Monday, April 8, 2013
I'm not perfect
Due date yang saya miliki kali ini memang semena-mena ditengah kesibukan rekan kerja yang lainnya. Tapi ini tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. Memang sih kalau sudah tepat waktu juga tidak ada rewardnya, tapi yang pasti banyak orang yang senang dan kita tidak memiliki tagihan lagi. Saat ini, kalau mengukur waktu, loading kerjaan dan tenaganya, rasa-rasanya sulit. Tapi akan lebih sulit lagi kalau tidak dikerjakan. Yah, saya bukan lah orang yang sempurna, tapi berusaha itu harus kan..
Ini adalah simple thought siang ini.. karena harus tepat makan, saya harus segera makan siang...^_^
Sunday, April 7, 2013
Sisi lain perikanan
Seperti biasanya, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan peserta yang memiliki usaha perikanan. Selain tambak bandeng dan udang, usaha penangkapan ikan di laut dan sungai juga dilakoni oleh sebagian besar penduduk di kecamatan ini. Dari sisi produksi, biaya produksi di bidang perikanan cukup membuat mereka kesulitan dalam melakukan usahanya. Misalnya untuk penangkapan ikan. Kapal yang diperlukan untuk melaut itu harganya mahal, belum lagi solar dan peralatan lainnya seperti jaring dan pukat. Oleh karena itu, ketika melaut mereka melakukannya secara berkelompok dan modalnya ditanggung bersama, termasuk juga menyewa kapal kalau salah satu diantara mereka tidak memiliki kapal. Hasilnya mereka bagi sesuai dengan persentase modal yang mereka setor.
Masalahnya, bagaimana mereka memasarkan hasil tangkapannya? Mereka mengaku menjual langsung di pasar ikan Cilincing dan Marunda. Kebetulan disana sekarang sudah ada tempat pelelangan ikan. Jadi mereka tinggal membawa hasil melautnya kesana untuk dijual.
Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang mengusahakan ikan di tambak. Mereka menjualnya ke TPI, hanya saja sarana transportasinya kurang baik. Mereka juga bercerita kalau saat ini di wilayah mereka yang memiliki tambak dan kapal kebanyakan bukan penduduk setempat. Artinya, kapital yang mereka miliki bukanlah berasal dari daerah tersebut. Mereka hanya merupakan bagian dari faktor produksi.
Biasanya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan modal. Sejauh apa bantuan tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan mereka jika sistemnya seperti ini? Sebesar apapun bantuan yang diberikan oleh pemerintah, kalau sistemnya belum mendukung, memang akan sulit untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.
Ini adalah salah satu simple thought hari ini dari pengalaman di tempat pelatihan ini.
Friday, April 5, 2013
Petaniku sayang, petaniku malang..
Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar pelatihan sensus pertanian 2013 gelombang pertama dari dua gelombang di Kab. Bekasi. Sedikit merasa ketar ketir apakah materi yang saya sampaikan terterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Pasalnya dari 24 peserta, hanya 6 orang saja yang sudah pernah mengikuti pelatihan sensus atau survei yang diselenggarakan BPS. Sungguh, ini merupakan tantangan tersendiri buat saya. Bagaimana caranya agar mereka bisa memahami dan mengikuti konsep definisi dan alur kerjanya BPS. Maklum saja, beberapa di antara mereka adalah petani sungguhan. Beberapa lagi malah seperti fresh graduate dari SMA kalau dilihat tampangnya. Tapi, tampang kan bukan jaminan seseorang akan lebih mudah menerima materi.
Sekarang, mereka sedang menjawab soal pendalaman materi. Perasaan saya jadi harap-harap cemas, khawatir mereka tidak bisa mengisi lembar jawaban mereka dengan benar. Bukankah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana mereka menerima materi itu diukur dari hasil pendalaman ini.. Memang ini bukanlah pengalaman pertama saya mengajar materi sensus atau survei, tapi perasaan seperti ini kerap saya rasakan di akhir pelatihan. Bagaimana tidak, kalau mereka sampai tidak paham betul dengan kegiatan ini, hasilnya sudah dipastikan jauh dari baik.
Sebelumnya, saya sempat berbincang-bincang dengan petani sungguhan yang ikut pelatihan ini. Dia cerita bagaimana proses produksi padi, kendala produksinya, cara menjualnya sampai ketidakpastian harga yang mereka terima dari tengkulak. Jadi, salah satu kendala terbesar mereka dalam proses produksi adalah sulitnya supply pupuk dengan harga yang pas. Seringkali mereka harus berhutang ke supplier pupuk untuk mendapatkan pupuk. Itupun kalau stok pupuknya tersedia. Biasanya mereka harus mengalami penundaan untuk menanam karena pupuknya tidak ada dan harganya mahal.
Dari sisi penjualan juga mereka seperti terperangkap dalam suatu sistem yang seperti vicious cycle atau lingkaran setan. Hasil padi yang mereka peroleh dengan biaya produksi yang cukup besar itu, dijual dengan harga empat ratus ribu per kuintal. Padahal, menurut pengakuan mereka, dari satu hektar lahan sawah menghasilkan lima ton padi atau lima puluh kuintal padi. Bila diuangkan menjadi empat juta rupiah. Ini belum dikurangi biaya produksi seperti pupuk yang harganya 1.900 rupiah per kilo untuk pupuk urea dan 2.300 rupiah per kilo untuk pupuk TSP. Mereka memerlukan dua kuintal urea dan satu kuintal TSP untuk lahan satu hektar. Biaya produksi itu belum termasuk biaya buruh taninya. Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk hasil rata-rata 5 ton beras per hektar. Kemudian, mereka menjualnya kepada tengkulak bukan ke KUD. Itu belum mempertimbangkan sistem pengelolaan lahannya yang seringkali tidak dimiliki sendiri oleh mereka.
Miris ya.. tapi itulah kenyataannya. Di dalam ekonomi mikro, dikatakan people respond to incentive. Sekarang bagaimana petani-petani tersebut terpacu untuk meningkatkan produksinya kalau biaya produksinya besar, harga jualnya kecil dan sistem pengelolaan lahan yang kurang fair. Jadi tidak heran kalau generasi mudanya tidak ingin menjadi petani karena prospek sektor pertaniannya tidak cerah. Bahkan petani yang memiliki lahan sendiri, memilih untuk menjual lahannya dan beralih ke sektor lain ketimbang meningkatkan produksi padi. Kalau sudah begini dijamin produksi padi kita akan terus berkuang. Padahal, makanan utama bangsa Indonesia adalah beras yang berasal dari padi.
Sudah jelas peran pemerintah sangat besar di sektor ini. Pemerintah bisa menyederhanakan distribusi pupuk agar harganya bisa lebih murah untuk memangkas biaya produksi. Pemerintah juga bisa menetapkan harga yang 'pantas' supaya kesejahteraan petani terjaga. Misalnya, pada pasar komoditi, pemerintah bisa menetapkan hedging price. Selain itu, pemerintah juga bisa membeli padi yang dihasilkan dan melakukan pengolahannya menjadi beras. Jadi, petaninya hanya akan memikirkan bagaimana caranya supaya produksinya meningkat. Kalau begini kan mereka tinggal mempelajari teknologi peningkatan produksi padi.
Tapi, kenapa pemerintah kelihatan sulit sekali melakukan hal itu? Pemerintah lebih memilih membuka kran impor beras untuk menstabilkan harga beras. Memang dalam jangka pendek, impor beras diperlukan untuk menstabilkan harga, tetapi kalau proses produksinya tidak diperbaiki yang ada kita akan terjebak pada ketergantungan dengan negara lain yang menjadi pengekspor beras. Atau apa memang sudah ada konspirasi internasional supaya Indonesia tidak berkutik dalam ketahanan pangannya? Supaya lebih mudah menguasainya? Perasaan ngeri kini mulai merambati pikiran saya..
Begitulah simple thought hari ini. Saya harus mempersiapkan diri saya untuk mengajar gelombang ketiga di tempat ini juga. Pulang hampir larut malam selama lima hari berturut-turut akan tetal saya lakoni kalau itu bisa membuat Indonesia jadi lebih baik..
Friday, March 22, 2013
Self Reward
Tapi lagu hall of fame nya the script ini benar-benar menyemangati. Cocok jadi personal anthem. Awalnya sering dengar pagi-pagi di acara olahraga di televisi, lama-lama biasa. Kalau lagi mengendarai mbak Silvy, ini enak banget buat di dengar di jalan. Tapi saya sedang tidak ingin membahas lagu ini. Saya lagi mau cerita tentang kesibukan yang sebentar lagi hilang.
Jadi, double duty yang selama ini selalu membuat perhatian saya tertumbuk pada hal seputar pekerjaan, akan segera berakhir. Senang sekali ya.. Senengnya itu seneng banget bukan seneng aja. Tadi orang yang saya plh-in itu datang dan saya mulai mentransfer tugas-tugas yang ada di waktu mendatang. Huaah rasanya lega sekali.
Lalu, saya langsung memikirkan self reward untuk ini.. mmm apa ya kira-kira..
Self reward itu penting untuk menjaga keseimbangan. Ga perlu yang mahal, tapi bikin senang hati aja. Biasanya, saya selalu menghadiahi diri saya sendiri kalau sudah menyelesaikan suatu tugas, misalnya waktu pekerjaan membuat publikasi selesai saya beli sesuatu sebagai hadiah untuk diri saya kalau saya sudah menyelesaikan pekerjaan itu. Maksudnya supaya saya lebih mencintai lagi pekerjaan saya. Dan setelah keluar dari hectic moments ini, saya juga bermaksud menghadiahi diri saya. Contohnya, postcard bergambar menara eiffel yang saya tempel di meja saya merupakan self reward saya ketika saya menyelesaikan pengadaan. Sederhana, tapi setiap kali saya melihat postcard itu rasanya senang aja. Hey, bahagia itu sederhana. Saya sulit menjelaskannya, tapi nyatanya ya seperti itu.
Saturday, February 23, 2013
Shine like a diamond
Bahan dasar berlian adalah karbon yang mengalami tekanan sangat kuat di muka bumi, kira-kira 5 giga pascal. Ketahuilah, 5 giga pascal itu sama dengan 725.188,689 psi. Sebagai perbandingan, tekanan angin ban mobil itu biasanya 32 psi. Karbon ini mengalami pemanasan sekitar 1.200 derajat celcius.
Terbayang, kombinasi tekanan, suhu yang tinggi, proses yang lama hingga jutaan tahun bahan miliaran, akhirnya menghasilkan Kristal yang sangat keras dan sangat padat.
Itu pun belum berhenti sampai disini. Karena Kristal berlian itu harus dipotong untuk mendapatkan bentuk yang indah. Yang memotong tentunya orang yang ahli, memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memotongnya.
Cerita tentang diamond di atas itu, saya dapat dari bukunya Noveldy dan mbak Nunik yang judulnya menikah untuk bahagia. Kenapa saya cerita tentang berlian? Karena saya ingin berlian? Iya lah itu pasti. Tapi saat ini bukan cuma itu, kalau dipikir-pikir (karena ini simple thought, jadi saya mikir yang simple aja) manusia untuk berkilau dan bernilai tinggi juga harus seperti berlian itu. Rela mengalami tekanan, suasana panas, proses yang panjang dan juga harus rela dibuang bagian-bagian buruknya untuk mendapatkan bentuk yang memancarkan kilau yang indah.
Mengalami tekanan hidup, pekerjaan, semacam survivatory sungguh bukan hal yang enak untuk dijalani, tapi itu harus dijalani. Suasana yang tidak enak, atmosfer yang tidak kondusif sehingga rasanya seperti kekurangan oksigen dan membuat dada sesak mau tak mau harus dipaksakan. Mengeluh jelas tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Prosesnya lama dan harus rela dibentuk.
Masalahnya, relanya itu semacam apa? Nah itu..
Macgyver bilang think!
Thursday, February 14, 2013
Komunitas Jalan Perjuangan
Jalan Perjuangan menjadi jalur utama bagi mereka yang tinggal di sebelah utara Bekasi. Dulu, wilayah utara Bekasi merupakan lahan sawah yang luas. Tapi, seiring bertambahnya jumlah penduduk, lahan sawah tersebut berubah fungsi menjadi perumahan, pabrik, sekolah dan pertokoan. Dan Jalan Perjuangan merupakan akses utama untuk mencapai pusat kota dan pemerintahan.
Saya belum tahu kenapa dinamakan Jalan Perjuangan. Saya menduga-duga saja pasti ada cerita dibalik penamaan jalan itu. Yang jelas dari dulu sampai sekarang melalui jalan tersebut harus penuh perjuangan. Dulu, sebelum tahun 2004, jalan itu rusak parah. Jalan tersebut sering dilalui truk tangki yang mengangkut minyak dari Babelan. Itu menyebabkan kondisi jalan rusak. Tahun 2005, jalan tersebut selesai dicor. Tapi kemudian, semakin banyak saja kendaraan yang melalui jalan itu, sehingga perlu perjuangan lebih untuk melaluinya.
Saya tidak sendiri, setidaknya ada empat orang teman saya lainnya di kantor yang selalu melewati Jalan Perjuangan. Saya menyebutnya Komunitas Jalan Perjuangan. Kalau ada kejadian luar biasa, semisal macet karena kecelakaan atau alat angkut berat yang lewat dan menghalang-halangi jalan, kami selalu mendiskusikannya. Semacam update kondisi lalu lintas lah. Kalau cuaca sedang hujan deras seperti akhir-akhir ini, Jalan Perjuangan selalu macet parah.
Kegiatan lain dari Komunitas Jalan Perjuangan adalah menyusun tips dan trik dalam menjalani kemacetan. Kalau saya ya sudah pasti mendengarkan musik via handphone. Ada juga yang memberi tips untuk zig zag kiri kanan bagi biker di area tertentu untuk melakukan manuver tersebut. Ah namanya juga komunitas, menurut Soenarno (2002), definisi Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Kira-kira kami berlima ini sudah bisa disebut komunitas tidak ya?
Tuesday, February 12, 2013
Lelah Hati..
Tapi manusiawi juga ya kalau kadang-kadang capek juga. Capek ngadepin palsunya orang-orang, capek dengan atmosfir yang begini, sampai akhirnya saya dengerin lagu ermy kulit yang judulnya lelah hati.. hehehe..
Oke, selera musik saya memang aneh, tapi itu hak saya. Jangan salahin saya kalo saya bisa menikmati hingar bingarnya Muse sampai melow nya Ebiet G Ade. It's my prerogative right.
Lalu saya menuliskan judulnya di status bbm saya judul lagu itu. Kemudian yang terjadi adalah : 80% kontak bbm cuek (ya iyalah emang saya siapa? Artis? Ngarep!), 15% kontak bbm lainnya langsung update status mereka (oh dear.. bb, bb mereka sendiri, suka-suka mereka mau update status apa ga), dan sisanya yang 5% nanyain "kenapa nik.." (yes! Ada juga yang nanya hehehe).
Saking care nya ada yang ngirim begini ke saya..
Oow..did i do something fool today?
