Saturday, February 23, 2013
Shine like a diamond
Bahan dasar berlian adalah karbon yang mengalami tekanan sangat kuat di muka bumi, kira-kira 5 giga pascal. Ketahuilah, 5 giga pascal itu sama dengan 725.188,689 psi. Sebagai perbandingan, tekanan angin ban mobil itu biasanya 32 psi. Karbon ini mengalami pemanasan sekitar 1.200 derajat celcius.
Terbayang, kombinasi tekanan, suhu yang tinggi, proses yang lama hingga jutaan tahun bahan miliaran, akhirnya menghasilkan Kristal yang sangat keras dan sangat padat.
Itu pun belum berhenti sampai disini. Karena Kristal berlian itu harus dipotong untuk mendapatkan bentuk yang indah. Yang memotong tentunya orang yang ahli, memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memotongnya.
Cerita tentang diamond di atas itu, saya dapat dari bukunya Noveldy dan mbak Nunik yang judulnya menikah untuk bahagia. Kenapa saya cerita tentang berlian? Karena saya ingin berlian? Iya lah itu pasti. Tapi saat ini bukan cuma itu, kalau dipikir-pikir (karena ini simple thought, jadi saya mikir yang simple aja) manusia untuk berkilau dan bernilai tinggi juga harus seperti berlian itu. Rela mengalami tekanan, suasana panas, proses yang panjang dan juga harus rela dibuang bagian-bagian buruknya untuk mendapatkan bentuk yang memancarkan kilau yang indah.
Mengalami tekanan hidup, pekerjaan, semacam survivatory sungguh bukan hal yang enak untuk dijalani, tapi itu harus dijalani. Suasana yang tidak enak, atmosfer yang tidak kondusif sehingga rasanya seperti kekurangan oksigen dan membuat dada sesak mau tak mau harus dipaksakan. Mengeluh jelas tidak akan menyelesaikan masalah apa pun. Prosesnya lama dan harus rela dibentuk.
Masalahnya, relanya itu semacam apa? Nah itu..
Macgyver bilang think!
Thursday, February 14, 2013
Komunitas Jalan Perjuangan
Jalan Perjuangan menjadi jalur utama bagi mereka yang tinggal di sebelah utara Bekasi. Dulu, wilayah utara Bekasi merupakan lahan sawah yang luas. Tapi, seiring bertambahnya jumlah penduduk, lahan sawah tersebut berubah fungsi menjadi perumahan, pabrik, sekolah dan pertokoan. Dan Jalan Perjuangan merupakan akses utama untuk mencapai pusat kota dan pemerintahan.
Saya belum tahu kenapa dinamakan Jalan Perjuangan. Saya menduga-duga saja pasti ada cerita dibalik penamaan jalan itu. Yang jelas dari dulu sampai sekarang melalui jalan tersebut harus penuh perjuangan. Dulu, sebelum tahun 2004, jalan itu rusak parah. Jalan tersebut sering dilalui truk tangki yang mengangkut minyak dari Babelan. Itu menyebabkan kondisi jalan rusak. Tahun 2005, jalan tersebut selesai dicor. Tapi kemudian, semakin banyak saja kendaraan yang melalui jalan itu, sehingga perlu perjuangan lebih untuk melaluinya.
Saya tidak sendiri, setidaknya ada empat orang teman saya lainnya di kantor yang selalu melewati Jalan Perjuangan. Saya menyebutnya Komunitas Jalan Perjuangan. Kalau ada kejadian luar biasa, semisal macet karena kecelakaan atau alat angkut berat yang lewat dan menghalang-halangi jalan, kami selalu mendiskusikannya. Semacam update kondisi lalu lintas lah. Kalau cuaca sedang hujan deras seperti akhir-akhir ini, Jalan Perjuangan selalu macet parah.
Kegiatan lain dari Komunitas Jalan Perjuangan adalah menyusun tips dan trik dalam menjalani kemacetan. Kalau saya ya sudah pasti mendengarkan musik via handphone. Ada juga yang memberi tips untuk zig zag kiri kanan bagi biker di area tertentu untuk melakukan manuver tersebut. Ah namanya juga komunitas, menurut Soenarno (2002), definisi Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional. Kira-kira kami berlima ini sudah bisa disebut komunitas tidak ya?
