Friday, December 18, 2009
after blog walking..
Lama sekali tidak menulis, bukan karena sibuk, bukan karena ga ada bahan bukan karena menghindar, tapi karena kena penyakit malas. Sebenarnya banyak yang mau ditulis, review 2009 economic, economy outlook 2010 de el el de el el. Tapi ya itulah, kalau di sudah sit down @ office, langsung terbawa iramanya dan lupa lagi deh idenya..
Hari ini, baru blog walking lagi.. kebiasaan lama yang hampir punah sejak facebook dan twitter mendominasi history internet saya.. Sulit untuk memungkiri kalau irama hidup tidak terpengaruh oleh dua situs itu. Although I realized that those social network sites totally disturb my productive life, I have a high frequency on using it. No denial at all..
Bagaimanapun juga, segala sesuatu itu ada masanya. Mudah-mudahan setelah blog walking malam ini, akan diperoleh equilibrium yang baru.. (hadoooh.. segitunya.. berasa ga seimbangkah?)
Momennya pas.. pas tahun baru hijriah..
Selamat tahun baru hijriah semuanya, semoga tambah semangat untuk menjadi yang terbaik.. Amien..
Saturday, September 12, 2009
Working atmosphere..
Namun karena saya hanyalah seorang perempuan biasa yang juga harus mengurus keluarga (karena saya hanya mampu membeli rumah di sister city, dengan berat hati saya minta dimutasi ke level terendah tersebut. Awalnya memang berat dan terasa aneh. Tapi, seiring berjalannya waktu dan perubahan yang terus menerus terjadi, saya merasa sangat bersyukur bisa mengabdi di level terendah ini.
Bagi mereka (rekan kerja sesama instansi) yang tidak pernah “menyentuh” tingkat II pasti memiliki pola pikir berbeda dengan kami yang di tingkat II. Memang ujung tombak dari seluruh kegiatan instansi tempat saya bekerja ada di tingkat II, namun semua perencanaan tetap ada di pusat. Akibatnya sering terjadi management gap untuk kegiatan-kegiatan besar. Menurut saya itu wajar saja, tapi kalau tidak diperbaiki menjadi tidak wajar.
Contohnya, untuk hal yang paling kecil dan mungkin dianggap sepele (semoga tidak), pengadaan instrument kerja. Entah apa yang menjadi indikator untuk penganggaran pengadaan instrument kerja seperti kuesioner atau form2 penting lainnya. Karena selalu saja tidak tepat, entah itu excess supply atau excess demand..
Dan, Alhamdulillah hingga kini diskrepansinya tidak juga mengecil. Artinya masih ada pekerjaan buat perencana di pusat untuk memikirkan hal ini (daripada tidak ada kerjaan ya ...) Tapi sudahlah, yang seperti itu memang tidak perlu dibesar-besarkan, karena tidak dibesarkan juga sudah besar sendiri.. he he he
Dinamika bekerja di level terendah ini tidak hanya itu. Menghadapi orang banyak dari berbagi kalangan dan karakteristik penduduk yang berbeda-beda merupakan anugerah tersendiri yang menurut saya priceless.. tidak bisa ternilai harganya. Tahukah mereka yang di pusat bagaimana sakitnya ditolak responden dari kalangan pengusaha, tidak bisa masuk ke kantor mereka yang mentereng dan hanya bisa sampai pada satpam saja? Atau perihnya dimarahi para elite residence di perumahan elit yang menolak kita mentah-mentah kala dimintai keterangannya.. Atau turut merasakan sulitnya responden dari kalangan yang mengenaskan dan kita hanya bisa bersyukur tidak seperti mereka yang memang benar-benar kekurangan. Belum lagi kalau kita harus menghadapi arogansi penguasa setempat yang merasa memiliki segalanya untuk menjalankan pemerintahan di daerah tingkat II.
Bila hasilnya tidak tepat waktu atau kualitasnya buruk, teman-teman di pusat akan menjudge kami kerjanya tidak optimal dan tidak serius. Yang paling parah kami dianggap tidak sesuai standard operation procedure (SOP), yang kadang-kadang SOP-nya sendiri bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan.
Padahal, tanpa bermaksud membela diri, untuk mendapatkan data yang berkualitas tidak hanya dengan menekan ujung tombak, tapi perencanaan yang matang dan optimal, dukungan dana dan komunikasi yang baik juga diperlukan. Menurut saya, komunikasi dua arah sudah merupakan hal yang wajib hukumnya supaya semua masalah dan kemungkinan yang terjadi di lapangan bisa di atasi. Dan tolong.. berbaik sangka-lah
Dinamika lainnya adalah hubungan dengan instansi lain pada level tingkat II. Walaupun kami ini instansi vertikal, tetapi sering kali dianggap sebagai bawahan oleh penguasa setempat, sehingga terkadang mereka bersikap semaunya dan tidak menganggap kami sebagai sesama abdi negara.
Maju mundurnya suatu bangsa sangat tergantung kepada reliabilitas dan validitas sistem data yang ada di negara tersebut. Semakin terorganisir dengan baik sistem organisasi data tersebut maka akan semakin maju negara tersebut. Strategi pembangunan apapun tergantung kepada sistem data yang diterapkan.
Harus diakui, kami memang banyak kekurangan, tapi kami selalu berusaha untuk memperkecil kekurangan kami itu. Dengan banyak cara tentunya, kami banyak belajar, banyak mengolah informasi penting yang mungkin bisa kami jadikan petunjuk dan berusaha menjalin komunikasi dengan pihak lain.
Sebenarnya hal tersebut tidak sulit dilakukan dan sangat mungkin untuk dikerjakan, namun sayangnya hingga saat ini masih belum optimal untuk dilaksanakan. Tapi yakinlah suatu saat nanti pasti terealisasi. (Optimis itu bukan penyakit kan.. )
Alhamdulillah, bekerja di tingkat II sungguh merupakan suatu anugerah.
Wednesday, September 9, 2009
Lagi-lagi LPE..
Menurutnya, item ekspor netto dalam PDRB penggunaan terasa aneh, karena dia merasa yang namanya ekspor itu harus ke luar negeri, sedangkan kalau di PDRB penggunaan, arus barang antar kabupaten/kota sudah bisa dibilang ekspor. Ketika saya tanya, by definition ekspor itu artinya apa? Jawabnya ada barang keluar dari suatu wilayah. Nah, sesuai kan dengan pengertian dalam PDRB Penggunaan.
Masih belum puas juga..
