Pages

Wednesday, April 24, 2013

Phone number

Seumur-umur, saya cuma punya dua nomor telpon gsm. Pertama adalah 0815****** yang mulai saya gunakan tahun 2001 dan digantikan dengan nomor 0818****** sejak 2006. Ya, nomor telpon saya memang cuma 10 digit, karena itu nomor lama. Selain nomor itu, saya tidak punya nomor telpon lain yang saya share ke teman-teman dan keluarga. Dulu pernah pakai cdma, karena menang doorprize, tapi kemudian hilang karena jatuh dari saku, dan saya tidak pernah ber-cdma lagi.

Di jaman sekarang, bukan hal yang aneh kalau orang menggenggam dua buah handset hp sekaligus. Biasanya kombinasi blackberry-android, gsm-cdma, no resmi-no promo, atau memang suka jual pulsa elektrik. Saya menuliskan ini karena baru saja bersih-bersih nomor kontak telpon temen-temen. Bayangkan sampai ada yg punya no lebih dari empat. Untunglah saya menyimpannya di google jadi tidak terlalu ribet ketika terpaksa harus ganti handset.

Ada banyak alasan kenapa seseorang punya nomor telpon lebih dari satu. Alasan yang paling sering adalah nomor program promosi yang menawarkan tarif murah. Alasan kedua adalah no yang pertama untuk disebar ke siapa saja, semacam nomor resmi. Dan nomor kedua hanya untuk orang tertentu, seperti teman/kolega dekat dan keluarga. Setidaknya itu dua alasan terbanyak dari teman-teman saya yang memiliki multi numbers. Kalau yang menggunakan no telp untuk internet atau blackberry saja, biasanya tidak pernah dishare ke orang lain.

Ini juga yang terjadi dengan saya. Secara pribadi punya handset lebih dari satu tidak membuat saya memberikan semua no telp saya, karena no telp yang satunya hanya untuk layanan khusus seperti blackberry dan internet. Saya selalu memberikan no telp yang 10 digit itu, walaupun untuk kupon undian atau menelpon radio kalau mau ikut memberikan pendapat dan kuis. Tujuannya cuma satu, supaya konsisten..

Kadang-kadang saya memberi nilai lebih kepada orang-orang yang tidak sering gonta ganti nomor telpon. Kalau boleh jujur, saya lebih respect dengan mereka. Karena mereka menghargai kontaknya dengan tidak sembarangan ganti nomor telpon. Ya memang saat ini harga no telpon baru sangat murah, sehingga setiap orang bisa berganti nomor telpon sesuka hatinya. Tapi konsisten itulah yang memberi nilai tambah pada kontak kita.

Tapi itu memang hak setiap individu untuk memberikan nomor telpon yang berbeda kepada teman atau koleganya. Ini cuma simple thought saya di tengah malam ini karena saya sedang sedih melihat bb saya yang sepertinya sama sekali tidak bisa diperbaiki dan saya harus membackup kontak-kontak saya supaya ga minta invite ulang atau minta no telp lagi.

Ok, sleep tight..

Monday, April 22, 2013

My plan..

Perencanaan itu memang tidak semudah mengucapkannya, tetapi harus dilakukan. Kalau tidak ada rencana, semua jadi serba tak terarah dan penuh kebingungan. Paling tidak itulah yang diajarkan oleh guru-guru saya. Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya bilang "monika, kamu harus punya rencana belajar yang baik supaya bisa mempertahankan prestasimu". Waktu itu saya sama sekali tidak mengerti apa maksud wali kelas saya itu. Tapi justru karena saya tidak mengertilah akhirnya kata-kata wali kelas saya itu masih saya ingat sampai sekarang. Kemudian, yang saya tahu ketika kelas 4, nilai raport saya jadi jelek karena saya memang tidak pernah punya rencana apa-apa dalam belajar. Percayalah, saya baru memahami perkataan guru saya itu ketika kuliah. Sungguh terlambat memang, tapi saya tetap mensyukurinya karena masih diberi kesempatan untuk memahami hal tersebut.

