Pages

Wednesday, May 15, 2013

Review on Analisis Indikator Ekonomi Makro Kota Bekasi 2011

Pagi ini, saya membaca file Analisis Indikator Makro Kota Bekasi 2011 yang dirilia Bappeda Kota Bekasi di webnya, bisa diunduh disini dan saya tidak bisa menahan diri saya untuk memberikan sedikit catatan terhadap analisis tersebut.

Hampir seluruh data yang digunakan dalam analisis tersebut menggunakan data dari BPS Kota Bekasi. Dan itu sungguh menyenangkan karena data yang dipublikasikan oleh BPS digunakan untuk analisis semacam ini. Saya sungguh memberikan apresiasi yang tinggi dalam hal ini. Yang menyedihkan adalah penggunaan data tersebut yang kurang baik. Data yang digunakan dalam analisis tersebut antara lain data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan (yang diturunkan menjadi PDRB per kapita, LPE dan Indeks Harga Imlisit), IPM, Inflasi, Ekspor dan Impor. Berikut adalah beberapa catatan yang perlu dilakukan oleh pembuat analisis tersebut bila tidak ingin tersesat dengan data yang digunakan karena ketidaktepatan penggunaannya.


1. Pengumpulan Data
Disebutkan pada halaman 1-5 bahwa pengumpulan data dengan data primer. Data Primer, yakni data dan informasi yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian dengan tujuan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung sebagai bahan perbandingan terhadap data sekunder, begitu yang disebutkan dalam analisis tersebut. Ini sungguh sangat mengganggu, karena semua data yang disajikan dalam analisis tersebut adalah data sekunder. Sebut saja data PDRB, Inflasi, IPM, Ekspor Impor, itu semua adalah data sekunder. Bukan data primer. Kalau data primer diperoleh melalui survei. Data PDRB itu diperoleh melalui survei, Begitu pula dengan inflasi, IPM, bahkan ekspor impor pun yang datanya berasal dari Dinas Perdagangan dan Koperasi diperoleh dari pengumpulan data langsung di lapangan. Lalu, kenapa tidak jujur saja bilang bahwa pengumpulan data yang dilakukan pada analisis ini hanya data sekunder. Menurut saya itu jauh lebih baik dan terkesan tidak membohongi publik, pencantuman penggunaan data primer tidak menambah kekerenan analisis ini bila itu tidak benar.

2. Regresi
Di dalam analisis tersebut, digunakan regeresi linear sederhana. Secara statistik, data yang digunakan untuk melakukan regresii dengan data tahunan yang hanya 7 tahun (2005-2011) kurang memenuhi kecukupan sample (biasanya digunakan setidaknya 30 record data per variable). Sample yang kurang tentunya akan sulit merepresntasikan kondisi yang sebenarnya. Supaya lebih jelas, silakan baca-baca buku statistik deskriptif karangan siapa saja, disana pasti ada pembahasan mengenai hal ini.

3. Perbandingan yang tidak apple to apple
Saya tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu ketika membaca tabel 2.4 dan tabel 4.7 yang judulnya Inflasi dan Indeks Harga Implisit diulas dan dibandingkan. Bagaimana mungkin membandingkan Inflasi yang dihitung dari perubahan IHK (Indeks Harga Konsumen) dengan Indeks Harga Implisit yang dihitung dari perbandingan PDRB ADHB dan PDRB ADHK. Sebagai Koreksi, bila ingin membandingkan inflasi dengan deflator, sebaiknya membandingkan inflasi dengan laju Indeks Harga Implisit. Atau bisa juga membandingkan IHK dengan IHI karena keduanya sama-sama indeks. Sedangkan bila membandingkan inflasi dnegan laju IHI, keduanya sama-sama laju dari suatu indeks. Dengan demikian data yang digunakan setara untuk dibandingkan. Kalau membandingkan inflasi dengan IHI, itu seperti membandingkan susu dengan keju. Yang satu merupakan input yang lain. Tapi kalau membandingkan inflasi dengan laju IHI atau IHK dengan IHI itu seperti membandingkan susu sapi dengan susu kambing. Produknya sama-sama susu.

4. Penggunaan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yang masih rancu
PDRB ADHK digunakan untuk melihat pertumbuhan produksi karena sudah mengeluarkan 'efek' harga. Ingat, PDRB ADHK dihitung dengan harga tahun dasar (dalam hal ini tahun dasarnya adalah tahun 2000), jadi semua dihitung berdasarkan harga pada tahun 2000. PDRB ADHB digunakan untuk melihat kondisi perkeonomian saat ini, dihitung dengan harga pada tahun berjalan. jadi, penggunaan PDRB ADHK dan PDRB ADHB harus memperhatikan dengan variabel apa dia disandingkan. Hal ini terjadi pada sub bab 4.9.2 Analisa Pengaruh Inflasi Terhadap PDRB-ADHK. Inflasi itu menggambarkan perubahan harga, sedangkan PDRB ADHK itu sudah mengeluarkan 'efek' harga dengan menggunakan harga tahun dasar 2000. Lalu dimana esensi melihat pengaruhnya? Demikian pula untuk 4.9.4 Analisa Pengaruh Ekspor terhadap PDRB ADHK. Melakukan regresi pada dua variabel yang tidak apple to apple. Ekspor itu data dengan harga tahun berjalan, sedangkan PDRB ADHK dengan harga tahun dasar 2000. Tentu akan terjadi bias. Hal yang sama juga terjadi untuk 4.9.6, 4.9.8 dan seterusnya yang membandingkan dengan PDRB ADHK.

