Pages

Monday, August 18, 2014

A note from workshop

Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.

Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.

Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.

Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..

First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.

Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.

Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.

Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.



And...

direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.

Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.

No comments: