Pages

Thursday, March 27, 2014

Moving out

Sejak mendapat jatah.. eh tugas mengajar 4 kelas selama semester ini, Saya mulai merasa kewalahan yang luar biasa. Bukan karena kewalahan mengajar, tapi karena harus menghandle pekerjaan administrasi di BAAK. BAAK itu akronim dari Bagian Akademik dan Administrasi Kemahasiswaan. Ya, saya masih merangkap-rangkap begini karena SK pindah saya masih di BAAK. Pekerjaan di BAAK itu tidak sulit cuma menguras waktu aja. Saya cuma memonitor perkuliahan yang diselenggarakan. Tapi.. yang namanya perkuliahan itu itemnya banyak, mulai dari absensi, ketersediaan dosen, jadwal sampai mengurus permintaan spesial mahasiswa dan dosen kalau ada dispensasi dan sebagainya. Tapi saya kan tidak didesain untuk mengeluh dengan kondisi yang ada.

Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.

So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.

Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..

Thursday, February 13, 2014

On the right track..

Sambil mendengarkan Creed nyanyiin lagu My Sacrifice, saya sesekali melirik ponsel yang pagi ini rajin berbunyi karena grup baru dari temen-temen seangkatan waktu masih di akademi. Ceritanya lagi pada nanya-nanya sekarang posisinya dimana, sudah jadi pejabat apa, anaknya berapa dan seterusnya. Sesekali bertukar cerita mengenai kondisi di daerahnya (saat ini beberapa teman yang tinggal di sekitar Kediri sedang resah karena kondisi Gunung Kelud yang statusnya waspada). Hal-hal seperti ini sangat tipikal untuk orang-orang yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sama (baca: se-alumni).

Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!

Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.

Wednesday, February 12, 2014

A little thing called Supply and Use Table (SUT)

Seharusnya, hari ini saya mensubmit soal untuk ujian IO, SUT dan Nesparnas. Tapi entah kenapa sampai detik ini belum ada chemistry ke arah itu. Terus, saya teringat untuk memposting sesuatu di blog ini. Supaya saya ada chemistry dengan pembuatan soal itu, kenapa tidak saya bahas saja sekalian sedikit cerita tentang bagian kecil dari kuliah itu, Supply and Use Table atau Tabel Penyediaan dan Penggunaan.

Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...

Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.

Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini

SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.

Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional

Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :


Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.

Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.

Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.

Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.

Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he

Monday, January 20, 2014

A little thing about neparnas

Cuaca memang sedang tidak mendukung. Sudah seminggu ini hujan turun terus menerus seolah menuntaskan rindunya pada bumi. Hehehe hujan itu sanggup membuat orang jadi ber-melow ria ya. Hujan juga sanggup membuat aktivitas yang rutin dijalani tiba-tiba berubah 180 derajat dari posisi awalnya. Bayangkan, lalu lintas arah Jakarta dari Bekasi yang biasanya sudah macet jadi lebih macet lagi karena hujan yang turun membuat genangan di beberapa tempat, sehingga kendaraan yang lewat harus menurunkan kecepatannya. Ya bukan salah hujannya juga sih, salah manage kota aja.

Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.

Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.

Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.

Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.

Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata

Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.

Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.

Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..

Friday, January 3, 2014

Random thought of my lecture

Aktivitas pagi ketika menuju ke kantor adalah minum kopi, makan cemilan seperti roti, biskuit kadang-kadang bawa nasi lengkap dengan lauk on the spot (semacam lauk seadanya hehe), dengerin Ronal dan Tike siaran di JakFM, trus ngajak ngobrol Aa yang lagi nyetir. Kalau dipikir-pikir udah kayak nyonyah ya. Satu lagi yang sering dilakukan adalah stalkingin timeline-nya @lewatmana kalau lagi macet, juga akun mahasiswa-mahasiswa saya..(abis ini akun mereka langsung digembok deh hehe). Kata anak saya jadi dosen tuh ga boleh kudet harus update.

Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.

Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.

Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.

Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..

Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.

Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.

Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).

Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..

Sunday, September 22, 2013

Days to be blessed

Lima bulan di tempat kerja yang baru, dengan bidang keahlian yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang baru dan sistem yang berbeda, membuat semua ini harus disyukuri. Bagaimana tidak, ini pengalaman yang sulit dinilai dengan uang, priceless.. Awalnya memang agak berat karena ini jauh berbeda dari sebelumnya, sekarang semua lebih mudah.

Apa saja yang sudah saya lakukan lina bulan terakhir ini akan saya bagi disini Perlu diingat saya suka sharing pengalaman, jadi jangan anggap ini sarana show off hehe..

Pertama, edit modul matrikulasi. Sebenarnya ini bukan hal baru dan hampir sama sekali tidak menantang, tapi saya berusaha seantusias mungkin mengerjakannya karena saya bekerja dengan teman-teman baru dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda. It went well after all. Begitulah..

Kedua, ikut berbagai macam seminar. Mulai dari yang gratisan sampai yang... gratisan juga. Biasanya yang gratisan itu dari universitas. Nah disini saya dapat wawasan dan ilmu yang lebih banyak, bertemu dengan orang pintar lebih banyak lagi. Saya sampai heran bertemu doktor dari UI yang dari tampilannya biasa saja, terkesan santai dan muda tapi ketika mereview jurnal teman saya membuat saya terkesan dengan kemampuannya menyederhanakan dan mengkomunikasikan jurnal sehingga lebih mudah dimengerti. Ternyata beliau memperoleh gelar doktornya karena meneliti tabel input output. So, there's connection here. I won't tell his name here since he's quite famous in his campus *ehm

Ketiga, toefl. Ya, kami yang bekerja disini menjalani tes toefl kemudian diberi kursus dari Lembaga Bahasa UI untuk mengupgrade nilai toefl kami. Tes pertama, toefl saya 560, padahal saya ditargetkan untuk mencapai 600. Still a long way to go. So, tutor saya bernama Paul dan Chisna yang keturunan India itu. Paul konsentrasi di structure, Chandra di listening dan reading.  O ya, Paul sangat mengagumi sistem yang diterapkan kampus kami. Dia sangat iri dengan betapa tertibnya perkuliahan dan kegiatan disini dengan monitor yang ada dimana-mana sehingga setiap orang bisa mendapat informasi yang tepat. Bulan depan kami akan menjalani tpa. Kenyataan bahwa semua tes tersebut harus dijalani adalah demi sertifikasi dosen yang syaratnya nilai toefl dan tpa pada passing grade tertentu. Somehow, I enjoy it very much.

Keempat, mengajar. Ya, itu tugas utama saya. Tapi saya harus mengajar matrikulasi untuk debut saya ini. Hehe matrikulasinya semacam pelajaran SMA untuk matematika. Rasanya seperti mengajar anak sendiri. Yang diajar itu berasal dari Papua, Maluku, Aceh, Kalimantan. Mereka adalah mahasiswa yang diterima melalui jalur penerimaan pmdk. Tujuannya supaya mereka memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa reguler. Kebanyakan ini adalah kali pertama mereka jauh dari orang tuanya. Dan mereka curhat.. oh dear..

Kelima, workshop. Saya sempat mencicipi workshop selama 5 hari dengan Australia Berau Statistics. Kami berdiskusi tentang penghitungan National Account antara dua negara, Australia dan Indonesia. Delegasi dari ABS yang menangani national account adalah Andrew dan seorang perempuan cantik yang namanya saya lupa. Dari workshop itu saya jadi mengetahui bahwa apa yang sudah dilakukan direktorat neraca sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang sudah dilakukan Australia. Saya jadi lebih menghargai kerja teman-teman neraca baik di pusat maupun daerah. Jadi berhentilah membully teman-teman yang sudah berusaha keras menyempurnakan penghitungan PDB. They've worked so hard..

Keenam, jadi moderator. Ada 5 skripsi yang harus saya moderatori ketkka sedang diseminarkan untuk syarat kelulusan mahasiswa tingkat akhir. Saya cukup terkesan dengan kemampuan mahasiswa disini yang menurut saya jauh di atas rata-rata.

Ketujuh, membuat modul SNNI atau Sistem Neraca Nasional Indonesia. Ini bukan pekerjaan sepele karena modul ini belum ada dan baru tahun ini dibuat. Untuk ini saya bekerja dengan tim yang terdiri dari 4 orang yang pernah jadi kasi neraca. Gara-gara ini juga saya harus pulang hingga larut malam karena rapat dengan narasumber yang dulunya dedengkot neraca di BPS RI. Kami harus menyesuaikan dengan jadwal beliau. Bekerja membuat buku dalam satu tim bukan hal mudah karena setiap orang punya ide yang berbeda. Saya harus ekstra sabar dan sedikit menahan diri untuk tidak terburu-buru membicarakan keinginan saya. Banyak yang saya pelajari disini terutama dari sisi mengelola emosi hehe.. kind of learning to be more mature..

Selain itu semua, ada beragam pekerjaan administratif yang tidak perlu saya share disini karena sifatnya biasa saja. Jadi begitulah hal-hal baru disini. Semangat mudanya sungguh luar biasa.. Alhamdulillah..

Friday, August 2, 2013

You know my name, not my story

Ketika saya memutuskan untuk mengganti pola karir saya di instansi pemerintah ini, beberapa teman mempertanyakan keputusan saya. Ada yang mendukung, ada yang tidak mengerti, kebanyakan sih cuek aja. Hehehe memangnya saya siapa sampai segitunya dipikirin. Saya menganggapnya sebagai dinamika kantor. Keputusan saya untuk merubah pola karir sebenarnya tidak lepas dari keluarga, terutama anak-anak saya. Saya pernah iseng tanya ke anak sulung saya apakah dia bangga kalau mamanya jadinya mentri. Jawabnya tidak. Katanya dia ga bangga kalau mamanya jadi mentri atau pemegang jabatan lainnya karena dia akan selalu khawatir akan mamanya. Saya agak bingung kenapa dia harus khawatir? Alasan dia khawatir kalau mamanya jadi pejabat adalah takut mamanya dijebak dalam suatu konspirasi politik. Anak sulung saya itu memang kerap menggunakan kata-kata yang tidak biasa bila mengungkapkan pikirannya. Menurutnya, ada banyak cara dengan apa yang saya bisa untuk membuatnya bangga.

Menjadi kebanggaan anak-anak itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya butuh tiga elemen penting yang harus bersinergi. Elemen pertama adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat baik itu ilmu agama maupun duniawi, Insya Allah akan membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ceritanya saya punya seorang sahabat yang orangtuanya berpendidikan tinggi (setidaknya dibandingkan dengan pendidikan orang tua saya), ibunya merupakan pejabat di Pemkot Jakarta Pusat. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Sahabat saya itu selalu menceritakan kedua orang tuanya dengan penuh rasa bangga. Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya juga bangga dengan kedua orangtua saya yang menurut saya walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi memiliki skill dan ilmu yang luar biasa. Ibu saya itu pintar menjahit. Hingga saat ini pun saya masih suka dibuatkan baju oleh ibu. Saya juga bisa menjahit karena diajar oleh ibu saya. Selain menjahit, ibu saya juga pandai berdagang. Beliau memiliki kios di pasar tradisional yang digunakan untuk menjual kain. Hebatnya, ibu saya SD pun tak tamat. Sementara bapak saya juga tidak kalah hebat. Buat saya, bapak adalah pakar matematika yang jauh lebih pintar daripada guru-guru saya. Bapak, cuma sampai STM. Tapi, kalau soal ngerjain tugas matematika, saya larinya ke bapak. Bapak juga pandai mengaji, suka menghafal Al Quran. Yang membuat bapak menjadi hebat adalah kemauannya untuk selalu belajar. Saya selalu berharap itu adalah sifat genetik dan diturunkan ke saya hehe.. Asal tahu saja, waktu saya kecil, bapak sering belajar dari textbook civil engineering, yang belakangan ini saya tau merupakan textbook mahasiswa teknik sipil. Sampai sekarang di usianya yang jelang 70 tahun, beliau masih sering browsing di internet. Yang sedang dipelajarinya saat ini adalah obat-obatan herbal karena beliau memang sering sakit.

Elemen kedua adalah lingkungan yang mendukung. Ini saya pelajari dari kedua orangtua saya. Ya, sebegitu bangganya saya dengan mereka, sampai saya berusaha mencari tahu apa rahasianya. Bapak ibu saya selalu berpesan kepada saya agar saya selalu berada di lingkungan yang baik, di rumah maupun di kantor. Berteman dengan orang-orang yang baik agar ikut menjadi baik dan memilih komunitas yang memiliki energi positif supaya tetap bersemangat menjalani hidup. Menjadi orang baik itu harus diusahakan, anak akan bangga dengan orang tuanya bila lingkungannya baik.  Itu juga yang menjadi alasan saya untuk mengubah jalur karir saya. Bukan berarti di tempat lama saya kerja merupakan lingkungan yang buruk. Saya pikir kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak.

Elemen terakhir yang menurut saya perlu ada adalah mendukung anak semaksimal mungkin. Lagi-lagi ini saya pelajari dari orangtua saya. Dulu, ditengah segala keterbatasan finansial mereka, fasilitas pendidikan full saya peroleh dari mereka. Kadang sedih juga melihat mereka bela-belain beli buku buat saya, bayarin les saya yang lebih mahal dibandingkan spp waktu itu. Usaha mereka untuk membuat saya tetap bisa bersekolah sungguh luar biasa. Mereka sering menasehati saya untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Katanya jaman sekarang orang pintar itu banyak, tapi yang akhlaknya mulia itu sedikit. Jadi saya diminta untuk memperhatikan kedua hal tersebut, pintar dan berakhlak mulia.

Bagaimanapun juga, saya harus terus berusaha lebih keras lagi untuk menjadi kebanggaan anak-anak supaya mereka selalu mendoakan saya. Bukankah mereka nanti yang mendoakan kita kalau kita sudah mati. Dan bukankah doa anak-anak kita yang menyambung amal kita kalau kita sudah mati.

Demikian postingan ini saya buat untuk simple thought. Now you know my story..