Acara seminar dan sidang skripsi sudah hampir dua minggu berlalu. Kesibukan kedua acara tersebut melebihi sibuknya artis yang syuting secara striping untuk acara sinetron kejar tayang. Pokoknya hectic banget..
Dari beberapa sidang skripsi mahasiswa, semua menggunakan model ekonomi yang sama, yaitu model ekonometrika. Entah itu dengan data panel, time series atau dengan cross section yang pakai RLB. Saya kurang mengerti, apakah memang harus menggunakan model ekonometrika untuk dapat menjawab tujuan yang kebanyakan adalah menganalisis dampak variabel-variabel ekonomi. Karena ada model lain yang juga menggunakan statistik yang bisa menjelaskan fenomena ekonomi secara lebih komprehensif. Contohnya saja yang sudah diajarkan adalah model IO, model SNSE dan yang saat ini sedang happening adalah model CGE (Computable General Equilibrium).
CGE merupakan model struktural. Artinya, model ini dibangun dengan dasar-dasar teori mikroekonomi dan makroekonomi dimana perilaku agen-agen ekonomi dijelaskan secara spesfik dan detail dalam bentuk persamaan (behavioral equation). Oleh karena itu, model CGE dapat menjelaskan interaksi antara agen-agen yang berbeda pada suatu wilayah (bisa berupa negara atau daerah).
Sebenarnya, ada beberapa model ekonomi yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisis dampak perubahan variabel-variabel ekonomi, yang paling sering digunakan adalah model ekonometrika dan model CGE. Model lainnya adalah model keseimbangan parsial (partial equilibrium), yang salah satu aplikasinya adalah equilibrium displacement model, Input-output Model (Model IO) dan Social Accounting Matrix atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).
Model ekonometrika didasarkan pada analisis regresi dengan jenis data yang digunakan bisa berupa data cross section, time series, dan panel yang merupakan gabungan antara data cross section dan time series. Sehingga diperlukan series data yang cukup untuk melakukan estimasi parameter dan ada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terkait dengan regresinya. Ketersediaan series data dan konsistensinya seringkali menjadi masalah bila ingin menggunakan model ekonometrik pada data negara sedang berkembang.
Sementara itu, model CGE hanya mengacu pada tahun tertentu (particular benchmark years). Model CGE juga dapat melakukan analisis dan dampak pada tingkat mikroekonomi dan makroekonomi. Hal ini berbeda dengan yang terjadi bila menggunakan model ekonometrik yang biasanya hanya dapat melakukan analisis di tingkat makroekonomi.
Konsep dasar CGE adalah Efisiensi Pareto atau Pareto Optimum pada setiap agen ekonomi (produsen, konsumen, investor dan pemerintah). Dalam teori mikroekonomi, efisiensi dalam perekonomian dikenal dengan efisiensi pareto yang menjelaskan kondisi dimana satu pihak tidak dapat menignkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya. Konsep efisiensi pareto mencakup tiga jenis efisiensi :
1. efisiensi alokasi sumber daya (keseimbangan produksi)
2. efisiensi kombinasi distribusi komoditas (keseimbangan konsumsi)
3. efisiensi kombinasi produk (keseimbangan sektor produksi dan konsumsi)
Sebelum menggunakan model CGE, harus dipastikan dulu si pembangun model memiliki ilmu matematika (terutama kalkulus lah ya untuk optimasi), mikroekonomi (untuk menjelaskan efisiensi pareto), makroekonomi (untuk analisis dampaknya), plus komputasi (karena ini bukan model ekonometrika yang biasa pake eviews, jadi akan sangat membantu bila si pembuat model memahami algoritma komputasi karena software yang digunakan biasanya open source yang mengandalkan penguasaan syntax-syntaxnya).
...to be continued
Sunday, September 28, 2014
Tuesday, September 16, 2014
puisi tanpa judul
Puisi ini ditemukan di laptop saya yang memang suka dipakai juga oleh anak-anak.
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :
sebanyak limit.
setiada nol.
aku tahu, aku bukan tentang segalanya ketika ia memanggangku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.
wahai, pemilik sebentang rasa penuh dusta dilema yang berani-beraninya menyelupkan diri dalam lautan pikiran, menyeruak di jeda senyap malam, dan mengabur ketika aku berusaha memecahkan persoalannya.
aku cuman sebutir rinai hujan,
ketidakinginan untuk pergi, kecewa, juga gelisahku pada awan selalu kubungkam.
Wednesday, August 27, 2014
Simple note from seminar
Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.
Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.
Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.
Klasik vs Bayesian
Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?
Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*
Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.
Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan
Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..
Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.
Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.
Klasik vs Bayesian
Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?
Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*
Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.
Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan
Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..
Monday, August 18, 2014
A note from workshop
Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.
Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.
Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.
Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.
Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..
And...
direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.
Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.
Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.
Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.
Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.
Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..
First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.
Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.
Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.
Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.
And...
direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.
Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.
Friday, August 8, 2014
Statistician is the sexiest job in the world..
Jum'at pagi ini adalah hari pertama kegiatan non lecture di kampus dimulai. Acara yang diadakan adalah semacam seminar yang dberi judul The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics. Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Peran statistisi dalam pengobatan personal: Sekilas tentang Metode Statistik Bioinformatika. Judulnya menarik, setelah mengikuti seminarnya, ternyata isinya memang sangat menarik.
Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..
Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.
Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..
Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?
Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..
Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.
Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..
Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?
Tuesday, August 5, 2014
No Ponsel No Cry
Ada yang terasa kurang pas hari ini. Tanda-tanda ketidakpasan itu diawali dengan bangun tidur. Pertama kali saya membuka mata pagi ini, langsung terdengar sayup-sayup orang mengaji pertanda sebentar lagi adzan Subuh. Ketika saya lihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 WIB. Artinya saya terlambat 1 jam 30 menit dari jadwal rutin saya. Sejak kuliah dulu, saya terbiasa bangun jam 3 pagi (kadang-kadang lebih sedikit dan kadang juga tidur lagi setelah subuh hehehe). Bangun tidur, benda yang pertama kali saya cari adalah ponsel saya, karena ponsel itu adalah benda yang paling bertanggung jawab atas telatnya saya bangun. Seharusnya benda itu mengeluarkan suara gitar genjrang genjreng yang selalu membangunkan saya, dan kalau saya cuekin, dia akan genjrang genjreng 5 menit berikutnya. Setelah dicari-cari, samsung S3 (FYI, ini ponsel umurnya udah 2 tahun, die hard dan saya belum bisa move on dari benda ini) ketemu dalam kondisi mati. Pantas saja saya tidak mendengar nada genjrang genjrengnya.. *sigh*
Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.
Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.
Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)
Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.
Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.
Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)
Thursday, July 31, 2014
Rasa bersalah yang tak kunjung hilang
Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe
Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."
Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..
Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.
Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..
Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.
Subscribe to:
Posts (Atom)