Kata orang bijak kalau kita gagal merencanakan berarti kita merencanakan untuk gagal. Masalah nanti hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, itu soal lain. Tergantung seberapa keras usaha dan kemauan kita serta doa kita tentunya. Kalau masih belum berhasil, mungkin usaha kita yang kurang atau memang itu bukan yang terbaik untuk kita.

Ah, saya bukannya sok bijak atau apa, tapi reality bites. Banyak yang sudah saya rencanakan, tidak terwujud, tapi setelah dipikir-pikir lagi hal itu tidak baik untuk saya dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya pernah berencana untuk mendapat beasiswa S3 sebelum umur saya 36 tahun. Tapi kesempatan itu baru datang setelah usia saya 37 tahun. Sekalinya ada kesempatan, dua kali saya apply, dua kali itu pula saya gagal. Apa saya menyerah? Tentu saja tidak. Saya tetap mencari cara agar saya pantas menerima beasiswa.

Tadi pagi, saya menerima email mengenai beasiswa S3 dari kantor saya. Membaca subject email itu saja sudah membuat saya melonjak senang. Tapi ketika membaca syarat ketentuannya sepertinya itu bukan untuk saya karena berbeda jurusan. Jadi, saya cuma tersenyum saja sambil ngetwit.

Itulah ya, tidak semua yang kita rencanakan itu terwujud. Menjaga semangat ini juga bukan hal yang mudah, tapi bayangkan kalau kita tidak punya rencana apa-apa dan selalu berkilah biarlah berjalan apa adanya, let it flows gitu... Ah, itu bukan saya..

Friday, April 19, 2013

It's a damn statistics..

Saya baru saja melihat video Kimi Raikkonen sedang berlatih. Kimi adalah driver mobil formula F1. Formula 1 adalah salah satu olah raga berbiaya tinggi dan membutuhkan kebugaran driver yang prima. Tahu tidak, bagaimana seorang driver mobil Formula 1 harus menjaga kebugaran tubuhnya supaya ketika sedang balapan bisa menang. Kebayang ga sih dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam dan tikungan-tikungan yang akan menyebabkan gaya sentrifugal, dia harus menahan semua itu supaya mobilnya tetap stabil dalam kecepatan tinggi. Belum lagi tekanan dan panas yang berasal dari dalam kokpit mobilnya plus konsentrasi yang harus dijaga agar tidak bertabrakan atau menyentuh gravel. Pembalap formula 1 juga harus pintar mengatur strategi dan berkoordinasi dengan kru di pitstop dan pitwall supaya bisa juara satu. Jadi, kelihatannya saja gampang hanya memainkan setir, tetapi lebih dari itu, olahraga yang sesungguhnya itu ya di persiapannya itu.

Nah, seperti halnya dengan pembalap formula 1, BPS juga begitu. Persiapan setiap kali akan menyelenggarakan sensus dan survei besar itu sungguh luar biasa. Mulai dari desain kuesioner, uji coba kuesioner, pilot survei, pelatihan, sampai pelaksanaan dan dilanjutkan pengolahannya. Pada saat pelaksanaannya pun memerlukan strategi untuk menjaga time reference dan kualitas. Kemudian juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak, sehingga pelaksanaan dan pengolahan datanya berjalan lancar. Tidak sampai disitu, setelah angkanya keluar masih harus dianalisis dahulu, disandingkan secara series beserta indikator lainnya.

Pembuktian datanya? Agak susah memang. Buat saya pribadi, data itu tidak ada yang salah. Yang ada kurang tepat penggunaannya. Karena data se’sampah’ apapun masih bisa digunakan selama tahu bagaimana menggunakannya. Agak berlebihan memang, tapi ini realitanya. Contohnya data kemiskinan. Banyak yang menyatakan data kemiskinan yang ada dan beredar serta digunakan saat ini salah. Harusnya kalau ada data yang salah pasti ada data yang benar. Nyatanya, data yang dianggap ‘sampah’ itu tetap digunakan terutama di kalangan politisi. Sebagian mengklaim keberhasilan kepemimpinannya, sebagian lagi untuk menjatuhkan lawannya. Lalu bagaimana dengan data yang benar? Who knows...

