktu dan perubahan yang terus menerus terjadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengabdi di level terendah ini.
Bagi mereka (rekan kerja sesama instansi) yang tidak pernah “menyentuh” tingkat II pasti memiliki pola pikir berbeda dengan kami yang di tingkat II. Memang ujung tombak dari seluruh kegiatan instansi tempat saya bekerja ada di tingkat II, namun semua perencanaan tetap ada di pusat. Akibatnya sering terjadi management gap untuk kegiatan-kegiatan besar. Menurut saya itu wajar saja, tapi kalau tidak diperbaiki menjadi tidak wajar.
Contohnya, untuk hal yang paling kecil dan mungkin dianggap sepele (semoga tidak), pengadaan instrument kerja. Entah apa yang menjadi indikator untuk penganggaran pengadaan instrument kerja seperti kuesioner atau form2 penting lainnya. Karena selalu saja tidak tepat, entah itu excess supply atau excess demand..
Dan, Alhamdulillah hingga kini diskrepansinya tidak juga mengecil. Artinya masih ada pekerjaan buat perencana di pusat untuk memikirkan hal ini (daripada tidak ada kerjaan ya ...) Tapi sudahlah, yang seperti itu memang tidak perlu dibesar-besarkan, karena tidak dibesarkan juga sudah besar sendiri.. he he he
Dinamika bekerja di level terendah ini tidak hanya itu. Menghadapi orang banyak dari berbagi kalangan dan karakteristik penduduk yang berbeda-beda merupakan anugerah tersendiri yang menurut saya priceless.. tidak bisa ternilai harganya. Tahukah mereka yang di pusat bagaimana sakitnya ditolak responden dari kalangan pengusaha, tidak bisa masuk ke kantor mereka yang mentereng dan hanya bisa sampai pada satpam saja? Atau perihnya dimarahi para elite residence di perumahan elit yang menolak kita mentah-mentah kala dimintai keterangannya.. Atau turut merasakan sulitnya responden dari kalangan yang mengenaskan dan kita hanya bisa bersyukur tidak seperti mereka yang memang benar-benar kekurangan. Belum lagi kalau kita harus menghadapi arogansi penguasa setempat yang merasa memiliki segalanya untuk menjalankan pemerintahan di daerah tingkat II.
Bila hasilnya tidak tepat waktu atau kualitasnya buruk, teman-teman di pusat akan menjudge kami kerjanya tidak optimal dan tidak serius. Yang paling parah kami dianggap tidak sesuai standard operation procedure (SOP), yang kadang-kadang SOP-nya sendiri bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.
Padahal, tanpa bermaksud membela diri, untuk mendapatkan data yang berkualitas tidak hanya dengan menekan ujung tombak, tapi perencanaan yang matang dan optimal, dukungan dana dan komunikasi yang baik juga diperlukan. Menurut saya, komunikasi dua arah sudah merupakan hal yang wajib hukumnya supaya semua masalah dan kemungkinan yang terjadi di lapangan bisa di atasi. Dan tolong.. berbaik sangka-lah
Dinamika lainnya adalah hubungan dengan instansi lain pada level tingkat II. Walaupun kami ini instansi vertikal, tetapi sering kali dianggap sebagai bawahan oleh penguasa setempat, sehingga terkadang mereka bersikap semaunya dan tidak menganggap kami sebagai sesama abdi negara.
Maju mundurnya suatu bangsa sangat tergantung kepada reliabilitas dan validitas sistem data yang ada di negara tersebut. Semakin terorganisir dengan baik sistem organisasi data tersebut maka akan semakin maju negara tersebut. Strategi pembangunan apapun tergantung kepada sistem data yang diterapkan.
Harus diakui, kami memang banyak kekurangan, tapi kami selalu berusaha untuk memperkecil kekurangan kami itu. Dengan banyak cara tentunya, kami banyak belajar, banyak mengolah informasi penting yang mungkin bisa kami jadikan petunjuk dan berusaha menjalin komunikasi dengan pihak lain.
