Pages

Monday, August 16, 2010

waaah.. sedaaapnya...

Ahlan ya ramadhan...

Ramadhan kali ini saya baru mulai puasa di hari ke lima. Maklum, begitulah takdir saya sebagai perempuan.. ehm.. Tapi, Alhamdulillah anak-anak semua memaklumi dan mereka berpuasa tanpa merasa terpaksa atau tidak rela. Duuuh.. senangnya..

Dan, saya pikir saya akan menjalani ibadah puasa kali ini dengan bebas pekerjaan.. ternyata.. oh my! tidak saudara-saudara.. Saya tetap dikejar-kejar deadline.. Alhamdulillah.. masih ada pekerjaan.. begitu sisi positif saya.

Layaknya keluarga lain yang sedang menjalankan ibadah puasa, saya pun rela untuk bersusah payah menyenangkan keluarga saya saat berbuka. Bukan dalam sisi finansial saja, tapi juga effortnya.. pokoknya segala daya dan upaya dilakukan sebagai apresiasi saya karena anak-anak berpuasa dengan ikhlas.. tidak seperti tahun sebelumnya.. yang bungsu mengeluuuuh terus..

Karena saat ini upin ipin lagi ngetren di televisi, maka setiap kali mau berbuka, si bungsu selalu meniru gaya upin ipin untuk memuji saya.. waaah.. sedaapnyaaaa..

Saturday, July 31, 2010

sibuk

Sumpah.. jelang ramadhan ini saya sibuuukk sekali..

Monday, July 26, 2010

menghilangkan rasa bete

Beberapa hari yang lalu, teman facebook saya menulis di statusnya,"lagi bete". Keadaan seperti itu pasti pernah dialami oleh banyak orang. Ketika kebosanan mulai melanda, tak puguh lagu mau ngapain, begini salah begitu salah, tidak ingin berada di tempat dimana dia berada.. dll.. dll..

Saya tulis di status teman saya itu supaya tidak bete, dia tarik napas dalam-dalam, tahan lima detik, lalu dikeluarkan perlahan.. kalau tidak berhasil berarti salah resep. Iya, karena itu sebenarnya untuk menahan emosi.

Rasa-rasanya saya pernah memposting judul yang sama di blog multiply sekitar dua tahun yang lalu.. (ketika saya sangat menggilai blog). Waktu itu, saya menulis tentang apa saja yang dilakukan untuk menghilangkan rasa bete. Beberapa diantara mungkin akan saya tulis lagi.. dengan versi yang lain..

Pertama, turn the music on.. biasanya bisa mengurangi rasa bete
Kedua, keluar sebentar, liat-liat situasi.. tapi jangan lupa balik lagi..
Ketiga, nge-blog.. seperti saya ini .. lagi bete neh!

Sunday, July 25, 2010

lesson learned today..

Tadi siang, ketika makan bareng anak-anak di d'cost (punten nyebut tempat) ada hal-hal menarik yang menambah semangat untuk menempuh hidup dengan lebih baik lagi.

Sebelum kita menikmati hidangan, kita masuk waiting list.. he he ini memang bukan resto mewah tapi demand-nya lumayan, mungkin karena harganya yang rada miring.. (sekali lagi rada..)

Akhirnya, kita dapat table, order bla..bla..bla.. dan menunggu pesanan tiba. Sambil menunggu pesanan which are udang mayonaise, gurame asem manis, kerang saus tiram, sapi lada hitam, tumis tauge ikan asin, kangkung balacan, cumi saos padang.. (he he banyak.. maklum rakyatnya yang makan juga banyak) kita sholat dzuhur dulu bergantian.. (di resto ini ada tempat sholatnya.. please ini ga promosi).

Setelah saya selesai sholat, gantian hubby yang sholat.. he he segitunya nungguin meja sampai sholat aja gantian.. maklum tadi agak lama waiting listnya.

