Everybody needs a break and escape from the routine. At least that's what I believe (since couple hours ago hehehe). And I did it (I'm not proud but i like to make a confession).
Well, actually it happened when my boy need my presence at school to finish the unfinished matter (whooaaa.. kinda strange eh?). So, after coming to office and doing some works, I went to my boy's school. It only took two or three hours to talk to his teacher and do the form submission ( I need to check them out).
Then I went home.. haiyyyaaa.. what a crap!
I think I need time to be irresponsible person for a while. So, what i do at home? Nothing.. I just ate and watched the movie.. hihihi..
But I went back to office at 12. And i write this confession..
God, I know I need to know how it feels to be irresponsible, but after all, I don't enjoy it much.. Sorry..
Friday, March 25, 2011
Sunday, March 20, 2011
From Korean Series
Sudah banyak judul Korean Series yang ditonton. Dari semuanya, dilihat dari tampilannya bisa diambil beberapa catatan sebagai berikut :
1. Mereka cinta produk dalam negeri.
Sepertinya saya belum pernah melihat sebuah screen yang tidak menampilkan produk asli Korea. Mulai dari mobil yang mereka gunakan (terutama untuk Korean Series yang baru2) yang ditampilkan selalu mobil-mobil produksi mereka macam hyundai atau KIA. Begitu juga handphone kalo ga LG ya Samsung. Gadget mereka, yang ditampilkan adalah produk bikinan mereka walaupun hasil meniru. Dan mereka bangga!
2. Kuliner mereka lestari
Dalam Korean Series, walaupun ceritanya tentang remaja atau anak sekolahan, tapi gaya kuliner mereka tetap Korea yang makan nasi, sayuran dan buah. Tidak terlihat di screen mereka lagi nongkrong di McD atau franchise barat lainnya. Kalaupun ada frame yang menceritakan lagi makan burger atau hotdog, itu adalah resto mereka bukan franchise dari barat.
3. Aja aja fighting!
Kata kata ini hampir selalu ada di setiap Korean Series yang sudah ditonton. Ini adalah kata-kata penyemangat kalau lagi down. Maksudnya supaya tidak segera menyerah dan tetap berusaha.
4. Pemandangan
Tidak perlu diragukan lagi, mereka pinter ngambil view yang bagus. Musim dingin diolah sedemikian rupa jadi lebih menarik. Musim gugur juga begitu, ranting-ranting kering kenapa jadi enak dilihat ya? Hal sepele diolah dan dikemas sedemikian rupa menjadi luar biasa dan enak dilihat.
5. Lesson of life
Korean Series memang tak ubahnya sinetron di Indonesia. Ceritanya sederhana dan mudah dicerna serta tidak pakai ribet dan terkadang sedikit lebay dan bertele-tele. Tetapi dalam setiap Korean Series, mereka selalu memasukkan pelajaran hidup di dalam adegan dan ceritanya. Tanpa terkesan menggurui dan mendikte. Ini yang menjadi kekurangan dalam sinetron di Indonesia. Kalaupun ada message nya terkesan sangat menggurui.
6. Friendly episode
Jumlah episode Korean Series memang bener2 friendly, sekitar 15-30 episode tiap judulnya. Ini dikemas dalam 3-4 DVD. Kalau beli bajakan pun sekitar 30 ribuan. Satu seri bisa ditonton untuk seminggu, tergantung kondisi, mau stripping nontonnya atau santai. Dibandingkan kalau saya membeli novel yang harganya sudah diatas 50 ribuan dan habis dalam sekejap (kpm saya tinggi) acara nonton Korean Series ini jadi alternatif hiburan yang murah. Tapi mata saya lebih cepat lelah menonton dibandingkan membaca.
Okay, itu saja beberapa catatan dari Korean Series. Ambil bagusnya buang jeleknya. Tiru baiknya lupakan buruknya..
1. Mereka cinta produk dalam negeri.
Sepertinya saya belum pernah melihat sebuah screen yang tidak menampilkan produk asli Korea. Mulai dari mobil yang mereka gunakan (terutama untuk Korean Series yang baru2) yang ditampilkan selalu mobil-mobil produksi mereka macam hyundai atau KIA. Begitu juga handphone kalo ga LG ya Samsung. Gadget mereka, yang ditampilkan adalah produk bikinan mereka walaupun hasil meniru. Dan mereka bangga!
2. Kuliner mereka lestari
Dalam Korean Series, walaupun ceritanya tentang remaja atau anak sekolahan, tapi gaya kuliner mereka tetap Korea yang makan nasi, sayuran dan buah. Tidak terlihat di screen mereka lagi nongkrong di McD atau franchise barat lainnya. Kalaupun ada frame yang menceritakan lagi makan burger atau hotdog, itu adalah resto mereka bukan franchise dari barat.
3. Aja aja fighting!
Kata kata ini hampir selalu ada di setiap Korean Series yang sudah ditonton. Ini adalah kata-kata penyemangat kalau lagi down. Maksudnya supaya tidak segera menyerah dan tetap berusaha.
