Pages

Monday, November 24, 2014

Bukan hari yang indah

Entah kenapa, bulan November ini rasanya seperti inversia dari kejadian-kejadian baik. Saya tetap berusaha untuk berada dalam kerangka baik sangka atas kejadian-kejadian ini. Workshop yang terganggu kuliah, harta yang hilang, jadwal yang tidak ramah, anak sakit, sampai bikin lecet mobil orang dan saya harus mengganti kerugiannya itu. Semuanya campur aduk membentuk suatu sistem yang memiliki dampak sistemik pada pola hidup saya. Hehehe..

Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..

Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe

Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.

Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.

Friday, October 17, 2014

Introduction to CGE.. again

Dilanjutkan lagi CGE nya ya..

Penjelasan pareto dalam tulisan ini adalah kondisi sederhana dan fokus pada kasus satu konsumen, dua faktor produksi dan dua komoditas

Keseimbangan Produksi
Dalam teori produksi dijelakan produsen berada dalam keseimbangan bila MRTSu = w1/w2 dimana w1 adalah harga faktor L (tenaga kerja) dan w2 adalah harga faktor K (modal). Jika ada dua perusahaan yang menghasilkan barang/komoditas yang sama (kita sebut saja x1 dan dan x2), keseimbangannya bisa dijelaskan melalui Edgeworth Box (ini ada di microeconomics-nya Nicholson).

Keseimbangan Konsumen
Pareto optimum pada konsumen, didekati dengan konsep Marginal Rate of Substitution (MRS). MRS menunjukkan kesediaan seorang konsumen untuk menukarkan satu unit terakhir dari suatu barang untuk mendapatkan beberapa unit barang lainnya. MRS sama dengan harga relatif kedua barang yang akan dikonsumsinya untuk mencapai kepuasan yang optimal.

Keseimbangan Sektor Produksi dan Konsumsi
Keseimbangan produksi dan konsumsi tercapai pada saat MRTPTu = MRS = P1/P2.
MRPT adalah tingkat transformasi suatu produk terhadap produk lain. MRS menunjukkan sejauh mana konsumen mau menukarkan suatu komoditias dengan komoditas lainnya. Keseimbangan terjadi jika transformasi produksi sesuai dengan tingkat substitusi konsumsi (Nicholson, 1994)

Asumsi
Ok, semua model pasti memiliki asumsi. Nah, selain memenuhi asumsi pasar persaingan sempurna dan efisiensi pareto, terdapat beberapa asumsi lain dari model CGE (Gilig dan Carl, 2002), yaitu :
1. Pada pasar komoditas dan pasar input, total permintaan = total penawaran
2. Pada tingkat harga keseimbangan keuntungan perusahaan = nol
3. Pendapatan rumah tangga = Pengeluaran rumah tangga
4. Penerimaan pemerintah = pengeluaran pemerintah

Dari asumsi tersebut bisa dilihat kalau model CGE adalah model ekonomi yang melihat ekonomi sebagai suatu sistem yang komplit. Model CGE dibuat pada level makro (agregat) tapi dengan memasukkan level mikro lebih rinci dengan adanya keterkaitan antara aktor ekonomi. Seluruh pasar secara jelas telah mencapai keseimbangan dan memiliki struktur tertentu yang didasari pada formula keseimbangan. Pasar mencapai keseimbangan jika memenuhi syarat : non negatif, homogen dan memiliki harga yang unik, tidak terjadi excess demand, dan efisiensi pada harga pasar.

Model CGE memiliki dua karakteristik, dioperasikan dengan harga relatif dan memenuhi hukum Walras dan numeraire (harga seluruh barang merupakan harga relatif terhadap suatu harga). Jadi tidak bisa dengan harga absolut. Model CGE terdiri dari banyak persamaan, yang solusinya menggambarkan keseimbangan umum. Persamaan-persamaan ini menggambarkan perilaku mikroekonomi yang umumnya merupakan persamaan nonlinier. Model CGE umumnya menggunakan closure makroekonomi. Suatu closure merefleksikan ketepatan asumsi dalam model. Closure menyediakan pilihan variabel-variabel yang menjadi variabel eksogen dan variabel endogen. Juga digunakan untuk menentukan simulasi berkenaan dengan skala waktu jangka panjang dan jangka pendek dengan mensubstitusi variabel eksogen dengan variabel endogen.

Jumlah variabel dalam model biasanya elbih besar dari persamaannya, sehingga harus ada variabel-variebel endogen dan eksogen. Variabel ensogen adalah variabel yang nilainya ditentukan dalam model. Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model.

Mudah-mudahan ini bisa jadi pengantar untuk memahami CGE. Mengenai teknis penghitungannya.. mungkin nanti kalau ada kesempatan saya coba tulis disini. Tapi ga janji..

Sunday, September 28, 2014

Introduction to CGE

Acara seminar dan sidang skripsi sudah hampir dua minggu berlalu. Kesibukan kedua acara tersebut melebihi sibuknya artis yang syuting secara striping untuk acara sinetron kejar tayang. Pokoknya hectic banget..

Dari beberapa sidang skripsi mahasiswa, semua menggunakan model ekonomi yang sama, yaitu model ekonometrika. Entah itu dengan data panel, time series atau dengan cross section yang pakai RLB. Saya kurang mengerti, apakah memang harus menggunakan model ekonometrika untuk dapat menjawab tujuan yang kebanyakan adalah menganalisis dampak variabel-variabel ekonomi. Karena ada model lain yang juga menggunakan statistik yang bisa menjelaskan fenomena ekonomi secara lebih komprehensif. Contohnya saja yang sudah diajarkan adalah model IO, model SNSE dan yang saat ini sedang happening adalah model CGE (Computable General Equilibrium).

CGE merupakan model struktural. Artinya, model ini dibangun dengan dasar-dasar teori mikroekonomi dan makroekonomi dimana perilaku agen-agen ekonomi dijelaskan secara spesfik dan detail dalam bentuk persamaan (behavioral equation). Oleh karena itu, model CGE dapat menjelaskan interaksi antara agen-agen yang berbeda pada suatu wilayah (bisa berupa negara atau daerah).

Sebenarnya, ada beberapa model ekonomi yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisis dampak perubahan variabel-variabel ekonomi, yang paling sering digunakan adalah model ekonometrika dan model CGE. Model lainnya adalah model keseimbangan parsial (partial equilibrium), yang salah satu aplikasinya adalah equilibrium displacement model, Input-output Model (Model IO) dan Social Accounting Matrix atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).

Model ekonometrika didasarkan pada analisis regresi dengan jenis data yang digunakan bisa berupa data cross section, time series, dan panel yang merupakan gabungan antara data cross section dan time series. Sehingga diperlukan series data yang cukup untuk melakukan estimasi parameter dan ada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terkait dengan regresinya. Ketersediaan series data dan konsistensinya seringkali menjadi masalah bila ingin menggunakan model ekonometrik pada data negara sedang berkembang.
Sementara itu, model CGE hanya mengacu pada tahun tertentu (particular benchmark years). Model CGE juga dapat melakukan analisis dan dampak pada tingkat mikroekonomi dan makroekonomi. Hal ini berbeda dengan yang terjadi bila menggunakan model ekonometrik yang biasanya hanya dapat melakukan analisis di tingkat makroekonomi.

Konsep dasar CGE adalah Efisiensi Pareto atau Pareto Optimum pada setiap agen ekonomi (produsen, konsumen, investor dan pemerintah). Dalam teori mikroekonomi, efisiensi dalam perekonomian dikenal dengan efisiensi pareto yang menjelaskan kondisi dimana satu pihak tidak dapat menignkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya. Konsep efisiensi pareto mencakup tiga jenis efisiensi :
1. efisiensi alokasi sumber daya (keseimbangan produksi)
2. efisiensi kombinasi distribusi komoditas (keseimbangan konsumsi)
3. efisiensi kombinasi produk (keseimbangan sektor produksi dan konsumsi)

Sebelum menggunakan model CGE, harus dipastikan dulu si pembangun model memiliki ilmu matematika (terutama kalkulus lah ya untuk optimasi), mikroekonomi (untuk menjelaskan efisiensi pareto), makroekonomi (untuk analisis dampaknya), plus komputasi (karena ini bukan model ekonometrika yang biasa pake eviews, jadi akan sangat membantu bila si pembuat model memahami algoritma komputasi karena software yang digunakan biasanya open source yang mengandalkan penguasaan syntax-syntaxnya).

...to be continued

Tuesday, September 16, 2014

puisi tanpa judul

Puisi ini ditemukan di laptop saya yang memang suka dipakai juga oleh anak-anak.
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :

sebanyak limit.

setiada nol.

aku tahu, aku bukan tentang segalanya ketika ia memanggangku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.

wahai, pemilik sebentang rasa penuh dusta dilema yang berani-beraninya menyelupkan diri dalam lautan pikiran, menyeruak di jeda senyap malam, dan mengabur ketika aku berusaha memecahkan persoalannya.

aku cuman sebutir rinai hujan,
ketidakinginan untuk pergi, kecewa, juga gelisahku pada awan selalu kubungkam.


Wednesday, August 27, 2014

Simple note from seminar

Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.

Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.

Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.

Klasik vs Bayesian

Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?

Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*

Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.

Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan

Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..

Monday, August 18, 2014

A note from workshop

Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.

Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.

Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.

Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..

First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.

Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.

Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.

Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.



And...

direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.

Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.

Friday, August 8, 2014

Statistician is the sexiest job in the world..

Jum'at pagi ini adalah hari pertama kegiatan non lecture di kampus dimulai. Acara yang diadakan adalah semacam seminar yang dberi judul The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics. Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Peran statistisi dalam pengobatan personal: Sekilas tentang Metode Statistik Bioinformatika. Judulnya menarik, setelah mengikuti seminarnya, ternyata isinya memang sangat menarik.

Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..

Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.

Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..

Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?