Sambil menunggu makanan tiba, saya lihat2 list orderan saya sambil memanjangkan leher ke arah dapur (maksudnya celingak celinguk kali aja pesanan saya sudah jadi). Eh, tau-tau ada pria berumur jelang lima puluhan mendatangi saya, dan bertanya "ada yang bisa dibantu bu?".. He he rada malu, saya bilang, "ga ada kok cuma ngecek pesanan saya ada yang kurang apa ga"

Tidak berapa lama pesanan datang, dan kita langsung menyantap.. dengan penuh semangat tentunya.. yah maklumlah lagi lapar berat..

Sekilas saya melihat pria setengah baya itu bergerak kesana kemari, gayanya tenang.. akurat.. meyakinkan.. Kalau ada customer yang ingin pesan tambahan dia segera menghampiri. Kalau ada table yang sudah selesai, segera dia turut membantu pelayan disitu.

Dilihat tampilannya, pastilah dia bukan pelayan atau sekedar pegawai biasa, mungkin owner.. mungkin area manager.. atau semacam store manager.. atau manager in charge atau apalah.. pokoknya bukan waitress.

Dengan headset di kepala, saya perhatikan dia sesekali memberi perintah hampir setengah berbisik, mengecek ke PDA, bergerak menyambangi customer, mengecek dapur etc etc etc.. Menilik penampilannya yang tidak lagi muda, gayanya yang tenang namun luar biasa efisien (catatan : restoran sedang ramai2nya), membuat saya salut sama beliau..

Setelah kita selesai makan, saya antri di kasir. Ketika saya sedang mengantri, orang di depan saya rupanya ada masalah dengan ordernya. Sepertinya ada item yang tidak diakuinya.. Si kasir berbicara melalui headsetnya mengenai kondisi tersebut, kayaknya sih ke pria tadi..dengan nada seperti bawahan ke atasan.. karena ketika saya menengok ke belakang untuk mengecek kondisi anak-anak, si pria paruh baya itu sedang bergerak ke arah kasir.. dengan tenang dan efisien..

Si bapak itu langsung mengecek ke monitor komputer, dan si customer di depan saya itu menganulir klaimnya setelah dihampiri oleh temannya.. masalah selesai..
Lalu, saya membayar makanan saya..

Ketika keluar restoran itu, saya masih sempat melihat pria paruh baya itu sedang membantu pelayan membersihkan table..

Hmmm.. tebakan saya dia pasti manager.. tapi seorang manager dengan responsibility sense yang luar biasa. Bayangkan dia bisa berada di segala lini pelayanan.. dengan emosi yang terjaga, tenang, dan gerakan yang luar biasa efisien..

Thank you Allah, I've learned something today..

when i want to say the f word

Terkadang, ada saat-saat tertentu dimana kita ingin sekali mengucapkan the f word. Walau secara etika itu absolutely not okay for us to do so, tapi pastilah ada masanya ketika kekesalan mencapai puncaknya. Ini adalah beberapa kejadian yang membuat saya ingin sekali mengucapkan the f word itu.. walaupun tidak terucap.

1. Ketika ada yang menyerobot antrian (terutama di kasir)
2. Ketika lagi jalan, ada motor/mobil yang nyelonong dan membuat cipratan tak enak dipandang mata terkena baju kita.. (lagi apes deh)
3. Ketika ada orang yang mengakui hasil karya kita (sering bow..)
4. Ketika kita difitnah orang (wah, kalo ini.. langsung berdoa banyak-banyak biar dibales sama Allah)
5. Ketika kita merasa apa yang sudah diprediksikan pasti terjadi tapi ternyata meleset dari perkiraan (biasanya kalo lagi nonton bola atau f1)
6. Ketika ada yang mengambil hak kita (yang ini seringkali berkaitan dengan honor)
7. Ketika lagi naik motor dan sedang menunggu kereta api lewat di perlintasan kereta api, ada mobil yang bannya melindas kaki.. (oh, that's really.. really.. f..)

and many more..

Monday, July 19, 2010

the moment of truth..

