Pages

Thursday, July 31, 2014

Rasa bersalah yang tak kunjung hilang

Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.

Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe

Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."

Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..

Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.

Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..

Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.

Monday, July 21, 2014

Ramadhan yang luar biasa

Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa.. sangat berbeda dengan Bulan Ramadhan yang sudah-sudah. Di bulan ini, saya dihadapkan pada banyak sekali pengumuman. Pasalnya, ada dua anak saya yang akan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Caca tahun ini lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, Ali lulus SMP dan akan masuk ke SMA. Anak ketiga sih naik ke kelas 2 SMP. Untuk pengumuman masuk SMA saya harus memantau PPDB online dan membuat berbagai skenario supaya anak kedua saya bisa masuk di SMA favorit. Di Kota Bekasi, jenis SMA yang menggunakan sistem PPDB online ini ada 3, pertama adalah sekolah model (SMA 1 dan SMA 5), kedua sekolah standar nasional (SMA 2 dan SMA 4), ketiga sekolah reguler (sisanya). Untuk mendaftar sekolah model, calon siswa harus melakukan verifikasi nilai rapot. Anak saya memilih di SMA 1 dan lulus verifikasi, tapi pada saat seleksi PPDB onlinenya tidak diterima. Hal itu membuat saya ketar-ketir kalau dia tidak diterima di sekolah standar nasional. Alhamdulillah akhirnya dia lolos di seleksi untuk SMA 2. Saya mendaftarkannya hanya 9 menit sebelum closing PPDB Online. Stressful..

Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..

Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..

Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.

Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..

Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?

Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..

Thursday, July 3, 2014

Telepon itu..

Kemarin sore, saya sedang berjuang melawan kemacetan tol Cikampek yang diakibatkan volume kendaraan berjenis truk dan kontainer dalam jumlah besar. Ya, tol Cikampek sore itu memang macet luar biasa karena perusahaan ekpedisi sedang kejar setoran supaya supply barang sampai di tempat tujuan sebelum 5 hari menjelang hari raya. Biasanya H-5 itu tol cikampek sudah steril dari truk dan container karena arus mudik pasti sangat besar.

Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.

Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..

Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he

Thursday, April 3, 2014

Sebuah kunjungan

Saya tidak tau ada keajaiban apa dengan hari Rabu kemarin. Pertama saya bangun kesiangan, tapi berangkat ke kantor tidak sampai telat banget karena malamnya saya ga sengaja sudah menyiapkan semua keperluan pagi (sudah seperti feeling aja). Terus, lalu lintas pagi itu lancar jaya, jadi sampai kantor pun masih jam 7.00 barengan dengan mahasiswa dan cleaning service (padahal harusnya cleaning service harus datang lebih pagi). Lalu, tidak lama kemudian ada bbm dari teman seangkatan yang mau datang. Dan bertemulah kita setelah belasan tahun ga ketemu. Dan ternyata hebohnya masih belum berubah hehehe..

Jadi ceritanya, teman seangkatan saya itu lagi kuliah S3 di IPB dan sekarang memasuki tahun ke-3, seru lah ya denger cerita kuliahnya itu (asli bikin iri), secara dulu kita sama-sama dari Jakarta dan punya masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan kedinasan ini. Biasa lah bayangan kita dulu itu kuliah ga seperti begini. Apalagi saya sebelumnya sudah sempat kuliah sebulan di tempat lain. Beda.. jauh berbeda, tapi thanks God akhirnya kita bisa beradaptasi dan ga sempat jadi mutant (looh?..).

Itu kunjungan yang pertama, di sore hari, ada lagi teman yang datang dari kantor lama saya. Sebenarnya sih dia datang karena ada urusan administrasi dengan baak, tapi sekalian bertemu saya. Nah ini membuat saya jadi teringat masa-masa perjuangan bekerja di tingkat II yang perlu kesabaran tingkat dewa. Terus berceritalah dia tentang kondisi di kantornya, personelnya, bagaimana ketatnya jadwal survei yang seolah seperti air bah datang ga kenal waktu, kegiatan yang saling tumpang tindih... ya ya ya saya mengerti sekali yang kayak begini dan parahnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu selain mendengarkan..

Jujur, kalau dikunjungi teman lama itu rasanya senang. Bisa cerita-cerita pengalaman masing-masing, memberi kabar baik (yang buruk ga perlu lah) dan bikin kita semangat lagi. Walaupun sebenarnya, dengan era sosial media saat ini, semua itu bisa dilakukan dengan kelincahan jari-jari di atas smartphone atau komputer, tapi kalau bertemu langsung rasanya beda aja. Energi positifnya dapet. Kalau terus-terusan dapat energi positif bisa sehat terus kan.. Mungkin memang benar kalau menyambung silaturahmi itu bisa memperpanjang usia. Jadi, siapa lagi teman yang akan mengunjungi saya? Atau saya akan berkunjung ke siapa nih..

Thursday, March 27, 2014

Moving out

Sejak mendapat jatah.. eh tugas mengajar 4 kelas selama semester ini, Saya mulai merasa kewalahan yang luar biasa. Bukan karena kewalahan mengajar, tapi karena harus menghandle pekerjaan administrasi di BAAK. BAAK itu akronim dari Bagian Akademik dan Administrasi Kemahasiswaan. Ya, saya masih merangkap-rangkap begini karena SK pindah saya masih di BAAK. Pekerjaan di BAAK itu tidak sulit cuma menguras waktu aja. Saya cuma memonitor perkuliahan yang diselenggarakan. Tapi.. yang namanya perkuliahan itu itemnya banyak, mulai dari absensi, ketersediaan dosen, jadwal sampai mengurus permintaan spesial mahasiswa dan dosen kalau ada dispensasi dan sebagainya. Tapi saya kan tidak didesain untuk mengeluh dengan kondisi yang ada.

Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.

So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.

Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..

Thursday, February 13, 2014

On the right track..

Sambil mendengarkan Creed nyanyiin lagu My Sacrifice, saya sesekali melirik ponsel yang pagi ini rajin berbunyi karena grup baru dari temen-temen seangkatan waktu masih di akademi. Ceritanya lagi pada nanya-nanya sekarang posisinya dimana, sudah jadi pejabat apa, anaknya berapa dan seterusnya. Sesekali bertukar cerita mengenai kondisi di daerahnya (saat ini beberapa teman yang tinggal di sekitar Kediri sedang resah karena kondisi Gunung Kelud yang statusnya waspada). Hal-hal seperti ini sangat tipikal untuk orang-orang yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sama (baca: se-alumni).

Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!

Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.

Wednesday, February 12, 2014

A little thing called Supply and Use Table (SUT)

Seharusnya, hari ini saya mensubmit soal untuk ujian IO, SUT dan Nesparnas. Tapi entah kenapa sampai detik ini belum ada chemistry ke arah itu. Terus, saya teringat untuk memposting sesuatu di blog ini. Supaya saya ada chemistry dengan pembuatan soal itu, kenapa tidak saya bahas saja sekalian sedikit cerita tentang bagian kecil dari kuliah itu, Supply and Use Table atau Tabel Penyediaan dan Penggunaan.

Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...

Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.

Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini

SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.

Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional

Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :


Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.

Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.

Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.

Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.

Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he