Saya minta dia mengingat kembali pelajaran ekonomi makronya tentang siklus bisnis (kebetulan dia SE), lalu saya gambarkan skema yang setiap mahasiswa ekonomi pasti pernah melihatnya.. Hal yang kayak gini kan ada di buku teks ekonomi makro karangan siapa pun.
Baru dia ngeh..
Dia bertanya lagi, kenapa kadang-kadang PDRB yang saya buat tidak konsisten dengan kondisi sosial ekonomi di sini? Lho siapa bilang? Kalau Laju pertumbuhan ekonomi naik terus dan angka pengangguran juga tidak turun, mungkin memang begitu adanya. Justifikasinya, Bekasi itu masih ditunjang oleh share atau kontribusi yang besar dari sektor industri. Nah, output dari sektor industri itu besar sekali, padahal tenaga kerja yang terserap disana bukanlah yang terbesar. Artinya karakteristik industri yang ada di Bekasi bukan merupakan industi yang padat karya, melainkan padat modal.
Share kedua terbesar berasal dari perdagangan. Kita tahu, berapa sih tenaga kerja yang bisa diserap oleh sektor ini. Share ketiga terbesar berasal dari jasa. Apalagi sektor yang satu ini, semakin minimalis tenaga kerjanya semakin efisien dengan output yang besar.
Saya masih ingat di buku laporan tahunannya Bank Indonesia, di salah satu box nya ada tulisan mengenai pertumbuhan yang tidak berkualitas. Hal ini ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan disertai dengan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.
Menurut saya, sebelum membicarakan masalah pertumbuhan, pengangguran, kemiskinan dan indikator-indikator lainnya, sebaiknya kita harus memahami dahulu definisi-definisinya dengan jelas dan harus konsisten dengan sumbernya. Karena tidak mungkin saya menggunakan angka kemiskinan yang dipublikasikan oleh BPS tetapi menggunakan definisi yang dikeluarkan oleh instansi lain. Datanya jelas akan terlihat aneh.
Jadi, dengan sok taunya, saya menjelaskan panjang lebar bagaimana pertumbuhan itu dihitung, korelasinya dengan pengangguran, inflasi dan kemiskinan. Karena pertumbuhan ekonomi kita dihitung dari PDRB, sedangkan PDRB itu sendiri masih menggunakan konsep nasional yang di'daerah'kan, maka tidak salah kalau ada saja yang berpendapat kalau begitu jumlah PDRB semua kab/kota di Indonesia akan sama dengan PDB yang merupakan angka nasional.
Sebenarnya, tidak harus begitu. Lho kok bisa? Ya jelas saja, source of datanya lihat dulu dong. Kadang-kadang (atau hampir selalu ya) data yang kita peroleh di dinas/instansi di tiap daerah tidak sama dengan data yang berasal dari level daerah di atasnya. Ah, masa? Yah, ini kan Indonesia, kesadaran untuk mengarsipkan data dengan baik masih kurang.. Hal ini berakibat kepada kualitas data yang diproduksi BPS, yang berlanjut pada masukan untuk pemerintah daerah yang bisa saja jadi salah arah..
Tapi kenapa ya yang disalahkan selalu BPS, padahal ini kan kesalahan person in charge di setiap sendi pemerintahan juga.. nasib.. nasib..
Sunday, July 26, 2009
Globalisasi 3.0
Friedman menuliskan sepuluh kejadian yang telah mendatarkan dunia (istilah the world is flat sebenarnya digulirkan oleh seorang kolumnus New York Times yang mendapat hadiah Pulitzer). Menurutnya kesepuluh kejadian atau keberadaan teknologi berikut ini benar-benar telah membuat dunia menyatu. Kesepuluh kejadian yang disebutnya Globalization 3.0 (globalisasi generasi ketiga) itu adalah :
1. Runtuhnya tembok Berlin (9 November 1989)
2. Dunia terhubung oleh web dan netscape (6 Agustus 1991)
Berners-Lee, pembuat website pertama di duia yang menjelaskan cara kerja dunia maya ini. Majalah Times (14 Juni 1999) menjulukinya sebagai Thomas Edison abad ke-20. Dalam waktu yang relatif singkat, dunia pun terhubung, tak peduli apakah anda pengusaha atau pekerja; pelajar atau pengajar; anak kecil atau kakek-nenek; semua telah dapat terhubung secara bebas, menembus batas ruang dan waktu.
3. Pekerjaan antarmesin terhubung
Pekerjaan-pekerjaan kolaboratif terhubung kala mesin-mesin produksi bisa berbicara dalam bahasa yang saling mengerti. Software mengenai workflow mendorong kolaborasi-kolaborasi lainnya ke dalam pendataran berikut, yaitu uploading, outsourcing, offshoring, supply chaining, insourcing dan informing. Dunia mencatat kolaborasi itu merupakan kesepakatn dair berbagai penguasa dunia seperti pembayaran lewat dunia web yang dikoordinasi oleh PayPal yang diluncurkan tahun 1998, yang dilanjutkan oleh kolahorator-kolaborator lain seperti ebay, microsoft, yahoo, SAP, dan penggagas-penggagas dunia animasi, hiburan, perdagangan, sampai pendidikan dan engineering.
4. Uploading
Semua orang sekarang bisa berkolaborasi apa saja, mulai dari pemilihan kepala daerah, pembelian buku, penulisan cerita, sampai membuat software. Semua orang bisa bekerja memasukkan data sendiri-sendiri ke dalam dunia maya. Kala metode Open Source telah dirangkai oleh para penjelajah dunia maya, muncullah kebiasaan-kebiasaan baru membangun komunitas bersama-sama, mulai dari software Linux, sampai Wikipedia - siapa pun boleh ikut berpartisipasi dan mengembangkan, seolah ini milik bersama.
5. Outsourcing
Inilah peristiwa penting lain yang ditakuti oleh para aktivis dunia perburuhan. Outsourcing dianggap sebagai ancaman karena perusahaan mulai mengurangi karyawan dan tidak lagi menginginkan pos 'payroll'-nya diisi oleh karyawan-karyawan tetap yang digaji secara tetap, ada atau tidak ada produksi. Perusahaan-perusahaan menginginkan biayanya berubah menjadi variabel, bukan biaya tetap. Variabel atau fleksibel berarti sangat luas, yaitu bisa diambil dari mana di seluruh dunia ini (seperti call center perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang ditaruh di India, atau Call center XL Commindo yang ditaruh di Jogyakarta tapi berkantor pusat di Jakarta), dan jumlahnya bisa diubah kapan saja (tidak ada ketentuan). Sekali pun berupa ancaman, ada peluang bagi munculnya pengelola-pengelola jasa outsourcing.