Hasil googling dari kata kunci the moment of truth yang paling pas buat saya adalah suatu istilah yang diciptakan oleh Jan Carlzon, CEO Scandinavian Airline System (SAS) yang mengadakan pertemuan antara penyedia service dengan para pelanggan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan dari perusahaan yang bersangkutan. Inilah yang dimaksud Carlzon dengan Moments of Truth.

Tadi pagi menjelang siang, saya menghadiri rapat koordinasi dengan beberapa stakeholder. Yang menakjubkan adalah, betapa kondisi the moment of truth itu really happen.. Banyak hal yang bisa dieksplor lebih jauh lagi, lebih cepat lagi, lebih bermutu lagi, dan lebih-lebih lainnya..

Kemudian, saya membandingkannya dengan FGD yang mungkin mirip-mirip dengan the moment of truth ini. Wikipedia bilang, A focus group is a form of qualitative research in which a group of people are asked about their perceptions, opinions, beliefs and attitudes towards a product, service, concept, advertisement, idea, or packaging.

Mirip-miripkah? Ya.. Sedikit perbedaan terletak pada feedback yang diberikan. FGD mensyaratkan feedback yang diperlukan, sedangkan the moment of truth akan memunculkan the moment of impact.

The moment of impact adalah semua kejadian interaksi ketika anggota melakukan sesuatu yang lebih, sesuatu yang inovatif yang di luar dugaan. Seperti memunculkan ide-ide baru untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa.

The moment of truth juga merupakan salah satu game yang populer di amerika yang menghadirkan pertanyaan2 konyol dan memalukan yang harus dijawab oleh lawannya. Jawaban bisa di luar dugaan, dengan reaksi yang juga bisa di luar dugaan.

Anyway, I guess I found myself in the moment of truth today.. Thank you Allah..

Saturday, May 1, 2010

Kau Dengan Gunung Mu, Aku Dengan Gunung Ku

ditulis oleh Made Teddy Artiana, S. Kom
fotografer & penulis


“Begitu banyak orang takut akan persaingan. Ini aneh. Karena permulaan kehadiran kita didunia ini dimulai dalam sebuah proses persaingan. Mungkin kita dapat belajar dari sebuah proses pembuahan. Sel sperma yang berjuta-juta itu harus bersaing sedemikian rupa untuk membuahi satu sel telur. Mereka harus berlomba berenang begitu cepat, berebut untuk mengawini satu sel telur tersebut. Dan yang kuat, cepat, tangguh akan keluar sebagai pemenang”

Demikianlah uraian yang berulang kali ku dengar dari salah seorang ulama yang sangat terkenal, guru sekaligus seseorang yang sangat kukagumi. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak terlalu sependapat dengannya. Uraian beliau tentang persaingan kuanggap tidak seratus persen benar.

Mengapa ?

Aku dibesarkan dalam sebuah masyarakat yang memelihara sebuah persaingan sebagai budaya tak terlepaskan dari kehidupan mereka. (Siapa sih yang tidak ? Aku rasa kita semua mengalami nasib yang sama).

Mula-mula di dunia pendidikan. Sebagian besar dari kita terbiasa/terpaksa belajar dan memperoleh prestasi, seolah-olah seperti dalam sebuah arena persaingan. Juara satu, dua dan tiga. Ranking sepuluh besar. Kebiasaan ini diteruskan dalam dunia kerja, baik dunia profesional maupun bisnis.

Tips dan trick memenangkan kompetisi.
Kiat mengalahkan pesaing.
Cara mengetahui strategi Competitor.
Sebelas langkah untuk segera dipromosikan.
Seratus jurus untuk melampaui karir atasan Anda di kantor.

Kepala ini sudah terlanjur terdoktrin tentang dengan hal-hal seperti itu sehingga hampir tidak ada lagi yang berani bertanya : apakah semua ini mutlak benar ? Benarkah segalanya begitu terbatas ? Benarkah hidup ini tidak menyediakan kecukupan untuk semua orang ? Benarkan TUHAN yang sangat tidak terbatas itu sedemikian miskin, sehingga kita ‘ditakdirkan’ harus saling sikut, saling rampas, adu cepat, adu licik, main dukun, sogok sana sini hanya atas nama memenangkan persaingan. Sementara DIA diatas sana berdiri sebagai wasit –sang pengadu domba- mengganjari para pemenang dan menertawai pecundang-pecundang malang.

