Kemarin sore, saya sedang berjuang melawan kemacetan tol Cikampek yang diakibatkan volume kendaraan berjenis truk dan kontainer dalam jumlah besar. Ya, tol Cikampek sore itu memang macet luar biasa karena perusahaan ekpedisi sedang kejar setoran supaya supply barang sampai di tempat tujuan sebelum 5 hari menjelang hari raya. Biasanya H-5 itu tol cikampek sudah steril dari truk dan container karena arus mudik pasti sangat besar.
Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.
Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..
Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he
Thursday, July 3, 2014
Thursday, April 3, 2014
Sebuah kunjungan
Saya tidak tau ada keajaiban apa dengan hari Rabu kemarin. Pertama saya bangun kesiangan, tapi berangkat ke kantor tidak sampai telat banget karena malamnya saya ga sengaja sudah menyiapkan semua keperluan pagi (sudah seperti feeling aja). Terus, lalu lintas pagi itu lancar jaya, jadi sampai kantor pun masih jam 7.00 barengan dengan mahasiswa dan cleaning service (padahal harusnya cleaning service harus datang lebih pagi). Lalu, tidak lama kemudian ada bbm dari teman seangkatan yang mau datang. Dan bertemulah kita setelah belasan tahun ga ketemu. Dan ternyata hebohnya masih belum berubah hehehe..
Jadi ceritanya, teman seangkatan saya itu lagi kuliah S3 di IPB dan sekarang memasuki tahun ke-3, seru lah ya denger cerita kuliahnya itu (asli bikin iri), secara dulu kita sama-sama dari Jakarta dan punya masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan kedinasan ini. Biasa lah bayangan kita dulu itu kuliah ga seperti begini. Apalagi saya sebelumnya sudah sempat kuliah sebulan di tempat lain. Beda.. jauh berbeda, tapi thanks God akhirnya kita bisa beradaptasi dan ga sempat jadi mutant (looh?..).
Itu kunjungan yang pertama, di sore hari, ada lagi teman yang datang dari kantor lama saya. Sebenarnya sih dia datang karena ada urusan administrasi dengan baak, tapi sekalian bertemu saya. Nah ini membuat saya jadi teringat masa-masa perjuangan bekerja di tingkat II yang perlu kesabaran tingkat dewa. Terus berceritalah dia tentang kondisi di kantornya, personelnya, bagaimana ketatnya jadwal survei yang seolah seperti air bah datang ga kenal waktu, kegiatan yang saling tumpang tindih... ya ya ya saya mengerti sekali yang kayak begini dan parahnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu selain mendengarkan..
Jujur, kalau dikunjungi teman lama itu rasanya senang. Bisa cerita-cerita pengalaman masing-masing, memberi kabar baik (yang buruk ga perlu lah) dan bikin kita semangat lagi. Walaupun sebenarnya, dengan era sosial media saat ini, semua itu bisa dilakukan dengan kelincahan jari-jari di atas smartphone atau komputer, tapi kalau bertemu langsung rasanya beda aja. Energi positifnya dapet. Kalau terus-terusan dapat energi positif bisa sehat terus kan.. Mungkin memang benar kalau menyambung silaturahmi itu bisa memperpanjang usia. Jadi, siapa lagi teman yang akan mengunjungi saya? Atau saya akan berkunjung ke siapa nih..
Jadi ceritanya, teman seangkatan saya itu lagi kuliah S3 di IPB dan sekarang memasuki tahun ke-3, seru lah ya denger cerita kuliahnya itu (asli bikin iri), secara dulu kita sama-sama dari Jakarta dan punya masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan kedinasan ini. Biasa lah bayangan kita dulu itu kuliah ga seperti begini. Apalagi saya sebelumnya sudah sempat kuliah sebulan di tempat lain. Beda.. jauh berbeda, tapi thanks God akhirnya kita bisa beradaptasi dan ga sempat jadi mutant (looh?..).
Itu kunjungan yang pertama, di sore hari, ada lagi teman yang datang dari kantor lama saya. Sebenarnya sih dia datang karena ada urusan administrasi dengan baak, tapi sekalian bertemu saya. Nah ini membuat saya jadi teringat masa-masa perjuangan bekerja di tingkat II yang perlu kesabaran tingkat dewa. Terus berceritalah dia tentang kondisi di kantornya, personelnya, bagaimana ketatnya jadwal survei yang seolah seperti air bah datang ga kenal waktu, kegiatan yang saling tumpang tindih... ya ya ya saya mengerti sekali yang kayak begini dan parahnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu selain mendengarkan..
