Pages

Monday, April 29, 2013

Day 4. It's the real thing..

28 April 2013

Pagi itu saya menyempatkan diri jalan-jalan di main road dekat masjid Nabawi setelah sholat Subuh. Disini banyak burung merpati..Subhanallah.. Banyak yang menjual makanan burung, jadi saya tergoda untuk membeli dan memberi makan burung-burung itu. Rasanya seperti anak kecil, tapi ini sungguh menyenangkan dan menentramkan.

Saya dan hubby berkeliling di pasar yang masih belum buka semua. Kami hanya window shopping hehe.. Toko-toko disini semua yang menjaga laki-laki, mungkin ada yang perempuan, tapi selama saya disini belum pernah melihat penjaga toko perempuan lazimnya di Indonesia. Begitu pula dengan reklame. Di kota ini tidak ada reklame yang ada gambar orangnya baik itu laki-laki maupun perempuan. Reklame disini hanya berisi tulisan dan gambar barangnya saja. Satu lagi, perempuan disini tidak berjalan sendiri, kalau tidak bersama dengan teman perempuannya, ya bersama dengan suami atau ayahnya atau mahramnya. Jadi, saya kemana-mana selalu bersama hubby. Padahal saya sering kemana-mana sendiri.

Umroh ini mengambil miqot di Bir Ali, Madinah. Jadi kami kesana untuk sholat sunat ihrom. Sebelumnya, kami sudah memakai pakaian ihrom dari hotel. Berangkat ke Bir Ali pukul 2 siang waktu Madinah. Kami sholat Dzuhur dan Ashar dijama dulu di masjid Nabawi. Sedih rasanya tidak bisa berlama-lama disini. Kalau saya bilang sedih, itu memang benar-benar sedih yang sampai menangis begitu.

Sebenarnya, perjalanan Madinah-Mekah biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Tapi di jalan kami mengalami kendala teknis pada bis yang membawa kami. Sebuah cobaan yang harus dinikmati. Alhasil kami tiba di Mekkah jam 12 malam. Selain kendala teknis itu, di rombongan kami memang banyak yang sudah sepuh, jadi perlu transit sebentar.

Sampai di hotel, hanya untuk makan malam yang tertunda dan menaruh barang bawaan. Kami langsung berjalan menuju Masjidil Haram yang berjarak 300 meter dari hotel. Jam 1.30 pagi kami masuk Masjidil Haram dan disanalah berdiri Kabah. When I stared Kabah.. Subhanallah it's real..

Rangkaian ibadah umroh diawali dengan miqot, lalu tawaf dan sa'i. Tawaf itu memutari Kabah sebanyak tujuh kali sambil mengagungkan kebesaran Allah. Sedangkan Sa'i berjalan bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah. Masjidil Haram itu masjid yang sangat bersih, untuk melakukan rangkaian ibadah umroh ini sangat nyaman walaupun banyak orang dari berbagai negara di dunia.

Day 3. The experience of Medina

27 April 2013

Kota Madinah merupakan kota yang bersih. Saya tidak melihat sampah yang menumpuk, entah bagaimana mereka mengelola sampahnya. Di hari ketiga ini, aktivitas lebih banyak difokuskan untuk ziarah ke tempat-tempat yang memiliki manfaat bagi ibadah. Pertama-tama kami mengunjungi masjid Quba, setelah sholat jamaah di masjid Nabawi. Ini adalah masjid yang pertama kali dikunjungi rasulullah ketika hijrah ke Madinah. Dulu Madinah bernama Yastrib. Nah, ketika mampir di masjid ini, Rasulullah disambut dan diterima dengan baik oleh pemuda-pemudanya. Kami sholat tahyatul masid dan sholat Dhuha di masjid ini. Sholat di masjid ini pahalanya lebih besar dibanding tempat lainnya.

