Pages

Tuesday, March 24, 2015

Ujian

Ok, ini postingan kedua di tahun ini, setelah sebelumnya saya mengunci blog ini karena tadinya saya merasa ini harus dikunci. Tapi mengingat saya bukanlah seleb blog dan bukan seleb lecture juga, jadi saya pikir ya sudahlah, mari dibuka lagi saja.

Sebenarnya, waktu untuk membuat postingan itu banyak terjadi di tempat-tempat umum ketika sedang menunggu. Menunggu apa saja, menunggu angkutan umum seperti commuter line, pesawat, di dalam bus antar kota atau mobil travel. Menunggu jam mengajar, menunggu teman di lobi atau menunggu kepastian hehe.. Setidaknya itulah yang terjadi pada saya, beberapa postingan saya buat ketika sedang menunggu transportasi moda. Saat ini pun, postingan ini dibuat ketika menunggu anak-anak ujian..

Dulu pernah ada masa dimana saya sangat excited dengan ujian. Rasa deg-degan nya itu memang memicu adrenalin, tapi kalo hasilnya memuaskan, memunculkan serotonin :). Saya pikir semua orang pasti pernah menghadapi ujian. Dan rasa deg-degan setiap ujian pasti berbeda. Ada ujian yang suka dianggap biasa saja, semacam uts atau uas. Ada juga ujian yang sampai dibawa stres, dipikirin terus padahal sudah berlalu. Yang paling wow itu biasanya ujian saat masuk PTN, ujian bikin sim termasuk yang wow juga ga ya? Entahlah..

Ujian, pasti ada dalam setiap kehidupan manusia. Bentuknya macam-macam, menghadapinya pun berbeda-beda penanganannya. Tetapi dari semua ujian yang pernah saya lalui, kuncinya cuma satu, persiapan dan bersikap tenang. Kalau sudah melakukan persiapan, dan bisa bersikap tenang, insya Allah ujian bisa dilalui dengan baik.

Kalau sudah selesai ujian, tinggal berserah diri dan tetap berharap yang terbaik.

Selamat ujian..

Wednesday, January 14, 2015

2015 Blog Breaking

Judul postingan ini diinspirasi dari spanduk pembangunan apartemen deket rumah yang bertuliskan ground breaking. Itu artinya pembangunan apartemen tersebut baru saja dimulai. Begitu juga dengan postingan kali ini, tang menandakan postingan pertama di tahun 2015.

Sejujurnya, postingan ini saya buat sambil menunggu commuter line yang sudah tiga hari ini jadwalnya kacau balau sehingga kenyamanan penumpang terganggu. Dan entah kenapa, justru di saat jadwal CL terganggu saya malah terpaksa menggunakan angkutan ini.. pyuuh..

Akibatnya, banyak teman-teman yang bertanya kenapa saya tidak bawa mobil, kenapa jadi sering naik CL, apakah sudah terjadi penurunan kesejahteraan, apakah lalu lintas sangat macet jadi naik CL, apakah bekasi sebegitu parahnya sampai tidak nyaman untuk naik mobil dan seterusnya.. Dan saya pun menjawab secara random pertanyaan-pertanyaan itu dengan sempurna..

Ada dua hal saya terpaksa harus naik CL. Pertama adalah sesi 1. Kalau saya mengajar sesi 1 yang dimulai jam 7.30, peluang saya untuk datang terlambat kalau naik mobil cukup besar, sekitar 20-25 persen. Soalnya dalam 20 hari kerja selama sebulan, rata-rata saya telat itu 3-4 kali. Kalau datangnya sudah telat, biasanya perlu mood booster karena kesal datang terlambat. Hal kedua adalah non academic factor. Itu bisa macam-macam selain sesi 1. Misalnya saja waktu itu gembok mobil saya tidak bisa terbuka, bangun kesiangan, ada telpon penting... loh.. iya kadang telpon bisa lama..

Buat seorang komuter seperti saya, naik CL itu bisa membantu dari sisi waktu, tapi tidak dari sisi kenyamanan. Selain itu ada aja cerita hasil curi dengar pembicaran penumpang yang lagi ngobrol. Iya, biasanya saya naik CL tanpa teman, jadi kalau di stasiun atau di dalam gerbong ya asik sendiri. Kind of a loner type hehe..

Contohnya hari ini, saya jadi tau ternyata sinetron yang lagi happening itu zoda. Nah, saya yg jarang nonton tv jadi penasaran. Kata ibu-ibu penumpang CL, rajanya ganteng tapi sayang pendek hahaha.. trus saya juga jadi tau sate padang yg enak deket rumah saya waktu di dalam gerbong dan lg untel-untelan penumpangnya. Gerombolan penumpang CL itu asik ngomongin sate padang. Dari hasil curi dengar itu saya bisa tau kalau mereka tinggal deket area rumah saya.

