Saya penggila novel, tampaknya itu tidak terbantahkan. Novel apa saja, mulai dari yang serius, fiksi, non fiksi, yang ceritanya rumit, yang plotnya ga jelas, bahkan roman picisan pun jadi. Kebiasaan membaca novel ini sedemikian sulitnya dihentikan, sampai-sampai dulu adik ipar saya waktu lagi pedekate dengan keluarga saya memberikan novel harry potter sebagai sogokannya.. ha ha ha.. it works!
Waktu kecil, bacaan saya mungkin sama seperti teman-teman se-kohort (baca: teman seusia). Novel serial lima sekawan, trio detektif, si badung, pokoknya semua karangan enid blyton baik yang beli sendiri, pinjam ke teman, pinjam ke perpus atau baca gratisan di toko buku adalah novel masa kecil saya.
Sedikit aja gede, saya beralih ke novel-novelnya agatha christie, john grisham, sidney sheldon dan lain-lain. Terus lebih tua lagi mulai baca novel-novelnya Maria A. Sarjono karena waktu itu ada beberapa bukunya yang menjadi cerita bersambung di salah satu majalah wanita. Banyak lah pengarang novel yang ga saya hafal.
Kebiasaan itu berlanjut hingga saya menikah 14 tahun yang lalu. Saya juga tidak terpaku pada pengarangnya, apakah dia pengarang terkenal atau tidak, dalam negeri atau luar negeri. Suami saya bahkan dengan senang hati meminjam novel-novel tersebut dari perpustakaan di daerah pasar minggu (dekat kantornya) untuk saya baca. Setiap kali dia memulangkan buku-buku tersebut dan meminjam yang lainnya, si penjaga perpustakaan bertanya apa dia tau ceritanya? Suami saya bilang istrinyalah yang membacanya, si penjaga merasa aneh aja.
Mungkin, memory saya yang lemah atau saya memang hanya menganggap membaca novel itu sebagai hiburan, saya sangat jarang hapal dengan ceritanya. Beberapa yang bagus dan menarik, memang benar-benar melekat di benak saya dan tidak mau pergi walau saya mengusirnya:) Selebihnya, saya harus membacanya lagi.
Selama ini saya sudah menjual dua kardus besar novel-novel lama saya, membakar 3 kardus ukuran indomie karena sudah tidak layak baca (kondisinya mengenaskan) dan saat ini ada dua box plastik ukuran sedang di kamar saya, satu lemari buku di ruang keluarga, setengah lemari di kamar anak saya, dan ada sekitar 5-7 novel yang bertebaran tak jelas dimana-mana. Belum lagi yang dipinjam oleh teman-teman suami dan anak saya.
Ya, saya juga baca novel-novel teenlit, chiclit dan lit lit lainnya itu. Lumayan menghibur kok. Apalagi yang saya cari dari membaca novel kalau bukan hiburan. Kalau boleh jujur, saya malu sekali waktu diklat pimpinan, saya harus masuk asrama. Waktu itu saya membawa novel-novelnya Stephenie Meyer alias trilogi twilight. Lagi ngetrend waktu itu novelnya. Teman sekamar saya yang punya anak gadis sempat geleng-geleng karena bacaan saya sama seperti bacaan anaknya.. he he. Waktu anaknya datang untuk menjenguknya, dia memperkenalkan saya, "ini lho tante monik yang bacaannya gaul itu".
Kadang-kadang saya juga menonton novel yang difilmkan, walaupun kadang kurang sreg juga. Yah, bagaimanapun juga imaginasi yang diperoleh dari membaca novel jauh lebih liar dibandingkan dengan imaginasi yang diterjemahkan ke dalam film. Misalnya aja shopaholic, laskar pelangi, sherlock holmes.. Jauh.. jauh lebih seru membaca novelnya.
Saat ini, ada dua novel di meja kamar saya, the rosetti letter dan sang pencerah. Keduanya saya beli satu setengah bulan yang lalu. Bungkus plastiknya sudah saya buang, sudah saya belai-belai, bolak-balik halamannya, tapi belum saya baca. Saya selalu berencana lazy sunday adalah waktu untuk membaca novel. Tapi terus terang kedua novel itu tersalip dengan novel yang baru saya beli kemarin dan sudah habis saya baca, the shiver.. he he..
Kalau sudah begini, apakah saya memang penggila novel, atau sekedar mengoleksinya?
No comments:
Post a Comment