Kemudian kami pergi ke Jabal Uhud. Di masa Rasululah, tempat ini merupakan tempat terjadinya perang uhud dengan suku Quraish yang musyrik. Kala itu jumlah pasukan musuh tiga kali lebih besar daripada pasukan Rasulullah. Iklim negeri ini memang berbeda dengan di Indonesia. Saat ini baru mengawali musim panas. Tetapi panas di tempat ini memiliki kelembaban yang rendah dan sedikit berangin, sehingga panasnya tidak langsung membuat kita berkeringat tapi di kulit terasa sakit. Sunblock dan sun glasses adalah suatu keharusan kalau inhin menikmati pemandangan Jabal Uhud dengan nyaman.

Selanjutnya, sopir bus membawa kami ke kebun korma. Di tempat ini ada toko yang menjual korma. Produk unggulannya korma ajwa atau yang dikenal dengan korma nabi. Korma jenis ini adalah korma yang ditanam sendiri oleh Rasulullah. Di toko kebun korma ini, kami minum teh sepuasnya gratis. Teh ini disediakan oleh pemilik kebun untuk pengunjung. Ada gulanya juga lho.. Di dalam toko, kami bisa mencicipi dagangan yang ada disitu. Halal, kata mereka. Ya, bukan cuma korma saja yang dijual disini, tapi ada coklat dan kacang-kacangan. Testernya tidak dibatasi. Itu yang bikin kami tidak enak kalau tidak membeli, walaupun harga disini jauh lebih mahal dibanding tempat lainnya. Ini merupakan teknik marketing yang jitu dari pengelola kebun.

Tidak lama di kebun Korma, kami pergi ke tempat percetakan Al Qur'an. Sayangnya, hanya laki-laki saja yang bisa masuk ke dalam pabriknya. O ya, mereka yang laki-laki mendapat sebuah Al Qur'an seukuran buku tulis, tetapi mereka harus wudhu dulu sebelum masuk pabriknya. Sedangkan buat perempuan, bisa membeli sendiri di toko resmi yang merupakan bagian dari pabrik. Ada banyak ukuran Al Qur'an yang di jual disini, juga ada Al Qur'an beserta terjemahan dalam bahasa negara lain, termasuk Indonesia tentunya. Keistimewaan Al Qur'an cetakan Madinah adalah, walau ukuran kecil, tulisannya tetap jelas dengan kertas yang tipis. Tempat ini tutup setelah jam 12 siang.

Kami mengejar waktu untuk sholat Dzuhur berjamaah di masjid Nabawi. Sehingga tidak pernah lama-lama di satu tempat. Saya dan lainnya bergegas menuju masjid Nabawi, untunglah hotel tempat kami menginap tidak jauh. Tidak sampai lima menit menuju masjid.

Selesai sholat, kami makan dan istirahat sebentar. Kemudian dilanjutkan sholat Ashar berjamaah di masjid Nabawi. Masjid ini jadi terasa makin istimewa buat saya. Ini pertama kalinya saya sholat lima waktu di sebuah masjid. Selesai Ashar, kami melihat Baqi. Itu merupakan tempat pemakaman massal bagi mereka yang wafat ketika sedang umrah atau haji. Ini mengingatkan saya akan kematian.

Selanjutnya kami berkeliling masjid nabawi. Walaupun saya sudah sholat lima waktu di masjid ini, saya belum menjelajahi semuanya. Payung-payung di halaman masjid ini berjumlah 1000 buah. Kubahnya bisa bergeser sehingga sirkulasi udara di dalam masjid terjaga. Sore itu, payung-payungnya menguncup, sebuah pemandangan yang membuat saya takjub. Rasanya sangat modern. Padahal ibu saya bilang itu sudah ada ketika ibu saya naik haji tahun 2003. Ini saya aja yang norak.