4. Pemandangan
Tidak perlu diragukan lagi, mereka pinter ngambil view yang bagus. Musim dingin diolah sedemikian rupa jadi lebih menarik. Musim gugur juga begitu, ranting-ranting kering kenapa jadi enak dilihat ya? Hal sepele diolah dan dikemas sedemikian rupa menjadi luar biasa dan enak dilihat.
5. Lesson of life
Korean Series memang tak ubahnya sinetron di Indonesia. Ceritanya sederhana dan mudah dicerna serta tidak pakai ribet dan terkadang sedikit lebay dan bertele-tele. Tetapi dalam setiap Korean Series, mereka selalu memasukkan pelajaran hidup di dalam adegan dan ceritanya. Tanpa terkesan menggurui dan mendikte. Ini yang menjadi kekurangan dalam sinetron di Indonesia. Kalaupun ada message nya terkesan sangat menggurui.
6. Friendly episode
Jumlah episode Korean Series memang bener2 friendly, sekitar 15-30 episode tiap judulnya. Ini dikemas dalam 3-4 DVD. Kalau beli bajakan pun sekitar 30 ribuan. Satu seri bisa ditonton untuk seminggu, tergantung kondisi, mau stripping nontonnya atau santai. Dibandingkan kalau saya membeli novel yang harganya sudah diatas 50 ribuan dan habis dalam sekejap (kpm saya tinggi) acara nonton Korean Series ini jadi alternatif hiburan yang murah. Tapi mata saya lebih cepat lelah menonton dibandingkan membaca.
Okay, itu saja beberapa catatan dari Korean Series. Ambil bagusnya buang jeleknya. Tiru baiknya lupakan buruknya..
Friday, March 18, 2011
Mengeluh tidak menyelesaikan masalah
Seringkali tidak disadari kita sering mengeluh untuk hal-hal sepele. Seperti cuaca yang panas atau hujan, antrian yang panjang, kemacetan, pekerjaan yang belum selesai, bahkan sampai urusan pembantu, anak-anak maupun pasangan hidup pun selalu dikeluhkan. Dulu, waktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar saya sering mengeluhkan guru yang pilih kasih. Karena keseringan mengeluh walaupun dalam hati, prestasi saya pun melorot. Kejadiannya waktu kelas empat. Entah kenapa tiba-tiba saya mendapat semangat baru untuk tidak mempedulikan sikap guru tersebut dan hanya fokus pada pelajaran saja. Hasilnya menakjubkan! Nilai-nilai saya menjadi jauh lebih bagus dibandingkan saat saya banyak mengeluh.
Begitu pula pada saat kuliah, karena harus berangkat dari rumah jam 5.15 pagi. Padahal dari TK hingga SMA jarak antara rumah dan sekolah tidak pernah jauh. Awal kuliah adalah saat yang berat karena saya berangkat dari Bekasi ke Depok dengan angkutan umum pula. Tetapi, ketika saya diterima di sekolah kedinasan, saya malah merindukan saat-saat kuliah di UI. Karena kuliah di sekolah kedinasan trrsebut adaptasinya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi :)
Lalu, saya menerimanya begitu saja dan berhenti mengeluh, karena masa depan saya dirangkai disana. Hari demi demi hari dijalani saja tanpa banyak mengeluh. Macet di pulogadung dinikmati, pulang kuliah harus les bahasa inggris di LIA, ya dinikmati saja.. Akhirnya, selesai juga dan ditugaskan di tempat yang baik.
Sudah bekerja pun, saya masih suka mengeluh.. Harus ke lapangan sampai malam lah, dimarahin responden lah, rekan kerja yang ga friendly, kebijakan yang makan ati.. Selalu ada hal yang dikeluhkan. Tetapi semuanya sama, semakin saya sering mengeluh semakin tidak nyaman untuk dikerjakan dan semakin tidak berarti apa yang sudah dikerjakan. Pelajaran hidup yang mengagumkan ini saya dapat dari hasil mengamati kehidupan ibu saya.
Ibu, tidak memiliki pendidikan yang baik. SD saja beliau tidak tamat. Bapak saya juga bukan orang yang memiliki pekerjaan stabil. Pernah selama dua tahun bapak saya tidak bisa menafkahi kami karena sakit. Dan demi Allah, tidak sekalipun saya mendengar ibu saya mengeluh, padahal saat itu saya sedang duduk di bangku SMP dan membutuhkan biaya yang besar. Beliau hanya berusaha mencari jalan untuk mendapatkan uang tanpa harus berhutang. Padahal sekolah SD pun tidak dapat. Menurut beliau, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak bisa bersyukur dan tidsk akan mengatasi apapun.
