Friday, January 3, 2014
Random thought of my lecture
Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.
Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.
Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.
Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..
Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.
Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.
Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).
Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..
Sunday, September 22, 2013
Days to be blessed
Lima bulan di tempat kerja yang baru, dengan bidang keahlian yang berbeda, bertemu dengan orang-orang yang baru dan sistem yang berbeda, membuat semua ini harus disyukuri. Bagaimana tidak, ini pengalaman yang sulit dinilai dengan uang, priceless.. Awalnya memang agak berat karena ini jauh berbeda dari sebelumnya, sekarang semua lebih mudah.
Apa saja yang sudah saya lakukan lina bulan terakhir ini akan saya bagi disini Perlu diingat saya suka sharing pengalaman, jadi jangan anggap ini sarana show off hehe..
Pertama, edit modul matrikulasi. Sebenarnya ini bukan hal baru dan hampir sama sekali tidak menantang, tapi saya berusaha seantusias mungkin mengerjakannya karena saya bekerja dengan teman-teman baru dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda. It went well after all. Begitulah..
Kedua, ikut berbagai macam seminar. Mulai dari yang gratisan sampai yang... gratisan juga. Biasanya yang gratisan itu dari universitas. Nah disini saya dapat wawasan dan ilmu yang lebih banyak, bertemu dengan orang pintar lebih banyak lagi. Saya sampai heran bertemu doktor dari UI yang dari tampilannya biasa saja, terkesan santai dan muda tapi ketika mereview jurnal teman saya membuat saya terkesan dengan kemampuannya menyederhanakan dan mengkomunikasikan jurnal sehingga lebih mudah dimengerti. Ternyata beliau memperoleh gelar doktornya karena meneliti tabel input output. So, there's connection here. I won't tell his name here since he's quite famous in his campus *ehm
Ketiga, toefl. Ya, kami yang bekerja disini menjalani tes toefl kemudian diberi kursus dari Lembaga Bahasa UI untuk mengupgrade nilai toefl kami. Tes pertama, toefl saya 560, padahal saya ditargetkan untuk mencapai 600. Still a long way to go. So, tutor saya bernama Paul dan Chisna yang keturunan India itu. Paul konsentrasi di structure, Chandra di listening dan reading. O ya, Paul sangat mengagumi sistem yang diterapkan kampus kami. Dia sangat iri dengan betapa tertibnya perkuliahan dan kegiatan disini dengan monitor yang ada dimana-mana sehingga setiap orang bisa mendapat informasi yang tepat. Bulan depan kami akan menjalani tpa. Kenyataan bahwa semua tes tersebut harus dijalani adalah demi sertifikasi dosen yang syaratnya nilai toefl dan tpa pada passing grade tertentu. Somehow, I enjoy it very much.
Keempat, mengajar. Ya, itu tugas utama saya. Tapi saya harus mengajar matrikulasi untuk debut saya ini. Hehe matrikulasinya semacam pelajaran SMA untuk matematika. Rasanya seperti mengajar anak sendiri. Yang diajar itu berasal dari Papua, Maluku, Aceh, Kalimantan. Mereka adalah mahasiswa yang diterima melalui jalur penerimaan pmdk. Tujuannya supaya mereka memiliki kemampuan yang setara dengan mahasiswa reguler. Kebanyakan ini adalah kali pertama mereka jauh dari orang tuanya. Dan mereka curhat.. oh dear..
Kelima, workshop. Saya sempat mencicipi workshop selama 5 hari dengan Australia Berau Statistics. Kami berdiskusi tentang penghitungan National Account antara dua negara, Australia dan Indonesia. Delegasi dari ABS yang menangani national account adalah Andrew dan seorang perempuan cantik yang namanya saya lupa. Dari workshop itu saya jadi mengetahui bahwa apa yang sudah dilakukan direktorat neraca sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan yang sudah dilakukan Australia. Saya jadi lebih menghargai kerja teman-teman neraca baik di pusat maupun daerah. Jadi berhentilah membully teman-teman yang sudah berusaha keras menyempurnakan penghitungan PDB. They've worked so hard..
Keenam, jadi moderator. Ada 5 skripsi yang harus saya moderatori ketkka sedang diseminarkan untuk syarat kelulusan mahasiswa tingkat akhir. Saya cukup terkesan dengan kemampuan mahasiswa disini yang menurut saya jauh di atas rata-rata.