Berkeliling masjid Nabawi ternyata memakan waktu yang lama karena selama berkeliling kami disuguhi kisah tentang Rasulullah, hingga tibalah waktunya untuk sholat Maghrib berjamaah. Selesai maghrib, saya tetap berada dalam masjid menunggu Isya sambil membaca Al Qur'an. Jamaah masjid ini kebanyakan berasal dari negara timur tengah. Dari Indonesia juga banyak.. sangat banyak. Kami sangat mudah dikenali disini. Karena secara fisik, postur tubuh kita memang imut-imut, wajah dengan hidung yang mungil, pipi chubby dan doyan belanja. Orang Indonesia memang terkenal tukang belanja dan tukang nawar. Tidak heran semua pedagang disini bisa bahasa percakapan Indonesia. Kita tinggal nanya "ini berapa?" Mereka langsung ngerti dan menjawab dalam bahasa Indonesia juga. Bahkan, rupiah kita juga laku disini. Mereka sendiri yang akan menukarnya, jadi kita bayar rupish saja. Nice business here..hehehe.

Saturday, April 27, 2013

Day 2. Dxb-Jed-Madinah

Setelah menunggu sekitar 6 jam di bandara Dubai, perjalanan dilanjutkan nenuju Jeddah. 6 jam di Dubai membuat saya sangat terkesan dengan salah satu bandara terbaik di dunia ini. Duty free shop nya luas banget, toilet dan prayer roomnya super bersih. Buat penumpang yang transit lama seperti saya bahkan disediakan bangku khusus supaya bisa rebahan. Ini bandara yang nyaman sekali, jangan sekali-kali membandingkannya dengan bandara Soetta, nanti kita malu.

6 jam di bandara ini, seperti biasa saya mengobrol dengan penumpang lain dengan destinasi berbeda. Dia adalah max dari Holland, seorang foundation raiser sebuah NGO yang menurutnya pretty small. NGO nya bergerak di bidang pendidikan. Awalnya dia bertanya mengenai seragam yang sata pakai. Kenapa saya memakai pakaian dengan motif yang sama dengan beberapa orang lainnya. Dia juga tertarik dengan motif batik baju yang saya pakai. Jadilah saya cerita tentang batik sampai scholarship nya StuNed.. hehehe ga dimana2 tetep usaha..

Perjalanan ke Jeddah masih dengan maskapai Emirates tapi jenis pesawat yang berbeda, Airbus 380 yang menurut saya lebih baik daripada Boeing 777 karena kabin kelas ekonominya lebih nyaman, headrest monitor lebih luas dan ada aplikasi Al-Qur'an nya. Perbedaan pesawat Boeing 777 dan Airbus 380 adalah pada kecepatannya. Land speed Boeing 777 adalah 995 km per jam. Sementara Airbus 380 hanya separuhnya.

Sampai di Jeddah pukul 9.30 waktu Jeddah. Dilanjutkan perjalanan melalui darat dengan bis selama 5 jam. Sepanjang perjalanan yg terlihat adalah bukit bebatuan. I have no idea how it happened. Kadang- kadang  terlihat onta di bukit tersebut. Yang saya suka selama perjalanan ini adalah jalannya yang mulus dan tanpa macet. Buat orang yang selalu menghadapi kemacetan setiap hari seperti saya, itu adalah sesuatu..sangat. oh ya satu hal lagi, di jalanan tidsk terlihat orang-orang berseliweran. Berapa sih populasi Jeddah?

Sesampainya di Madinah, kami check in ke hotel. Hotel disini tinggi-tinggi dan besar. Semacam hutan beton yang mengelilingi masjid Nabawi. Sorenya, saya sholat di masjid tersebut. Subhanallah.. masjidnya bagus sekali. Ada payung-payungnya. Memasuki masjid ini harus diperiksa oleh azkar perempuan berjubah hitam dan bercadar. Saya tetap berada di masjid sampai Isya, baru kembali ke hotel.