Sebenarnya hal tersebut tidak sulit dilakukan dan sangat mungkin untuk dikerjakan, namun sayangnya hingga saat ini masih belum optimal untuk dilaksanakan. Tapi yakinlah suatu saat nanti pasti terealisasi. (Optimis itu bukan penyakit kan.. )
Alhamdulillah, bekerja di tingkat II sungguh merupakan suatu anugerah.
Namun karena saya hanyalah seorang perempuan biasa yang juga harus mengurus keluarga (karena saya hanya mampu membeli rumah di sister city, dengan berat hati saya minta dimutasi ke level terendah tersebut. Awalnya memang berat dan terasa aneh. Tapi, seiring berjalannya waktu dan perubahan yang terus menerus terjadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengabdi di level terendah ini.
Bagi mereka (rekan kerja sesama instansi) yang tidak pernah “menyentuh” tingkat II pasti memiliki pola pikir berbeda dengan kami yang di tingkat II. Memang ujung tombak dari seluruh kegiatan instansi tempat saya bekerja ada di tingkat II, namun semua perencanaan tetap ada di pusat. Akibatnya sering terjadi management gap untuk kegiatan-kegiatan besar. Menurut saya itu wajar saja, tapi kalau tidak diperbaiki menjadi tidak wajar.
Contohnya, untuk hal yang paling kecil dan mungkin dianggap sepele (semoga tidak), pengadaan instrument kerja. Entah apa yang menjadi indikator untuk penganggaran pengadaan instrument kerja seperti kuesioner atau form2 penting lainnya. Karena selalu saja tidak tepat, entah itu excess supply atau excess demand..
Dan, Alhamdulillah hingga kini diskrepansinya tidak juga mengecil. Artinya masih ada pekerjaan buat perencana di pusat untuk memikirkan hal ini (daripada tidak ada kerjaan ya ...) Tapi sudahlah, yang seperti itu memang tidak perlu dibesar-besarkan, karena tidak dibesarkan juga sudah besar sendiri.. he he he
Dinamika bekerja di level terendah ini tidak hanya itu. Menghadapi orang banyak dari berbagi kalangan dan karakteristik penduduk yang berbeda-beda merupakan anugerah tersendiri yang menurut saya priceless.. tidak bisa ternilai harganya. Tahukah mereka yang di pusat bagaimana sakitnya ditolak responden dari kalangan pengusaha, tidak bisa masuk ke kantor mereka yang mentereng dan hanya bisa sampai pada satpam saja? Atau perihnya dimarahi para elite residence di perumahan elit yang menolak kita mentah-mentah kala dimintai keterangannya.. Atau turut merasakan sulitnya responden dari kalangan yang mengenaskan dan kita hanya bisa bersyukur tidak seperti mereka yang memang benar-benar kekurangan. Belum lagi kalau kita harus menghadapi arogansi penguasa setempat yang merasa memiliki segalanya untuk menjalankan pemerintahan di daerah tingkat II.
Bila hasilnya tidak tepat waktu atau kualitasnya buruk, teman-teman di pusat akan menjudge kami kerjanya tidak optimal dan tidak serius. Yang paling parah kami dianggap tidak sesuai standard operation procedure (SOP), yang kadang-kadang SOP-nya sendiri bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.
Padahal, tanpa bermaksud membela diri, untuk mendapatkan data yang berkualitas tidak hanya dengan menekan ujung tombak, tapi perencanaan yang matang dan optimal, dukungan dana dan komunikasi yang baik juga diperlukan. Menurut saya, komunikasi dua arah sudah merupakan hal yang wajib hukumnya supaya semua masalah dan kemungkinan yang terjadi di lapangan bisa di atasi. Dan tolong.. berbaik sangka-lah
Dinamika lainnya adalah hubungan dengan instansi lain pada level tingkat II. Walaupun kami ini instansi vertikal, tetapi sering kali dianggap sebagai bawahan oleh penguasa setempat, sehingga terkadang mereka bersikap semaunya dan tidak menganggap kami sebagai sesama abdi negara.