6. Offshoring
Sejak pemimpin China, almarhum Deng Xiaoping mengumumkan bahwa China akan menempuh Jalan Kapitalisme pada tahun 1997, dunia pun mulai mengarahkan matanya ke sana. Sejak saat itu, China pun berubah, apalagi sejak ia bergabung dengan WTO (11 Desember 2001), dan sepakat mematuhi hukum internasional sehingga menjadi lebih menarik di mata investor. Perpindahan pusat produksi secara fisik ke China terjadi secara besar-besaran sehingga mendorong cara kerja baru yang dikenal dengan metode offshoring. Metode ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh China, tetapi juga negara-negara eks Uni Soviet, Malaysia, Thailand, dan sebagian masuk ke Indonesia.
7. Modernisasi Mata Rantai Pemasok (Supply Chaining)
Modernisasi itu tengah terjadi secara besar-besaran. Kala mata rantai logistik sembako di Indonesia carut-marut dan birokrasi tak kuasa mengendalikan perputaran pupuk, minyak goreng, garam, rotan, migas, beras, dan lain-lainnya, perusahaan-perusahaan skala global memukau dunia dengan mata rantai yang efisien, tepat waktu, dan memahami kebutuhan konsumen-konsumennya.
8. Kolaborasi Horizontal Untuk Menciptakan Nilai Tambah (insourcing)
Mata rantai pasokan global yang kompleks dan mahal kini menjadi lebih murah lagi kala industri jasa pengiriman bergeser perannya menjadi pelaku penting dalam bidang logistik. Dalam bidang itu kita saksikan para pelakuk usaha memasuki era baru yang mereka sebut sebagai "total solution", yang artinya mereka bukan cuma sekadar mengirim, melainkan juga memperbaiki dan mengambil peran-peran strategis lainnya. Itulah yang dilakukan pasukan bercelana pendek coklat UPS yang turut memperbaiki produk-produk milik klien-kliennya.
9. Terciptanya Mesin Pencari dan Klarifikasi (informing)
Ketika banyak orang mengeluh sulitnya menjadi manusia yang baik, menjadi orang jahat di abad ini juga semakin tidak mudah. Semua itu terjadi karena dunia sudah semakin akrab dengan mesin pencari yang sangat canggih yang antara lain dipelopori oleh Google. Semua orang bisa dengan begitu cepat mengecek track record calon-calon karyawan atau pimpinan, bahkan sampai mencari anggota keluarga yang tersesat dan menelusuri jejak si penjahat. Kita cukup menulis sebuah kata kunci untuk pencarian itu, dan dalam sekejap klarifikasi pun muncul, kita tinggal memilih mana yang paling mendekati atau tepat.
10. Berkembang Pesatnya Teknologi-teknologi Supercanggih
Friedman menamakan gejala ini sebagai steroid yang ditandai dengan kecepatan masuk keluarnya data (computing), terobosan dalam pengiriman pesan dan file sharing panggilan telepon melalui internet, video conferencing yang lebih canggih, game komputer dan teknologi nirkabel. Semua itu mengakibatkan mesin kini bisa berbicara dengan mesin-mesin lain dalam bahasa yang sama dan begitu cepat, mudah dan murah. Meja kerja juga bisa ikut pergi kemana pun anda berada.
Nah, kesepuluh hal tersebut lah yang dipercaya Friedman telah mendatarkan dunia, sehingga dunia tidak lagi terbagi-bagi menurut suku, agama, warna kulit, geografis dan sebagainya.
Globalisasi ini pula yang melandasi pemikiran banyak ekonom dalam menyikapi terjadinya krisis finansial global. Sehingga mereka beranggapan bahwa bila ekonomi Amerika Serikat sedang buruk, maka seluruh dunia akan ikut perasakan pahitnya. Begitukah?
Sumber : Marketing in Crisis, Rhenald Kasali
Friday, June 19, 2009
"being" versus "having"
Bila kita mau sedikit mawas diri, tentunya kita sadar bahwa menjaga gengsi, tidak semata berasal sebatas kedudukan, kekayaan dan kepemilikan barang. Ingat saja, bahwa si multibilyuner dolar, Mark Zuckerberg, pemilik Facebook tidak mendapatkan gengsinya melalui pesta-pesta bermilyar dolar, gonta ganti mobil, mengejar jabatan dengan menghalalkan segala cara. Ia sekadar anak kos-kosan yang rajin mengulik, berkreasi dan berinovasi, sampai bisa membuahkan produk yang berharga dan popular seantero dunia. Kita lihat, “self image” di mata public bisa dilandasi oleh beberapa domain penting dalam kehidupan ini, seperti prestasi, pengalaman, kepahlawanan, tata krama, tata bahasa, kinerja, ekspertis, kearifan yang lebih mengarah pada “being” seseorang dibandingkan dengan ”having” seseorang. Ini tentunya kabar baik bagi setiap individu yang juga ingin meningkatkan “gengsi”nya tetapi belum tahu dari mana sumbernya.
Kita bisa menggarisbawahi bahwa kita memang perlu senantiasa menjaga kebugaran fisik, intelektual, emosional dan spiritual kita, sebagai modal untuk menganalisa, memperbaiki, mengembangkan diri sendiri, berkreasi, berprestasi, menonjol, sehingga kemudian bisa merespek diri sendiri, lalu menjaga hakikat “qualities” diri kita sebagai fitur gengsi. Sudah tidak zamannya lagi kit merasa gengsi naik sepeda ketimbang berkendaraan mobil, dan seharusnya malah lebih bangga bahwa kita bugar menjaga kesehatan. Atau sebaliknya perlu memiliki Blackberry seri terbaru tetapi gaptek dalam menggunakannya.
Artikel itu membuat saya mengkaji ulang lagi ingin menjadi pribadi yang seperti mana saya di area ”being” ini. Bersikap baik dan akomodatif terhadap orang-orang yang memerlukan bantuan rasanya masih belum cukup, tetapi menjadi ekspertis di bidang yang saya tekuni juga masih belum mumpuni. Artinya banyak pe er yang harus segera dituntaskan.
Thursday, May 14, 2009
dunno
Sunday, May 10, 2009
Sober
Sober sendiri menurut alfalink anak saya berarti
Setelah dilihat ke lirik lagunya.. yah begitulah cerita tentang seorang gadis yang tenang dan memandang hidup dengan begitu mudahnya.. wooo gw banget ga seh..