5. Kerancuan analiais
Pada halaman 2-9 dituliskan :

Positifnya nilai ekspor Kota Bekasi dari tahun ke tahun (2005-2011)merefleksikan kondisi surflus, dimana cadangan devisa Kota Bekasi cukup baik dan bisa menghandle atau mengkompensasi nilai impor Kota Bekasi dengan cukup baik pula.

Nilai ekspor memang selalu positif, bagaiamana mungkin nilai ekspor negatif? Mungkin maksudnya nilai ekspor netto. Karena nilai ekspor netto itu artinya total ekspor dikurangi total impor. Bila hasilnya positif berarti ekspor lebih besar daripada impor. Kerancuan semacam ini bisa membingungkan yang membacanya.
Kemudian, pada sub bab 4.8 Analisis Komparatif Dengan Kota/Kabupaten di Jawa Barat, disebutkan :

Selain itu dalam penyusunan indikator ekonomi makro daerah juga biasanya dengan membandingkan data PDRB daerah tersebut dengan daerah disekitarnya melalui analisis Location Quotient (LQ) untuk melihat keuntungan komparatif suatu daerah terhadap daerah pembandingnya.

Tetapi ternyata tidak terdapat nilai LQ. Bahkan metodologi LQ nya sendiri juga tidak ditampilkan. Sebagai bahan koreksi, silakan mempelajari LQ nya disini href="http://kumoro.staff.ugm.ac.id/materi%20kuliah/Analisis%20Shift-Share%20&%20LQ.pdf"

Sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin disampaikan seperti penulisan judul tabel dan grafik yang menggunakan tanda kurung, tetapi lima hal di atas itulah yang paling ingin saya sampaikan. Semoga diperhatikan.

Saturday, May 4, 2013

Day 7. Stories behind the hills

Hari ketujuh ini kami mengunjungi bukit-bukit yang memiliki sejarah selama masa Rasulullah. Ada bukit thur tempat persembunyian nabi ketika dikejar-kejar kaum kafir quraish yang hendak membunuh nabi. Kemudian ada Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Tapi saya tidak mendaki bukit-bukit itu.

Kemudian kami mengunjungi padang arafah dan bukit Mina tempat para jamaah haji wukuf dan melempar jumrah. Semoga suatu hari nanti saya kembali kemari untuk berhaji.

Kami melakukan umrah lagi dengan mengambil miqot di Jironah, sholat sunat ihram. Yang lelaki, berganti pakaian ihram. Kemudian kami kembali ke Masjidil Haram untuk umrah lagi.

Pada saat sa'i azan Dzuhur berkumandang, kami langsung sholat berjamaah di lokasi sa'i dengan imam di Masjidil Haram. Di Mekah, apapun yang terjadi, ketika terdengar suara azan, semua aktivitas berhenti untuk sholat.

Day 6. All About Masjidil Haram

30 April 2013

Masjidil Haram saat ini sedang direnovasi hampir separuhnya. Otomatis daya tampung jamaahnya menjadi sedikit berkurang. Saya melihat banyak orang Indonesia yang bekerja di Masjidil Haram, mereka bekerja sebagai cleaning servis yang membersihkan masjid dan sebagai buruh konstruksi pada pekerjaan renovasi masjid. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengapa banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai buruh konstruksi, belakangan saya tahu ternyata kontraktor yang mengerjakan pekerjaan renovasi Masjidil Haram berasal dari Indonesia, PT. Waskita Karya. Pantas saja banyak buruh Indonesia.

Saya sempat berbincang-bincang dengan orang yang bekerja disini. Gaji para pekerja Indonesia masih jauh berada di bawah pekerja dari India. Kita berada sedikit di atas Banglades. Sebagai gambaran, petugas kebersihan di Masjidil Haram dari Indonesia hanya digaji 800 real (1 Real sekitar 2700 Rupiah), sopir digaji 1500 Real. Biaya hidup disini relatif mahal.

Hari ke-enam ini aktivitas saya banyak dihabiskan di Masjidil Haram. Tawaf, membaca Al Qur'an dan sholat. Sebelum pulang saya memuaskan keingintahuan saya dengan mengelilingi masjid ini sendirian. Melihat arsitekturnya, dari atas hingga bawah dan tempat air zamzam yang ditutup karena renovasi. Jadi, mereka menaruh air zamzam dalam tong-tong keramik di dalam masjid. Makanya saya betah banget berada di masjid. Waktu di masjid Nabawi juga ada air zamzam di dalam masjid.

Saya pernah tawaf di siang hari yang sangat terik. Anehnya, ketika tawaf, tidak terasa panas dan lantai terasa dingin. Memang seluruh masjid ini menggunakan marmer putih dan abu-abu. Indah sekali..

Day 5. I only do this for You ya Rabb..

29 April 2013

Perbedaan waktu di Mekkah dengan Indonesia sekitar 4-5 jam. Ini membuat saya masih suka salah memperkirakan waktu sholat.

Menjalankan ibadah umroh membuat saya tak bisa berkata-kata karena merasa benar-benar kecil dan penuh dosa di hadapanNya. Memohon ampunan adalah prioritas doa saya. Selama di Madinah dan Makkah saya tidak pernah sholat di hotel. Saya selalu sholat di masjid, walaupun kaki sampai penat karena bolak balik hotel-masjid dengan jalan yang menanjak. Saya pikir, saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah di Masjidil Haram. Rasanya sangat berbeda ketika kita sholat langsung di hadapan Kabah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia.

Di Masjidil Haram, suasananya selalu ramai sepanjang waktu. Jam berapa pun kita kemari selalu ramai oleh orang yang sholat, umroh atau tawaf saja. Hari kelima ini, kami tidak ada acara lain selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. It's always make me speechless..