Ketujuh, membuat modul SNNI atau Sistem Neraca Nasional Indonesia. Ini bukan pekerjaan sepele karena modul ini belum ada dan baru tahun ini dibuat. Untuk ini saya bekerja dengan tim yang terdiri dari 4 orang yang pernah jadi kasi neraca. Gara-gara ini juga saya harus pulang hingga larut malam karena rapat dengan narasumber yang dulunya dedengkot neraca di BPS RI. Kami harus menyesuaikan dengan jadwal beliau. Bekerja membuat buku dalam satu tim bukan hal mudah karena setiap orang punya ide yang berbeda. Saya harus ekstra sabar dan sedikit menahan diri untuk tidak terburu-buru membicarakan keinginan saya. Banyak yang saya pelajari disini terutama dari sisi mengelola emosi hehe.. kind of learning to be more mature..
Selain itu semua, ada beragam pekerjaan administratif yang tidak perlu saya share disini karena sifatnya biasa saja. Jadi begitulah hal-hal baru disini. Semangat mudanya sungguh luar biasa.. Alhamdulillah..
Friday, August 2, 2013
You know my name, not my story
Ketika saya memutuskan untuk mengganti pola karir saya di instansi pemerintah ini, beberapa teman mempertanyakan keputusan saya. Ada yang mendukung, ada yang tidak mengerti, kebanyakan sih cuek aja. Hehehe memangnya saya siapa sampai segitunya dipikirin. Saya menganggapnya sebagai dinamika kantor. Keputusan saya untuk merubah pola karir sebenarnya tidak lepas dari keluarga, terutama anak-anak saya. Saya pernah iseng tanya ke anak sulung saya apakah dia bangga kalau mamanya jadinya mentri. Jawabnya tidak. Katanya dia ga bangga kalau mamanya jadi mentri atau pemegang jabatan lainnya karena dia akan selalu khawatir akan mamanya. Saya agak bingung kenapa dia harus khawatir? Alasan dia khawatir kalau mamanya jadi pejabat adalah takut mamanya dijebak dalam suatu konspirasi politik. Anak sulung saya itu memang kerap menggunakan kata-kata yang tidak biasa bila mengungkapkan pikirannya. Menurutnya, ada banyak cara dengan apa yang saya bisa untuk membuatnya bangga.
Menjadi kebanggaan anak-anak itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya butuh tiga elemen penting yang harus bersinergi. Elemen pertama adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat baik itu ilmu agama maupun duniawi, Insya Allah akan membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ceritanya saya punya seorang sahabat yang orangtuanya berpendidikan tinggi (setidaknya dibandingkan dengan pendidikan orang tua saya), ibunya merupakan pejabat di Pemkot Jakarta Pusat. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Sahabat saya itu selalu menceritakan kedua orang tuanya dengan penuh rasa bangga. Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya juga bangga dengan kedua orangtua saya yang menurut saya walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi memiliki skill dan ilmu yang luar biasa. Ibu saya itu pintar menjahit. Hingga saat ini pun saya masih suka dibuatkan baju oleh ibu. Saya juga bisa menjahit karena diajar oleh ibu saya. Selain menjahit, ibu saya juga pandai berdagang. Beliau memiliki kios di pasar tradisional yang digunakan untuk menjual kain. Hebatnya, ibu saya SD pun tak tamat. Sementara bapak saya juga tidak kalah hebat. Buat saya, bapak adalah pakar matematika yang jauh lebih pintar daripada guru-guru saya. Bapak, cuma sampai STM. Tapi, kalau soal ngerjain tugas matematika, saya larinya ke bapak. Bapak juga pandai mengaji, suka menghafal Al Quran. Yang membuat bapak menjadi hebat adalah kemauannya untuk selalu belajar. Saya selalu berharap itu adalah sifat genetik dan diturunkan ke saya hehe.. Asal tahu saja, waktu saya kecil, bapak sering belajar dari textbook civil engineering, yang belakangan ini saya tau merupakan textbook mahasiswa teknik sipil. Sampai sekarang di usianya yang jelang 70 tahun, beliau masih sering browsing di internet. Yang sedang dipelajarinya saat ini adalah obat-obatan herbal karena beliau memang sering sakit.
