Pages

Wednesday, April 29, 2009

Romantisme a la Daniel Bedingfield

Mungkin karena acara ngajar mengajar itu sudah selesai.. akhirnya bisa rileks lagi untuk 12 jam ke depan.. dan ini adalah lagu yang aku pilih untuk menemani pikiran yang lagi rileks.. benar-benar romantis..


If you're not the one - Daniel Bedingfield

If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at all

I’ll never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?

If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I could stay in your arms

Friday, April 24, 2009

Resesi, Depresi dan PHK

Artikel ini diambil dari buku barunya Rhenald Khasali berjudul Marketing in Crisis. Di dalam salah satu box-nya ada tulisan yang dia cuplik juga dari harian Kompas 1 Desember 2008, bagus dan membuat kita terus berpikir..

"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Kalau Anda juga kehilangan pekerjaan, itu depresi"

Berapa pun besarnya pesangon, menjadi penganggur sungguh tidak enak. Menurut Harvey Brenner, setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik 1,2%, serangan jantung 1,7%, bunuh diri 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun.

Namun, ada kabar gembira, orang yang kepepet bisa hijarah menjadi pengusaha, asalkan lingkungannya kondusif. Minggu lalu, Organisasi Buruh Internasional mengumumkan krisis keuangan global akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja 20 jutra orang. Padahal, tanpa krisis, 190 juta orang menganggur, Di AS, angka PHK baru 1,2 juta. Lantas, dimana pengangguran terbesar? Sebagian besar menduga CIna.

Namun Dirjen ILO menyebut Cina relatif aman karena pasar domewstiknya kuat. Di Thailand, 1 juta orang akan menganggur. Singapura sama, tetapi parlemen mengizinkan pemerintah mengatur keuangan agar lebih adaptif.

Di Indonesia, mereka yang pesimis menyebut pengangguran akan menyentuh 2 juta orang, sementara yang moderat menyebut 1 juta. Hitungan ekonominya, penurunan ekonomi 1 persen membuat lapangan pekerjaan menyusut 150.000. Di lapangan, sebagai antisipasi krisis,pengusaha mulai menahan ekspansi. Konsumsi listrik untuk industri di Jawa sebulan terakhir turun lebih dari 5 persen.

Namun, benarkah ancaman pahit itu akan menjadi kenyataan? Di AS, yanng paling terkena krisis adalah jasa keuangan, perumahan, ritel, otomotif, dan konstruksi. Di negara lain, yang terimbas adalah sektor-sektor ekspor, seperti faren, furnitur dan bahan mentah.

Namun, di Indonesia, segala industri, juga UMKM, bisa terkena kalau respons operasional birokrasi lamban dan inkonsisten. Kita ambil saja dua contoh, industri kertas dan UMKM. Dalam industri kertas, Indonesia punya keunggulan daya saing alamiah sehingga berpotensi menggeser kompetitior dari negara yang sedang terimbas krisis.

Di khatulistiwa, pohon akasia dapat dipanen 6 tahun, sementara di Eropa Utara butuh 20-40 tahun. RAPP dan INdah Indah Kiat masing-masing menanam investasi lebih dari Rp. 50 triliun. Perangkat hukum hutan tanaman industri muali dari UU No 41.1999 sampai PP No 6/2007 sudah lengkap. Kalau kondusif, industri ini bisa jadi powerhouse ekonomi.
Studi LPEM FEUI (2008) menemukan mulitplier tenaga kerjanya 2,381 sehingga berhasil menstimulasi lapangan pekerjaan di Provinsi Riau sekitar 250.000 (2005). sMAPAI BULAN sEPTEMBER 2008, RAPP masih menjual dolar ke BI sebesar 500 juta dolar AS. Namun karena setahun terakhir ini aparat di lapangan bertikai dan saling menuding, pasokan kayu pun menipis.

Kita tahu, polisi saat itu ingin membongkar sindikat pembalakan hutan. Kejaksaan juga ingin dapat nama dalam pemberantasan korupsi. Namun, ibarat kaum bisu tuli dalam tarian The Thousand Hands of Buddha, hanya satu orang yang boleh di depan. Nyatanya semua ingin ke depan sehingga timbul kekacauan dan rantai suplai yang dibangun bertahun-tahun hancur.

Dalam situasi demikian, bulan lalu RAPP mem-PHK 1000 karyawan tetapnya.
Lain lagi UMKM. Dari pengalaman di Korea Selatan, Thailand, dan Cina, pengembangan UMKM tidak boleh dipisahkan dari industri penopangnya yang berseifat komplementer sehingga hrus membentuk klaster. Dalam setiap klaster ada 2-3 perusahaan besar yang menjadi lokomotif bagi gerbong-gerbong itu.