Garis bawahnya adalah, setiap kali kita akan melaksanakan suatu sensus, survei atau kajian, selalu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan untuk meminimalisir ‘error term’. Angka yang dihasilkan akan selalu mengandung ‘error term. Bukan tidak boleh percaya dengan angka-angak tersebut, tapi bijaksanalah menggunakannya. Pahami dulu konsep definisinya, batasan-batasannya, asumsi-asumsinya. Ingat-ingatlah bahwa. Statistik adalah suatu ilmu yang menghasilkan fakta yang sulit diandalkan dari angka yang diandalkan (Definition of statistics: The science of producing unreliable facts from reliable figures).

Ini cuma simple thought saya hari ini, di tengah penyelesaian pekerjaan angka statistik itu.. ^_^

Friday, April 12, 2013

It's not easy

Pagi ini, playlist utama saya adalah lagunya five for fighting. Yang lagi seneng saya dengerin adalah soundtracknya serial Smallville yang judulnya It’s not easy to be me. Ketika serial ini sedang diputar di sana, di sini sudah ada dvdnya. Waktu itu saya lagi kuliah di Bandung dan kos pula. Tapi saya punya teman baik yang meminjamkan saya dvd serial ini. Hehehe.. Dia seneng aja minjemin film itu ke saya, karena kalau saya sudah nonton pasti dia ngajak saya ngomongin soal ini... eh clark kent begini.. clark kent begitu.. lois begini.. lois begitu. Makasih ya mirz udah minjemin dvd nya.

Lagu it’s not easy itu sendiri bercerita tentang superman yang ternyata dibalik kesuperannya, dia juga punya keinginan sederhana yang mungkin tidak bisa dipahami orang biasa (di lagu ini sih Lois Lane). Gara-gara lagu ini semua memori lama saya ketika kuliah dulu jadi kembali. Sebenarnya itu masa-masa yang ga enak karena jauh dari keluarga, tapi saya mengingat bagaimana semangatnya saya waktu itu menyelesaikan semua tugas dan ujian satu demi satu. Ya, saat ini saya butuh semangat semacam itu lagi dan lagi.

Ini dia lirik It's not easy to be me - nya five for fighting

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me

I'm more than a bird:I'm more than a plane
More than some pretty face beside a train
It's not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I'll never see

It may sound absurd:but don't be naive
Even Heroes have the right to bleed
I may be disturbed:but won't you conceed
Even Heroes have the right to dream
It's not easy to be me

Up, up and away:away from me
It's all right:You can all sleep sound tonight
I'm not crazy:or anything:

I can't stand to fly
I'm not that naive
Men weren't meant to ride
With clouds between their knees

I'm only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

It's not easy to be me.

Monday, April 8, 2013

I'm not perfect

Sungguh bulan ini loading pekerjaan begitu bertubi-tubi. Syukurlah double duty itu sudah berakhir. Tapi itu tidak lantas membuat semuanya menjadi lebih mudah. Di bulan ini pun saya punya rencana pribadi yang besar, setidaknya menurut ukuran saya. Jadi semua pekerjaan harus selesai segera dan tepat pada waktunya. Ketepatan waktu itu menurut saya elemen yang penting di dunia ini. Sholat tepat waktu, makan tepat waktu, pekerjaan tepat waktu, sudah pasti akan disukai oleh siapa saja termasuk Sang Maha Besar. Coba saja kalau kita membuat janji dengan orang lain dan orang itu tidak tepat waktu, jengkel kan..

Due date yang saya miliki kali ini memang semena-mena ditengah kesibukan rekan kerja yang lainnya. Tapi ini tidak bisa ditawar dan diganggu gugat. Memang sih kalau sudah tepat waktu juga tidak ada rewardnya, tapi yang pasti banyak orang yang senang dan kita tidak memiliki tagihan lagi. Saat ini, kalau mengukur waktu, loading kerjaan dan tenaganya, rasa-rasanya sulit. Tapi akan lebih sulit lagi kalau tidak dikerjakan. Yah, saya bukan lah orang yang sempurna, tapi berusaha itu harus kan..