Supply and Use Table
Supply and Used Table sebenarnya digunakan sebagai alat kontrol untuk melihat konsistensi antara penyusunan PDRB dari sisi sektoral (lapangan usaha) dan PDRB dari sisi penggunaan (expenditure). Sebagaimana diketahui, data PDRB atau PDB atau data makro ekonomi lainnya yang merupakan produk BPS seringkali dikritik karena ketidakkonsistenannya. Dalam beberapa kesempatan, hal ini juga pernah saya alami di kelas-kelas ekonomi yang saya ikuti dahulu. Dan karena saya bekerja untuk BPS, saya pun harus menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi karena saya sering ditanya kenapa kok bisa begitu.
Harus diakui, database kita belum bagus, tapi usaha untuk membuatnya lebih baik selalu ada dan terus dilakukan. Termasuk salah satunya penggunaan Supply and Used Table ini.
SUT sendiri sebenarnya merupakan inti dari SNA (System of National Account), menggambarkan total ekonomi menurut kelompok produk, sumber dan penggunaan barang dan jasa. Aliran barang dan jasa ditelusuri dari produsennya sampai penggunanya. Untuk setiap produk total supply harus sama dengan total penggunaannya.
SUT terdiri dari dua bagian yaitu Supply Table dan Used Table. Supply Table memberikan informasi mengenai sumber barang dan jasa, bagaimana suatu produk disuply apakah merupakan produksi domestik atau impor. Produk dalam Supply Table ini disajikan dalam bentuk baris sesuai dengan ketentuan Central Product Classification (CPC), sedangkan kolomnya merupakan industri menurut ISIC (International Standard for Industry Classification), juga import dan penyesuaian item seperti tax dikurangi subsidi dan TTM (tax and transport margin). Bagian utama dari Supply Table adalah pada basic price. Namun, untuk menyeimbangkannya dengan penggunaannya pada purchase price (seperti yang dipresentasikan pada Use Table), ditambahkan kolom sehingga didapat total supply pada purchase price.
Sedangkan Use Table memberikan informasi mengenai penggunaan barang dan jasa, serta struktur biaya dari industri. Use Table terdiri dari intermediate use (intermediate consumption) dan final use (final consumption, capital formation dan ekspor).
Bentuk persamaan dasarnya adalah sebagai berikut
output + import (total supply) = intermediate consumption + export + gross domestic capital formation + final consumption + changes in inventories (total use)Sisi kiri persamaan adalah PDRB atau PDB menurut lapangan usaha (sektoral) sedangkan sisi kiri adalah PDRB atau PDB menurut penggunaan (expenditure)
Jujur saja, sepintas ini mirip dengan tabel input output. Tapi pada tabel input-output diterapkan banyak asumsi dan terdiri dari 3 kuadran, sedangkan pada SUT tidak demikian. Selain itu ada dua harga yang diterapkan disini yaitu basic price dan purchase price. Artinya kita juga mempertimbangkan harga (dengan kata lain menguasai masalah IHK, IHPB)
Dengan penggunaan SUT ini, diharapkan data PDRB sektoral dan penggunaan menjadi konsisten. Misalnya tidak terjadi lagi kesalahan kenapa ekspor turun (di PDRB penggunaan) tapi produk2 orientasi ekspor (di PDRB sektoral) malah mengalami pertumbuhan yang tinggi. Atau mengapa konsumsi naik tapi di PDRB sektoralnya mengalami penurunan produksi dan lain sebagainya..
Preparation, selalu begitu yang saya terapkan untuk semua pekerjaan yang sedang dan akan dilaksanakan. Semoga apa yang sedang disiapkan ini benar-benar membuat kualitas data yang dihasilkan menjadi jauh lebih baik..
Wednesday, April 29, 2009
Romantisme a la Daniel Bedingfield
Mungkin karena acara ngajar mengajar itu sudah selesai.. akhirnya bisa rileks lagi untuk 12 jam ke depan.. dan ini adalah lagu yang aku pilih untuk menemani pikiran yang lagi rileks.. benar-benar romantis..
If you're not the one - Daniel Bedingfield
If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call
If you are not mine would I have the strength to stand at all
I’ll never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?
I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?
‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I could stay in your arms
Friday, April 24, 2009
Resesi, Depresi dan PHK
"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Kalau Anda juga kehilangan pekerjaan, itu depresi"
Berapa pun besarnya pesangon, menjadi penganggur sungguh tidak enak. Menurut Harvey Brenner, setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik 1,2%, serangan jantung 1,7%, bunuh diri 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun.
Namun, ada kabar gembira, orang yang kepepet bisa hijarah menjadi pengusaha, asalkan lingkungannya kondusif. Minggu lalu, Organisasi Buruh Internasional mengumumkan krisis keuangan global akan mengakibatkan pemutusan hubungan kerja 20 jutra orang. Padahal, tanpa krisis, 190 juta orang menganggur, Di AS, angka PHK baru 1,2 juta. Lantas, dimana pengangguran terbesar? Sebagian besar menduga CIna.
Namun Dirjen ILO menyebut Cina relatif aman karena pasar domewstiknya kuat. Di Thailand, 1 juta orang akan menganggur. Singapura sama, tetapi parlemen mengizinkan pemerintah mengatur keuangan agar lebih adaptif.
Di Indonesia, mereka yang pesimis menyebut pengangguran akan menyentuh 2 juta orang, sementara yang moderat menyebut 1 juta. Hitungan ekonominya, penurunan ekonomi 1 persen membuat lapangan pekerjaan menyusut 150.000. Di lapangan, sebagai antisipasi krisis,pengusaha mulai menahan ekspansi. Konsumsi listrik untuk industri di Jawa sebulan terakhir turun lebih dari 5 persen.
Namun, benarkah ancaman pahit itu akan menjadi kenyataan? Di AS, yanng paling terkena krisis adalah jasa keuangan, perumahan, ritel, otomotif, dan konstruksi. Di negara lain, yang terimbas adalah sektor-sektor ekspor, seperti faren, furnitur dan bahan mentah.
Namun, di Indonesia, segala industri, juga UMKM, bisa terkena kalau respons operasional birokrasi lamban dan inkonsisten. Kita ambil saja dua contoh, industri kertas dan UMKM. Dalam industri kertas, Indonesia punya keunggulan daya saing alamiah sehingga berpotensi menggeser kompetitior dari negara yang sedang terimbas krisis.