Maju mundurnya suatu bangsa sangat tergantung kepada reliabilitas dan validitas sistem data yang ada di negara tersebut. Semakin terorganisir dengan baik sistem organisasi data tersebut maka akan semakin maju negara tersebut. Strategi pembangunan apapun tergantung kepada sistem data yang diterapkan.
Harus diakui, kami memang banyak kekurangan, tapi kami selalu berusaha untuk memperkecil kekurangan kami itu. Dengan banyak cara tentunya, kami banyak belajar, banyak mengolah informasi penting yang mungkin bisa kami jadikan petunjuk dan berusaha menjalin komunikasi dengan pihak lain.
Sebenarnya hal tersebut tidak sulit dilakukan dan sangat mungkin untuk dikerjakan, namun sayangnya hingga saat ini masih belum optimal untuk dilaksanakan. Tapi yakinlah suatu saat nanti pasti terealisasi. (Optimis itu bukan penyakit kan.. )
Alhamdulillah, bekerja di tingkat II sungguh merupakan suatu anugerah.
Wednesday, September 9, 2009
Lagi-lagi LPE..
Kemarin pagi, saya terlibat diskusi dengan salah seorang kolega saya. Topik utama diskusi tersebut adalah mengenai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan keterkaitannya dengan kondisi sosial ekonomi di wilayah tempat kami bekerja.
Menurutnya, item ekspor netto dalam PDRB penggunaan terasa aneh, karena dia merasa yang namanya ekspor itu harus ke luar negeri, sedangkan kalau di PDRB penggunaan, arus barang antar kabupaten/kota sudah bisa dibilang ekspor. Ketika saya tanya, by definition ekspor itu artinya apa? Jawabnya ada barang keluar dari suatu wilayah. Nah, sesuai kan dengan pengertian dalam PDRB Penggunaan.
Masih belum puas juga..
Saya minta dia mengingat kembali pelajaran ekonomi makronya tentang siklus bisnis (kebetulan dia SE), lalu saya gambarkan skema yang setiap mahasiswa ekonomi pasti pernah melihatnya.. Hal yang kayak gini kan ada di buku teks ekonomi makro karangan siapa pun.
Baru dia ngeh..
Dia bertanya lagi, kenapa kadang-kadang PDRB yang saya buat tidak konsisten dengan kondisi sosial ekonomi di sini? Lho siapa bilang? Kalau Laju pertumbuhan ekonomi naik terus dan angka pengangguran juga tidak turun, mungkin memang begitu adanya. Justifikasinya, Bekasi itu masih ditunjang oleh share atau kontribusi yang besar dari sektor industri. Nah, output dari sektor industri itu besar sekali, padahal tenaga kerja yang terserap disana bukanlah yang terbesar. Artinya karakteristik industri yang ada di Bekasi bukan merupakan industi yang padat karya, melainkan padat modal.
Share kedua terbesar berasal dari perdagangan. Kita tahu, berapa sih tenaga kerja yang bisa diserap oleh sektor ini. Share ketiga terbesar berasal dari jasa. Apalagi sektor yang satu ini, semakin minimalis tenaga kerjanya semakin efisien dengan output yang besar.
Saya masih ingat di buku laporan tahunannya Bank Indonesia, di salah satu box nya ada tulisan mengenai pertumbuhan yang tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan disertai dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.
Menurut saya, sebelum membicarakan masalah pertumbuhan, pengangguran, kemiskinan dan indikator-indikator lainnya, sebaiknya kita harus memahami dahulu definisi-definisinya dengan jelas dan harus konsisten dengan sumbernya. Karena tidak mungkin saya menggunakan angka kemiskinan yang dipublikasikan oleh BPS tetapi menggunakan definisi yang dikeluarkan oleh instansi lain. Datanya jelas akan terlihat aneh.
Jadi, dengan sok taunya, saya menjelaskan panjang lebar bagaimana pertumbuhan itu dihitung, korelasinya dengan pengangguran, inflasi dan kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi kita dihitung dari PDRB, sedangkan PDRB itu sendiri masih menggunakan konsep nasional yang di'daerah'kan, maka tidak salah kalau ada saja yang berpendapat kalau begitu jumlah PDRB semua kab/kota di Indonesia akan sama dengan PDB yang merupakan angka nasional.
