Sumpah, ini postingan iseng sambil menunggu waktu meeting.
Ceritanya saya datang terlalu pagi dalam sebuah meeting di salah satu hotel di bandung. Di undangan tertulis acaranya jam 10 pagi. Saya sudah buru-buru dari bekasi pas mau check in kata front office nya belum booking! Duh!. Pas saya cek ke si empunya acara, katanya mulainya jam 1 siang.. Bwahahaha.. Jadilah saya terlantar di lobi!
Padahal, untuk mencapai hotel ini saya sempet kesasar gara-gara mengikuti petunjuk gps di maps iPad saya..hohoho gps pun bisa menipu! Satu jam lalu saya berada tepat di depan gedung BI Bandung sambil celingukan memegang iPad dan terheran-heran karena hotel yang saya tuju yang menurut gps ada di depan BI adalah perkantoran pemkot Bandung! Cakepnya...
Akhirnya saya naik taksi ke daerah pasteur tempat the real hotel is..
Dan sialnya, pas sampai pun, panitianya ga ada.. Sempat bingung tuh mbak-mbak resepsionis karena ga ada yang booking. Terus waktu saya telpon ke si penyelenggara yang notabene adalah kantor walikota bekasi, katanya acaranya jam 1 siang! Gubrag!! Kirain sudah telat karena kesasar sampai Braga segala, ternyata being on time is not a value for them!!! Nggileni toh yo..
Monday, May 9, 2011
Thursday, April 21, 2011
diam itu.. tidak ngomong..
"Freeze! You have right to remind silent! Anything you say will be used in the court of law.. ". Begitulah statement polisi amerika kalau mau menahan seseorang (yang waktu kecil sering saya lihat dalam serial hunter).
Dulu, saya suka berpikir kenapa orang yang ditangkap harus diam? Memangnya kalau dia teriak-teriak akan ada orang yang menolong? Yang menangkap kan polisi.. mana ada yang mau nolongin dia.. (dulu disini maksudnya sekitar tahun 85-an). Akhirnya, saya mengerti, kenapa sang buronan punya hak untuk diam (right to remind silent). Maksudnya, apapun keterangan yang keluar dari mulutnya saat itu bisa digunakan dalam persidangan nantinya sebagai bukti..
Sebegitunya.. bahkan seorang buronan pun punya hak untuk diam. Menurut agama saya, kalau kita tergoda untuk marah, sebaiknya diam. Karena kalau dalam kondisi marah, kita banyak bicara, kemungkinan besar apa yang keluar dari mulut kita hanya berisi hal-hal yang tidak baik. Jadi teringat, pernah ada yang menulis status "segala sesuatu yang diawali dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu". Jadi alangkah baiknya kalau dalam kondisi marah, sebaiknya ya diam saja.
Diam itu emas.. diam itu tidak ngomong..
Dulu, saya suka berpikir kenapa orang yang ditangkap harus diam? Memangnya kalau dia teriak-teriak akan ada orang yang menolong? Yang menangkap kan polisi.. mana ada yang mau nolongin dia.. (dulu disini maksudnya sekitar tahun 85-an). Akhirnya, saya mengerti, kenapa sang buronan punya hak untuk diam (right to remind silent). Maksudnya, apapun keterangan yang keluar dari mulutnya saat itu bisa digunakan dalam persidangan nantinya sebagai bukti..
Sebegitunya.. bahkan seorang buronan pun punya hak untuk diam. Menurut agama saya, kalau kita tergoda untuk marah, sebaiknya diam. Karena kalau dalam kondisi marah, kita banyak bicara, kemungkinan besar apa yang keluar dari mulut kita hanya berisi hal-hal yang tidak baik. Jadi teringat, pernah ada yang menulis status "segala sesuatu yang diawali dengan rasa marah akan berakhir dengan rasa malu". Jadi alangkah baiknya kalau dalam kondisi marah, sebaiknya ya diam saja.
Diam itu emas.. diam itu tidak ngomong..
Wednesday, April 20, 2011
another night in blog
The situation is getting serious..
Yes, I'm having writing block.
Why? I really don't know.
How? Still I don't know the transmission
When? tonight
Where? here.. in my mind
I've been doing the blogwalking as a habit. But yet it doesn't solve the problem.
Lately I have been thinking that what I do from 8 to 4 is just a survivatory not fighting for the score anymore. That's why I need to change the perspective to turn the spillover.
However, I believe that this will be no longer a problem when I find the answer. And the most basic question is how can I find the answer? Quite strange eh?
Anyway, llfe goes on, time will fly and day will be replaced by night. Keep fighting, keep smiling, keep learning.. it's just a never ending process..
Yes, I'm having writing block.
Why? I really don't know.
How? Still I don't know the transmission
When? tonight
Where? here.. in my mind
I've been doing the blogwalking as a habit. But yet it doesn't solve the problem.
Lately I have been thinking that what I do from 8 to 4 is just a survivatory not fighting for the score anymore. That's why I need to change the perspective to turn the spillover.
However, I believe that this will be no longer a problem when I find the answer. And the most basic question is how can I find the answer? Quite strange eh?
Anyway, llfe goes on, time will fly and day will be replaced by night. Keep fighting, keep smiling, keep learning.. it's just a never ending process..
Tuesday, April 5, 2011
Proxy Mean Test
Don't judge a book by its cover. That's a wise man say. Never judge something by just looking at a glance. Data user from all over discipline must know about this. When they have data, they have to recognize where and how it was collected, not specifically, but they have to know.
Statistics Indonesia is an official institution that provide macro data such as number of poor household, The data itself speaks not only to show where the position of Indonesia in the world, but also used to draw some policies. It is strategic but also tricky in term how the data is used.
I have this information from a friend who responsible for the methodology on how the data was collected and smoothed. After they collected data from the field (they use the term field to represent where the respondents is located), it was weighted and judged by several variables, But not only that. They have to be smoothed because there are many political aspects on this. That's why there is one more process called proxy mean test.
Proxy Mean Test is counted with the formula Ln (Yi) = BX + Err(i) The model is supported with Susenas data from 2003-2008 and Podes (2 point of years). Although the reability of those two kind of data is still questioned by data user, but those data is the best we have (in Indonesia). There is no other institution can provide data like that (with lower budget)
Say, you have only couple of billion to provide micro data to draw policies that affect the whole country. The difficulties of collecting data is high but the pay off is low. What would you do? Science takes it all! And proxy mean test is one of the methodology that help Statistics Indonesia to provide data. Pretty smart eh..
>> I posted this about 2 years ago in my multiply
Statistics Indonesia is an official institution that provide macro data such as number of poor household, The data itself speaks not only to show where the position of Indonesia in the world, but also used to draw some policies. It is strategic but also tricky in term how the data is used.
I have this information from a friend who responsible for the methodology on how the data was collected and smoothed. After they collected data from the field (they use the term field to represent where the respondents is located), it was weighted and judged by several variables, But not only that. They have to be smoothed because there are many political aspects on this. That's why there is one more process called proxy mean test.
Proxy Mean Test is counted with the formula Ln (Yi) = BX + Err(i) The model is supported with Susenas data from 2003-2008 and Podes (2 point of years). Although the reability of those two kind of data is still questioned by data user, but those data is the best we have (in Indonesia). There is no other institution can provide data like that (with lower budget)
Say, you have only couple of billion to provide micro data to draw policies that affect the whole country. The difficulties of collecting data is high but the pay off is low. What would you do? Science takes it all! And proxy mean test is one of the methodology that help Statistics Indonesia to provide data. Pretty smart eh..
>> I posted this about 2 years ago in my multiply
Sunday, April 3, 2011
kekayaan --> kapital --> demokrasi
Ceritanya hari Sabtu Minggu ini dihabiskan untuk memasak dan menonton DVD Korean Series. Minggu ini nonton Secret Garden. Lumayan juga ceritanya, setingannya winter season, jadi pemandangannya salju semua. Yang berkesan adalah rumahnya si pemeran utama laki-laki. Serba kaca.. Kemudian, memperhatikan bagaimana kalangan kaya beraksi dan bertransformasi.
Tetapi, saya tidak sedang memposting review Secret Garden. Minggu siang ini saya juga baca e-magazine Prisma yang download dengan penuh kasih sayang oleh hubby. Menurutnya saya harus rajin membaca artikel-artikel di majalah tersebut supaya wawasan saya tambah luas dan tidak nonton DVD Koresn Series terus. Hehehe hopefully it works..
Artikel pertama yang saya baca dari majalah itu berjudul "Mengolah Kekayaan, Kapital dan Demokrasi". Itulah sebabnya judul postingan ini mirip dengan judul artikel tersebut dan bukannya secret garden:).
Artikel tersebut memceritakan bagaimana kita tertarik untuk menjadi kaya. Dalam sejarah manusia, dalam memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, yaitu makan, nenek moyang kita hanya mengumpulkan dan mengambil apa yang disediakan oleh alam. Sehingga dahulu manusia banyak berburu dan bergaya hidup nomaden yang berpindah-pindah, demi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Seiring dengan perkembangan manusia sebagai makhluk yang berakal, mulai dikenal cara hidup untuk berproduksi dengan bercocok tanam dan beternak dan mulai bertempat tinggal menetap. Lebih jauh lagi, karena untuk berproduksi diperlukan tenaga kerja yang banyak (sebelum era industrialisasi), kita juga mengenal istilah perbudakan. Bahkan, si penulis mengungkapkan perbedaan perbudakan berdasarkan letak geografis. Dia menceritakan perbudakan di Roma berbeda dengan perbudakan di Amerika. Di Roma, hasil perbudakan yang paling nyata hingga saat ini adalah Colasseum. Sementara di Amerika perbudakan di kebun-kebun kapas berupa kapital dan akumulasi kapital, yaitu kekayaan yang menghasilkan kekayaan lain sedemikian rupa, sehingga menjadi dasar imperialisme dalam segala arti. Mungkin maksudnya, karakter manusia yang tidak pernah puas dalam mengumpulkan kekayaan dengan berproduksi, beralih dengan melipatgandakan kekakayaan dengan kapital.
Terkait dengan itu, saya teringat dengan buku-bukunya Robert T. Kiyosaki (yang sialnya, saya miliki seriesnya). Kalau pernah baca Rich Dad Poor Dad pasti teringat dengan cashflow quadran dan kata-kata biarkan uang bekerja untuk anda. Lebih riilnya, melipatgandakan kekayaan melalui instrumen keuangan seperti saham dan portofolio. Sehingga kaptal tidak lagi bersentuhan dengan produksi nyata. Karena kapital/modal berlipat ganda menjadi kapital lagi.
Dan tebak, siapa yang memiliki peran dalam mengimbangi perubahan tersebut? Ya... Pemerintah. Adalah pemerintah yang memegang peranan dalam menjaga keseimbangan ekonomi tersebut. Disitulah kata demokrasi ditempatkan, menjadi sesuatu yang akan mengkatalisasi perubahan baik ke arah yang baik maupun yang buruk.
Jujur saja, buat saya artikel ini seperti mengingatkan kembali apa yang perlu saya perbaiki sebagai abdi negara. Terlepas dari segala kekisruhan politik yang semakin aneh dan membuat tidak nyaman berbagai media untuk saya nikmati (yang akhirnya membuat saua lebih sering nonton Korean Series, hehe justifikasi)
Dan, seperti yang ditampilkan dalam Secret Garden yang mengekspos bagaimana keluarga konglomerat bekerja, terlihat bagaimana peran pemerintah tetap tidak bisa diabaikan, dan disitulah politik bersentuhan dengan ekonomi. Oh dunia, semakin hari engkau semakin menunjukkan betapa harus berhati-hatinya menjalani hidup ini.
Selanjutnya artikel tersebut juga menjelaskan
Tetapi, saya tidak sedang memposting review Secret Garden. Minggu siang ini saya juga baca e-magazine Prisma yang download dengan penuh kasih sayang oleh hubby. Menurutnya saya harus rajin membaca artikel-artikel di majalah tersebut supaya wawasan saya tambah luas dan tidak nonton DVD Koresn Series terus. Hehehe hopefully it works..
Artikel pertama yang saya baca dari majalah itu berjudul "Mengolah Kekayaan, Kapital dan Demokrasi". Itulah sebabnya judul postingan ini mirip dengan judul artikel tersebut dan bukannya secret garden:).
Artikel tersebut memceritakan bagaimana kita tertarik untuk menjadi kaya. Dalam sejarah manusia, dalam memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, yaitu makan, nenek moyang kita hanya mengumpulkan dan mengambil apa yang disediakan oleh alam. Sehingga dahulu manusia banyak berburu dan bergaya hidup nomaden yang berpindah-pindah, demi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Seiring dengan perkembangan manusia sebagai makhluk yang berakal, mulai dikenal cara hidup untuk berproduksi dengan bercocok tanam dan beternak dan mulai bertempat tinggal menetap. Lebih jauh lagi, karena untuk berproduksi diperlukan tenaga kerja yang banyak (sebelum era industrialisasi), kita juga mengenal istilah perbudakan. Bahkan, si penulis mengungkapkan perbedaan perbudakan berdasarkan letak geografis. Dia menceritakan perbudakan di Roma berbeda dengan perbudakan di Amerika. Di Roma, hasil perbudakan yang paling nyata hingga saat ini adalah Colasseum. Sementara di Amerika perbudakan di kebun-kebun kapas berupa kapital dan akumulasi kapital, yaitu kekayaan yang menghasilkan kekayaan lain sedemikian rupa, sehingga menjadi dasar imperialisme dalam segala arti. Mungkin maksudnya, karakter manusia yang tidak pernah puas dalam mengumpulkan kekayaan dengan berproduksi, beralih dengan melipatgandakan kekakayaan dengan kapital.
Terkait dengan itu, saya teringat dengan buku-bukunya Robert T. Kiyosaki (yang sialnya, saya miliki seriesnya). Kalau pernah baca Rich Dad Poor Dad pasti teringat dengan cashflow quadran dan kata-kata biarkan uang bekerja untuk anda. Lebih riilnya, melipatgandakan kekayaan melalui instrumen keuangan seperti saham dan portofolio. Sehingga kaptal tidak lagi bersentuhan dengan produksi nyata. Karena kapital/modal berlipat ganda menjadi kapital lagi.
Dan tebak, siapa yang memiliki peran dalam mengimbangi perubahan tersebut? Ya... Pemerintah. Adalah pemerintah yang memegang peranan dalam menjaga keseimbangan ekonomi tersebut. Disitulah kata demokrasi ditempatkan, menjadi sesuatu yang akan mengkatalisasi perubahan baik ke arah yang baik maupun yang buruk.
Jujur saja, buat saya artikel ini seperti mengingatkan kembali apa yang perlu saya perbaiki sebagai abdi negara. Terlepas dari segala kekisruhan politik yang semakin aneh dan membuat tidak nyaman berbagai media untuk saya nikmati (yang akhirnya membuat saua lebih sering nonton Korean Series, hehe justifikasi)
Dan, seperti yang ditampilkan dalam Secret Garden yang mengekspos bagaimana keluarga konglomerat bekerja, terlihat bagaimana peran pemerintah tetap tidak bisa diabaikan, dan disitulah politik bersentuhan dengan ekonomi. Oh dunia, semakin hari engkau semakin menunjukkan betapa harus berhati-hatinya menjalani hidup ini.
Selanjutnya artikel tersebut juga menjelaskan
Friday, March 25, 2011
#pengakuan
Everybody needs a break and escape from the routine. At least that's what I believe (since couple hours ago hehehe). And I did it (I'm not proud but i like to make a confession).
Well, actually it happened when my boy need my presence at school to finish the unfinished matter (whooaaa.. kinda strange eh?). So, after coming to office and doing some works, I went to my boy's school. It only took two or three hours to talk to his teacher and do the form submission ( I need to check them out).
Then I went home.. haiyyyaaa.. what a crap!
I think I need time to be irresponsible person for a while. So, what i do at home? Nothing.. I just ate and watched the movie.. hihihi..
But I went back to office at 12. And i write this confession..
God, I know I need to know how it feels to be irresponsible, but after all, I don't enjoy it much.. Sorry..
Well, actually it happened when my boy need my presence at school to finish the unfinished matter (whooaaa.. kinda strange eh?). So, after coming to office and doing some works, I went to my boy's school. It only took two or three hours to talk to his teacher and do the form submission ( I need to check them out).
Then I went home.. haiyyyaaa.. what a crap!
I think I need time to be irresponsible person for a while. So, what i do at home? Nothing.. I just ate and watched the movie.. hihihi..
But I went back to office at 12. And i write this confession..
God, I know I need to know how it feels to be irresponsible, but after all, I don't enjoy it much.. Sorry..
Sunday, March 20, 2011
From Korean Series
Sudah banyak judul Korean Series yang ditonton. Dari semuanya, dilihat dari tampilannya bisa diambil beberapa catatan sebagai berikut :
1. Mereka cinta produk dalam negeri.
Sepertinya saya belum pernah melihat sebuah screen yang tidak menampilkan produk asli Korea. Mulai dari mobil yang mereka gunakan (terutama untuk Korean Series yang baru2) yang ditampilkan selalu mobil-mobil produksi mereka macam hyundai atau KIA. Begitu juga handphone kalo ga LG ya Samsung. Gadget mereka, yang ditampilkan adalah produk bikinan mereka walaupun hasil meniru. Dan mereka bangga!
2. Kuliner mereka lestari
Dalam Korean Series, walaupun ceritanya tentang remaja atau anak sekolahan, tapi gaya kuliner mereka tetap Korea yang makan nasi, sayuran dan buah. Tidak terlihat di screen mereka lagi nongkrong di McD atau franchise barat lainnya. Kalaupun ada frame yang menceritakan lagi makan burger atau hotdog, itu adalah resto mereka bukan franchise dari barat.
3. Aja aja fighting!
Kata kata ini hampir selalu ada di setiap Korean Series yang sudah ditonton. Ini adalah kata-kata penyemangat kalau lagi down. Maksudnya supaya tidak segera menyerah dan tetap berusaha.