Karena tidak integratif, penanganan UMKM di Indonesia tidak efektif. Yang satu memberikan bantuan, Satpol PP menggusurnya. UMKM ditanam sporadis sehingga menimbulkan banyak benturan. Karena itu, UMKM belum bisa menjadi alat pencipta kesejahteraan yang stabil. Angka kematiannya pun sangat tinggi.

Dua contoh itu menunjukkan pentingnya membangun spirit Indonesia yang sejalan. Semua kekacauan itu dimulai dari visi yang belum terurai sampai level operasional, malah masing-masing asyik dengan "hobinya" dan ingin tampil ke depan sendiri-sendiri.

Upaya mengatasi resesi dan depresi dapat diibaratkan dengan dua kalajengking milik presiden, yang ditaruh dalam gelas. Obama dan pemimpin kita sama-sama menggenggam kalajengking. Begitu air dimasukkan ke dalam gelas, dalam hitungan menit gelas Obama sudah kosong. Kalajengking yang satu mengatakan kepada temannya, "Ini benar-benar sudah gawat, kita bisa mati. Naiki pundak saya, sampai di atas tolong tarik saya." Mereka sepakat, seperti slogan kampanyenya "Change, You Can Believe In".

Bagaimana kalajengking di gelas pemimpin kita? Begitu yang satu naik sedikit, kawannya buka mendorong ke atas, malah menarik kakinya ke bawah. Walhasil, kdeduanya sama-sama mati. Siapa yang menarik kaki kalajengking itu?

Pada akhirnya, kita hanya bisa keluar dari resesi bukan karena kehebatan kita, melainkan apakah kita benar-benar percaya bahwa ancaman krisis dan PHK ini bisa menjadi riil dan tidak main-main, lalu apakah kita mau bekerja sama dan beradaptasi?...

Monday, April 20, 2009

Caught in the act..

Hari ini meeting lagi.. seperti biasa, tiada hari tanpa meeting.. yang seringnya solusinya tidak ada atau kalau ada tidak ditepati..

Beberapa waktu yang lalu, apa yang sudah aku usulkan ditolak mentah-mentah.. yah maklum, junior.. tapi aku tetap mengemukakan rencanaku beserta konsekuensinya kalau kita tidak menjalankannya sesuai prosedur..

Dan meeting hari ini mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi... inilah akibatnya kalau tidak sesuai dengan teori dan apa yang sudah di rapatkan sebelumnya.. Dalam hati sih rasain deh.. tapi ga tega juga, bagaimanapun juga ini institusi yang mau tidak mau harus aku bela.

Kalau sudah ketangkap basah begini, baru deh grabag grubug cari option lain... Ingin sih aku bilang, "tuh kan.. saya bilang juga apa?" tapi ga tega euy.. Yah bantu sebisanya saja..

Tabungan..

Sudah ngeprint buku tabungan belum? Coba diprint.. apakah saldonya semakin berkurang atau bertambah sesuai dengan iklan bank-bank tersebut. Ini cuplikan dari sebuah artikel di kompas.com.

.....

Ambil contoh BCA, bank yang memiliki jumlah penabung paling banyak di Indonesia. Untuk tabungan Tahapan Silver, BCA mengenakan biaya administrasi Rp 10.000 per bulan. Adapun suku bunga untuk tabungan bersaldo Rp 1 juta-Rp 10 juta sebesar 2 persen per tahun.

Dengan asumsi nilai tabungan awal Rp 5 juta dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp 100.000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20 persen, pendapatan nasabah tinggal Rp 80.000. Padahal, biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp 120.000. Alhasil, dana berkurang Rp 40.000 dalam setahun.

Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan di bawah Rp 1 juta. Sebab bunganya nol persen. Penabung tidak akan tergerus uangnya jika saldonya minimal Rp 6 juta. Pada level itu, biaya administrasi dan bunga mencapai titik keseimbangan.

Perbankan umumnya menerapkan bunga rendah untuk tabungan. Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia, bahkan hanya memberikan bunga 1,75 persen untuk tabungan bernilai Rp 1 juta-Rp 5 juta. Kian tinggi nilai tabungan, bunga akan semakin besar, namun biasanya tak lebih dari 4 persen per tahun. Bank tentu merasa berhak memungut biaya administrasi. Alasannya, mereka harus membangun dan memelihara jaringan seperti ATM, yakni fasilitas untuk para penabung. Bank juga harus membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman.