Elemen kedua adalah lingkungan yang mendukung. Ini saya pelajari dari kedua orangtua saya. Ya, sebegitu bangganya saya dengan mereka, sampai saya berusaha mencari tahu apa rahasianya. Bapak ibu saya selalu berpesan kepada saya agar saya selalu berada di lingkungan yang baik, di rumah maupun di kantor. Berteman dengan orang-orang yang baik agar ikut menjadi baik dan memilih komunitas yang memiliki energi positif supaya tetap bersemangat menjalani hidup. Menjadi orang baik itu harus diusahakan, anak akan bangga dengan orang tuanya bila lingkungannya baik. Itu juga yang menjadi alasan saya untuk mengubah jalur karir saya. Bukan berarti di tempat lama saya kerja merupakan lingkungan yang buruk. Saya pikir kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak.
Elemen terakhir yang menurut saya perlu ada adalah mendukung anak semaksimal mungkin. Lagi-lagi ini saya pelajari dari orangtua saya. Dulu, ditengah segala keterbatasan finansial mereka, fasilitas pendidikan full saya peroleh dari mereka. Kadang sedih juga melihat mereka bela-belain beli buku buat saya, bayarin les saya yang lebih mahal dibandingkan spp waktu itu. Usaha mereka untuk membuat saya tetap bisa bersekolah sungguh luar biasa. Mereka sering menasehati saya untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Katanya jaman sekarang orang pintar itu banyak, tapi yang akhlaknya mulia itu sedikit. Jadi saya diminta untuk memperhatikan kedua hal tersebut, pintar dan berakhlak mulia.
Bagaimanapun juga, saya harus terus berusaha lebih keras lagi untuk menjadi kebanggaan anak-anak supaya mereka selalu mendoakan saya. Bukankah mereka nanti yang mendoakan kita kalau kita sudah mati. Dan bukankah doa anak-anak kita yang menyambung amal kita kalau kita sudah mati.
Demikian postingan ini saya buat untuk simple thought. Now you know my story..
Wednesday, May 15, 2013
Review on Analisis Indikator Ekonomi Makro Kota Bekasi 2011
Hampir seluruh data yang digunakan dalam analisis tersebut menggunakan data dari BPS Kota Bekasi. Dan itu sungguh menyenangkan karena data yang dipublikasikan oleh BPS digunakan untuk analisis semacam ini. Saya sungguh memberikan apresiasi yang tinggi dalam hal ini. Yang menyedihkan adalah penggunaan data tersebut yang kurang baik. Data yang digunakan dalam analisis tersebut antara lain data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan (yang diturunkan menjadi PDRB per kapita, LPE dan Indeks Harga Imlisit), IPM, Inflasi, Ekspor dan Impor. Berikut adalah beberapa catatan yang perlu dilakukan oleh pembuat analisis tersebut bila tidak ingin tersesat dengan data yang digunakan karena ketidaktepatan penggunaannya.
1. Pengumpulan Data
Disebutkan pada halaman 1-5 bahwa pengumpulan data dengan data primer. Data Primer, yakni data dan informasi yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian dengan tujuan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung sebagai bahan perbandingan terhadap data sekunder, begitu yang disebutkan dalam analisis tersebut. Ini sungguh sangat mengganggu, karena semua data yang disajikan dalam analisis tersebut adalah data sekunder. Sebut saja data PDRB, Inflasi, IPM, Ekspor Impor, itu semua adalah data sekunder. Bukan data primer. Kalau data primer diperoleh melalui survei. Data PDRB itu diperoleh melalui survei, Begitu pula dengan inflasi, IPM, bahkan ekspor impor pun yang datanya berasal dari Dinas Perdagangan dan Koperasi diperoleh dari pengumpulan data langsung di lapangan. Lalu, kenapa tidak jujur saja bilang bahwa pengumpulan data yang dilakukan pada analisis ini hanya data sekunder. Menurut saya itu jauh lebih baik dan terkesan tidak membohongi publik, pencantuman penggunaan data primer tidak menambah kekerenan analisis ini bila itu tidak benar.
2. Regresi
Di dalam analisis tersebut, digunakan regeresi linear sederhana. Secara statistik, data yang digunakan untuk melakukan regresii dengan data tahunan yang hanya 7 tahun (2005-2011) kurang memenuhi kecukupan sample (biasanya digunakan setidaknya 30 record data per variable). Sample yang kurang tentunya akan sulit merepresntasikan kondisi yang sebenarnya. Supaya lebih jelas, silakan baca-baca buku statistik deskriptif karangan siapa saja, disana pasti ada pembahasan mengenai hal ini.
3. Perbandingan yang tidak apple to apple
Saya tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu ketika membaca tabel 2.4 dan tabel 4.7 yang judulnya Inflasi dan Indeks Harga Implisit diulas dan dibandingkan. Bagaimana mungkin membandingkan Inflasi yang dihitung dari perubahan IHK (Indeks Harga Konsumen) dengan Indeks Harga Implisit yang dihitung dari perbandingan PDRB ADHB dan PDRB ADHK. Sebagai Koreksi, bila ingin membandingkan inflasi dengan deflator, sebaiknya membandingkan inflasi dengan laju Indeks Harga Implisit. Atau bisa juga membandingkan IHK dengan IHI karena keduanya sama-sama indeks. Sedangkan bila membandingkan inflasi dnegan laju IHI, keduanya sama-sama laju dari suatu indeks. Dengan demikian data yang digunakan setara untuk dibandingkan. Kalau membandingkan inflasi dengan IHI, itu seperti membandingkan susu dengan keju. Yang satu merupakan input yang lain. Tapi kalau membandingkan inflasi dengan laju IHI atau IHK dengan IHI itu seperti membandingkan susu sapi dengan susu kambing. Produknya sama-sama susu.
4. Penggunaan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yang masih rancu
PDRB ADHK digunakan untuk melihat pertumbuhan produksi karena sudah mengeluarkan 'efek' harga. Ingat, PDRB ADHK dihitung dengan harga tahun dasar (dalam hal ini tahun dasarnya adalah tahun 2000), jadi semua dihitung berdasarkan harga pada tahun 2000. PDRB ADHB digunakan untuk melihat kondisi perkeonomian saat ini, dihitung dengan harga pada tahun berjalan. jadi, penggunaan PDRB ADHK dan PDRB ADHB harus memperhatikan dengan variabel apa dia disandingkan. Hal ini terjadi pada sub bab 4.9.2 Analisa Pengaruh Inflasi Terhadap PDRB-ADHK. Inflasi itu menggambarkan perubahan harga, sedangkan PDRB ADHK itu sudah mengeluarkan 'efek' harga dengan menggunakan harga tahun dasar 2000. Lalu dimana esensi melihat pengaruhnya? Demikian pula untuk 4.9.4 Analisa Pengaruh Ekspor terhadap PDRB ADHK. Melakukan regresi pada dua variabel yang tidak apple to apple. Ekspor itu data dengan harga tahun berjalan, sedangkan PDRB ADHK dengan harga tahun dasar 2000. Tentu akan terjadi bias. Hal yang sama juga terjadi untuk 4.9.6, 4.9.8 dan seterusnya yang membandingkan dengan PDRB ADHK.
5. Kerancuan analiais
Pada halaman 2-9 dituliskan :
Positifnya nilai ekspor Kota Bekasi dari tahun ke tahun (2005-2011)merefleksikan kondisi surflus, dimana cadangan devisa Kota Bekasi cukup baik dan bisa menghandle atau mengkompensasi nilai impor Kota Bekasi dengan cukup baik pula.
Nilai ekspor memang selalu positif, bagaiamana mungkin nilai ekspor negatif? Mungkin maksudnya nilai ekspor netto. Karena nilai ekspor netto itu artinya total ekspor dikurangi total impor. Bila hasilnya positif berarti ekspor lebih besar daripada impor. Kerancuan semacam ini bisa membingungkan yang membacanya.
Kemudian, pada sub bab 4.8 Analisis Komparatif Dengan Kota/Kabupaten di Jawa Barat, disebutkan :
Selain itu dalam penyusunan indikator ekonomi makro daerah juga biasanya dengan membandingkan data PDRB daerah tersebut dengan daerah disekitarnya melalui analisis Location Quotient (LQ) untuk melihat keuntungan komparatif suatu daerah terhadap daerah pembandingnya.
Tetapi ternyata tidak terdapat nilai LQ. Bahkan metodologi LQ nya sendiri juga tidak ditampilkan. Sebagai bahan koreksi, silakan mempelajari LQ nya disini href="http://kumoro.staff.ugm.ac.id/materi%20kuliah/Analisis%20Shift-Share%20&%20LQ.pdf"
Sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin disampaikan seperti penulisan judul tabel dan grafik yang menggunakan tanda kurung, tetapi lima hal di atas itulah yang paling ingin saya sampaikan. Semoga diperhatikan.
Saturday, May 4, 2013
Day 7. Stories behind the hills
Hari ketujuh ini kami mengunjungi bukit-bukit yang memiliki sejarah selama masa Rasulullah. Ada bukit thur tempat persembunyian nabi ketika dikejar-kejar kaum kafir quraish yang hendak membunuh nabi. Kemudian ada Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Tapi saya tidak mendaki bukit-bukit itu.
Kemudian kami mengunjungi padang arafah dan bukit Mina tempat para jamaah haji wukuf dan melempar jumrah. Semoga suatu hari nanti saya kembali kemari untuk berhaji.
Kami melakukan umrah lagi dengan mengambil miqot di Jironah, sholat sunat ihram. Yang lelaki, berganti pakaian ihram. Kemudian kami kembali ke Masjidil Haram untuk umrah lagi.
Pada saat sa'i azan Dzuhur berkumandang, kami langsung sholat berjamaah di lokasi sa'i dengan imam di Masjidil Haram. Di Mekah, apapun yang terjadi, ketika terdengar suara azan, semua aktivitas berhenti untuk sholat.
Day 6. All About Masjidil Haram
30 April 2013
Masjidil Haram saat ini sedang direnovasi hampir separuhnya. Otomatis daya tampung jamaahnya menjadi sedikit berkurang. Saya melihat banyak orang Indonesia yang bekerja di Masjidil Haram, mereka bekerja sebagai cleaning servis yang membersihkan masjid dan sebagai buruh konstruksi pada pekerjaan renovasi masjid. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengapa banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai buruh konstruksi, belakangan saya tahu ternyata kontraktor yang mengerjakan pekerjaan renovasi Masjidil Haram berasal dari Indonesia, PT. Waskita Karya. Pantas saja banyak buruh Indonesia.
Saya sempat berbincang-bincang dengan orang yang bekerja disini. Gaji para pekerja Indonesia masih jauh berada di bawah pekerja dari India. Kita berada sedikit di atas Banglades. Sebagai gambaran, petugas kebersihan di Masjidil Haram dari Indonesia hanya digaji 800 real (1 Real sekitar 2700 Rupiah), sopir digaji 1500 Real. Biaya hidup disini relatif mahal.
Hari ke-enam ini aktivitas saya banyak dihabiskan di Masjidil Haram. Tawaf, membaca Al Qur'an dan sholat. Sebelum pulang saya memuaskan keingintahuan saya dengan mengelilingi masjid ini sendirian. Melihat arsitekturnya, dari atas hingga bawah dan tempat air zamzam yang ditutup karena renovasi. Jadi, mereka menaruh air zamzam dalam tong-tong keramik di dalam masjid. Makanya saya betah banget berada di masjid. Waktu di masjid Nabawi juga ada air zamzam di dalam masjid.
Saya pernah tawaf di siang hari yang sangat terik. Anehnya, ketika tawaf, tidak terasa panas dan lantai terasa dingin. Memang seluruh masjid ini menggunakan marmer putih dan abu-abu. Indah sekali..
Day 5. I only do this for You ya Rabb..
29 April 2013
Perbedaan waktu di Mekkah dengan Indonesia sekitar 4-5 jam. Ini membuat saya masih suka salah memperkirakan waktu sholat.
Menjalankan ibadah umroh membuat saya tak bisa berkata-kata karena merasa benar-benar kecil dan penuh dosa di hadapanNya. Memohon ampunan adalah prioritas doa saya. Selama di Madinah dan Makkah saya tidak pernah sholat di hotel. Saya selalu sholat di masjid, walaupun kaki sampai penat karena bolak balik hotel-masjid dengan jalan yang menanjak. Saya pikir, saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah di Masjidil Haram. Rasanya sangat berbeda ketika kita sholat langsung di hadapan Kabah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia.
Di Masjidil Haram, suasananya selalu ramai sepanjang waktu. Jam berapa pun kita kemari selalu ramai oleh orang yang sholat, umroh atau tawaf saja. Hari kelima ini, kami tidak ada acara lain selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. It's always make me speechless..