Pages

Wednesday, August 27, 2014

Simple note from seminar

Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.

Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.

Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.

Klasik vs Bayesian

Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?

Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*

Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.

Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan

Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..

Monday, August 18, 2014

A note from workshop

Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.

Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.

Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.

Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..

First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.

Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.

Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.

Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.



And...

direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.

Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.

Friday, August 8, 2014

Statistician is the sexiest job in the world..

Jum'at pagi ini adalah hari pertama kegiatan non lecture di kampus dimulai. Acara yang diadakan adalah semacam seminar yang dberi judul The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics. Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Peran statistisi dalam pengobatan personal: Sekilas tentang Metode Statistik Bioinformatika. Judulnya menarik, setelah mengikuti seminarnya, ternyata isinya memang sangat menarik.

Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..

Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.

Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..

Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?

Tuesday, August 5, 2014

No Ponsel No Cry

Ada yang terasa kurang pas hari ini. Tanda-tanda ketidakpasan itu diawali dengan bangun tidur. Pertama kali saya membuka mata pagi ini, langsung terdengar sayup-sayup orang mengaji pertanda sebentar lagi adzan Subuh. Ketika saya lihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 WIB. Artinya saya terlambat 1 jam 30 menit dari jadwal rutin saya. Sejak kuliah dulu, saya terbiasa bangun jam 3 pagi (kadang-kadang lebih sedikit dan kadang juga tidur lagi setelah subuh hehehe). Bangun tidur, benda yang pertama kali saya cari adalah ponsel saya, karena ponsel itu adalah benda yang paling bertanggung jawab atas telatnya saya bangun. Seharusnya benda itu mengeluarkan suara gitar genjrang genjreng yang selalu membangunkan saya, dan kalau saya cuekin, dia akan genjrang genjreng 5 menit berikutnya. Setelah dicari-cari, samsung S3 (FYI, ini ponsel umurnya udah 2 tahun, die hard dan saya belum bisa move on dari benda ini) ketemu dalam kondisi mati. Pantas saja saya tidak mendengar nada genjrang genjrengnya.. *sigh*

Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.

Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.

Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)