Bank merasa pantas memberi bunga kecil atas tabungan dengan alasan tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak begitu leluasa menggunakan dana tabungan untuk disalurkan sebagai kredit. Berbeda dengan deposito yang dipatok jangka waktunya sehingga bank mudah mengelolanya.

Bahkan, menurut para bankir, sebenarnya tabungan sudah merupakan jasa yang harus dibeli nasabah. Dengan menabung, nasabah memiliki banyak keuntungan, seperti keamanan dan kemudahan bertransaksi, karena tidak harus membawa uang tunai ke mana-mana.

Di negara maju seperti Jepang hal inilah yang terjadi. Tabungan dipahami bukan lagi tempat menggandakan uang, tetapi hanya sekadar cadangan uang tunai mengantisipasi keperluan transaksi segera atau mendadak. Untuk investasi, dana biasanya ditaruh dalam deposito atau produk pasar modal.

Namun faktanya, perbankan juga kerap memanfaatkan pengetahuan para penabung Indonesia yang umumnya masih awam. Bank tidak pernah menjelaskan kepada nasabah. Misalnya, jika saldonya di bawah Rp 5 juta, dana nasabah tidak akan pernah bertambah.

Bagaimana menyikapinya? Informasi seperti ini sebaiknya harus dicerna pelan-pelan. Bukan apa-apa kalau kita tidak menabung ke bank, artinya fungsi bank sebagai intermedia antara pemilik modal dan orang yang membutuhkan modal akan terganggu. Investasi tidak jalan dan akan merembet ke hal-hal lainnya. Ujung-ujungnya ekonomi sulit tumbuh.

Lalu kalau cuma punya uang 5 juta ditabungin ga ya?
Yah.. makanya jangan cuma punya 5 juta, harus lebih dari itu.. Artinya lebih keras lagi usahanya, lebih banyak lagi mengumpulkan uangnya jadi kalau nanti ditabung tidak rugi.. :)

Saturday, April 18, 2009

Golput

Ampun deh.. di tv masih aja dibahas masalah DPT dan banyaknya orang yang golput.. Sekarang ada lagi golput terbagi menjadi 2, golput karena memang tidak berminat untuk ikut pesta demokrasi dan golput karena memang tidak terdaftar di DPT, istilah kerennya Golput by system..

Ada lagi yang bilang golput itu golongan putih, ada yang bilang golput itu golongan luput.. ada-ada aja. Bandingkan proses dan result pemilu kali ini dengan proses dan result pemilu 2004, lebih rapih yang 2004 kan... ya iya lah.. walaupun ada kekurangan disana sini, tapi jauh lebih rapih dan transparan.. kalau sekarang kan validitasnya belum-belum sudah banyak yang mengkomplain..

Tapi bagaimanapun juga sebagai anggota masyarakat, harusnya kita tetap menghargai kerja KPU, bagaimanapun juga di antara berantakannya DPT masih tetap ada orang-orang yang telah bekerja sungguh-sungguh. Dan kita juga harus menyikapinya dengan dewasa (KPU juga harus menyikapi kritik ini dengan dewasa juga lho..). Biarkan hasilnya sampai final barulah disikapi dan dievaluasi...

Wednesday, April 15, 2009

I call it negotiation

Serunya mengintimidasi orang.. hehehe kelakuan baruku yang aneh dan jangan dijadikan kebiasaan. Haduh.. aku barusan ketawa sampai gimana gitu gara-gara mengingat kelakukanku yang satu ini kemarin siang pas meeting itu..

Mulai darimana ya ceritanya.. (sampe bingung deh.. ).
Begini, akhir-akhir ini aku sedang diuji mengenai masalah negosiasi.. Ya apa saja, negosiasi itu kan bukan hanya negosiasi harga, tapi juga masalah tugas, wewenang, dan lain sebagainya.. you name it.. Masalahnya, as a JUNIOR, kadang-kadang kita suka dilewatin begitu aja atau tidak dianggap sama sekali.. hehehe klasik ya..

Sampai kemarin itu, akhirnya aku pake trik jaim dan sempat-sempatnya mengintimidasi dengan cara yang halus tapi mematikan.. cie.. seperti biasa lah fakta-faktanya aku uraikan satu demi satu kemudian konsekuensi yang akan dihadapinya apa saja dan ... vuala! terintimidasilah orang itu. And it feels really good.. hahaha... haduh setan apa sih yang merasuki aku sampe seneng liat orang lain terintimidasi oleh aku sendiri..