Waktu ibu menunaikan ibadah haji tahun 2003 doa yang beliau panjatkan untukku adalah agar aku menjadi orang yang bersyukur. Katanya, kalau kita bersyukur maka nikmatnya akan ditambah oleh Allah. Padahal waktu itu saya menitip doa agar saya dibebaskan dari hutang. Bahkan, saya yang dianugerahi pendidikan yang jauh lebih baik tidak berpikir hingga kesitu.
Mengeluh memang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah hanya akan membuat kita tidak bersyukur. Dan bila kita tidak bersyukur, nikmatnya tidak akan ditambah oleh Allah SWT. Jadi, dilarang mengeluh!
Begitu pula pada saat kuliah, karena harus berangkat dari rumah jam 5.15 pagi. Padahal dari TK hingga SMA jarak antara rumah dan sekolah tidak pernah jauh. Awal kuliah adalah saat yang berat karena saya berangkat dari Bekasi ke Depok dengan angkutan umum pula. Tetapi, ketika saya diterima di sekolah kedinasan, saya malah merindukan saat-saat kuliah di UI. Karena kuliah di sekolah kedinasan trrsebut adaptasinya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi :)
Lalu, saya menerimanya begitu saja dan berhenti mengeluh, karena masa depan saya dirangkai disana. Hari demi demi hari dijalani saja tanpa banyak mengeluh. Macet di pulogadung dinikmati, pulang kuliah harus les bahasa inggris di LIA, ya dinikmati saja.. Akhirnya, selesai juga dan ditugaskan di tempat yang baik.
Sudah bekerja pun, saya masih suka mengeluh.. Harus ke lapangan sampai malam lah, dimarahin responden lah, rekan kerja yang ga friendly, kebijakan yang makan ati.. Selalu ada hal yang dikeluhkan. Tetapi semuanya sama, semakin saya sering mengeluh semakin tidak nyaman untuk dikerjakan dan semakin tidak berarti apa yang sudah dikerjakan. Pelajaran hidup yang mengagumkan ini saya dapat dari hasil mengamati kehidupan ibu saya.
Ibu, tidak memiliki pendidikan yang baik. SD saja beliau tidak tamat. Bapak saya juga bukan orang yang memiliki pekerjaan stabil. Pernah selama dua tahun bapak saya tidak bisa menafkahi kami karena sakit. Dan demi Allah, tidak sekalipun saya mendengar ibu saya mengeluh, padahal saat itu saya sedang duduk di bangku SMP dan membutuhkan biaya yang besar. Beliau hanya berusaha mencari jalan untuk mendapatkan uang tanpa harus berhutang. Padahal sekolah SD pun tidak dapat. Menurut beliau, orang yang banyak mengeluh adalah orang yang tidak bisa bersyukur dan tidsk akan mengatasi apapun.
Waktu ibu menunaikan ibadah haji tahun 2003 doa yang beliau panjatkan untukku adalah agar aku menjadi orang yang bersyukur. Katanya, kalau kita bersyukur maka nikmatnya akan ditambah oleh Allah. Padahal waktu itu saya menitip doa agar saya dibebaskan dari hutang. Bahkan, saya yang dianugerahi pendidikan yang jauh lebih baik tidak berpikir hingga kesitu.
Mengeluh memang tidak akan menyelesaikan masalah. Malah hanya akan membuat kita tidak bersyukur. Dan bila kita tidak bersyukur, nikmatnya tidak akan ditambah oleh Allah SWT. Jadi, dilarang mengeluh!
Wednesday, March 16, 2011
Sebuah catatan yang menggugah..
-----Original Message-----
From: Nur Rahadiani
Sent: 14/03/2011 18:35:00
Subject: [Medical_UI_98] Bencana di Jepang: Up date Hari Ke-empat
Dear all,
Alhamdulillah, hari ini hari ke-4 setelah bencana gempa dan tsunami menimpa
Jepang. Kami yg berdomisili di daerah Kansai (Osaka, Kobe, Kyoto, dsk) dalam
keadaan sehat wal afiat. Semoga seterusnya demikian.
Walaupun beberapa gempa susulan masih dapat dirasakan di daerah yg lokasinya
dekat dgn episentrum gempa. Gempa terakhir dilaporkan terjadi pagi ini di
Ibaraki-ken (sebelah Tokyo) berkekuatan 6 SR. Namun, peringatan akan terjadinya
tsunami di seluruh daerah pantai timur sudah dicabut resmi oleh pemerintah
Jepang sejak malam tadi. Alhamdulillah.
Provinsi Miyagi, terutama kota Sendai, salah satu tempat paling parah yg
mengalami tsunami, sudah mulai berbenah. Di kota ini terdapat salah satu
universitas papan atas Jepang, yaitu Tohoku university. Banyak mahasiswa
Indonesia beserta keluarga mereka tinggal di kota ini. Sampai skrg, mereka yg
selamat masih tinggal di pengungsian: gedung-gedung sekolah, stadium OR, balai
kota, dan tempat lain. Rencananya, secara berangsur-angsur, mereka akan dijemput
dan direlokasikan ke SRIT (Sekolah Rakyat Indonesia di Tokyo) oleh KBRI untuk
mendapatkan perawatan, pelayanan dan pendataan yg lebih memadai....Sendai masih
gelap gulita, dingin luar biasa, dan carut marut penuh dgn sampah akibat
tsunami. Mari kita doakan semua korban agar segera terbebas dari ketakutan dan
kemalangan. Amin.
Efek gempa dan tsunami yg menimpa Jepang kali ini mmg sangat dahsyat. Dampaknya
bagi kehidupan bernegara, jauh lebih besar dibanding dengan yg pernah dialami
Indonesia dgn gempa-tsunami Aceh lalu. Jika dulu, gempa di Aceh hampir tidak
terasa di Jkt, gempa Jepang kali ini mengubah `ritme` kehidupan Tokyo sebagai
pusat pemerintahan dan ekonomi.
Per hari ini, Tokyo dan kota-kota di sekitarnya dilaporkan akan mengalami
pemadaman listrik secara bergilir. Kereta dan subway pun tidak akan beroperasi
secara normal untuk menghemat konsumsi listrik. Ini semuanya terpaksa dilakukan
karena pasokan listrik berkurang sejak meledaknya reaktor no.1 plt nuklir di
Fukushima dan down-nya pendingin reaktor no.2 di plt yang sama. Penumpang
menumpuk di stasiun-satiun kereta. Hampir semuanya terlambat tiba di
kantor/sekolah akibat waktu tempuh yg berlipat menjadi 3 atau 4 kalinya. Namun
demikian, chaos dan kepanikan tidak pernah terlihat di Tokyo, bahkan dalam
keadaan darurat spt ini. Semua org ttp tertib, rapi mengantri dan mendahulukan
org lain. Mereka berprinsip, itu adalah sumbangsih mereka untuk membuat keadaan
tidak bertambah parah. Salut!
Kami, pelajar Indonesia yg sedang kuliah di sini merasakan betul kekaguman luar
biasa untuk bangsa Jepang. Triple bencana (gempa, tsunami, ledakan pltn) yg
dialami mereka skrg tidak membuat mereka hanyut dalam kesedihan atau peratapan
nasib. Yang ada justru sikap saling bahu-membahu, ttp dalam sikap tenang dan
tegar. Falsafah hidup mereka yang `ganbaru` (berjuang sekuat mungkin) menjadi
penguat hati dan generator energi yg paling besar.
Televisi Jepang menyiarkan laporan perkembangan bencana non-stop, terus menurus
tanpa jeda iklan, semenjak hari Jum`at lalu, di seluruh channelnya. Namun tidak
ada iringan lagu sedih, liputan anak menangis, dan lain-lain yg sering kali kita
lihat di liputan bencana ala tv Indonesia. Metode yg bagus sekali untuk tidak
mengkondisikan kesedihan yg berkepanjangan. Di lain sisi, yang disiarkan adalah
imbauan-imbauan pemerintah ttg hal-hal apa saja yg harus diperbuat untuk
kebaikan bersama. Seperti menghemat listrik dgn meminimalisasi penggunaan alat
elektronik, meng-unplug kabel, dll. Juga diajarkan cara-cara untuk survive spt
menggunakan air scr hemat, merakit kompor sendiri, dll. Disiarkan juga
nomer-nomer call center yg bisa dihub 24 jam, rs darurat, pemadam kebakaran,
dll...Dan yang lebih mengharukan adalah kesungguhan para pemimpin mereka untuk
melayani rakyat yg sedang kesusahan!
Perdana menteri Naoto Kan selalu muncul di tv menggunakan baju lapangan spt org
para pekerja. Semua mentri pun demikian. Dilaporkannya apa yg sudah ditempuh
sampai hari ini, apa saja yg berhasil ditanggulangi, apa rencana ke depan,
berapa jumlah korban teridentifikasi dll. Wajahnya tampak jelas kelelahan. Tapi
suara dan isi pidatonya selalu mengugah semangat rakyat untuk terus berjuang,
gambaru bersama-sama. Aduhai, alangkah bahagianya rakyat Jepang dipimpin
orang-orang yg dapat dipercaya!
Tabik kami untuk mereka, bangsa Jepang dan para pemimpin mereka yg amanh,
setulus-tulusnya...
Demikian up date dari Osaka kali ini. Mohon doa dari kawan-kawan semua. Mohon
maaf bila ada yg kurang berkenan..
Salam,
dian
Nur Rahadiani
Department of Histopathology (C3)
Graduate school of Medicine, Faculty of Medicine
Osaka University, JAPAN
phone : 81-80-5337-7666
From: Nur Rahadiani
Sent: 14/03/2011 18:35:00
Subject: [Medical_UI_98] Bencana di Jepang: Up date Hari Ke-empat
Dear all,
Alhamdulillah, hari ini hari ke-4 setelah bencana gempa dan tsunami menimpa
Jepang. Kami yg berdomisili di daerah Kansai (Osaka, Kobe, Kyoto, dsk) dalam
keadaan sehat wal afiat. Semoga seterusnya demikian.
Walaupun beberapa gempa susulan masih dapat dirasakan di daerah yg lokasinya
dekat dgn episentrum gempa. Gempa terakhir dilaporkan terjadi pagi ini di
Ibaraki-ken (sebelah Tokyo) berkekuatan 6 SR. Namun, peringatan akan terjadinya
tsunami di seluruh daerah pantai timur sudah dicabut resmi oleh pemerintah
Jepang sejak malam tadi. Alhamdulillah.
Provinsi Miyagi, terutama kota Sendai, salah satu tempat paling parah yg
mengalami tsunami, sudah mulai berbenah. Di kota ini terdapat salah satu
universitas papan atas Jepang, yaitu Tohoku university. Banyak mahasiswa
Indonesia beserta keluarga mereka tinggal di kota ini. Sampai skrg, mereka yg
selamat masih tinggal di pengungsian: gedung-gedung sekolah, stadium OR, balai
kota, dan tempat lain. Rencananya, secara berangsur-angsur, mereka akan dijemput
dan direlokasikan ke SRIT (Sekolah Rakyat Indonesia di Tokyo) oleh KBRI untuk
mendapatkan perawatan, pelayanan dan pendataan yg lebih memadai....Sendai masih
gelap gulita, dingin luar biasa, dan carut marut penuh dgn sampah akibat
tsunami. Mari kita doakan semua korban agar segera terbebas dari ketakutan dan
kemalangan. Amin.
Efek gempa dan tsunami yg menimpa Jepang kali ini mmg sangat dahsyat. Dampaknya
bagi kehidupan bernegara, jauh lebih besar dibanding dengan yg pernah dialami
Indonesia dgn gempa-tsunami Aceh lalu. Jika dulu, gempa di Aceh hampir tidak
terasa di Jkt, gempa Jepang kali ini mengubah `ritme` kehidupan Tokyo sebagai
pusat pemerintahan dan ekonomi.
Per hari ini, Tokyo dan kota-kota di sekitarnya dilaporkan akan mengalami
pemadaman listrik secara bergilir. Kereta dan subway pun tidak akan beroperasi
secara normal untuk menghemat konsumsi listrik. Ini semuanya terpaksa dilakukan
karena pasokan listrik berkurang sejak meledaknya reaktor no.1 plt nuklir di
Fukushima dan down-nya pendingin reaktor no.2 di plt yang sama. Penumpang
menumpuk di stasiun-satiun kereta. Hampir semuanya terlambat tiba di
kantor/sekolah akibat waktu tempuh yg berlipat menjadi 3 atau 4 kalinya. Namun
demikian, chaos dan kepanikan tidak pernah terlihat di Tokyo, bahkan dalam
keadaan darurat spt ini. Semua org ttp tertib, rapi mengantri dan mendahulukan
org lain. Mereka berprinsip, itu adalah sumbangsih mereka untuk membuat keadaan
tidak bertambah parah. Salut!
Kami, pelajar Indonesia yg sedang kuliah di sini merasakan betul kekaguman luar
biasa untuk bangsa Jepang. Triple bencana (gempa, tsunami, ledakan pltn) yg
dialami mereka skrg tidak membuat mereka hanyut dalam kesedihan atau peratapan
nasib. Yang ada justru sikap saling bahu-membahu, ttp dalam sikap tenang dan
tegar. Falsafah hidup mereka yang `ganbaru` (berjuang sekuat mungkin) menjadi
penguat hati dan generator energi yg paling besar.
Televisi Jepang menyiarkan laporan perkembangan bencana non-stop, terus menurus
tanpa jeda iklan, semenjak hari Jum`at lalu, di seluruh channelnya. Namun tidak
ada iringan lagu sedih, liputan anak menangis, dan lain-lain yg sering kali kita
lihat di liputan bencana ala tv Indonesia. Metode yg bagus sekali untuk tidak
mengkondisikan kesedihan yg berkepanjangan. Di lain sisi, yang disiarkan adalah
imbauan-imbauan pemerintah ttg hal-hal apa saja yg harus diperbuat untuk
kebaikan bersama. Seperti menghemat listrik dgn meminimalisasi penggunaan alat
elektronik, meng-unplug kabel, dll. Juga diajarkan cara-cara untuk survive spt
menggunakan air scr hemat, merakit kompor sendiri, dll. Disiarkan juga
nomer-nomer call center yg bisa dihub 24 jam, rs darurat, pemadam kebakaran,
dll...Dan yang lebih mengharukan adalah kesungguhan para pemimpin mereka untuk
melayani rakyat yg sedang kesusahan!