Sebenarnya, tidak harus begitu. Lho kok bisa? Ya jelas saja, source of datanya lihat dulu dong. Kadang-kadang (atau hampir selalu ya) data yang kita peroleh di dinas/instansi di tiap daerah tidak sama dengan data yang berasal dari level daerah di atasnya. Ah, masa? Yah, ini kan Indonesia, kesadaran untuk mengarsipkan data dengan baik masih kurang.. Hal ini berakibat kepada kualitas data yang diproduksi BPS, yang berlanjut pada masukan untuk pemerintah daerah yang bisa saja jadi salah arah..
Tapi kenapa ya yang disalahkan selalu BPS, padahal ini kan kesalahan person in charge di setiap sendi pemerintahan juga.. nasib.. nasib..
Menurutnya, item ekspor netto dalam PDRB penggunaan terasa aneh, karena dia merasa yang namanya ekspor itu harus ke luar negeri, sedangkan kalau di PDRB penggunaan, arus barang antar kabupaten/kota sudah bisa dibilang ekspor. Ketika saya tanya, by definition ekspor itu artinya apa? Jawabnya ada barang keluar dari suatu wilayah. Nah, sesuai kan dengan pengertian dalam PDRB Penggunaan.
Masih belum puas juga..
Saya minta dia mengingat kembali pelajaran ekonomi makronya tentang siklus bisnis (kebetulan dia SE), lalu saya gambarkan skema yang setiap mahasiswa ekonomi pasti pernah melihatnya.. Hal yang kayak gini kan ada di buku teks ekonomi makro karangan siapa pun.
Baru dia ngeh..
Dia bertanya lagi, kenapa kadang-kadang PDRB yang saya buat tidak konsisten dengan kondisi sosial ekonomi di sini? Lho siapa bilang? Kalau Laju pertumbuhan ekonomi naik terus dan angka pengangguran juga tidak turun, mungkin memang begitu adanya. Justifikasinya, Bekasi itu masih ditunjang oleh share atau kontribusi yang besar dari sektor industri. Nah, output dari sektor industri itu besar sekali, padahal tenaga kerja yang terserap disana bukanlah yang terbesar. Artinya karakteristik industri yang ada di Bekasi bukan merupakan industi yang padat karya, melainkan padat modal.
Share kedua terbesar berasal dari perdagangan. Kita tahu, berapa sih tenaga kerja yang bisa diserap oleh sektor ini. Share ketiga terbesar berasal dari jasa. Apalagi sektor yang satu ini, semakin minimalis tenaga kerjanya semakin efisien dengan output yang besar.
Saya masih ingat di buku laporan tahunannya Bank Indonesia, di salah satu box nya ada tulisan mengenai pertumbuhan yang tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan disertai dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.
Menurut saya, sebelum membicarakan masalah pertumbuhan, pengangguran, kemiskinan dan indikator-indikator lainnya, sebaiknya kita harus memahami dahulu definisi-definisinya dengan jelas dan harus konsisten dengan sumbernya. Karena tidak mungkin saya menggunakan angka kemiskinan yang dipublikasikan oleh BPS tetapi menggunakan definisi yang dikeluarkan oleh instansi lain. Datanya jelas akan terlihat aneh.
Jadi, dengan sok taunya, saya menjelaskan panjang lebar bagaimana pertumbuhan itu dihitung, korelasinya dengan pengangguran, inflasi dan kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi kita dihitung dari PDRB, sedangkan PDRB itu sendiri masih menggunakan konsep nasional yang di'daerah'kan, maka tidak salah kalau ada saja yang berpendapat kalau begitu jumlah PDRB semua kab/kota di Indonesia akan sama dengan PDB yang merupakan angka nasional.