Jujur, kalau dikunjungi teman lama itu rasanya senang. Bisa cerita-cerita pengalaman masing-masing, memberi kabar baik (yang buruk ga perlu lah) dan bikin kita semangat lagi. Walaupun sebenarnya, dengan era sosial media saat ini, semua itu bisa dilakukan dengan kelincahan jari-jari di atas smartphone atau komputer, tapi kalau bertemu langsung rasanya beda aja. Energi positifnya dapet. Kalau terus-terusan dapat energi positif bisa sehat terus kan.. Mungkin memang benar kalau menyambung silaturahmi itu bisa memperpanjang usia. Jadi, siapa lagi teman yang akan mengunjungi saya? Atau saya akan berkunjung ke siapa nih..
Thursday, March 27, 2014
Moving out
Sejak mendapat jatah.. eh tugas mengajar 4 kelas selama semester ini, Saya mulai merasa kewalahan yang luar biasa. Bukan karena kewalahan mengajar, tapi karena harus menghandle pekerjaan administrasi di BAAK. BAAK itu akronim dari Bagian Akademik dan Administrasi Kemahasiswaan. Ya, saya masih merangkap-rangkap begini karena SK pindah saya masih di BAAK. Pekerjaan di BAAK itu tidak sulit cuma menguras waktu aja. Saya cuma memonitor perkuliahan yang diselenggarakan. Tapi.. yang namanya perkuliahan itu itemnya banyak, mulai dari absensi, ketersediaan dosen, jadwal sampai mengurus permintaan spesial mahasiswa dan dosen kalau ada dispensasi dan sebagainya. Tapi saya kan tidak didesain untuk mengeluh dengan kondisi yang ada.
Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.
So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.
Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..
Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.
So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.
Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..
Thursday, February 13, 2014
On the right track..
Sambil mendengarkan Creed nyanyiin lagu My Sacrifice, saya sesekali melirik ponsel yang pagi ini rajin berbunyi karena grup baru dari temen-temen seangkatan waktu masih di akademi. Ceritanya lagi pada nanya-nanya sekarang posisinya dimana, sudah jadi pejabat apa, anaknya berapa dan seterusnya. Sesekali bertukar cerita mengenai kondisi di daerahnya (saat ini beberapa teman yang tinggal di sekitar Kediri sedang resah karena kondisi Gunung Kelud yang statusnya waspada). Hal-hal seperti ini sangat tipikal untuk orang-orang yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sama (baca: se-alumni).
Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!
Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.
Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!
Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.
Wednesday, February 12, 2014
A little thing called Supply and Use Table (SUT)
Seharusnya, hari ini saya mensubmit soal untuk ujian IO, SUT dan Nesparnas. Tapi entah kenapa sampai detik ini belum ada chemistry ke arah itu. Terus, saya teringat untuk memposting sesuatu di blog ini. Supaya saya ada chemistry dengan pembuatan soal itu, kenapa tidak saya bahas saja sekalian sedikit cerita tentang bagian kecil dari kuliah itu, Supply and Use Table atau Tabel Penyediaan dan Penggunaan.
Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...
Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.
Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini
SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.
Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional
Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :
Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.
Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.
Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.
Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.
Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he
Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...
Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.
Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini
SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.
Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional
Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :
Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.
Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.
Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.
Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.
Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he
Monday, January 20, 2014
A little thing about neparnas
Cuaca memang sedang tidak mendukung. Sudah seminggu ini hujan turun terus menerus seolah menuntaskan rindunya pada bumi. Hehehe hujan itu sanggup membuat orang jadi ber-melow ria ya. Hujan juga sanggup membuat aktivitas yang rutin dijalani tiba-tiba berubah 180 derajat dari posisi awalnya. Bayangkan, lalu lintas arah Jakarta dari Bekasi yang biasanya sudah macet jadi lebih macet lagi karena hujan yang turun membuat genangan di beberapa tempat, sehingga kendaraan yang lewat harus menurunkan kecepatannya. Ya bukan salah hujannya juga sih, salah manage kota aja.
Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.
Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.
Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.
Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.
Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata
Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.
Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.
Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..
Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.
Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.
Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.
Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.
Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata
Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.
Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.
Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..
Friday, January 3, 2014
Random thought of my lecture
Aktivitas pagi ketika menuju ke kantor adalah minum kopi, makan cemilan seperti roti, biskuit kadang-kadang bawa nasi lengkap dengan lauk on the spot (semacam lauk seadanya hehe), dengerin Ronal dan Tike siaran di JakFM, trus ngajak ngobrol Aa yang lagi nyetir. Kalau dipikir-pikir udah kayak nyonyah ya. Satu lagi yang sering dilakukan adalah stalkingin timeline-nya @lewatmana kalau lagi macet, juga akun mahasiswa-mahasiswa saya..(abis ini akun mereka langsung digembok deh hehe). Kata anak saya jadi dosen tuh ga boleh kudet harus update.
Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.
Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.
Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.
Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..
Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.
Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.
Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).
Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..
Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.
Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.
Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.
Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..
Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.
Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.
Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).
Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..
Subscribe to:
Posts (Atom)