Ini adalah simple thought siang ini.. karena harus tepat makan, saya harus segera makan siang...^_^

Sunday, April 7, 2013

Sisi lain perikanan

Setelah dua gelombang secara berturut-turut mengajar calon petugas sensus pertanian 2013, saya merasa wawasan saya semakin bertambah. Pada gelombang pertama, pesertanya berasal dari wilayah yang sub sektor padi dan palawija dominan. Di gelombang kedua ini, pesertanya banyak yang berasal dari wilayah yang sub sektor perikanan nya dominan, yaitu Kecamatan Muaragembong. Kecamatan yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini memang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bekasi yang memiliki garis pantai sepanjang 72 kilometer namun masih terabaikan. Di kecamatan ini, kebanyakan penduduknya berusaha pada sub sektor perikanan dengan budidaya ikan bandeng dan udang. Jadi, peserta di kelas saya mayoritas juga merupakan petani tambak bandeng dan udang.

Seperti biasanya, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan peserta yang memiliki usaha perikanan. Selain tambak bandeng dan udang, usaha penangkapan ikan di laut dan sungai juga dilakoni oleh sebagian besar penduduk di kecamatan ini. Dari sisi produksi, biaya produksi di bidang perikanan cukup membuat mereka kesulitan dalam melakukan usahanya. Misalnya untuk penangkapan ikan. Kapal yang diperlukan untuk melaut itu harganya mahal, belum lagi solar dan peralatan lainnya seperti jaring dan pukat. Oleh karena itu, ketika melaut mereka melakukannya secara berkelompok dan modalnya ditanggung bersama, termasuk juga menyewa kapal kalau salah satu diantara mereka tidak memiliki kapal. Hasilnya mereka bagi sesuai dengan persentase modal yang mereka setor.

Masalahnya, bagaimana mereka memasarkan hasil tangkapannya? Mereka mengaku menjual langsung di pasar ikan Cilincing dan Marunda. Kebetulan disana sekarang sudah ada tempat pelelangan ikan. Jadi mereka tinggal membawa hasil melautnya kesana untuk dijual.
Hal yang sama juga berlaku untuk mereka yang mengusahakan ikan di tambak. Mereka menjualnya ke TPI, hanya saja sarana transportasinya kurang baik. Mereka juga bercerita kalau saat ini di wilayah mereka yang memiliki tambak dan kapal kebanyakan bukan penduduk setempat. Artinya, kapital yang mereka miliki bukanlah berasal dari daerah tersebut. Mereka hanya merupakan bagian dari faktor produksi.

Biasanya yang dilakukan pemerintah adalah memberikan bantuan modal. Sejauh apa bantuan tersebut bisa meningkatkan kesejahteraan mereka jika sistemnya seperti ini? Sebesar apapun bantuan yang diberikan oleh pemerintah, kalau sistemnya belum mendukung, memang akan sulit untuk mendongkrak kesejahteraan nelayan.

Ini adalah salah satu simple thought hari ini dari pengalaman di tempat pelatihan ini.

Friday, April 5, 2013

Petaniku sayang, petaniku malang..

Hari ini adalah hari terakhir saya mengajar pelatihan sensus pertanian 2013 gelombang pertama dari dua gelombang di Kab. Bekasi. Sedikit merasa ketar ketir apakah materi yang saya sampaikan terterima dengan baik oleh peserta pelatihan. Pasalnya dari 24 peserta, hanya 6 orang saja yang sudah pernah mengikuti pelatihan sensus atau survei yang diselenggarakan BPS. Sungguh, ini merupakan tantangan tersendiri buat saya. Bagaimana caranya agar mereka bisa memahami dan mengikuti konsep definisi dan alur kerjanya BPS. Maklum saja, beberapa di antara mereka adalah petani sungguhan. Beberapa lagi malah seperti fresh graduate dari SMA kalau dilihat tampangnya. Tapi, tampang kan bukan jaminan seseorang akan lebih mudah menerima materi.

Sekarang, mereka sedang menjawab soal pendalaman materi. Perasaan saya jadi harap-harap cemas, khawatir mereka tidak bisa mengisi lembar jawaban mereka dengan benar. Bukankah salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana mereka menerima materi itu diukur dari hasil pendalaman ini.. Memang ini bukanlah pengalaman pertama saya mengajar materi sensus atau survei, tapi perasaan seperti ini kerap saya rasakan di akhir pelatihan. Bagaimana tidak, kalau mereka sampai tidak paham betul dengan kegiatan ini, hasilnya sudah dipastikan jauh dari baik.