Kontradiksi dengan semuanya itu. Bukankah sedari kecil kita juga telah sering mendengar pengajaran-pengajar an sebagai berikut :

“Mungkin bukan rejeki kita”
“Sudah menjadi rejeki dia”
“Rejeki itu sudah kita bawa ketika kita lahir”
“Setiap manusia sudah punya rejeki masing-masing”
“Menjemput rejeki”
“Rejeki tidak mungkin tertukar”
“Iri hati kita tidak menambah atau mengurangi rejeki orang lain”

Periksalah seluruh kitab suci di atas muka bumi ini dan temukan sebuah ayat tentang persaingan. Tentang betapa sedikitnya kemampuan TUHAN memberikan rejeki pada umat-NYA. Tentang betapa terbatasnya segala sesuatu. Dari sana kita akan mendapat gambaran yang jauh berbeda dengan dunia yang didalamnya kita sudha bernafas sejak kecil.

Lalu dari mana doktrin ini berasal ? Apakah pendapat dunia sekuler telah begitu mencemari kita ?

Kita tahu bahwa ada dua jenis manusia didunia ini. Mereka yang beriman dan mereka yang berotak. Ini tidak berarti orang-orang beriman tidak memiliki otak sama sekali dikepala mereka, atau begitu juga sebaliknya mereka yang berotak sama sekali tidak memiliki iman dihati mereka. Ini hanya sebuah istilah yang ingin menggambarkan “tentang apa yang mendominasi kehidupan mereka sehari-hari”.

Bagi mereka yang mengagung-agungkan otak, lebih percaya hanya kepada apa yang mereka lihat, alami dan pelajari. Namun kaum beriman –yang seringkali bersandar pada hati- menaruh kepercayaan pada apa yang tidak kasat mata. Janji TUHAN, pahala, dan lain sebagainya.

Kedua golongan ini saling berinteraksi, saling mempengaruhi satu dengan lain. Mungkinkah diktat besar mengenai persaingan kemudian ditandatangani disini, lalu diterima sebagai sebuah kebenaran turun temurun ?

Kita belajar karena ingin menduduki ranking tertentu atau bahkan lebih parah dari itu : karena takut tidak lulus dan takut tidak memenuhi syarat pekerjaan di masyarakat. Hanya segelintir orang yang belajar karena rasa ingin tahu yang tulus.

Ingin mendapat pendapatan atau jabatan yang lebih tinggi. Bisnis yang lebih hebat. Uang yang lebih banyak. Lalu mulai bermanuver, politiking, si-sa-si-ji- sa-si : sikut sana sini, jilat sana-sini. Apakah pendekatan ‘memberikan yang terbaik dan berkarya sehebat mungkin’ sudah terlalu kuno dan kurang efektif lagi ?

Bukankah ‘memperbaiki diri’ adalah salah satu takdir yang harus kita penuhi ? Bahwa orang yang keadaannya sama saja dengan hari kemarin adalah orang-orang yang merugi dan bahwa orang-orang yang keadaannya lebih buruk dari kemarin adalah orang-orang terkutuk ? Sama sekali bukan alasan siapa menang dan siapa kalah. Siapa yang mendapat dan siapa yang terpaksa menyerahkan.

Lalu untuk apa kita belajar, memperoleh gelar Prof, Dr., SH, S. Kom, MBA, MSI, TKW, HIV ? Untuk apa seluruh daya upaya, pengorbanan, keringat, strategi, riset, kreatifitas dan usaha yang telah kita dikerahkan ?

Untuk menggali tambang emas gunung rejeki kita masing-masing !

