Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.
Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.
Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.
Klasik vs Bayesian
Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?
Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*
Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.
Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan
Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..
Wednesday, August 27, 2014
Monday, August 18, 2014
A note from workshop
Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.
Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.
Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.
Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.
Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..
And...
direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.
Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.
Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.
Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.
Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.
Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..
First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.
Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.
Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.
Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.
And...
direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.
Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.
Friday, August 8, 2014
Statistician is the sexiest job in the world..
Jum'at pagi ini adalah hari pertama kegiatan non lecture di kampus dimulai. Acara yang diadakan adalah semacam seminar yang dberi judul The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics. Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Peran statistisi dalam pengobatan personal: Sekilas tentang Metode Statistik Bioinformatika. Judulnya menarik, setelah mengikuti seminarnya, ternyata isinya memang sangat menarik.
Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..
Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.
Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..
Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?
Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..
Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.
Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..
Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?
Tuesday, August 5, 2014
No Ponsel No Cry
Ada yang terasa kurang pas hari ini. Tanda-tanda ketidakpasan itu diawali dengan bangun tidur. Pertama kali saya membuka mata pagi ini, langsung terdengar sayup-sayup orang mengaji pertanda sebentar lagi adzan Subuh. Ketika saya lihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 WIB. Artinya saya terlambat 1 jam 30 menit dari jadwal rutin saya. Sejak kuliah dulu, saya terbiasa bangun jam 3 pagi (kadang-kadang lebih sedikit dan kadang juga tidur lagi setelah subuh hehehe). Bangun tidur, benda yang pertama kali saya cari adalah ponsel saya, karena ponsel itu adalah benda yang paling bertanggung jawab atas telatnya saya bangun. Seharusnya benda itu mengeluarkan suara gitar genjrang genjreng yang selalu membangunkan saya, dan kalau saya cuekin, dia akan genjrang genjreng 5 menit berikutnya. Setelah dicari-cari, samsung S3 (FYI, ini ponsel umurnya udah 2 tahun, die hard dan saya belum bisa move on dari benda ini) ketemu dalam kondisi mati. Pantas saja saya tidak mendengar nada genjrang genjrengnya.. *sigh*
Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.
Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.
Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)
Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.
Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.
Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)
Thursday, July 31, 2014
Rasa bersalah yang tak kunjung hilang
Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
Monday, July 21, 2014
Ramadhan yang luar biasa
Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa.. sangat berbeda dengan Bulan Ramadhan yang sudah-sudah. Di bulan ini, saya dihadapkan pada banyak sekali pengumuman. Pasalnya, ada dua anak saya yang akan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Caca tahun ini lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, Ali lulus SMP dan akan masuk ke SMA. Anak ketiga sih naik ke kelas 2 SMP. Untuk pengumuman masuk SMA saya harus memantau PPDB online dan membuat berbagai skenario supaya anak kedua saya bisa masuk di SMA favorit. Di Kota Bekasi, jenis SMA yang menggunakan sistem PPDB online ini ada 3, pertama adalah sekolah model (SMA 1 dan SMA 5), kedua sekolah standar nasional (SMA 2 dan SMA 4), ketiga sekolah reguler (sisanya). Untuk mendaftar sekolah model, calon siswa harus melakukan verifikasi nilai rapot. Anak saya memilih di SMA 1 dan lulus verifikasi, tapi pada saat seleksi PPDB onlinenya tidak diterima. Hal itu membuat saya ketar-ketir kalau dia tidak diterima di sekolah standar nasional. Alhamdulillah akhirnya dia lolos di seleksi untuk SMA 2. Saya mendaftarkannya hanya 9 menit sebelum closing PPDB Online. Stressful..
Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..
Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..
Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.
Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..
Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?
Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..
Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..
Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..
Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.
Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..
Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?
Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..
Thursday, July 3, 2014
Telepon itu..
Kemarin sore, saya sedang berjuang melawan kemacetan tol Cikampek yang diakibatkan volume kendaraan berjenis truk dan kontainer dalam jumlah besar. Ya, tol Cikampek sore itu memang macet luar biasa karena perusahaan ekpedisi sedang kejar setoran supaya supply barang sampai di tempat tujuan sebelum 5 hari menjelang hari raya. Biasanya H-5 itu tol cikampek sudah steril dari truk dan container karena arus mudik pasti sangat besar.
Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.
Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..
Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he
Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.
Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..
Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he
Subscribe to:
Posts (Atom)