Angkuta kereta api itu kalau di PDB yang berbasis SNA 1993 masuk ke dalam sektor angkutan, subsektor angkutan rel. Daya angkutnya yang besar untuk melintas antar kota dan tanpa macet plus biayanya yang murah, membuat komuter mengandalkan CL. Berdasarkan pengalaman saya naik CL, demand untuk subsektor ini sangat tinggi. Sayangnya tidak diiringi supply. Sebagai penganut general equilibrium garis keras, kalau supply tidak bisa nencukupi demand, ada kebijakan yang harus diambil. Ga mungkin kn kita impor jasa angkutan kereta, kecuali pmtbnya yang diimpor.

Di tengah carut marutnya sektor transportasi ini, ternyata saya bisa tertawa dalam hati. Menikmati sih ga juga, tapi daripada kesel lah.. jadi lihat sisi positifnya aja. Demikian juga untuk tahun ini, semoga saya jadi lebih positive thinking..

Monday, November 24, 2014

Bukan hari yang indah

Entah kenapa, bulan November ini rasanya seperti inversia dari kejadian-kejadian baik. Saya tetap berusaha untuk berada dalam kerangka baik sangka atas kejadian-kejadian ini. Workshop yang terganggu kuliah, harta yang hilang, jadwal yang tidak ramah, anak sakit, sampai bikin lecet mobil orang dan saya harus mengganti kerugiannya itu. Semuanya campur aduk membentuk suatu sistem yang memiliki dampak sistemik pada pola hidup saya. Hehehe..

Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..

Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe

Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.

Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.

Friday, October 17, 2014

Introduction to CGE.. again

Dilanjutkan lagi CGE nya ya..

Penjelasan pareto dalam tulisan ini adalah kondisi sederhana dan fokus pada kasus satu konsumen, dua faktor produksi dan dua komoditas

Keseimbangan Produksi
Dalam teori produksi dijelakan produsen berada dalam keseimbangan bila MRTSu = w1/w2 dimana w1 adalah harga faktor L (tenaga kerja) dan w2 adalah harga faktor K (modal). Jika ada dua perusahaan yang menghasilkan barang/komoditas yang sama (kita sebut saja x1 dan dan x2), keseimbangannya bisa dijelaskan melalui Edgeworth Box (ini ada di microeconomics-nya Nicholson).

Keseimbangan Konsumen
Pareto optimum pada konsumen, didekati dengan konsep Marginal Rate of Substitution (MRS). MRS menunjukkan kesediaan seorang konsumen untuk menukarkan satu unit terakhir dari suatu barang untuk mendapatkan beberapa unit barang lainnya. MRS sama dengan harga relatif kedua barang yang akan dikonsumsinya untuk mencapai kepuasan yang optimal.

Keseimbangan Sektor Produksi dan Konsumsi
Keseimbangan produksi dan konsumsi tercapai pada saat MRTPTu = MRS = P1/P2.
MRPT adalah tingkat transformasi suatu produk terhadap produk lain. MRS menunjukkan sejauh mana konsumen mau menukarkan suatu komoditias dengan komoditas lainnya. Keseimbangan terjadi jika transformasi produksi sesuai dengan tingkat substitusi konsumsi (Nicholson, 1994)

Asumsi
Ok, semua model pasti memiliki asumsi. Nah, selain memenuhi asumsi pasar persaingan sempurna dan efisiensi pareto, terdapat beberapa asumsi lain dari model CGE (Gilig dan Carl, 2002), yaitu :
1. Pada pasar komoditas dan pasar input, total permintaan = total penawaran
2. Pada tingkat harga keseimbangan keuntungan perusahaan = nol
3. Pendapatan rumah tangga = Pengeluaran rumah tangga
4. Penerimaan pemerintah = pengeluaran pemerintah

Dari asumsi tersebut bisa dilihat kalau model CGE adalah model ekonomi yang melihat ekonomi sebagai suatu sistem yang komplit. Model CGE dibuat pada level makro (agregat) tapi dengan memasukkan level mikro lebih rinci dengan adanya keterkaitan antara aktor ekonomi. Seluruh pasar secara jelas telah mencapai keseimbangan dan memiliki struktur tertentu yang didasari pada formula keseimbangan. Pasar mencapai keseimbangan jika memenuhi syarat : non negatif, homogen dan memiliki harga yang unik, tidak terjadi excess demand, dan efisiensi pada harga pasar.

Model CGE memiliki dua karakteristik, dioperasikan dengan harga relatif dan memenuhi hukum Walras dan numeraire (harga seluruh barang merupakan harga relatif terhadap suatu harga). Jadi tidak bisa dengan harga absolut. Model CGE terdiri dari banyak persamaan, yang solusinya menggambarkan keseimbangan umum. Persamaan-persamaan ini menggambarkan perilaku mikroekonomi yang umumnya merupakan persamaan nonlinier. Model CGE umumnya menggunakan closure makroekonomi. Suatu closure merefleksikan ketepatan asumsi dalam model. Closure menyediakan pilihan variabel-variabel yang menjadi variabel eksogen dan variabel endogen. Juga digunakan untuk menentukan simulasi berkenaan dengan skala waktu jangka panjang dan jangka pendek dengan mensubstitusi variabel eksogen dengan variabel endogen.