Itu juga berarti, sama sekali tidak menjadi masalah jika kita saling membantu, saling sokong, saling memberi informasi rahasia, saling menyumbangkan tips dan trik, karena kita tidak sedang berebutan menggali satu gunung rame-rame, tapi yang kita lakukan adalah menggali gunung rejeki kita masing-masing, yang sudah ditentukan TUHAN menjadi bagian kita sejak kita lahir.

Saling jegal ? Buat apa !?
Itu hanya sebuah pemborosan energi yang sudah pasti membuat pekerjaan menambang emas kita masing-masing jauh lebih lambat dari kecepatan sebenarnya. Lebih jauh dari itu, hanya merupakan kegiatan yang mengotori hati nurani dan mengundang hal-hal buruk terjadi pada hidup kita.

Sedikit banyak ini merupakan kabar baik bagi para pencundang, bahwa ternyata masih begitu banyak harapan dalam hidup ini. Sebaliknya merupakan kabar buruk buat mereka-mereka yang selama ini membusungkan dada, karena merasa telah mengalahkan banyak orang dalam hidupnya. Bahwa ternyata kemenangan yang mereka raih adalah palsu. Para pemenang palsu ini berlari kesetanan padahal tidak ada yang mengejar mereka. Menggali membabi buta, padahal yang mereka gali adalah gunung mereka sendiri, yang tidak mungkin diganggu gugat oleh siapapun. Oooh poor fake winner…

Bahkan Sun Tzu dalam strategi perangnya mengatakan secara implisit bahwa musuh yang sebenarnya ada dalam diri kita. Sehingga seorang jenderal perang yang ceroboh, akan terbunuh. Penakut, akan tertangkap. Lekas marah, akan mudah terprovokasi dan mereka yang begitu sensitif akan kehormatan akan dengan mudah dipermalukan. Bukankah itu semua ada dalam diri kita ? Dengan kata lain yang membuat kita terbunuh, tertangkap, marah, dan dipermalukan adalah diri kita sendiri dan sama sekali bukan orang lain. Jadi pemenang sejati adalah mereka yang mengalahkan bagian dari diri mereka yang buruk dan sama sekali bukan mengalahkan orang lain.

Jadi bagaimana membuat persaingan tidak relevan lagi ?

Agak sedikit berbeda dengan pendekatan yang Blue Ocean Strategy tawarkan (ada baiknya jika kita kembali kepada kebenaran awal, takdir mula-mula manusia) bahwa : kau berhadapan dengan gunung rejeki mu dan aku berhadapan dengan gunung rejeki ku.

Otomatis persaingan menjadi sangat tidak relevan lagi.

Apakah perenungan ini valid ? Apakah ini sebuah kebenaran yang terlupakan atau lamunan iseng keblinger dari orang yang baru hidup sepertiga abad ? Semuanya kembali kepada diri kita masing-masing tetapi apapun itu : “Terjadilah sesuai dengan iman mu !!!” atau dalam bahasa lain “TUHAN adalah seperti prasangka hamba-NYA”.

Oh iya ada sesuatu yang hampir saja terlupakan. Mengenai analogi sel sperma dan sel telur diatas.

Mungkin ada baiknya jika kita melihat dari sudut pandang berbeda. Yaitu sudut pandang sel telur. Bahkan satu sel telur tidak perlu merasa kuatir akan sel sperma untuknya, karena TUHAN telah menyediakan berjuta-juta sel sperma, yang tanpa diminta berenang dan berusaha membuahinya.

Pola pandang seperti ini memang cenderung ganjil dan nyeleneh.

Tapi paling lewat pola pandang seperti ini berakibat
hidup menjadi begitu luar biasa,
sesama yang selama ini dipandang sebagai ancaman, berubah menjadi partner yang menyenangkan,
hati yang semula bergejolak dalam pertempuran yang tidak perlu kini mengalir teduh dan
TUHAN dimuliakan karena ketidakterbatasan kemampuan BELIAU menyediakan segala sesuatu untuk semua.

What a wonderfull world !
What an abundance life !!
What an exciting journey !!!