Perdana menteri Naoto Kan selalu muncul di tv menggunakan baju lapangan spt org
para pekerja. Semua mentri pun demikian. Dilaporkannya apa yg sudah ditempuh
sampai hari ini, apa saja yg berhasil ditanggulangi, apa rencana ke depan,
berapa jumlah korban teridentifikasi dll. Wajahnya tampak jelas kelelahan. Tapi
suara dan isi pidatonya selalu mengugah semangat rakyat untuk terus berjuang,
gambaru bersama-sama. Aduhai, alangkah bahagianya rakyat Jepang dipimpin
orang-orang yg dapat dipercaya!
Tabik kami untuk mereka, bangsa Jepang dan para pemimpin mereka yg amanh,
setulus-tulusnya...
Demikian up date dari Osaka kali ini. Mohon doa dari kawan-kawan semua. Mohon
maaf bila ada yg kurang berkenan..
Salam,
dian
Nur Rahadiani
Department of Histopathology (C3)
Graduate school of Medicine, Faculty of Medicine
Osaka University, JAPAN
phone : 81-80-5337-7666
Tuesday, March 15, 2011
ketika sedang mengantuk
Sumpah setengah mati, pagi ini sel-sel kelabuku tidak bisa bekerja dengan sempurna.. Sepertinya kekurangan oksigen karena aku luar biasa mengantuk.
Sulit sekali rasanya untuk tune in kalau sedang mengantuk seperti ini. Apalagi ini adalah kantuk bawaan dari rumah. Yah, inilah ganjarannya kalau semalaman ngoprek iPad sampai malam dan tidak kenal waktu. Sepertinya aku mulai addict dan akan sering bertemu dengan iTunes untuk malam-malam berikutnya.. Keseimbangan terganggu sudah..
Alhasil, untuk meminimalisir kantuk ini, semua social media kuaktifkan.. twitter, facebook, chit chat sana sini ga jelas.. cuma supaya ga ngantuk.. Hasilnya? melek ga malah tambah ngantuk.
Katanya kalau mengantuk harus banyak bergerak. Tapi tadi aku sudah beres-beres banyak file di meja.. masih ngantuk aja..
Aku butuh mantra ajaib yang bisa mengusir kantuk ini segera..
Sulit sekali rasanya untuk tune in kalau sedang mengantuk seperti ini. Apalagi ini adalah kantuk bawaan dari rumah. Yah, inilah ganjarannya kalau semalaman ngoprek iPad sampai malam dan tidak kenal waktu. Sepertinya aku mulai addict dan akan sering bertemu dengan iTunes untuk malam-malam berikutnya.. Keseimbangan terganggu sudah..
Alhasil, untuk meminimalisir kantuk ini, semua social media kuaktifkan.. twitter, facebook, chit chat sana sini ga jelas.. cuma supaya ga ngantuk.. Hasilnya? melek ga malah tambah ngantuk.
Katanya kalau mengantuk harus banyak bergerak. Tapi tadi aku sudah beres-beres banyak file di meja.. masih ngantuk aja..
Aku butuh mantra ajaib yang bisa mengusir kantuk ini segera..
hakunamatata
Hakunamatata.. means no worry
Who am I worrying about?
Nothing.. but due date
Why due date?
Because it pushes my limits
And what is my limit?
My patience..
What will happen if I lose my patience?
I'll be no longer a nice person
How come?
Okay, I'll think twice then..
Who am I worrying about?
Nothing.. but due date
Why due date?
Because it pushes my limits
And what is my limit?
My patience..
What will happen if I lose my patience?
I'll be no longer a nice person
How come?
Okay, I'll think twice then..
Monday, March 14, 2011
Jumlah Si Miskin
oleh Kecuk Suhariyanto
Sejumlah tokoh lintas agama membuat pernyataan terbuka. Mereka menyebut pemerintah telah berbohong. Tidak tanggung-tanggung kebohongan itu. Jumlahnya delapan belas, terdiri dari sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru. Demikian tersua di pelbagai media.
Karena pernyataan terbuka ini merupakan seruan moral tokoh lintas agama yang tak punya kepentingan politik praktis, gaungnya ke mana-mana. Pemerintah berusaha membela diri, tetapi membikin situasi justru lebih buruk. Pemerintah dinilai kurang arif dan tak mau menerima masukan konstruktif.
Salah satu kebohongan lama yang disebutkan adalah perihal penyampaian angka kemiskinan. Pemerintah dituduh berbohong karena menyatakan jumlah penduduk miskin 2010 adalah 31,02 juta jiwa, padahal data penduduk yang layak menerima beras miskin 70 juta jiwa.
Pertanyaannya, mengapa sampai ada dua angka kemiskinan yang jauh berbeda, padahal keduanya sama-sama berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Data kemiskinan makro
Mencoba menghitung jumlah penduduk miskin bukan pekerjaan mudah. Setakat ini belum satu pun metodologi yang sempurna memotret kemiskinan. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi maknanya sangat luas sehingga bisa mengundang perdebatan panjang. Contohnya, apa yang dimaksud dengan kehidupan bermartabat. Apa pula yang termasuk hak-hak dasar? Apalagi, tidak semua hak dasar dapat dikuantifikasi, seperti rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.