Di khatulistiwa, pohon akasia dapat dipanen 6 tahun, sementara di Eropa Utara butuh 20-40 tahun. RAPP dan INdah Indah Kiat masing-masing menanam investasi lebih dari Rp. 50 triliun. Perangkat hukum hutan tanaman industri muali dari UU No 41.1999 sampai PP No 6/2007 sudah lengkap. Kalau kondusif, industri ini bisa jadi powerhouse ekonomi.
Studi LPEM FEUI (2008) menemukan mulitplier tenaga kerjanya 2,381 sehingga berhasil menstimulasi lapangan pekerjaan di Provinsi Riau sekitar 250.000 (2005). sMAPAI BULAN sEPTEMBER 2008, RAPP masih menjual dolar ke BI sebesar 500 juta dolar AS. Namun karena setahun terakhir ini aparat di lapangan bertikai dan saling menuding, pasokan kayu pun menipis.
Kita tahu, polisi saat itu ingin membongkar sindikat pembalakan hutan. Kejaksaan juga ingin dapat nama dalam pemberantasan korupsi. Namun, ibarat kaum bisu tuli dalam tarian The Thousand Hands of Buddha, hanya satu orang yang boleh di depan. Nyatanya semua ingin ke depan sehingga timbul kekacauan dan rantai suplai yang dibangun bertahun-tahun hancur.
Dalam situasi demikian, bulan lalu RAPP mem-PHK 1000 karyawan tetapnya.
Lain lagi UMKM. Dari pengalaman di Korea Selatan, Thailand, dan Cina, pengembangan UMKM tidak boleh dipisahkan dari industri penopangnya yang berseifat komplementer sehingga hrus membentuk klaster. Dalam setiap klaster ada 2-3 perusahaan besar yang menjadi lokomotif bagi gerbong-gerbong itu.
Karena tidak integratif, penanganan UMKM di Indonesia tidak efektif. Yang satu memberikan bantuan, Satpol PP menggusurnya. UMKM ditanam sporadis sehingga menimbulkan banyak benturan. Karena itu, UMKM belum bisa menjadi alat pencipta kesejahteraan yang stabil. Angka kematiannya pun sangat tinggi.
Dua contoh itu menunjukkan pentingnya membangun spirit Indonesia yang sejalan. Semua kekacauan itu dimulai dari visi yang belum terurai sampai level operasional, malah masing-masing asyik dengan "hobinya" dan ingin tampil ke depan sendiri-sendiri.
Upaya mengatasi resesi dan depresi dapat diibaratkan dengan dua kalajengking milik presiden, yang ditaruh dalam gelas. Obama dan pemimpin kita sama-sama menggenggam kalajengking. Begitu air dimasukkan ke dalam gelas, dalam hitungan menit gelas Obama sudah kosong. Kalajengking yang satu mengatakan kepada temannya, "Ini benar-benar sudah gawat, kita bisa mati. Naiki pundak saya, sampai di atas tolong tarik saya." Mereka sepakat, seperti slogan kampanyenya "Change, You Can Believe In".
Bagaimana kalajengking di gelas pemimpin kita? Begitu yang satu naik sedikit, kawannya buka mendorong ke atas, malah menarik kakinya ke bawah. Walhasil, kdeduanya sama-sama mati. Siapa yang menarik kaki kalajengking itu?
Pada akhirnya, kita hanya bisa keluar dari resesi bukan karena kehebatan kita, melainkan apakah kita benar-benar percaya bahwa ancaman krisis dan PHK ini bisa menjadi riil dan tidak main-main, lalu apakah kita mau bekerja sama dan beradaptasi?...
Monday, April 20, 2009
Caught in the act..
Beberapa waktu yang lalu, apa yang sudah aku usulkan ditolak mentah-mentah.. yah maklum, junior.. tapi aku tetap mengemukakan rencanaku beserta konsekuensinya kalau kita tidak menjalankannya sesuai prosedur..
Dan meeting hari ini mengungkapkan fakta-fakta yang terjadi... inilah akibatnya kalau tidak sesuai dengan teori dan apa yang sudah di rapatkan sebelumnya.. Dalam hati sih rasain deh.. tapi ga tega juga, bagaimanapun juga ini institusi yang mau tidak mau harus aku bela.
Kalau sudah ketangkap basah begini, baru deh grabag grubug cari option lain... Ingin sih aku bilang, "tuh kan.. saya bilang juga apa?" tapi ga tega euy.. Yah bantu sebisanya saja..
Tabungan..
Bagaimana menyikapinya? Informasi seperti ini sebaiknya harus dicerna pelan-pelan. Bukan apa-apa kalau kita tidak menabung ke bank, artinya fungsi bank sebagai intermedia antara pemilik modal dan orang yang membutuhkan modal akan terganggu. Investasi tidak jalan dan akan merembet ke hal-hal lainnya. Ujung-ujungnya ekonomi sulit tumbuh......
Ambil contoh BCA, bank yang memiliki jumlah penabung paling banyak di Indonesia. Untuk tabungan Tahapan Silver, BCA mengenakan biaya administrasi Rp 10.000 per bulan. Adapun suku bunga untuk tabungan bersaldo Rp 1 juta-Rp 10 juta sebesar 2 persen per tahun.
Dengan asumsi nilai tabungan awal Rp 5 juta dan tidak pernah ditambah selama setahun, nasabah akan mendapat bunga Rp 100.000 per tahun. Setelah dipotong pajak 20 persen, pendapatan nasabah tinggal Rp 80.000. Padahal, biaya administrasi yang harus dibayar selama setahun mencapai Rp 120.000. Alhasil, dana berkurang Rp 40.000 dalam setahun.
Penabung kian cepat kehilangan uangnya jika nilai tabungan di bawah Rp 1 juta. Sebab bunganya nol persen. Penabung tidak akan tergerus uangnya jika saldonya minimal Rp 6 juta. Pada level itu, biaya administrasi dan bunga mencapai titik keseimbangan.
Perbankan umumnya menerapkan bunga rendah untuk tabungan. Bank Mandiri, bank terbesar di Indonesia, bahkan hanya memberikan bunga 1,75 persen untuk tabungan bernilai Rp 1 juta-Rp 5 juta. Kian tinggi nilai tabungan, bunga akan semakin besar, namun biasanya tak lebih dari 4 persen per tahun. Bank tentu merasa berhak memungut biaya administrasi. Alasannya, mereka harus membangun dan memelihara jaringan seperti ATM, yakni fasilitas untuk para penabung. Bank juga harus membangun infrastruktur teknologi informasi untuk mengelola dan menjaga rekening nasabah tetap aman.
