Aktivitas pagi ketika menuju ke kantor adalah minum kopi, makan cemilan seperti roti, biskuit kadang-kadang bawa nasi lengkap dengan lauk on the spot (semacam lauk seadanya hehe), dengerin Ronal dan Tike siaran di JakFM, trus ngajak ngobrol Aa yang lagi nyetir. Kalau dipikir-pikir udah kayak nyonyah ya. Satu lagi yang sering dilakukan adalah stalkingin timeline-nya @lewatmana kalau lagi macet, juga akun mahasiswa-mahasiswa saya..(abis ini akun mereka langsung digembok deh hehe). Kata anak saya jadi dosen tuh ga boleh kudet harus update.
Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.
Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.
Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.
Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..
Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.
Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.
Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).
Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..
No comments:
Post a Comment