Tuesday, February 12, 2013
Lelah Hati..
Tapi manusiawi juga ya kalau kadang-kadang capek juga. Capek ngadepin palsunya orang-orang, capek dengan atmosfir yang begini, sampai akhirnya saya dengerin lagu ermy kulit yang judulnya lelah hati.. hehehe..
Oke, selera musik saya memang aneh, tapi itu hak saya. Jangan salahin saya kalo saya bisa menikmati hingar bingarnya Muse sampai melow nya Ebiet G Ade. It's my prerogative right.
Lalu saya menuliskan judulnya di status bbm saya judul lagu itu. Kemudian yang terjadi adalah : 80% kontak bbm cuek (ya iyalah emang saya siapa? Artis? Ngarep!), 15% kontak bbm lainnya langsung update status mereka (oh dear.. bb, bb mereka sendiri, suka-suka mereka mau update status apa ga), dan sisanya yang 5% nanyain "kenapa nik.." (yes! Ada juga yang nanya hehehe).
Saking care nya ada yang ngirim begini ke saya..
Oow..did i do something fool today?
Monday, February 11, 2013
Jam 10.10
Saya mengenal istilah jam 10.10 dari sebuah drama korea berjudul BIG, yang dirilis tahun 2012. Di drama tersebut sang pemeran pria (diperankan oleh Gong Yoo) bilang kepada sang pemeran wanita kalau si wanita itu harus mengingatnya karena dia adalah jam 10.10 nya. Jam 10.10 itu kalau digambarkan seperti orang yang sedang tersenyum. Sehingga setiap kali jam 10.10 maka si wanita akan tersenyum karena si pria adalah jam 10.10 nya.
Entah kenapa, seperti layaknya mantra ajaib, sejak saat itu kalau saya melihat jam 10.10 baik itu siang ataupun malam saya akan tersenyum. Saya selalu teringat scene dari drama Korea tersebut. Ketika menonton itu saya memang mengingat neon sign produk jam (kalau tidak salah Rado atau Seiko) di sekitar Jalan Juanda, Pasar Baru, Jakarta yang memang jamnya menunjukkan pukul 10.10. Saya pikir pantas saja iklan jam itu selalu menunjukkan jam 10.10 karena seperti orang yang tersenyum. Dan senyum itu punya efek yang dahsyat kan..
Sunday, February 10, 2013
Parkir
Hari Minggu ini rencananya ingin memaksimalkan leyeh-leyeh di rumah sambil baca novel, tapi tadi pagi adik yang di Bogor telpon dan mengajak ketemu di rumah orang tua yang berjarak 14 kilometer dari rumah. Sepertinya saya harus telpon ibu saya untuk konfirmasi kedatangan saya dan adik saya, karena rumah ibu saya itu susah parkirnya. Kebayang nanti kalo mbak Silvy (sebutan mobil saya) dan Ce Mumun (sebutan mobil adik saya) datang, tidak dapat parkir.
Dulu, kalau saya ke rumah ibu, bebas mau parkir dimana saja karena belum banyak mobil. Sekarang memang agak repot karena banyak tetangga ibu saya yang parkir di depan rumah.
Saya jadi ingat kemarin juga saya dan hubby kesulitan dapat parkir di metmall. Sepertinya parkir sudah menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan pemerintah daerah. Meningkatnya kepemilikan kendaraan roda empat di Bekasi memicu kurangnya lahan parkir di rempat umum. Bahkan ketika saya hendak sholat maghrib di masjid Al Barkah (masjid terbesar di Kota Bekasi), saya juga kesulitan mendapat parkir.
Saya pikir, tidak heran kalau pemprov DKI menaikkan tarif parkir menjadi 4000 per jam karena terbatasnya lahan parkir. Itu akan menstimulus masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Berbeda dengan tarif parkir di Kota Bekasi yang masih 2000 per jam. Kebijakan di DKI biasanya mendapat perhatian bagi Pemkot Bekasi. Ini seperti game theory dimana setiap daerah melirik strategi yang diterapkan daerah sekitarnya.
Tahun 2009, saya pernah mengumpulkan data parkir di empat mall besar di Kota Bekasi. Saya melakukan itu untuk menghitung PDRB subsektor jasa penunjang angkutan. Waktu itu saya mencurigai sepertinya pendapatan dari parkir yang dikelola swasta ini lumayan besar dan memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap sektor angkutan.