Bank merasa pantas memberi bunga kecil atas tabungan dengan alasan tabungan dapat ditarik setiap saat sehingga bank tidak begitu leluasa menggunakan dana tabungan untuk disalurkan sebagai kredit. Berbeda dengan deposito yang dipatok jangka waktunya sehingga bank mudah mengelolanya.
Bahkan, menurut para bankir, sebenarnya tabungan sudah merupakan jasa yang harus dibeli nasabah. Dengan menabung, nasabah memiliki banyak keuntungan, seperti keamanan dan kemudahan bertransaksi, karena tidak harus membawa uang tunai ke mana-mana.
Di negara maju seperti Jepang hal inilah yang terjadi. Tabungan dipahami bukan lagi tempat menggandakan uang, tetapi hanya sekadar cadangan uang tunai mengantisipasi keperluan transaksi segera atau mendadak. Untuk investasi, dana biasanya ditaruh dalam deposito atau produk pasar modal.
Namun faktanya, perbankan juga kerap memanfaatkan pengetahuan para penabung Indonesia yang umumnya masih awam. Bank tidak pernah menjelaskan kepada nasabah. Misalnya, jika saldonya di bawah Rp 5 juta, dana nasabah tidak akan pernah bertambah.
Lalu kalau cuma punya uang 5 juta ditabungin ga ya?
Yah.. makanya jangan cuma punya 5 juta, harus lebih dari itu.. Artinya lebih keras lagi usahanya, lebih banyak lagi mengumpulkan uangnya jadi kalau nanti ditabung tidak rugi.. :)
Saturday, April 18, 2009
Golput
Ada lagi yang bilang golput itu golongan putih, ada yang bilang golput itu golongan luput.. ada-ada aja. Bandingkan proses dan result pemilu kali ini dengan proses dan result pemilu 2004, lebih rapih yang 2004 kan... ya iya lah.. walaupun ada kekurangan disana sini, tapi jauh lebih rapih dan transparan.. kalau sekarang kan validitasnya belum-belum sudah banyak yang mengkomplain..
Tapi bagaimanapun juga sebagai anggota masyarakat, harusnya kita tetap menghargai kerja KPU, bagaimanapun juga di antara berantakannya DPT masih tetap ada orang-orang yang telah bekerja sungguh-sungguh. Dan kita juga harus menyikapinya dengan dewasa (KPU juga harus menyikapi kritik ini dengan dewasa juga lho..). Biarkan hasilnya sampai final barulah disikapi dan dievaluasi...
Wednesday, April 15, 2009
I call it negotiation
Mulai darimana ya ceritanya.. (sampe bingung deh.. ).
Begini, akhir-akhir ini aku sedang diuji mengenai masalah negosiasi.. Ya apa saja, negosiasi itu kan bukan hanya negosiasi harga, tapi juga masalah tugas, wewenang, dan lain sebagainya.. you name it.. Masalahnya, as a JUNIOR, kadang-kadang kita suka dilewatin begitu aja atau tidak dianggap sama sekali.. hehehe klasik ya..
Sampai kemarin itu, akhirnya aku pake trik jaim dan sempat-sempatnya mengintimidasi dengan cara yang halus tapi mematikan.. cie.. seperti biasa lah fakta-faktanya aku uraikan satu demi satu kemudian konsekuensi yang akan dihadapinya apa saja dan ... vuala! terintimidasilah orang itu. And it feels really good.. hahaha... haduh setan apa sih yang merasuki aku sampe seneng liat orang lain terintimidasi oleh aku sendiri..
Bukannya apa-apa, aku baca di buku saku negotiating karangan siapa gitu.. (serial manajemen kalo ga salah) trik seperti ini kadang-kadang harus diterapkan kalau kita ingin memenangkan negosiasi..
Hasilnya sejauh ini aku cukup membuat kehebohan. Ratingku naik beberapa poin (karena jadi bahan pembicaraan kali ye..), tapi paling ga sekarang aku diperhitungkan lah.. ga sembarangan lagi kalau sudah menyangkut aku.. hehehe.. Betul juga kata orang tuaku, ilmu itu memang sangat berharga.. Beberapa kali aku dihadapkan pada fakta ini, maka jangan malas belajar..
DPT lagi...
Sebenarnya dua minggu sebelum pemilu, aku pernah bicara masalah ini dengan teman-teman di kantor. Reaksi mereka dingin-dingin aja, seolah-olah beranggapan itu sudah bukan urusan kita atau instansi tempat aku bekerja. Waktu itu aku serius sekali menanggapinya. Pasalnya data DPT yang katanya dan seharusnya berasal dari data lungsuran P4B tahun 2003/2004 dalam proses mantainancenya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Masih jelas terekam dalam memoriku bagaimana dulu kita mengorganisir kegiatan pengumpulan data P4B tahun 2003. Dulu itu aku all in one, ya inda, ya pengawas, ya jadi obyek sasaran.. untungnya ga ikutan entri.. Hasilnya 2004 aku bisa ikutan pemilu, karena kuesionernya aku sendiri yang isi dan si petugas tinggal ambil aja. Tapi anehnya ketika pilkada baik tingkat propinsi maupun kabupaten, aku sama sekali tidak terdaftar dalam daftar pemilihnya. Dan ketika pemilu kemarin, namaku tiba-tiba muncul lagi.. hahaha. Dari sini mulai kelihatan tidak beresnya proses maintenance itu.
Sejak awal aku sudah memprediksi bahwa hasil pemilu kali ini kurang valid lantaran data jumlah pemilihnya yang kacau. Kalau dulu banyak terdapat kabar di media yang bilang pekerjaan BPS tidak benar, ngawur, ngaco dan lain sebagainya... kenapa sekarang tidak terblow up kalau pekerjaan instansi lain itu jauh lebih tidak benar?
Aku jadi teringat lagi soal data untuk pembagian BLT... Ketika anakku melihat iklan sebuah partai yang mengklaim keberhasilan program BLT dengan mengatakan Partai *** turun ke lapangan.... anakku langsung protes. Katanya lho bukannya gara-gara BPS dan mama yang suka ke lapangan makanya BLT sukses.. Hahahaha.. masalahnya waktu garap data PSE tahun 2005 untuk data BLT aku sering pulang malam karena kelamaan di lapangan, itu yang bikin anak sulungku itu protes habis-habisan dan aku harus menerangkan banyak hal, makanya dia mengerti apa yang kukerjakan kalau di lapangan..