Setelah makan malam, kami kembali ke masjid untuk sholat di Raudah. Raudah adalah tempat antara rumah nabi dan mimbar nabi. Tempat tersebut merupakan salah satu dari tempat berdoa yang segera diijabah Allah. Bagi perempuan, memasuki tempat ini ada waktu tertentu karena lokasinya di tempat sholat laki-laki. Saya kesana jam 10 malam waktu Madina sampai jam 1 pagi. Ya, kami harus mengantri untuk sholat disana. Sampai hotel, saya langsung tidur :)

Friday, April 26, 2013

Day 1. Jkt-Dxb

Perjalanan ini dimulai dengan berkumpul di bandara Soekarno Hatta pada pukul 13.00. Kami diberi paspor, e-ticket, id card dan snack. Di dalam rombongannkamu, ada seorang anak peremmpuan kecil berusia 3 tahun bernama Aisyah. Juga sepasang calon pengantin yang akan melaksanakan akad nikah di Masjidil Haram bersama orang tuanya masing-masing. Menunggu adalah pekerjaan yang cukup melelahkan, terlebih jika waktu take off nya jam 17.55. Jadi selama menunggu, saya foto-foto dan mengamati sekeliling saya.

Kebetulan tempat kami berkumpul lokasinya di depan atm center. Siang itu sekitar atm tersebut ramai orang yang antri untuk menggunakan atm. Saya lihat bukan penumpang yang banyak menggunakannya, tetapi para pegawai bandara, pramugari dan beberapa pilot. Saya baru sadar kalau hari itu adalah tanggal 25 ketika seorang OB keluar dari bilik atm seraya berkata kepada temannya di luar "belum masuk". Rupanya mereka sedang ngecek transferan gaji. Pantas saja suasana sekitar atm ramai sekali.

Akhirnya jam 16.00 kami mulai boarding dan menjalani serangkaian pemeriksaan surat-surat seperti paspor dan tiket. Kemudian menunggu sebentar dan mulai masuk ke dalam pesawat Boeing 777 dari maskapai penerbangan Emirates. Penumpangnya kebanyakan orang Indonesia yang mau umroh dan orang-orang timur tengah. Pramugarinya adalah orang kulit putih dan ada yang berkulit hitam, cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Sebagian saya lihat ramah melayani, sebagian lagi seperti robot hehehe tanpa ekspresi gitu. Dalam perjalanan ini, pesawat mengalami beberapa turbulensi kecil, yang rasanya seperti naik krl di Bekasi. Yang saya suka saat take off adalah front camera view dari pesawat yang seperti pilot's view. Jadi rasanya seperti duduk di kursi pilot.

Kami transit di Dubai. Perjalanan Jakarta-Dubai diperkirakan memakan waktu sekitar 8 jam dan menempuh 6698 kilometer . Saat saya menuliskan ini, saya sedang menunggu flight berikutnya ke Jeddah sekitar 6 jam lagi. Waktu yang cukup lama untuk mengeksplor duty free shop disini.

Wednesday, April 24, 2013

Phone number

Seumur-umur, saya cuma punya dua nomor telpon gsm. Pertama adalah 0815****** yang mulai saya gunakan tahun 2001 dan digantikan dengan nomor 0818****** sejak 2006. Ya, nomor telpon saya memang cuma 10 digit, karena itu nomor lama. Selain nomor itu, saya tidak punya nomor telpon lain yang saya share ke teman-teman dan keluarga. Dulu pernah pakai cdma, karena menang doorprize, tapi kemudian hilang karena jatuh dari saku, dan saya tidak pernah ber-cdma lagi.

Di jaman sekarang, bukan hal yang aneh kalau orang menggenggam dua buah handset hp sekaligus. Biasanya kombinasi blackberry-android, gsm-cdma, no resmi-no promo, atau memang suka jual pulsa elektrik. Saya menuliskan ini karena baru saja bersih-bersih nomor kontak telpon temen-temen. Bayangkan sampai ada yg punya no lebih dari empat. Untunglah saya menyimpannya di google jadi tidak terlalu ribet ketika terpaksa harus ganti handset.