Dari definisi itu terlihat bahwa kemiskinan merupakan masalah multidimensi. Sulit mengukurnya sehingga perlu kesepakatan pendekatan pengukuran yang dipakai.
Salah satu konsep penghitungan kemiskinan yang diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan konsep ini, definisi kemiskinan yang sangat luas mengalami penyempitan makna karena kemiskinan hanya dipandang sebagai ketakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Dalam terapannya, dihitunglah garis kemiskinan absolut. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin. Penghitungan penduduk miskin ini didasarkan pada data sampel, bukan data sensus, sehingga hasilnya sebetulnya hanyalah estimasi.
Data yang dihasilkan biasa disebut data kemiskinan makro. Di Indonesia, sumber data yang digunakan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional. Pencacahannya dilakukan setiap Maret dengan jumlah sampel 68.000 rumah tangga. BPS menyajikan data kemiskinan makro ini sejak tahun 1984 sehingga perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin bisa diikuti dari waktu ke waktu.
Salah satu data kemiskinan yang mengundang polemik panjang adalah data kemiskinan pada Maret 2006. BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta jiwa (15,97 persen) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta jiwa (17,75 persen) pada Maret 2006 karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Data kemiskinan makro yang terakhir dikeluarkan BPS adalah posisi Maret 2010 ketika jumlah penduduk miskin 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen total penduduk Indonesia. Data ini hanya menunjukkan estimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan serta evaluasi program kemiskinan dengan target geografis.
Akan tetapi, data itu tidak dapat menunjukkan siapa dan di mana alamat penduduk miskin sehingga tidak operasional untuk program penyaluran bantuan langsung, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Data kemiskinan mikro
Masalah muncul saat pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun 2005 dan ingin memberi kompensasi kepada penduduk lapisan bawah berupa penyaluran bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat. Orientasi program penanggulangan kemiskinan di Indonesia mendadak berubah total.
Di zaman Orde Baru, program penanggulangan kemiskinan memakai pendekatan geografis (desa), seperti Inpres Desa Tertinggal. Sejak tahun 2005, yang digunakan pendekatan individu atau rumah tangga, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Penyaluran bantuan langsung tak bisa memakai data kemiskinan makro sebab memerlukan nama dan alamat si miskin. Pengumpulan data harus dengan sensus, bukan sampel, sehingga data yang dihasilkan disebut sebagai data kemiskinan mikro. Ini berbeda dengan metode penghitungan kemiskinan makro dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Pengumpulan data kemiskinan mikro didasarkan pada ciri-ciri rumah tangga miskin supaya pendataan bisa cepat dan hemat biaya.
Sampai saat ini baru dua kali BPS mengumpulkan data kemiskinan mikro: Oktober 2005 dan September 2008. Data yang diperoleh disebut data rumah tangga sasaran (RTS) dan mencakup bukan hanya rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan.
Jumlah RTS hasil pendataan September 2008 adalah 17,5 juta. Dengan asumsi kasar rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang, diperoleh angka 70 juta jiwa. Jadi, sebetulnya tak ada dua angka kemiskinan. Data 31,02 juta menunjukkan penduduk miskin, sementara data 70 juta menunjukkan penduduk miskin plus hampir miskin.
Selisih di antara keduanya menunjukkan besarnya penduduk hampir miskin di Indonesia. Mereka tidak tergolong miskin, tetapi sangat rentan terhadap kemiskinan. Sedikit gejolak ekonomi akan menyebabkan mereka mudah berubah status menjadi miskin. Maka, setiap kebijakan yang diambil harus memperhitungkan dampaknya bukan hanya pada rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin. Sehari-hari keduanya sering tak berbeda nyata.
Kecuk Suhariyanto Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik, BPS
Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2011/01/21/04361281/jumlah.si.miskin
Sejumlah tokoh lintas agama membuat pernyataan terbuka. Mereka menyebut pemerintah telah berbohong. Tidak tanggung-tanggung kebohongan itu. Jumlahnya delapan belas, terdiri dari sembilan kebohongan lama dan sembilan kebohongan baru. Demikian tersua di pelbagai media.
Karena pernyataan terbuka ini merupakan seruan moral tokoh lintas agama yang tak punya kepentingan politik praktis, gaungnya ke mana-mana. Pemerintah berusaha membela diri, tetapi membikin situasi justru lebih buruk. Pemerintah dinilai kurang arif dan tak mau menerima masukan konstruktif.
Salah satu kebohongan lama yang disebutkan adalah perihal penyampaian angka kemiskinan. Pemerintah dituduh berbohong karena menyatakan jumlah penduduk miskin 2010 adalah 31,02 juta jiwa, padahal data penduduk yang layak menerima beras miskin 70 juta jiwa.
Pertanyaannya, mengapa sampai ada dua angka kemiskinan yang jauh berbeda, padahal keduanya sama-sama berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Data kemiskinan makro
Mencoba menghitung jumlah penduduk miskin bukan pekerjaan mudah. Setakat ini belum satu pun metodologi yang sempurna memotret kemiskinan. Secara umum, kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Hanya terdiri dari satu kalimat, tetapi maknanya sangat luas sehingga bisa mengundang perdebatan panjang. Contohnya, apa yang dimaksud dengan kehidupan bermartabat. Apa pula yang termasuk hak-hak dasar? Apalagi, tidak semua hak dasar dapat dikuantifikasi, seperti rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik.
Dari definisi itu terlihat bahwa kemiskinan merupakan masalah multidimensi. Sulit mengukurnya sehingga perlu kesepakatan pendekatan pengukuran yang dipakai.
Salah satu konsep penghitungan kemiskinan yang diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan konsep ini, definisi kemiskinan yang sangat luas mengalami penyempitan makna karena kemiskinan hanya dipandang sebagai ketakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Dalam terapannya, dihitunglah garis kemiskinan absolut. Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin. Penghitungan penduduk miskin ini didasarkan pada data sampel, bukan data sensus, sehingga hasilnya sebetulnya hanyalah estimasi.
Data yang dihasilkan biasa disebut data kemiskinan makro. Di Indonesia, sumber data yang digunakan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional. Pencacahannya dilakukan setiap Maret dengan jumlah sampel 68.000 rumah tangga. BPS menyajikan data kemiskinan makro ini sejak tahun 1984 sehingga perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin bisa diikuti dari waktu ke waktu.
Salah satu data kemiskinan yang mengundang polemik panjang adalah data kemiskinan pada Maret 2006. BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta jiwa (15,97 persen) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta jiwa (17,75 persen) pada Maret 2006 karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Data kemiskinan makro yang terakhir dikeluarkan BPS adalah posisi Maret 2010 ketika jumlah penduduk miskin 31,02 juta jiwa atau 13,33 persen total penduduk Indonesia. Data ini hanya menunjukkan estimasi jumlah dan persentase penduduk miskin yang berguna untuk perencanaan serta evaluasi program kemiskinan dengan target geografis.
Akan tetapi, data itu tidak dapat menunjukkan siapa dan di mana alamat penduduk miskin sehingga tidak operasional untuk program penyaluran bantuan langsung, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Data kemiskinan mikro
Masalah muncul saat pemerintah menaikkan harga BBM pada tahun 2005 dan ingin memberi kompensasi kepada penduduk lapisan bawah berupa penyaluran bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat. Orientasi program penanggulangan kemiskinan di Indonesia mendadak berubah total.
Di zaman Orde Baru, program penanggulangan kemiskinan memakai pendekatan geografis (desa), seperti Inpres Desa Tertinggal. Sejak tahun 2005, yang digunakan pendekatan individu atau rumah tangga, seperti bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, dan Jaminan Kesehatan Masyarakat.
Penyaluran bantuan langsung tak bisa memakai data kemiskinan makro sebab memerlukan nama dan alamat si miskin. Pengumpulan data harus dengan sensus, bukan sampel, sehingga data yang dihasilkan disebut sebagai data kemiskinan mikro. Ini berbeda dengan metode penghitungan kemiskinan makro dengan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Pengumpulan data kemiskinan mikro didasarkan pada ciri-ciri rumah tangga miskin supaya pendataan bisa cepat dan hemat biaya.
Sampai saat ini baru dua kali BPS mengumpulkan data kemiskinan mikro: Oktober 2005 dan September 2008. Data yang diperoleh disebut data rumah tangga sasaran (RTS) dan mencakup bukan hanya rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan.
Jumlah RTS hasil pendataan September 2008 adalah 17,5 juta. Dengan asumsi kasar rata-rata jumlah anggota rumah tangga empat orang, diperoleh angka 70 juta jiwa. Jadi, sebetulnya tak ada dua angka kemiskinan. Data 31,02 juta menunjukkan penduduk miskin, sementara data 70 juta menunjukkan penduduk miskin plus hampir miskin.
Selisih di antara keduanya menunjukkan besarnya penduduk hampir miskin di Indonesia. Mereka tidak tergolong miskin, tetapi sangat rentan terhadap kemiskinan. Sedikit gejolak ekonomi akan menyebabkan mereka mudah berubah status menjadi miskin. Maka, setiap kebijakan yang diambil harus memperhitungkan dampaknya bukan hanya pada rumah tangga miskin, tetapi juga rumah tangga hampir miskin. Sehari-hari keduanya sering tak berbeda nyata.
Kecuk Suhariyanto Direktur Analisis dan Pengembangan Statistik, BPS
Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2011/01/21/04361281/jumlah.si.miskin
Subscribe to:
Comments (Atom)