Dan beberapa waktu yang lalu setelah pembagian BLT terakhir (cuma 2 bulan yang dicairkan), ada seorang pak RT yang menyambangi kantor kami untuk protes kenapa ada warganya yang tadinya menerima BLT (2005 dan 2008) tapi pas kemarin tidak menerima. Dia datang lengkap dengan data-data pendukung seperti no KIP dan daftar warganya yang menerima BLT tahun 2005 dan 2008 yang katanya berasal dari kelurahan. Ketika kita cek dengan database yang kita punya, ternyata namanya benar tapi no KIP nya salah, terus alamatnya tidak sesuai dengan yang ada di database kita... hehehe kalau sudah begini bingung deh.. salahnya di PT Pos atau di BPS karena PT Pos pernah melakukan verifikasi terbatas sebelum kita melakukan PPLS.. dan sst.. itu juga tidak bilang-bilang BPS lho..
Yah.. akhirnya waktu yang akan membuktikan semuanya, kalau kita sudah benar-benar bekerja sesuai aturan, sudah berusaha mengatasi masalah di lapangan dan di kantor semaksimal mungkin pasti akan terlihat mana yang baik..
Tuesday, April 14, 2009
Facebook Mankiw over limit???
Ini kutipan dari blog resmi Mankiw..
Monday, April 13, 2009
Goodbye, Facebook
I have decided to deactivate my Facebook account.* For the past couple years, I have used the account for the sole purpose of accumulating "friends." Now, Facebook tells me that I have reached my upper limit! So there is little point in keeping the account going. Going forward, if you want to be my friend, you will have to come to Harvard Square and meet me face to face.
---
*As soon as I can figure out how. Right now, Facebook gives me an error message every time I try to deactivate. There appears to be no escape.
Lucunya, dia ga bisa deactivate account facebooknya.. Beberapa waktu lalu, seorang teman juga mengirim email hasil diskusi para IT mengenai fenomena facebook ini. Ada yang berasumsi facebook merupakan bagian dari rangkaian teori konspirasi Amerika untuk mengambil data-data pribadi dari pemilik account facebook. Terlebih kini facebook sudah dilengkapi fitur relative atau hubungan kekerabatan. Kemudian account di facebook itu bersifat permanen. Awalnya aku ga percaya, sampai Mankiw sendiri mengalaminya.. benar teori konspirasi itu??
Action speaks louder than words
Pagi ini rapat lagi, ketika saranku diikuti dan disetujui, seneng dong pastinya.. tapi, belum juga satu jam berlalu tiba-tiba ngumpul lagi untuk rapat lagi... wakz! ada apa nih? usut punya usut ternyata eksekusi yang semestinya kita ambil gagal dilaksanakan lantaran yah.. sabotase.. gitu kata kasarnya...
Dalam hati, makanya jangan senang dulu.. action speaks louder than words.. Pertempuran belum selesai sampai benar-benar selesai... halah... akibatnya.. ya rapat lagi dan lagi di dua tempat berbeda.. ampun deh.. sampe capek!!! Semuanya cuma gara-gara kita ga antisipasi kemungkinan-kemungkinannya, dan contigency plannya ga dibuat! Pelajaran hidup no 234, selalu buat contigency plan!!
Monday, April 13, 2009
Feel free to ask..
One of the local government employee came in, introduced himself to us as a data user. He needed Human Development Index data to accomplish his mission from his boss. We gave him the only book we have (we used to have lots of copy but they apparently to be disappeared since those data users borrowed from us). He insisted to borrow that only book. We pursued him to copy them rather than borrowed. He didn't want to know, he told us that he is a trustworthy guy and would return it as soon as he can. We told him that most of Bappeda guy used the same reason and they never returned it back..
I told him that if he really needed I can gave him the soft copy.. all he had to do was just submit his USB to us. He agreed.. and wondered why he couldn't borrow that only one book but he can get the soft copy.. I told him it is part of our service.. all he have to do is just ASK..
Lelang.. lelang...
Masih jelas teringat pagi itu tanggal 2 April, beliau kelabakan ketika menerima pemberitahuan mengenai matrik anggaran untuk pelatihan pemetaan. Walaupun angka itu masih perkiraan kasar alias belum fixed, tapi dia ragu-ragu apa yang harus dilakukannya. Dan aku.. tidak bisa lepas dari kalkulator untuk menghitung prediksi-prediksi yang mungkin terjadi dengan beberapa besaran rupiah yang akan digelontorkan.
Sejak awal aku sudah mengukuhkan diri untuk mengadakan lelang karena sesuai dengan ketentuan Keppres 80, kegiatan pengadaan barang dan jasa di atas 50 juta harus lelang, dan aku sudah segera memberitahu beliau untuk memasang pengumuman pada hari itu juga atau paling telat esok hari jika ingin mengadakan kegiatan paling lambat akhir bulan ini. (Itu kalau mau mensinkronkan antara aturan hukum dengan aturan dari pimpinan yang menginginkan agar pelatihan tidak dilaksanakan di bulan Mei). Tapi yah.. begitulah... aku kan paling junior disini, jadi pendapat dan saranku perlu justifikasi dari banyak pihak untuk segera disetujui. Setelah klarifikasi sana sini, telpon sana telpon sini beliau agak terpaksa untuk memasang iklan. Itupun setelah kami (yang lulus keppres 80 : Pak Muktar, Pak Ade dan aku) menyarankan untuk rembugan dengan kantor tetangga alias Kabupaten Bekasi.
Pendapatku sederhana, kita punya juklak, punya pedoman, punya ketentuan yang harus dan merupakan syarat cukup dan perlu dalam sebuah kegiatan pengadaan barang dan jasa yaitu keppres 80, maka ikutilah alurnya.. dan vuala.. pada rapat tadi pagi bunda bilang ternyata hanya 3 kab kota yang mengadakan lelang (karena nilainya di atas 50jt), yaitu kota bekasi, kab bekasi dan kab bogor. Tiga serangkai itu memang saling terkoneksi dengan baik. Sampai-sampai Kab. Bandung minta difax bagaimana sih bentuk pengumuman yang harus disubmit ke koran.. Padahal preparasi di kita sudah sampai menyiapkan semua kelengkapan dokumennya.. Hmm.. cuma sekedar menunjukkan bahwa kita bekerja tidak setengah-setengah...