Ada banyak alasan kenapa seseorang punya nomor telpon lebih dari satu. Alasan yang paling sering adalah nomor program promosi yang menawarkan tarif murah. Alasan kedua adalah no yang pertama untuk disebar ke siapa saja, semacam nomor resmi. Dan nomor kedua hanya untuk orang tertentu, seperti teman/kolega dekat dan keluarga. Setidaknya itu dua alasan terbanyak dari teman-teman saya yang memiliki multi numbers. Kalau yang menggunakan no telp untuk internet atau blackberry saja, biasanya tidak pernah dishare ke orang lain.

Ini juga yang terjadi dengan saya. Secara pribadi punya handset lebih dari satu tidak membuat saya memberikan semua no telp saya, karena no telp yang satunya hanya untuk layanan khusus seperti blackberry dan internet. Saya selalu memberikan no telp yang 10 digit itu, walaupun untuk kupon undian atau menelpon radio kalau mau ikut memberikan pendapat dan kuis. Tujuannya cuma satu, supaya konsisten..

Kadang-kadang saya memberi nilai lebih kepada orang-orang yang tidak sering gonta ganti nomor telpon. Kalau boleh jujur, saya lebih respect dengan mereka. Karena mereka menghargai kontaknya dengan tidak sembarangan ganti nomor telpon. Ya memang saat ini harga no telpon baru sangat murah, sehingga setiap orang bisa berganti nomor telpon sesuka hatinya. Tapi konsisten itulah yang memberi nilai tambah pada kontak kita.

Tapi itu memang hak setiap individu untuk memberikan nomor telpon yang berbeda kepada teman atau koleganya. Ini cuma simple thought saya di tengah malam ini karena saya sedang sedih melihat bb saya yang sepertinya sama sekali tidak bisa diperbaiki dan saya harus membackup kontak-kontak saya supaya ga minta invite ulang atau minta no telp lagi.

Ok, sleep tight..

Monday, April 22, 2013

My plan..

Perencanaan itu memang tidak semudah mengucapkannya, tetapi harus dilakukan. Kalau tidak ada rencana, semua jadi serba tak terarah dan penuh kebingungan. Paling tidak itulah yang diajarkan oleh guru-guru saya. Waktu kelas 3 SD, wali kelas saya bilang "monika, kamu harus punya rencana belajar yang baik supaya bisa mempertahankan prestasimu". Waktu itu saya sama sekali tidak mengerti apa maksud wali kelas saya itu. Tapi justru karena saya tidak mengertilah akhirnya kata-kata wali kelas saya itu masih saya ingat sampai sekarang. Kemudian, yang saya tahu ketika kelas 4, nilai raport saya jadi jelek karena saya memang tidak pernah punya rencana apa-apa dalam belajar. Percayalah, saya baru memahami perkataan guru saya itu ketika kuliah. Sungguh terlambat memang, tapi saya tetap mensyukurinya karena masih diberi kesempatan untuk memahami hal tersebut.

Kata orang bijak kalau kita gagal merencanakan berarti kita merencanakan untuk gagal. Masalah nanti hasilnya sesuai dengan yang kita rencanakan, itu soal lain. Tergantung seberapa keras usaha dan kemauan kita serta doa kita tentunya. Kalau masih belum berhasil, mungkin usaha kita yang kurang atau memang itu bukan yang terbaik untuk kita.

Ah, saya bukannya sok bijak atau apa, tapi reality bites. Banyak yang sudah saya rencanakan, tidak terwujud, tapi setelah dipikir-pikir lagi hal itu tidak baik untuk saya dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Saya pernah berencana untuk mendapat beasiswa S3 sebelum umur saya 36 tahun. Tapi kesempatan itu baru datang setelah usia saya 37 tahun. Sekalinya ada kesempatan, dua kali saya apply, dua kali itu pula saya gagal. Apa saya menyerah? Tentu saja tidak. Saya tetap mencari cara agar saya pantas menerima beasiswa.