Bukannya apa-apa, aku baca di buku saku negotiating karangan siapa gitu.. (serial manajemen kalo ga salah) trik seperti ini kadang-kadang harus diterapkan kalau kita ingin memenangkan negosiasi..

Hasilnya sejauh ini aku cukup membuat kehebohan. Ratingku naik beberapa poin (karena jadi bahan pembicaraan kali ye..), tapi paling ga sekarang aku diperhitungkan lah.. ga sembarangan lagi kalau sudah menyangkut aku.. hehehe.. Betul juga kata orang tuaku, ilmu itu memang sangat berharga.. Beberapa kali aku dihadapkan pada fakta ini, maka jangan malas belajar..

DPT lagi...

Sudah seminggu terakhir ini banyak yang membahas masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap). Mulanya aku malas aja memperhatikannya atau membahasnya atau membicarakannya atau mengulasnya apalah itu.. you name it.. Tapi, lama-lama tergoda juga untuk ikutan diskusi.

Sebenarnya dua minggu sebelum pemilu, aku pernah bicara masalah ini dengan teman-teman di kantor. Reaksi mereka dingin-dingin aja, seolah-olah beranggapan itu sudah bukan urusan kita atau instansi tempat aku bekerja. Waktu itu aku serius sekali menanggapinya. Pasalnya data DPT yang katanya dan seharusnya berasal dari data lungsuran P4B tahun 2003/2004 dalam proses mantainancenya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Masih jelas terekam dalam memoriku bagaimana dulu kita mengorganisir kegiatan pengumpulan data P4B tahun 2003. Dulu itu aku all in one, ya inda, ya pengawas, ya jadi obyek sasaran.. untungnya ga ikutan entri.. Hasilnya 2004 aku bisa ikutan pemilu, karena kuesionernya aku sendiri yang isi dan si petugas tinggal ambil aja. Tapi anehnya ketika pilkada baik tingkat propinsi maupun kabupaten, aku sama sekali tidak terdaftar dalam daftar pemilihnya. Dan ketika pemilu kemarin, namaku tiba-tiba muncul lagi.. hahaha. Dari sini mulai kelihatan tidak beresnya proses maintenance itu.

Sejak awal aku sudah memprediksi bahwa hasil pemilu kali ini kurang valid lantaran data jumlah pemilihnya yang kacau. Kalau dulu banyak terdapat kabar di media yang bilang pekerjaan BPS tidak benar, ngawur, ngaco dan lain sebagainya... kenapa sekarang tidak terblow up kalau pekerjaan instansi lain itu jauh lebih tidak benar?

Aku jadi teringat lagi soal data untuk pembagian BLT... Ketika anakku melihat iklan sebuah partai yang mengklaim keberhasilan program BLT dengan mengatakan Partai *** turun ke lapangan.... anakku langsung protes. Katanya lho bukannya gara-gara BPS dan mama yang suka ke lapangan makanya BLT sukses.. Hahahaha.. masalahnya waktu garap data PSE tahun 2005 untuk data BLT aku sering pulang malam karena kelamaan di lapangan, itu yang bikin anak sulungku itu protes habis-habisan dan aku harus menerangkan banyak hal, makanya dia mengerti apa yang kukerjakan kalau di lapangan..

Dan beberapa waktu yang lalu setelah pembagian BLT terakhir (cuma 2 bulan yang dicairkan), ada seorang pak RT yang menyambangi kantor kami untuk protes kenapa ada warganya yang tadinya menerima BLT (2005 dan 2008) tapi pas kemarin tidak menerima. Dia datang lengkap dengan data-data pendukung seperti no KIP dan daftar warganya yang menerima BLT tahun 2005 dan 2008 yang katanya berasal dari kelurahan. Ketika kita cek dengan database yang kita punya, ternyata namanya benar tapi no KIP nya salah, terus alamatnya tidak sesuai dengan yang ada di database kita... hehehe kalau sudah begini bingung deh.. salahnya di PT Pos atau di BPS karena PT Pos pernah melakukan verifikasi terbatas sebelum kita melakukan PPLS.. dan sst.. itu juga tidak bilang-bilang BPS lho..

Yah.. akhirnya waktu yang akan membuktikan semuanya, kalau kita sudah benar-benar bekerja sesuai aturan, sudah berusaha mengatasi masalah di lapangan dan di kantor semaksimal mungkin pasti akan terlihat mana yang baik..