Jumlah variabel dalam model biasanya elbih besar dari persamaannya, sehingga harus ada variabel-variebel endogen dan eksogen. Variabel ensogen adalah variabel yang nilainya ditentukan dalam model. Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model.

Mudah-mudahan ini bisa jadi pengantar untuk memahami CGE. Mengenai teknis penghitungannya.. mungkin nanti kalau ada kesempatan saya coba tulis disini. Tapi ga janji..

Sunday, September 28, 2014

Introduction to CGE

Acara seminar dan sidang skripsi sudah hampir dua minggu berlalu. Kesibukan kedua acara tersebut melebihi sibuknya artis yang syuting secara striping untuk acara sinetron kejar tayang. Pokoknya hectic banget..

Dari beberapa sidang skripsi mahasiswa, semua menggunakan model ekonomi yang sama, yaitu model ekonometrika. Entah itu dengan data panel, time series atau dengan cross section yang pakai RLB. Saya kurang mengerti, apakah memang harus menggunakan model ekonometrika untuk dapat menjawab tujuan yang kebanyakan adalah menganalisis dampak variabel-variabel ekonomi. Karena ada model lain yang juga menggunakan statistik yang bisa menjelaskan fenomena ekonomi secara lebih komprehensif. Contohnya saja yang sudah diajarkan adalah model IO, model SNSE dan yang saat ini sedang happening adalah model CGE (Computable General Equilibrium).

CGE merupakan model struktural. Artinya, model ini dibangun dengan dasar-dasar teori mikroekonomi dan makroekonomi dimana perilaku agen-agen ekonomi dijelaskan secara spesfik dan detail dalam bentuk persamaan (behavioral equation). Oleh karena itu, model CGE dapat menjelaskan interaksi antara agen-agen yang berbeda pada suatu wilayah (bisa berupa negara atau daerah).

Sebenarnya, ada beberapa model ekonomi yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisis dampak perubahan variabel-variabel ekonomi, yang paling sering digunakan adalah model ekonometrika dan model CGE. Model lainnya adalah model keseimbangan parsial (partial equilibrium), yang salah satu aplikasinya adalah equilibrium displacement model, Input-output Model (Model IO) dan Social Accounting Matrix atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).

Model ekonometrika didasarkan pada analisis regresi dengan jenis data yang digunakan bisa berupa data cross section, time series, dan panel yang merupakan gabungan antara data cross section dan time series. Sehingga diperlukan series data yang cukup untuk melakukan estimasi parameter dan ada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terkait dengan regresinya. Ketersediaan series data dan konsistensinya seringkali menjadi masalah bila ingin menggunakan model ekonometrik pada data negara sedang berkembang.
Sementara itu, model CGE hanya mengacu pada tahun tertentu (particular benchmark years). Model CGE juga dapat melakukan analisis dan dampak pada tingkat mikroekonomi dan makroekonomi. Hal ini berbeda dengan yang terjadi bila menggunakan model ekonometrik yang biasanya hanya dapat melakukan analisis di tingkat makroekonomi.

Konsep dasar CGE adalah Efisiensi Pareto atau Pareto Optimum pada setiap agen ekonomi (produsen, konsumen, investor dan pemerintah). Dalam teori mikroekonomi, efisiensi dalam perekonomian dikenal dengan efisiensi pareto yang menjelaskan kondisi dimana satu pihak tidak dapat menignkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya. Konsep efisiensi pareto mencakup tiga jenis efisiensi :
1. efisiensi alokasi sumber daya (keseimbangan produksi)
2. efisiensi kombinasi distribusi komoditas (keseimbangan konsumsi)
3. efisiensi kombinasi produk (keseimbangan sektor produksi dan konsumsi)

Sebelum menggunakan model CGE, harus dipastikan dulu si pembangun model memiliki ilmu matematika (terutama kalkulus lah ya untuk optimasi), mikroekonomi (untuk menjelaskan efisiensi pareto), makroekonomi (untuk analisis dampaknya), plus komputasi (karena ini bukan model ekonometrika yang biasa pake eviews, jadi akan sangat membantu bila si pembuat model memahami algoritma komputasi karena software yang digunakan biasanya open source yang mengandalkan penguasaan syntax-syntaxnya).

...to be continued

Tuesday, September 16, 2014

puisi tanpa judul

Puisi ini ditemukan di laptop saya yang memang suka dipakai juga oleh anak-anak.
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :

sebanyak limit.

setiada nol.

aku tahu, aku bukan tentang segalanya ketika ia memanggangku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.

wahai, pemilik sebentang rasa penuh dusta dilema yang berani-beraninya menyelupkan diri dalam lautan pikiran, menyeruak di jeda senyap malam, dan mengabur ketika aku berusaha memecahkan persoalannya.

aku cuman sebutir rinai hujan,
ketidakinginan untuk pergi, kecewa, juga gelisahku pada awan selalu kubungkam.


Wednesday, August 27, 2014

Simple note from seminar

Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.

Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.

Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.

Klasik vs Bayesian

Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?

Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*

Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.

Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan

Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..