Tadi pagi, saya menerima email mengenai beasiswa S3 dari kantor saya. Membaca subject email itu saja sudah membuat saya melonjak senang. Tapi ketika membaca syarat ketentuannya sepertinya itu bukan untuk saya karena berbeda jurusan. Jadi, saya cuma tersenyum saja sambil ngetwit.

Itulah ya, tidak semua yang kita rencanakan itu terwujud. Menjaga semangat ini juga bukan hal yang mudah, tapi bayangkan kalau kita tidak punya rencana apa-apa dan selalu berkilah biarlah berjalan apa adanya, let it flows gitu... Ah, itu bukan saya..

Friday, April 19, 2013

It's a damn statistics..

Saya baru saja melihat video Kimi Raikkonen sedang berlatih. Kimi adalah driver mobil formula F1. Formula 1 adalah salah satu olah raga berbiaya tinggi dan membutuhkan kebugaran driver yang prima. Tahu tidak, bagaimana seorang driver mobil Formula 1 harus menjaga kebugaran tubuhnya supaya ketika sedang balapan bisa menang. Kebayang ga sih dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam dan tikungan-tikungan yang akan menyebabkan gaya sentrifugal, dia harus menahan semua itu supaya mobilnya tetap stabil dalam kecepatan tinggi. Belum lagi tekanan dan panas yang berasal dari dalam kokpit mobilnya plus konsentrasi yang harus dijaga agar tidak bertabrakan atau menyentuh gravel. Pembalap formula 1 juga harus pintar mengatur strategi dan berkoordinasi dengan kru di pitstop dan pitwall supaya bisa juara satu. Jadi, kelihatannya saja gampang hanya memainkan setir, tetapi lebih dari itu, olahraga yang sesungguhnya itu ya di persiapannya itu.

Nah, seperti halnya dengan pembalap formula 1, BPS juga begitu. Persiapan setiap kali akan menyelenggarakan sensus dan survei besar itu sungguh luar biasa. Mulai dari desain kuesioner, uji coba kuesioner, pilot survei, pelatihan, sampai pelaksanaan dan dilanjutkan pengolahannya. Pada saat pelaksanaannya pun memerlukan strategi untuk menjaga time reference dan kualitas. Kemudian juga harus berkoordinasi dengan banyak pihak, sehingga pelaksanaan dan pengolahan datanya berjalan lancar. Tidak sampai disitu, setelah angkanya keluar masih harus dianalisis dahulu, disandingkan secara series beserta indikator lainnya.

Pembuktian datanya? Agak susah memang. Buat saya pribadi, data itu tidak ada yang salah. Yang ada kurang tepat penggunaannya. Karena data se’sampah’ apapun masih bisa digunakan selama tahu bagaimana menggunakannya. Agak berlebihan memang, tapi ini realitanya. Contohnya data kemiskinan. Banyak yang menyatakan data kemiskinan yang ada dan beredar serta digunakan saat ini salah. Harusnya kalau ada data yang salah pasti ada data yang benar. Nyatanya, data yang dianggap ‘sampah’ itu tetap digunakan terutama di kalangan politisi. Sebagian mengklaim keberhasilan kepemimpinannya, sebagian lagi untuk menjatuhkan lawannya. Lalu bagaimana dengan data yang benar? Who knows...

Garis bawahnya adalah, setiap kali kita akan melaksanakan suatu sensus, survei atau kajian, selalu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan untuk meminimalisir ‘error term’. Angka yang dihasilkan akan selalu mengandung ‘error term. Bukan tidak boleh percaya dengan angka-angak tersebut, tapi bijaksanalah menggunakannya. Pahami dulu konsep definisinya, batasan-batasannya, asumsi-asumsinya. Ingat-ingatlah bahwa. Statistik adalah suatu ilmu yang menghasilkan fakta yang sulit diandalkan dari angka yang diandalkan (Definition of statistics: The science of producing unreliable facts from reliable figures).

Ini cuma simple thought saya hari ini, di tengah penyelesaian pekerjaan angka statistik itu.. ^_^