Sebenarnya, tidak harus begitu. Lho kok bisa? Ya jelas saja, source of datanya lihat dulu dong. Kadang-kadang (atau hampir selalu ya) data yang kita peroleh di dinas/instansi di tiap daerah tidak sama dengan data yang berasal dari level daerah di atasnya. Ah, masa? Yah, ini kan Indonesia, kesadaran untuk mengarsipkan data dengan baik masih kurang.. Hal ini berakibat kepada kualitas data yang diproduksi BPS, yang berlanjut pada masukan untuk pemerintah daerah yang bisa saja jadi salah arah..
Tapi kenapa ya yang disalahkan selalu BPS, padahal ini kan kesalahan person in charge di setiap sendi pemerintahan juga.. nasib.. nasib..
Sunday, July 26, 2009
Globalisasi 3.0
Ketika anak saya yang duduk di kelas 4 SD sedang belajar IPS untuk persiapan ujian kenaikan kelasnya, tema globalisasi merupakan salah satu bab yang dibahas dalam buku IPS tersebut. Suka tidak suka, mau tidak mau globalisasi terjadi dan harus disikapi. Sehingga ekonom sekaliber Milton Friedman pun sudah menyikapi globalisasi ini jauh-jauh hari sebelum tema tersebut masuk dalam kurikulum pelajaran IPS anak saya itu.
Friedman menuliskan sepuluh kejadian yang telah mendatarkan dunia (istilah the world is flat sebenarnya digulirkan oleh seorang kolumnus New York Times yang mendapat hadiah Pulitzer). Menurutnya kesepuluh kejadian atau keberadaan teknologi berikut ini benar-benar telah membuat dunia menyatu. Kesepuluh kejadian yang disebutnya Globalization 3.0 (globalisasi generasi ketiga) itu adalah :
1. Runtuhnya tembok Berlin (9 November 1989)
2. Dunia terhubung oleh web dan netscape (6 Agustus 1991)
Berners-Lee, pembuat website pertama di duia yang menjelaskan cara kerja dunia maya ini. Majalah Times (14 Juni 1999) menjulukinya sebagai Thomas Edison abad ke-20. Dalam waktu yang relatif singkat, dunia pun terhubung, tak peduli apakah anda pengusaha atau pekerja; pelajar atau pengajar; anak kecil atau kakek-nenek; semua telah dapat terhubung secara bebas, menembus batas ruang dan waktu.
3. Pekerjaan antarmesin terhubung
Pekerjaan-pekerjaan kolaboratif terhubung kala mesin-mesin produksi bisa berbicara dalam bahasa yang saling mengerti. Software mengenai workflow mendorong kolaborasi-kolaborasi lainnya ke dalam pendataran berikut, yaitu uploading, outsourcing, offshoring, supply chaining, insourcing dan informing. Dunia mencatat kolaborasi itu merupakan kesepakatn dair berbagai penguasa dunia seperti pembayaran lewat dunia web yang dikoordinasi oleh PayPal yang diluncurkan tahun 1998, yang dilanjutkan oleh kolahorator-kolaborator lain seperti ebay, microsoft, yahoo, SAP, dan penggagas-penggagas dunia animasi, hiburan, perdagangan, sampai pendidikan dan engineering.
4. Uploading
Semua orang sekarang bisa berkolaborasi apa saja, mulai dari pemilihan kepala daerah, pembelian buku, penulisan cerita, sampai membuat software. Semua orang bisa bekerja memasukkan data sendiri-sendiri ke dalam dunia maya. Kala metode Open Source telah dirangkai oleh para penjelajah dunia maya, muncullah kebiasaan-kebiasaan baru membangun komunitas bersama-sama, mulai dari software Linux, sampai Wikipedia - siapa pun boleh ikut berpartisipasi dan mengembangkan, seolah ini milik bersama.