Sebelumnya, saya sempat berbincang-bincang dengan petani sungguhan yang ikut pelatihan ini. Dia cerita bagaimana proses produksi padi, kendala produksinya, cara menjualnya sampai ketidakpastian harga yang mereka terima dari tengkulak. Jadi, salah satu kendala terbesar mereka dalam proses produksi adalah sulitnya supply pupuk dengan harga yang pas. Seringkali mereka harus berhutang ke supplier pupuk untuk mendapatkan pupuk. Itupun kalau stok pupuknya tersedia. Biasanya mereka harus mengalami penundaan untuk menanam karena pupuknya tidak ada dan harganya mahal.

Dari sisi penjualan juga mereka seperti terperangkap dalam suatu sistem yang seperti vicious cycle atau lingkaran setan. Hasil padi yang mereka peroleh dengan biaya produksi yang cukup besar itu, dijual dengan harga empat ratus ribu per kuintal. Padahal, menurut pengakuan mereka, dari satu hektar lahan sawah menghasilkan lima ton padi atau lima puluh kuintal padi. Bila diuangkan menjadi empat juta rupiah. Ini belum dikurangi biaya produksi seperti pupuk yang harganya 1.900 rupiah per kilo untuk pupuk urea dan 2.300 rupiah per kilo untuk pupuk TSP. Mereka memerlukan dua kuintal urea dan satu kuintal TSP untuk lahan satu hektar. Biaya produksi itu belum termasuk biaya buruh taninya. Mereka membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk hasil rata-rata 5 ton beras per hektar. Kemudian, mereka menjualnya kepada tengkulak bukan ke KUD. Itu belum mempertimbangkan sistem pengelolaan lahannya yang seringkali tidak dimiliki sendiri oleh mereka.

Miris ya.. tapi itulah kenyataannya. Di dalam ekonomi mikro, dikatakan people respond to incentive. Sekarang bagaimana petani-petani tersebut terpacu untuk meningkatkan produksinya kalau biaya produksinya besar, harga jualnya kecil dan sistem pengelolaan lahan yang kurang fair. Jadi tidak heran kalau generasi mudanya tidak ingin menjadi petani karena prospek sektor pertaniannya tidak cerah. Bahkan petani yang memiliki lahan sendiri, memilih untuk menjual lahannya dan beralih ke sektor lain ketimbang meningkatkan produksi padi. Kalau sudah begini dijamin produksi padi kita akan terus berkuang. Padahal, makanan utama bangsa Indonesia adalah beras yang berasal dari padi.

Sudah jelas peran pemerintah sangat besar di sektor ini. Pemerintah bisa menyederhanakan distribusi pupuk agar harganya bisa lebih murah untuk memangkas biaya produksi. Pemerintah juga bisa menetapkan harga yang 'pantas' supaya kesejahteraan petani terjaga. Misalnya, pada pasar komoditi, pemerintah bisa menetapkan hedging price. Selain itu, pemerintah juga bisa membeli padi yang dihasilkan dan melakukan pengolahannya menjadi beras. Jadi, petaninya hanya akan memikirkan bagaimana caranya supaya produksinya meningkat. Kalau begini kan mereka tinggal mempelajari teknologi peningkatan produksi padi.

Tapi, kenapa pemerintah kelihatan sulit sekali melakukan hal itu? Pemerintah lebih memilih membuka kran impor beras untuk menstabilkan harga beras. Memang dalam jangka pendek, impor beras diperlukan untuk menstabilkan harga, tetapi kalau proses produksinya tidak diperbaiki yang ada kita akan terjebak pada ketergantungan dengan negara lain yang menjadi pengekspor beras. Atau apa memang sudah ada konspirasi internasional supaya Indonesia tidak berkutik dalam ketahanan pangannya? Supaya lebih mudah menguasainya? Perasaan ngeri kini mulai merambati pikiran saya..

Begitulah simple thought hari ini. Saya harus mempersiapkan diri saya untuk mengajar gelombang ketiga di tempat ini juga. Pulang hampir larut malam selama lima hari berturut-turut akan tetal saya lakoni kalau itu bisa membuat Indonesia jadi lebih baik..