4. Pemandangan
Tidak perlu diragukan lagi, mereka pinter ngambil view yang bagus. Musim dingin diolah sedemikian rupa jadi lebih menarik. Musim gugur juga begitu, ranting-ranting kering kenapa jadi enak dilihat ya? Hal sepele diolah dan dikemas sedemikian rupa menjadi luar biasa dan enak dilihat.
5. Lesson of life
Korean Series memang tak ubahnya sinetron di Indonesia. Ceritanya sederhana dan mudah dicerna serta tidak pakai ribet dan terkadang sedikit lebay dan bertele-tele. Tetapi dalam setiap Korean Series, mereka selalu memasukkan pelajaran hidup di dalam adegan dan ceritanya. Tanpa terkesan menggurui dan mendikte. Ini yang menjadi kekurangan dalam sinetron di Indonesia. Kalaupun ada message nya terkesan sangat menggurui.
6. Friendly episode
Jumlah episode Korean Series memang bener2 friendly, sekitar 15-30 episode tiap judulnya. Ini dikemas dalam 3-4 DVD. Kalau beli bajakan pun sekitar 30 ribuan. Satu seri bisa ditonton untuk seminggu, tergantung kondisi, mau stripping nontonnya atau santai. Dibandingkan kalau saya membeli novel yang harganya sudah diatas 50 ribuan dan habis dalam sekejap (kpm saya tinggi) acara nonton Korean Series ini jadi alternatif hiburan yang murah. Tapi mata saya lebih cepat lelah menonton dibandingkan membaca.
Okay, itu saja beberapa catatan dari Korean Series. Ambil bagusnya buang jeleknya. Tiru baiknya lupakan buruknya..
1. Mereka cinta produk dalam negeri.
Sepertinya saya belum pernah melihat sebuah screen yang tidak menampilkan produk asli Korea. Mulai dari mobil yang mereka gunakan (terutama untuk Korean Series yang baru2) yang ditampilkan selalu mobil-mobil produksi mereka macam hyundai atau KIA. Begitu juga handphone kalo ga LG ya Samsung. Gadget mereka, yang ditampilkan adalah produk bikinan mereka walaupun hasil meniru. Dan mereka bangga!
2. Kuliner mereka lestari
Dalam Korean Series, walaupun ceritanya tentang remaja atau anak sekolahan, tapi gaya kuliner mereka tetap Korea yang makan nasi, sayuran dan buah. Tidak terlihat di screen mereka lagi nongkrong di McD atau franchise barat lainnya. Kalaupun ada frame yang menceritakan lagi makan burger atau hotdog, itu adalah resto mereka bukan franchise dari barat.
3. Aja aja fighting!
Kata kata ini hampir selalu ada di setiap Korean Series yang sudah ditonton. Ini adalah kata-kata penyemangat kalau lagi down. Maksudnya supaya tidak segera menyerah dan tetap berusaha.
4. Pemandangan
Tidak perlu diragukan lagi, mereka pinter ngambil view yang bagus. Musim dingin diolah sedemikian rupa jadi lebih menarik. Musim gugur juga begitu, ranting-ranting kering kenapa jadi enak dilihat ya? Hal sepele diolah dan dikemas sedemikian rupa menjadi luar biasa dan enak dilihat.
5. Lesson of life
Korean Series memang tak ubahnya sinetron di Indonesia. Ceritanya sederhana dan mudah dicerna serta tidak pakai ribet dan terkadang sedikit lebay dan bertele-tele. Tetapi dalam setiap Korean Series, mereka selalu memasukkan pelajaran hidup di dalam adegan dan ceritanya. Tanpa terkesan menggurui dan mendikte. Ini yang menjadi kekurangan dalam sinetron di Indonesia. Kalaupun ada message nya terkesan sangat menggurui.
6. Friendly episode
Jumlah episode Korean Series memang bener2 friendly, sekitar 15-30 episode tiap judulnya. Ini dikemas dalam 3-4 DVD. Kalau beli bajakan pun sekitar 30 ribuan. Satu seri bisa ditonton untuk seminggu, tergantung kondisi, mau stripping nontonnya atau santai. Dibandingkan kalau saya membeli novel yang harganya sudah diatas 50 ribuan dan habis dalam sekejap (kpm saya tinggi) acara nonton Korean Series ini jadi alternatif hiburan yang murah. Tapi mata saya lebih cepat lelah menonton dibandingkan membaca.
Okay, itu saja beberapa catatan dari Korean Series. Ambil bagusnya buang jeleknya. Tiru baiknya lupakan buruknya..
Subscribe to:
Posts (Atom)