5. Outsourcing
Inilah peristiwa penting lain yang ditakuti oleh para aktivis dunia perburuhan. Outsourcing dianggap sebagai ancaman karena perusahaan mulai mengurangi karyawan dan tidak lagi menginginkan pos 'payroll'-nya diisi oleh karyawan-karyawan tetap yang digaji secara tetap, ada atau tidak ada produksi. Perusahaan-perusahaan menginginkan biayanya berubah menjadi variabel, bukan biaya tetap. Variabel atau fleksibel berarti sangat luas, yaitu bisa diambil dari mana di seluruh dunia ini (seperti call center perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang ditaruh di India, atau Call center XL Commindo yang ditaruh di Jogyakarta tapi berkantor pusat di Jakarta), dan jumlahnya bisa diubah kapan saja (tidak ada ketentuan). Sekali pun berupa ancaman, ada peluang bagi munculnya pengelola-pengelola jasa outsourcing.
6. Offshoring
Sejak pemimpin China, almarhum Deng Xiaoping mengumumkan bahwa China akan menempuh Jalan Kapitalisme pada tahun 1997, dunia pun mulai mengarahkan matanya ke sana. Sejak saat itu, China pun berubah, apalagi sejak ia bergabung dengan WTO (11 Desember 2001), dan sepakat mematuhi hukum internasional sehingga menjadi lebih menarik di mata investor. Perpindahan pusat produksi secara fisik ke China terjadi secara besar-besaran sehingga mendorong cara kerja baru yang dikenal dengan metode offshoring. Metode ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh China, tetapi juga negara-negara eks Uni Soviet, Malaysia, Thailand, dan sebagian masuk ke Indonesia.
7. Modernisasi Mata Rantai Pemasok (Supply Chaining)
Modernisasi itu tengah terjadi secara besar-besaran. Kala mata rantai logistik sembako di Indonesia carut-marut dan birokrasi tak kuasa mengendalikan perputaran pupuk, minyak goreng, garam, rotan, migas, beras, dan lain-lainnya, perusahaan-perusahaan skala global memukau dunia dengan mata rantai yang efisien, tepat waktu, dan memahami kebutuhan konsumen-konsumennya.
8. Kolaborasi Horizontal Untuk Menciptakan Nilai Tambah (insourcing)
Mata rantai pasokan global yang kompleks dan mahal kini menjadi lebih murah lagi kala industri jasa pengiriman bergeser perannya menjadi pelaku penting dalam bidang logistik. Dalam bidang itu kita saksikan para pelakuk usaha memasuki era baru yang mereka sebut sebagai "total solution", yang artinya mereka bukan cuma sekadar mengirim, melainkan juga memperbaiki dan mengambil peran-peran strategis lainnya. Itulah yang dilakukan pasukan bercelana pendek coklat UPS yang turut memperbaiki produk-produk milik klien-kliennya.
9. Terciptanya Mesin Pencari dan Klarifikasi (informing)
Ketika banyak orang mengeluh sulitnya menjadi manusia yang baik, menjadi orang jahat di abad ini juga semakin tidak mudah. Semua itu terjadi karena dunia sudah semakin akrab dengan mesin pencari yang sangat canggih yang antara lain dipelopori oleh Google. Semua orang bisa dengan begitu cepat mengecek track record calon-calon karyawan atau pimpinan, bahkan sampai mencari anggota keluarga yang tersesat dan menelusuri jejak si penjahat. Kita cukup menulis sebuah kata kunci untuk pencarian itu, dan dalam sekejap klarifikasi pun muncul, kita tinggal memilih mana yang paling mendekati atau tepat.
10. Berkembang Pesatnya Teknologi-teknologi Supercanggih
Friedman menamakan gejala ini sebagai steroid yang ditandai dengan kecepatan masuk keluarnya data (computing), terobosan dalam pengiriman pesan dan file sharing panggilan telepon melalui internet, video conferencing yang lebih canggih, game komputer dan teknologi nirkabel. Semua itu mengakibatkan mesin kini bisa berbicara dengan mesin-mesin lain dalam bahasa yang sama dan begitu cepat, mudah dan murah. Meja kerja juga bisa ikut pergi kemana pun anda berada.
Nah, kesepuluh hal tersebut lah yang dipercaya Friedman telah mendatarkan dunia, sehingga dunia tidak lagi terbagi-bagi menurut suku, agama, warna kulit, geografis dan sebagainya.
