Pages

Saturday, December 18, 2010

the journal of cirebon

Rapat itu berjalan tiga hari, tapi dua hari efektif karena perjalanan yang harus ditempuh oleh teman-teman dari kab/kota se-Jawa Barat. Saya berangkat nebeng mobil bos bersama dua orang teman saya lainnya. Pagi sekitar jam 8 mulai jalan.

Menikmati pesisir utara sepanjang perjalanan, ngobrol yang ga jelas tujuannya, kemudian mampir di Pesona Laut untuk mengisi perut yang keroncongan karena sarapan yang ga nendang. Dan, sebagai manusia yang selalu ingin eksis, pastinya harus narsis dengan berfoto-foto di tepi pantai indramayu yang saat itu sedang pasang dan angin yang berhembus agak kencang.

Suasana seperti itu mengingatkan masa kecil saya yang hampir setiap minggu selalu ke pantai ancol, Jakarta cuma untuk jalan-jalan. Dulu tidak banyak event atau orang yang berjualan di pantai ancol, paling kita ke pasar seni untuk melihat lukisan dan bertemu dengan pak Tino Sidin karena dia juga sering ke sana atau baca buku gratis di toko buku gramedia (sekarang sudah tidak ada). Pantai Ancol dulu juga tidak kotor seperti sekarang, udaranya masih bersih, tidak penuh orang yang piknik, belum ada DUFAN, ah pokoknya enak lah..

Setelah makan, kita mampir ke rumah bos di Indramayu. Disuguhin mangga pastinya! hehehe, sampe di bawa ke Cirebon segala! Sempat mampir juga (cuma lewat) ke kantor di Indramayu.. Alhasil sampai di hotel sudah tengah hari. hehehe

Lalu pleno dimulai, hal pertama yang membuat saya tertawa adalah ruang rapat yang lucu, karena penempatan toilet yang rada aneh (menurut saya). Toilet itu seenaknya saja berada di depan, berdampingan dengan podium pembicara. Konyolnya lagi, pintunya itu hanya berupa tirai berwarna hijau garis-garis putih.. Ya Tuhan, siapakah yang mendesain aula seperti ini? Tapi ya sudahlah, mungkin toilet itu ga sengaja aja dibuat he he toilet yang aneh.. Saya sempat bertaruh dengan teman-teman saya, apa ada yang berani masuk ke toilet itu saat pleno sedang berlangsung. He hehe, manalah mereka berani. Sehebat apa pun seseorang ingin buang air kecil pada saat pleno, mana mau masuk ke toilet di depan itu, bisa-bisa dianggap mau maju ke depan.. hahay..

Lalu saya melihatnya, sekilas, melihat lagi, memastikan.. Dan saya menjadi beku. Saya tidak mungkin menghindarinya kan.. Jadi saya hanya memandang lurus ke depan, mengabaikan, dan terus membuat otak saya bekerja. Tidak pernah mudah buat saya, tapi itulah yang terjadi.

Sorenya, bersama sembilan orang teman saya yang ibu-ibu semua memutuskan untuk jalan-jalan dengan mobil kantor seorang teman. Kebanyakan mereka berasal dari bandung. Dan anehnya, kita malah jalan ke mal grage. Tuhan pun tau, bandung dan bekasi pun penuh dengan mal. Lebih parahnya lagi, kita di mal tersebut sampai tutup. Bahkan saya menyaksikan para SPG sedang briefing akhir dan absen pulang. Ya Tuhan, ampunilah saya.. Gilanya lagi, ibu-ibu itu pada borong saudara-saudara!!! Padahal harganya sama, barangnya juga sama, karena departemen store itu ada juga di bandung atau bekasi... parrrah parrraaah...

Hari kedua, big boss datang, tapi sudah siang. Sesi siang itu, direncanakan dimulai jam 13.30. Tapi baru juga jam 13.15 ketika saya sedang hebat-hebatnya dibuai kantuk, teman sekamar mengingatkan untuk segera masuk karena bosnya memanggil. Bos besar sudah bertengger di podium pembicara, dan sedang menegur sana sini karena telat masuk. Padahal jam tangan saya, di blackberry saya, di hp teman saya, di jam dinding, baru jam 13.20. Menurut bos besar, saat itu sudah jam 13.30. Manalah bisa!!! Tapi seperti yang dibilang direktur PLN, atasan adalah orang yang tidak bisa dilawan, kalau dilawan pasti kita kalah.. jadi, saya hanya terpekur mendengar omelannya.

Ketika sedang makan siang, sebelumnya, saya sempat mengusulkan untuk membuat seragam sesama komisi. Ide ini bukan ide baru, tapi memang sudah setahun yang lalu di facebook (bukti kalau ide ini memang lawas). Jadi kita berencana untuk pergi ke trusmi, memilih model kain batik, memesannya, dan dipakai untuk tahun depan. Perfect!

Itulah sebabnya, sore harinya kita serombongan sebanyak sembilan orang pergi ke trusmi. Yang saya sukai dari kota Cirebon adalah TIDAK MACET. Sungguh, kelancaran lalu lintas merupakan kejadian langka di Kota Bekasi. So, sampailah kita di suatu toko di trusmi (sorry ga disebut namanya), pilah pilih.. coba sana coba sini.. liat-liat sekedar cek harga. Deal.. bayar.. jreng.. Jam 7 baru kembali di hotel. Pertandingan semifinal piala AFF sudah mulai.. Yang paling penting makan malam masih ada, walaupun.. yah saya tidak bisa mendebat soal makanan.

Entah kenapa, tenggorokan saya menjadi sakit, suara seperti habis, termasuk air minum yang disediakan hotel di kamar juga habis. Padahal saat itu sudah jam 11 malam. Oh, terima kasih Tuhan atas cobaan ini..

Hari ketiga. Paginya, saya packing hasil belanjaan semalam dan jalan keluar bersama teman sekamar saya untuk makan nasi jamblang. Nah, buat yang belum tau nasi jamblang, tapi sudah tau nasi kucing, yah mirip lah.. cuma beda di bungkusannya. Kalau nasi jamblang pakai daun jati, nasi kucing pakai daun pisang. Khasnya, katanya di sambalnya yang berupa irisan cabai merah kecil-kecil.. Pada saat membayar, saya sempat terpana dengan tukang hitungnya. Dia itu membawa kalkulator harga 10 ribuan sambil menanyakan apa saja yang saya makan. Saya menyebutkan satu per satu dan tangannya langsung menekan tombol-tombol di kalkulatornya. Ketika saya menyebutkan makanan yang saya makan, pasti ada jedanya dong.. nah pada saat jeda itu pun, dia tetap menekan-nekan tombol kalkulator.. Wah, saya sempat berpikir negatif, jangan-jangan harganya jadi berkali lipat. Tapi ternyata tidak. Tombol apa yang dia tekan ya? Tanda + atau = he he he

Hari itu saya dan sepuluh orang lainnya yang berasal dari Depok, Bekasi, Bogor berencana naik kereta Argo Jati untuk pulang. Karena weekend dan rumah bos saya di Indramayu, ga mungkin lah dia balik lagi ke Bekasi..

Rapat selesai jam 10.30. Ketika saya bersiap-siap menunggu teman yang lainnya di lobi, saya diberi tahu kalau bos Sukabumi masuk rumah sakit karena serangan jantung dan dirawat di rumah sakit di pondok jati. Kereta yang akan saya tumpangi baru akan berangkat jam 2 siang. Jadi selama sisa waktu yang ada, saya cuma terduduk di loby bersama beberapa teman perempuan dan nasrani, karena yang lainnya sedang sholat Jum'at.

Sampai di rumah jam tujuh. Kondisi lelah, bete, tapi masih sempat update twitter dan baca bbm. Tertulis di grup saya, bos Sukabumi itu telah meninggal dunia jam 6. Innalillahi wa Innailaihi rojiun.. Kematian, cuma Allah yang tahu..

No comments: