Pages

Friday, August 2, 2013

You know my name, not my story

Ketika saya memutuskan untuk mengganti pola karir saya di instansi pemerintah ini, beberapa teman mempertanyakan keputusan saya. Ada yang mendukung, ada yang tidak mengerti, kebanyakan sih cuek aja. Hehehe memangnya saya siapa sampai segitunya dipikirin. Saya menganggapnya sebagai dinamika kantor. Keputusan saya untuk merubah pola karir sebenarnya tidak lepas dari keluarga, terutama anak-anak saya. Saya pernah iseng tanya ke anak sulung saya apakah dia bangga kalau mamanya jadinya mentri. Jawabnya tidak. Katanya dia ga bangga kalau mamanya jadi mentri atau pemegang jabatan lainnya karena dia akan selalu khawatir akan mamanya. Saya agak bingung kenapa dia harus khawatir? Alasan dia khawatir kalau mamanya jadi pejabat adalah takut mamanya dijebak dalam suatu konspirasi politik. Anak sulung saya itu memang kerap menggunakan kata-kata yang tidak biasa bila mengungkapkan pikirannya. Menurutnya, ada banyak cara dengan apa yang saya bisa untuk membuatnya bangga.

Menjadi kebanggaan anak-anak itu bukan perkara yang mudah. Setidaknya butuh tiga elemen penting yang harus bersinergi. Elemen pertama adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat baik itu ilmu agama maupun duniawi, Insya Allah akan membuat anak-anak bangga dengan orang tuanya. Pengalaman ini saya alami sendiri ketika saya masih kecil dan duduk di bangku sekolah dasar. Ceritanya saya punya seorang sahabat yang orangtuanya berpendidikan tinggi (setidaknya dibandingkan dengan pendidikan orang tua saya), ibunya merupakan pejabat di Pemkot Jakarta Pusat. Ayahnya juga bekerja di tempat yang sama. Sahabat saya itu selalu menceritakan kedua orang tuanya dengan penuh rasa bangga. Saya pun tidak mau ketinggalan. Saya juga bangga dengan kedua orangtua saya yang menurut saya walaupun mereka tidak berpendidikan tinggi tapi memiliki skill dan ilmu yang luar biasa. Ibu saya itu pintar menjahit. Hingga saat ini pun saya masih suka dibuatkan baju oleh ibu. Saya juga bisa menjahit karena diajar oleh ibu saya. Selain menjahit, ibu saya juga pandai berdagang. Beliau memiliki kios di pasar tradisional yang digunakan untuk menjual kain. Hebatnya, ibu saya SD pun tak tamat. Sementara bapak saya juga tidak kalah hebat. Buat saya, bapak adalah pakar matematika yang jauh lebih pintar daripada guru-guru saya. Bapak, cuma sampai STM. Tapi, kalau soal ngerjain tugas matematika, saya larinya ke bapak. Bapak juga pandai mengaji, suka menghafal Al Quran. Yang membuat bapak menjadi hebat adalah kemauannya untuk selalu belajar. Saya selalu berharap itu adalah sifat genetik dan diturunkan ke saya hehe.. Asal tahu saja, waktu saya kecil, bapak sering belajar dari textbook civil engineering, yang belakangan ini saya tau merupakan textbook mahasiswa teknik sipil. Sampai sekarang di usianya yang jelang 70 tahun, beliau masih sering browsing di internet. Yang sedang dipelajarinya saat ini adalah obat-obatan herbal karena beliau memang sering sakit.

Elemen kedua adalah lingkungan yang mendukung. Ini saya pelajari dari kedua orangtua saya. Ya, sebegitu bangganya saya dengan mereka, sampai saya berusaha mencari tahu apa rahasianya. Bapak ibu saya selalu berpesan kepada saya agar saya selalu berada di lingkungan yang baik, di rumah maupun di kantor. Berteman dengan orang-orang yang baik agar ikut menjadi baik dan memilih komunitas yang memiliki energi positif supaya tetap bersemangat menjalani hidup. Menjadi orang baik itu harus diusahakan, anak akan bangga dengan orang tuanya bila lingkungannya baik.  Itu juga yang menjadi alasan saya untuk mengubah jalur karir saya. Bukan berarti di tempat lama saya kerja merupakan lingkungan yang buruk. Saya pikir kalau ada yang lebih baik, kenapa tidak.

Elemen terakhir yang menurut saya perlu ada adalah mendukung anak semaksimal mungkin. Lagi-lagi ini saya pelajari dari orangtua saya. Dulu, ditengah segala keterbatasan finansial mereka, fasilitas pendidikan full saya peroleh dari mereka. Kadang sedih juga melihat mereka bela-belain beli buku buat saya, bayarin les saya yang lebih mahal dibandingkan spp waktu itu. Usaha mereka untuk membuat saya tetap bisa bersekolah sungguh luar biasa. Mereka sering menasehati saya untuk memilihkan pendidikan yang baik untuk anak-anak saya. Katanya jaman sekarang orang pintar itu banyak, tapi yang akhlaknya mulia itu sedikit. Jadi saya diminta untuk memperhatikan kedua hal tersebut, pintar dan berakhlak mulia.

Bagaimanapun juga, saya harus terus berusaha lebih keras lagi untuk menjadi kebanggaan anak-anak supaya mereka selalu mendoakan saya. Bukankah mereka nanti yang mendoakan kita kalau kita sudah mati. Dan bukankah doa anak-anak kita yang menyambung amal kita kalau kita sudah mati.

Demikian postingan ini saya buat untuk simple thought. Now you know my story..

Wednesday, May 15, 2013

Review on Analisis Indikator Ekonomi Makro Kota Bekasi 2011

Pagi ini, saya membaca file Analisis Indikator Makro Kota Bekasi 2011 yang dirilia Bappeda Kota Bekasi di webnya, bisa diunduh disini dan saya tidak bisa menahan diri saya untuk memberikan sedikit catatan terhadap analisis tersebut.

Hampir seluruh data yang digunakan dalam analisis tersebut menggunakan data dari BPS Kota Bekasi. Dan itu sungguh menyenangkan karena data yang dipublikasikan oleh BPS digunakan untuk analisis semacam ini. Saya sungguh memberikan apresiasi yang tinggi dalam hal ini. Yang menyedihkan adalah penggunaan data tersebut yang kurang baik. Data yang digunakan dalam analisis tersebut antara lain data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan (yang diturunkan menjadi PDRB per kapita, LPE dan Indeks Harga Imlisit), IPM, Inflasi, Ekspor dan Impor. Berikut adalah beberapa catatan yang perlu dilakukan oleh pembuat analisis tersebut bila tidak ingin tersesat dengan data yang digunakan karena ketidaktepatan penggunaannya.


1. Pengumpulan Data
Disebutkan pada halaman 1-5 bahwa pengumpulan data dengan data primer. Data Primer, yakni data dan informasi yang diperoleh secara langsung di lokasi penelitian dengan tujuan untuk melihat kondisi lapangan secara langsung sebagai bahan perbandingan terhadap data sekunder, begitu yang disebutkan dalam analisis tersebut. Ini sungguh sangat mengganggu, karena semua data yang disajikan dalam analisis tersebut adalah data sekunder. Sebut saja data PDRB, Inflasi, IPM, Ekspor Impor, itu semua adalah data sekunder. Bukan data primer. Kalau data primer diperoleh melalui survei. Data PDRB itu diperoleh melalui survei, Begitu pula dengan inflasi, IPM, bahkan ekspor impor pun yang datanya berasal dari Dinas Perdagangan dan Koperasi diperoleh dari pengumpulan data langsung di lapangan. Lalu, kenapa tidak jujur saja bilang bahwa pengumpulan data yang dilakukan pada analisis ini hanya data sekunder. Menurut saya itu jauh lebih baik dan terkesan tidak membohongi publik, pencantuman penggunaan data primer tidak menambah kekerenan analisis ini bila itu tidak benar.

2. Regresi
Di dalam analisis tersebut, digunakan regeresi linear sederhana. Secara statistik, data yang digunakan untuk melakukan regresii dengan data tahunan yang hanya 7 tahun (2005-2011) kurang memenuhi kecukupan sample (biasanya digunakan setidaknya 30 record data per variable). Sample yang kurang tentunya akan sulit merepresntasikan kondisi yang sebenarnya. Supaya lebih jelas, silakan baca-baca buku statistik deskriptif karangan siapa saja, disana pasti ada pembahasan mengenai hal ini.

3. Perbandingan yang tidak apple to apple
Saya tidak bisa menahan diri untuk memberi tahu ketika membaca tabel 2.4 dan tabel 4.7 yang judulnya Inflasi dan Indeks Harga Implisit diulas dan dibandingkan. Bagaimana mungkin membandingkan Inflasi yang dihitung dari perubahan IHK (Indeks Harga Konsumen) dengan Indeks Harga Implisit yang dihitung dari perbandingan PDRB ADHB dan PDRB ADHK. Sebagai Koreksi, bila ingin membandingkan inflasi dengan deflator, sebaiknya membandingkan inflasi dengan laju Indeks Harga Implisit. Atau bisa juga membandingkan IHK dengan IHI karena keduanya sama-sama indeks. Sedangkan bila membandingkan inflasi dnegan laju IHI, keduanya sama-sama laju dari suatu indeks. Dengan demikian data yang digunakan setara untuk dibandingkan. Kalau membandingkan inflasi dengan IHI, itu seperti membandingkan susu dengan keju. Yang satu merupakan input yang lain. Tapi kalau membandingkan inflasi dengan laju IHI atau IHK dengan IHI itu seperti membandingkan susu sapi dengan susu kambing. Produknya sama-sama susu.

4. Penggunaan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) yang masih rancu
PDRB ADHK digunakan untuk melihat pertumbuhan produksi karena sudah mengeluarkan 'efek' harga. Ingat, PDRB ADHK dihitung dengan harga tahun dasar (dalam hal ini tahun dasarnya adalah tahun 2000), jadi semua dihitung berdasarkan harga pada tahun 2000. PDRB ADHB digunakan untuk melihat kondisi perkeonomian saat ini, dihitung dengan harga pada tahun berjalan. jadi, penggunaan PDRB ADHK dan PDRB ADHB harus memperhatikan dengan variabel apa dia disandingkan. Hal ini terjadi pada sub bab 4.9.2 Analisa Pengaruh Inflasi Terhadap PDRB-ADHK. Inflasi itu menggambarkan perubahan harga, sedangkan PDRB ADHK itu sudah mengeluarkan 'efek' harga dengan menggunakan harga tahun dasar 2000. Lalu dimana esensi melihat pengaruhnya? Demikian pula untuk 4.9.4 Analisa Pengaruh Ekspor terhadap PDRB ADHK. Melakukan regresi pada dua variabel yang tidak apple to apple. Ekspor itu data dengan harga tahun berjalan, sedangkan PDRB ADHK dengan harga tahun dasar 2000. Tentu akan terjadi bias. Hal yang sama juga terjadi untuk 4.9.6, 4.9.8 dan seterusnya yang membandingkan dengan PDRB ADHK.

5. Kerancuan analiais
Pada halaman 2-9 dituliskan :

Positifnya nilai ekspor Kota Bekasi dari tahun ke tahun (2005-2011)merefleksikan kondisi surflus, dimana cadangan devisa Kota Bekasi cukup baik dan bisa menghandle atau mengkompensasi nilai impor Kota Bekasi dengan cukup baik pula.

Nilai ekspor memang selalu positif, bagaiamana mungkin nilai ekspor negatif? Mungkin maksudnya nilai ekspor netto. Karena nilai ekspor netto itu artinya total ekspor dikurangi total impor. Bila hasilnya positif berarti ekspor lebih besar daripada impor. Kerancuan semacam ini bisa membingungkan yang membacanya.
Kemudian, pada sub bab 4.8 Analisis Komparatif Dengan Kota/Kabupaten di Jawa Barat, disebutkan :

Selain itu dalam penyusunan indikator ekonomi makro daerah juga biasanya dengan membandingkan data PDRB daerah tersebut dengan daerah disekitarnya melalui analisis Location Quotient (LQ) untuk melihat keuntungan komparatif suatu daerah terhadap daerah pembandingnya.

Tetapi ternyata tidak terdapat nilai LQ. Bahkan metodologi LQ nya sendiri juga tidak ditampilkan. Sebagai bahan koreksi, silakan mempelajari LQ nya disini href="http://kumoro.staff.ugm.ac.id/materi%20kuliah/Analisis%20Shift-Share%20&%20LQ.pdf"

Sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang ingin disampaikan seperti penulisan judul tabel dan grafik yang menggunakan tanda kurung, tetapi lima hal di atas itulah yang paling ingin saya sampaikan. Semoga diperhatikan.

Saturday, May 4, 2013

Day 7. Stories behind the hills

Hari ketujuh ini kami mengunjungi bukit-bukit yang memiliki sejarah selama masa Rasulullah. Ada bukit thur tempat persembunyian nabi ketika dikejar-kejar kaum kafir quraish yang hendak membunuh nabi. Kemudian ada Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa. Tapi saya tidak mendaki bukit-bukit itu.

Kemudian kami mengunjungi padang arafah dan bukit Mina tempat para jamaah haji wukuf dan melempar jumrah. Semoga suatu hari nanti saya kembali kemari untuk berhaji.

Kami melakukan umrah lagi dengan mengambil miqot di Jironah, sholat sunat ihram. Yang lelaki, berganti pakaian ihram. Kemudian kami kembali ke Masjidil Haram untuk umrah lagi.

Pada saat sa'i azan Dzuhur berkumandang, kami langsung sholat berjamaah di lokasi sa'i dengan imam di Masjidil Haram. Di Mekah, apapun yang terjadi, ketika terdengar suara azan, semua aktivitas berhenti untuk sholat.

Day 6. All About Masjidil Haram

30 April 2013

Masjidil Haram saat ini sedang direnovasi hampir separuhnya. Otomatis daya tampung jamaahnya menjadi sedikit berkurang. Saya melihat banyak orang Indonesia yang bekerja di Masjidil Haram, mereka bekerja sebagai cleaning servis yang membersihkan masjid dan sebagai buruh konstruksi pada pekerjaan renovasi masjid. Awalnya saya tidak begitu memperhatikan mengapa banyak orang Indonesia yang bekerja sebagai buruh konstruksi, belakangan saya tahu ternyata kontraktor yang mengerjakan pekerjaan renovasi Masjidil Haram berasal dari Indonesia, PT. Waskita Karya. Pantas saja banyak buruh Indonesia.

Saya sempat berbincang-bincang dengan orang yang bekerja disini. Gaji para pekerja Indonesia masih jauh berada di bawah pekerja dari India. Kita berada sedikit di atas Banglades. Sebagai gambaran, petugas kebersihan di Masjidil Haram dari Indonesia hanya digaji 800 real (1 Real sekitar 2700 Rupiah), sopir digaji 1500 Real. Biaya hidup disini relatif mahal.

Hari ke-enam ini aktivitas saya banyak dihabiskan di Masjidil Haram. Tawaf, membaca Al Qur'an dan sholat. Sebelum pulang saya memuaskan keingintahuan saya dengan mengelilingi masjid ini sendirian. Melihat arsitekturnya, dari atas hingga bawah dan tempat air zamzam yang ditutup karena renovasi. Jadi, mereka menaruh air zamzam dalam tong-tong keramik di dalam masjid. Makanya saya betah banget berada di masjid. Waktu di masjid Nabawi juga ada air zamzam di dalam masjid.

Saya pernah tawaf di siang hari yang sangat terik. Anehnya, ketika tawaf, tidak terasa panas dan lantai terasa dingin. Memang seluruh masjid ini menggunakan marmer putih dan abu-abu. Indah sekali..

Day 5. I only do this for You ya Rabb..

29 April 2013

Perbedaan waktu di Mekkah dengan Indonesia sekitar 4-5 jam. Ini membuat saya masih suka salah memperkirakan waktu sholat.

Menjalankan ibadah umroh membuat saya tak bisa berkata-kata karena merasa benar-benar kecil dan penuh dosa di hadapanNya. Memohon ampunan adalah prioritas doa saya. Selama di Madinah dan Makkah saya tidak pernah sholat di hotel. Saya selalu sholat di masjid, walaupun kaki sampai penat karena bolak balik hotel-masjid dengan jalan yang menanjak. Saya pikir, saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah di Masjidil Haram. Rasanya sangat berbeda ketika kita sholat langsung di hadapan Kabah yang menjadi kiblat seluruh umat Islam di dunia.

Di Masjidil Haram, suasananya selalu ramai sepanjang waktu. Jam berapa pun kita kemari selalu ramai oleh orang yang sholat, umroh atau tawaf saja. Hari kelima ini, kami tidak ada acara lain selain memperbanyak ibadah di Masjidil Haram. It's always make me speechless..

Monday, April 29, 2013

Day 4. It's the real thing..

28 April 2013

Pagi itu saya menyempatkan diri jalan-jalan di main road dekat masjid Nabawi setelah sholat Subuh. Disini banyak burung merpati..Subhanallah.. Banyak yang menjual makanan burung, jadi saya tergoda untuk membeli dan memberi makan burung-burung itu. Rasanya seperti anak kecil, tapi ini sungguh menyenangkan dan menentramkan.

Saya dan hubby berkeliling di pasar yang masih belum buka semua. Kami hanya window shopping hehe.. Toko-toko disini semua yang menjaga laki-laki, mungkin ada yang perempuan, tapi selama saya disini belum pernah melihat penjaga toko perempuan lazimnya di Indonesia. Begitu pula dengan reklame. Di kota ini tidak ada reklame yang ada gambar orangnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Reklame disini hanya berisi tulisan dan gambar barangnya saja. Satu lagi, perempuan disini tidak berjalan sendiri, kalau tidak bersama dengan teman perempuannya, ya bersama dengan suami atau ayahnya atau mahramnya. Jadi, saya kemana-mana selalu bersama hubby. Padahal saya sering kemana-mana sendiri.

Umroh ini mengambil miqot di Bir Ali, Madinah. Jadi kami kesana untuk sholat sunat ihrom. Sebelumnya, kami sudah memakai pakaian ihrom dari hotel. Berangkat ke Bir Ali pukul 2 siang waktu Madinah. Kami sholat Dzuhur dan Ashar dijama dulu di masjid Nabawi. Sedih rasanya tidak bisa berlama-lama disini. Kalau saya bilang sedih, itu memang benar-benar sedih yang sampai menangis begitu.

Sebenarnya, perjalanan Madinah-Mekah biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Tapi di jalan kami mengalami kendala teknis pada bis yang membawa kami. Sebuah cobaan yang harus dinikmati. Alhasil kami tiba di Mekkah jam 12 malam. Selain kendala teknis itu, di rombongan kami memang banyak yang sudah sepuh, jadi perlu transit sebentar.

Sampai di hotel, hanya untuk makan malam yang tertunda dan menaruh barang bawaan. Kami langsung berjalan menuju Masjidil Haram yang berjarak 300 meter dari hotel. Jam 1.30 pagi kami masuk Masjidil Haram dan disanalah berdiri Kabah. When I stared Kabah.. Subhanallah it's real..

Rangkaian ibadah umroh diawali dengan miqot, lalu tawaf dan sa'i. Tawaf itu memutari Kabah sebanyak tujuh kali sambil mengagungkan kebesaran Allah. Sedangkan Sa'i berjalan bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah. Masjidil Haram itu masjid yang sangat bersih, untuk melakukan rangkaian ibadah umroh ini sangat nyaman walaupun banyak orang dari berbagai negara di dunia.

Day 3. The experience of Medina

27 April 2013

Kota Madinah merupakan kota yang bersih. Saya tidak melihat sampah yang menumpuk, entah bagaimana mereka mengelola sampahnya. Di hari ketiga ini, aktivitas lebih banyak difokuskan untuk ziarah ke tempat-tempat yang memiliki manfaat bagi ibadah. Pertama-tama kami mengunjungi masjid Quba, setelah sholat jamaah di masjid Nabawi. Ini adalah masjid yang pertama kali dikunjungi rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Dulu Madinah bernama Yastrib. Nah, ketika mampir di masjid ini, Rasulullah disambut dan diterima dengan baik oleh pemuda-pemudanya. Kami sholat tahyatul masid dan sholat Dhuha di masjid ini. Sholat di masjid ini pahalanya lebih besar dibanding tempat lainnya.

Kemudian kami pergi ke Jabal Uhud. Di masa Rasululah, tempat ini merupakan tempat terjadinya perang uhud dengan suku Quraish yang musyrik. Kala itu jumlah pasukan musuh tiga kali lebih besar daripada pasukan Rasulullah. Iklim negeri ini memang berbeda dengan di Indonesia. Saat ini baru mengawali musim panas. Tetapi panas di tempat ini memiliki kelembaban yang rendah dan sedikit berangin, sehingga panasnya tidak langsung membuat kita berkeringat tapi di kulit terasa sakit. Sunblock dan sun glasses adalah suatu keharusan kalau inhin menikmati pemandangan Jabal Uhud dengan nyaman.

Selanjutnya, sopir bus membawa kami ke kebun korma. Di tempat ini ada toko yang menjual korma. Produk unggulannya korma ajwa atau yang dikenal dengan korma nabi. Korma jenis ini adalah korma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah. Di toko kebun korma ini, kami minum teh sepuasnya gratis. Teh ini disediakan oleh pemilik kebun untuk pengunjung. Ada gulanya juga lho.. Di dalam toko, kami bisa mencicipi dagangan yang ada disitu. Halal, kata mereka. Ya, bukan cuma korma saja yang dijual disini, tapi ada coklat dan kacang-kacangan. Testernya tidak dibatasi. Itu yang bikin kami tidak enak kalau tidak membeli, walaupun harga disini jauh lebih mahal dibanding tempat lainnya. Ini merupakan teknik marketing yang jitu dari pengelola kebun.

Tidak lama di kebun Korma, kami pergi ke tempat percetakan Al Qur'an. Sayangnya, hanya laki-laki saja yang bisa masuk ke dalam pabriknya. O ya, mereka yang laki-laki mendapat sebuah Al Qur'an seukuran buku tulis, tetapi mereka harus wudhu dulu sebelum masuk pabriknya. Sedangkan buat perempuan, bisa membeli sendiri di toko resmi yang merupakan bagian dari pabrik. Ada banyak ukuran Al Qur'an yang di jual disini, juga ada Al Qur'an beserta terjemahan dalam bahasa negara lain, termasuk Indonesia tentunya. Keistimewaan Al Qur'an cetakan Madinah adalah, walau ukuran kecil, tulisannya tetap jelas dengan kertas yang tipis. Tempat ini tutup setelah jam 12 siang.

Kami mengejar waktu untuk sholat Dzuhur berjamaah di masjid Nabawi. Sehingga tidak pernah lama-lama di satu tempat. Saya dan lainnya bergegas menuju masjid Nabawi, untunglah hotel tempat kami menginap tidak jauh. Tidak sampai lima menit menuju masjid.

Selesai sholat, kami makan dan istirahat sebentar. Kemudian dilanjutkan sholat Ashar berjamaah di masjid Nabawi. Masjid ini jadi terasa makin istimewa buat saya. Ini pertama kalinya saya sholat lima waktu di sebuah masjid. Selesai Ashar, kami melihat Baqi. Itu merupakan tempat pemakaman massal bagi mereka yang wafat ketika sedang umrah atau haji. Ini mengingatkan saya akan kematian.

Selanjutnya kami berkeliling masjid nabawi. Walaupun saya sudah sholat lima waktu di masjid ini, saya belum menjelajahi semuanya. Payung-payung di halaman masjid ini berjumlah 1000 buah. Kubahnya bisa bergeser sehingga sirkulasi udara di dalam masjid terjaga. Sore itu, payung-payungnya menguncup, sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Rasanya sangat modern. Padahal ibu saya bilang itu sudah ada ketika ibu saya naik haji tahun 2003. Ini saya aja yang norak.

Berkeliling masjid Nabawi ternyata memakan waktu yang lama karena selama berkeliling kami disuguhi kisah tentang Rasulullah, hingga tibalah waktunya untuk sholat Maghrib berjamaah. Selesai maghrib, saya tetap berada dalam masjid menunggu Isya sambil membaca Al Qur'an. Jamaah masjid ini kebanyakan berasal dari negara timur tengah. Dari Indonesia juga banyak.. sangat banyak. Kami sangat mudah dikenali disini. Karena secara fisik, postur tubuh kita memang imut-imut, wajah dengan hidung yang mungil, pipi chubby dan doyan belanja. Orang Indonesia memang terkenal tukang belanja dan tukang nawar. Tidak heran semua pedagang disini bisa bahasa percakapan Indonesia. Kita tinggal nanya "ini berapa?" Mereka langsung ngerti dan menjawab dalam bahasa Indonesia juga. Bahkan, rupiah kita juga laku disini. Mereka sendiri yang akan menukarnya, jadi kita bayar rupish saja. Nice business here..hehehe.