Globalisasi ini pula yang melandasi pemikiran banyak ekonom dalam menyikapi terjadinya krisis finansial global. Sehingga mereka beranggapan bahwa bila ekonomi Amerika Serikat sedang buruk, maka seluruh dunia akan ikut perasakan pahitnya. Begitukah?
Sumber : Marketing in Crisis, Rhenald Kasali
Friedman menuliskan sepuluh kejadian yang telah mendatarkan dunia (istilah the world is flat sebenarnya digulirkan oleh seorang kolumnus New York Times yang mendapat hadiah Pulitzer). Menurutnya kesepuluh kejadian atau keberadaan teknologi berikut ini benar-benar telah membuat dunia menyatu. Kesepuluh kejadian yang disebutnya Globalization 3.0 (globalisasi generasi ketiga) itu adalah :
1. Runtuhnya tembok Berlin (9 November 1989)
Runtuhnya tembok pembatas yang memisahkan dua ideologi besar saat itu telah membebaskan belenggu-belenggu manusia untuk menjelajahi setiap titik dunia ke mana pun mereka suka. Bahkan ia juga meruntuhkan sistem perekonomian sentralisme komunisme yang dipakai di Uni Soviet, China, India, dan Asia Tenggara sehingga semua bangsa telah berubah menjadi pasar dan tergolong dalam ekonomi pasar bebas.
2. Dunia terhubung oleh web dan netscape (6 Agustus 1991)
Berners-Lee, pembuat website pertama di duia yang menjelaskan cara kerja dunia maya ini. Majalah Times (14 Juni 1999) menjulukinya sebagai Thomas Edison abad ke-20. Dalam waktu yang relatif singkat, dunia pun terhubung, tak peduli apakah anda pengusaha atau pekerja; pelajar atau pengajar; anak kecil atau kakek-nenek; semua telah dapat terhubung secara bebas, menembus batas ruang dan waktu.
3. Pekerjaan antarmesin terhubung
Pekerjaan-pekerjaan kolaboratif terhubung kala mesin-mesin produksi bisa berbicara dalam bahasa yang saling mengerti. Software mengenai workflow mendorong kolaborasi-kolaborasi lainnya ke dalam pendataran berikut, yaitu uploading, outsourcing, offshoring, supply chaining, insourcing dan informing. Dunia mencatat kolaborasi itu merupakan kesepakatn dair berbagai penguasa dunia seperti pembayaran lewat dunia web yang dikoordinasi oleh PayPal yang diluncurkan tahun 1998, yang dilanjutkan oleh kolahorator-kolaborator lain seperti ebay, microsoft, yahoo, SAP, dan penggagas-penggagas dunia animasi, hiburan, perdagangan, sampai pendidikan dan engineering.
4. Uploading
Semua orang sekarang bisa berkolaborasi apa saja, mulai dari pemilihan kepala daerah, pembelian buku, penulisan cerita, sampai membuat software. Semua orang bisa bekerja memasukkan data sendiri-sendiri ke dalam dunia maya. Kala metode Open Source telah dirangkai oleh para penjelajah dunia maya, muncullah kebiasaan-kebiasaan baru membangun komunitas bersama-sama, mulai dari software Linux, sampai Wikipedia - siapa pun boleh ikut berpartisipasi dan mengembangkan, seolah ini milik bersama.
5. Outsourcing
Inilah peristiwa penting lain yang ditakuti oleh para aktivis dunia perburuhan. Outsourcing dianggap sebagai ancaman karena perusahaan mulai mengurangi karyawan dan tidak lagi menginginkan pos 'payroll'-nya diisi oleh karyawan-karyawan tetap yang digaji secara tetap, ada atau tidak ada produksi. Perusahaan-perusahaan menginginkan biayanya berubah menjadi variabel, bukan biaya tetap. Variabel atau fleksibel berarti sangat luas, yaitu bisa diambil dari mana di seluruh dunia ini (seperti call center perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang ditaruh di India, atau Call center XL Commindo yang ditaruh di Jogyakarta tapi berkantor pusat di Jakarta), dan jumlahnya bisa diubah kapan saja (tidak ada ketentuan). Sekali pun berupa ancaman, ada peluang bagi munculnya pengelola-pengelola jasa outsourcing.