I don't know.. somehow I feel like I'm on the edge of mountain.. feels like winning something.. what I think, what I feel, what I ever predict is just happen.. and it feels really good..
The bottom line is.. be carefull on what you do.. although the assignment came from the chief.. if it didn't suit the law.. don't do that.. it is your life you're gambling with...
Never ending story
I have a lot of job pending lately.. and sure it start to drive me crazy. I should have delegate it to my staff but all I know it never works! What should I do? I can not keep complaining about my never ending story on my job, yet I love my job.
I thought I have bad time management. I don't have to bring my work to home while I can finish it at office.
Sunday, April 12, 2009
Does it really matter..?
Statistics Indonesia, that's what I used to call my office. Everything about data macro or micro can be found or forced to be found. I had bad and good moments. Sometimes it feels like you're on the edge of the mountain but somehow you'll find yourself in the bottom of the sea. Things are changed.. the institution changed, I changed, everybody's change.. but my love remain the same.
I have higher expectation for my institution to raise it to higher level. I write this to let everybody knows that I never do my work as if it was nothing. I am a government employee and I take it very seriously..
Saturday, April 11, 2009
It's Alan Greenspan
He was blamed for the financial crisis for policies that he drawn when he was chairman of the Fed. Stiglitz and Krugman also blamed him for the same reason. Wow.. if two nobelist blamed for the same thing, it must be very wrong.
Friday, April 10, 2009
Government Spending.. Can we rely on this engine?
Many economist said that Indonesia’s economic growth is led by consumption showed by its share on GDP (61% of GDP, 2008). But it will disturbed along the crisis since the investment (the share on GDP is 8%) is declining and so is net export. Indonesia is the second country in the fall down net export after Rusia.
In this global crisis situation, according to Keynesian, the government spending could be another way out as engine of growth. As we know, the government had given stimulus for about 73,3 billion to make the economy work, 12,1 billion of it is for the infrastructure development.
The rumor said that government will give stimulus package for government employee like remuneration package. They might be hope that this stimulus will run the economy as the whole. But can we rely on this?
Sunday, March 1, 2009
When data speaks for itself, that's when you say nothing at all..
After reading and analyzing how top level decision maker in this country spoke up with figures held by central bureau statistic Indonesia, I begin to see the red line. They treated data in their own way not how it is generated. It makes the translation on data become multi translations. Sure, as a quotation said that statistics is the only science that enables different experts using the same figures to draw different conclusions. (Evan Esar; 1899 - 1995).. but that can not be used as justification on what they did to data. They should treat data very carefully.
First thing first they have to be sure knowing what is the purpose of data collection, after that the methodology. Because, even they have the same purpose if the methodology is not the same, it could draw different conclusions. Say, the collection of Indonesia's population data. The CBS always take every 10 year population census and mid population survey between the census. They collected data by visiting every household, door to door. Meanwhile Dinas Kependudukan collected data based on report. They waited household to report to them about coming and incoming household, about death and birth. Those two kinds of how data collected are not comparable, not apple to apple. Unfortunately, there is still many decision makers, politicians, even researcher and college students blame the difference of the figures. Well, it looks like blaming is a habit of our society, but it won't solve the problem.
Let’s take a look on how they treat or use data. Nowadays, people start to respond on data. They begin to have self awareness on how figures presented. Many advertisements give fact findings by showing the survey result. Politicians also use it to make them look good or to let their vows look bad. And the data itself have nothing to loose but to be used.
It became a common model to have surveys that held by surveyor agencies. Like I said before, even the purpose is the same, if the methodology is different, it would draw different conclusions. The methodology includes the time reference, sampling, estimation method, and a lot of more. When these things happen, people get confused. People seem to loose confidence on data.
Now, what if the purpose is remain the same, the methodology is the same, including the sampling frame, time reference, etc and even the surveyor is the same person. The only thing that is not exactly the same is the institutions that held the survey. What will happen? Do the result the same or not?
The answer is yes the result is the same but the survey is useless..
Why those institutions held the survey with everything the same just to know the same thing and spent a lot of money. Just to prove that statisticians is a man who believes figures don't lie, but admits that under analysis some of them won't stand up either, Evan Esar said. In economics we call it inefficient.
That’s why we need a strong, dependable, trusty, independent institution to hold the survey and census. Especially the result of the survey will be used to draw policies. That will be the CBS role. Still, from statistic’s quotation “there are three kind of lies ; lies, damned lies, and statistics”. But data will speaks for itself, that is when you say nothing at all..
Wednesday, February 18, 2009
It's just slowing down..
The concern of this economic slowing down is the unemployment rate. Statistic Indonesia have not announced it yet, but many experd already give their prediction. The unemployment rate is raising. The concept of unemployment itself is still in debate. According to Statistic Indonesia, people who work for less than one hour a day is considered as unemployment. How about people who have business like 'ojek' or just do a little trade at home? They are not considered as unemployment. So, if the unemployment rate is not raising up, it's just simply because there is shifting from formal job to informal job. We are not closing our eyes to the figure of unemployment rate supposed to be. But please be optimistic..
Back to the topic, when I read the headline of the jakarta post today, it is written that growth hit hard by global slowdown. Here's the quotation..
The Central Statistics Agency (BPS) reported on Monday that the economy expanded 5.2 percent in the fourth quarter of 2008 from a year earlier, slower than the annualized growth rate of 6.4 percent booked in the previous quarter.Another victim of the global situation is our economic engine - export. By the crisis, the export is moving down. We still have another engine, the government spending. But how to make this engine more efficient to move on? It's the government to do list priority. It's just slowing down.. keep on moving, keep on optimistic and keep on working..Worse still, on a quarterly basis, the economy contracted by 3.6 percent in quarter four from the previous quarter, although BPS head Rusman Heriawan added that a similar contraction had occurred in the same period in the last two years.
”This was not surprising as the economy usually contracts in the fourth quarter compared to the third quarter, as industrial output slows and harvest time ends. But the crisis made the contraction (in 2008's fourth quarter) deeper."
Monday, February 2, 2009
And it's all coming back to me now
Destiny, that's what I call if it didn't suit me at all. And I have to accept it, face it, live it. Never regret everything that you've decided, that's what my mom always told me. And I always believe that everything is happened because of something. And it's all coming back to me now.. face it!
Sunday, January 18, 2009
Life Before June 08
Everything is so light.
No tensions
No frictions
No text message traffic
No emails traffic
Uugh how life changes so fast
Welcome to the fast track..