6. Offshoring
Sejak pemimpin China, almarhum Deng Xiaoping mengumumkan bahwa China akan menempuh Jalan Kapitalisme pada tahun 1997, dunia pun mulai mengarahkan matanya ke sana. Sejak saat itu, China pun berubah, apalagi sejak ia bergabung dengan WTO (11 Desember 2001), dan sepakat mematuhi hukum internasional sehingga menjadi lebih menarik di mata investor. Perpindahan pusat produksi secara fisik ke China terjadi secara besar-besaran sehingga mendorong cara kerja baru yang dikenal dengan metode offshoring. Metode ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh China, tetapi juga negara-negara eks Uni Soviet, Malaysia, Thailand, dan sebagian masuk ke Indonesia.
7. Modernisasi Mata Rantai Pemasok (Supply Chaining)
Modernisasi itu tengah terjadi secara besar-besaran. Kala mata rantai logistik sembako di Indonesia carut-marut dan birokrasi tak kuasa mengendalikan perputaran pupuk, minyak goreng, garam, rotan, migas, beras, dan lain-lainnya, perusahaan-perusahaan skala global memukau dunia dengan mata rantai yang efisien, tepat waktu, dan memahami kebutuhan konsumen-konsumennya.
8. Kolaborasi Horizontal Untuk Menciptakan Nilai Tambah (insourcing)
Mata rantai pasokan global yang kompleks dan mahal kini menjadi lebih murah lagi kala industri jasa pengiriman bergeser perannya menjadi pelaku penting dalam bidang logistik. Dalam bidang itu kita saksikan para pelakuk usaha memasuki era baru yang mereka sebut sebagai "total solution", yang artinya mereka bukan cuma sekadar mengirim, melainkan juga memperbaiki dan mengambil peran-peran strategis lainnya. Itulah yang dilakukan pasukan bercelana pendek coklat UPS yang turut memperbaiki produk-produk milik klien-kliennya.
9. Terciptanya Mesin Pencari dan Klarifikasi (informing)
Ketika banyak orang mengeluh sulitnya menjadi manusia yang baik, menjadi orang jahat di abad ini juga semakin tidak mudah. Semua itu terjadi karena dunia sudah semakin akrab dengan mesin pencari yang sangat canggih yang antara lain dipelopori oleh Google. Semua orang bisa dengan begitu cepat mengecek track record calon-calon karyawan atau pimpinan, bahkan sampai mencari anggota keluarga yang tersesat dan menelusuri jejak si penjahat. Kita cukup menulis sebuah kata kunci untuk pencarian itu, dan dalam sekejap klarifikasi pun muncul, kita tinggal memilih mana yang paling mendekati atau tepat.
10. Berkembang Pesatnya Teknologi-teknologi Supercanggih
Friedman menamakan gejala ini sebagai steroid yang ditandai dengan kecepatan masuk keluarnya data (computing), terobosan dalam pengiriman pesan dan file sharing panggilan telepon melalui internet, video conferencing yang lebih canggih, game komputer dan teknologi nirkabel. Semua itu mengakibatkan mesin kini bisa berbicara dengan mesin-mesin lain dalam bahasa yang sama dan begitu cepat, mudah dan murah. Meja kerja juga bisa ikut pergi kemana pun anda berada.
Nah, kesepuluh hal tersebut lah yang dipercaya Friedman telah mendatarkan dunia, sehingga dunia tidak lagi terbagi-bagi menurut suku, agama, warna kulit, geografis dan sebagainya.
Globalisasi ini pula yang melandasi pemikiran banyak ekonom dalam menyikapi terjadinya krisis finansial global. Sehingga mereka beranggapan bahwa bila ekonomi Amerika Serikat sedang buruk, maka seluruh dunia akan ikut perasakan pahitnya. Begitukah?
Sumber : Marketing in Crisis, Rhenald Kasali
Subscribe to:
Posts (Atom)