Saya tidak bisa mengungkapkan hasil survey tersebut karena kerahasian datanya, yang jelas sharenya lumayan. Saya sendiri waktu itu sempat tercengang dengan potensi parkir terhadap sektor angkutan. Perparkiran yang digarap swasta ini memang bisnis yang menggiurkan. Belum lagi parkir di sekitar stasiun dan pintu tol yang dikelola oleh perorangan.
Parkir kelihatannya sepele, tapi nyatanya memiliki potensi untuk dikelola secara profesional demi ketertiban umum.
Friday, February 8, 2013
Perubahan
Ketika sedang wawancara untuk mendapat paspor, bapak-bapak yang mewawancarai saya tertegun waktu saya bilang saya PNS di Badan Pusat Statistik. Katanya dulu dia pernah ikut pelatihan analisis statistik dasar di BPS sekitar tahun 92-an (dia lupa tahunnya).
Lalu, jiwa pencacah saya pun keluar. Saya tanya tahun berapa bapak mulai bekerja di imigrasi. Dia bilang sudah bekerja sejak tahun 1986. Saya berkomentar bahwa bapak ini pasti sudah mengalami banyak perubahan sistem di imigrasi selama bekerja, karena saya hafal betul bagaimana bentuk kantor imigrasi yg selalu saya lewati dulu ketika kuliah. Dia tertawa, katanya dia sudah melalui tiga jaman.
Dia tidak bertanya yang macem-macem lho, cuma mencocokkan data di dokumen dan yang di formulir. Kemudian dia bercerita bagaimana ripuhnya jaman dulu ketika dia mulai bekerja, dilanjutkan penggunaan teknologi komputer.
Terus dia juga cerita bagaimana proses adaptasinya pakai komputer. Sampai akhirnya kita bertukar cerita soal anak. Bahaya teknologi informasi terhadap anak-anak dan lain sebagainya.
Saya jadi tahu anaknya ada 3, yang paling besar kuliah, dan yang bungsu kelas 4 SD. Saya juga jadi mengerti bahwa beliau perlu usaha yang lebih untuk beradaptasi dengan perubahan sistem di imigrasi, mulai dari aturannya, etikanya, teknologinya dan lain-lain.
Saya juga mendengarkan keluhannya mengenai pegawai-pegawai baru yang dianggapnya kurang giat dalam bekerja padahal mereka masuk berbekal ijasah sarjana. Keluhan yang sama yang sering saya dengar di kantor saya.
Alhasil wawancaranya jadi lama. Hubby yang dapat jadwal wawancara lebih dulu terlihat bingung kenapa saya lama sekali. Waktu dia tanya apa yang membuat saya lama, saya bilang "Biasa lah A, jiwa pencacah saya suka muncul di waktu yang tak tepat. Suka kepo aja gitu".
Bapak pewawancara itu telah menunjukkan bahwa apa yang dibilang Charles Darwin tentang bukan yang terkuat dan terpintarlah yang mampu bertahan, melainkan yang bisa beradaptasi terhadap perubahan, memang benar adanya. Kotaro Minami di film serial Satria Baja Hitam bilang : kalau saya tidak berubah, saya tidak bisa menang. Jadi, siap-siaplah berubah!
Menunggu asyik..
Saat menuliskan ini, saya sedang berada di kantor imigrasi, menunggu untuk difoto. Kemudian terlintaslah di benak saya apakah model model kalau mau difoto juga seperti saya, menunggu, menanti giliran di sekitar set foto. Imaginasi saya memang suka berlebihan kalau lagi menunggu. Mungkin aroma bulgari dari emak-emak sebelah saya ini yang bikin saya membayangkan model segala.
Minggu lalu, saya juga dalam posisi yang sama seperti ini. Menunggu ketika sedang memperpanjang SIM di Polres Bekasi. Tapi namanya juga perlu jadi ya dilakoni saja.
Katanya pelayanan publik sudah diperbaiki dan ditertibkan. Nyatanya tetap saja calo bermain. Saya melihat petugas resmi yang terlihat asyik berbicara dengan calonya. Gimana sih? Malahan waktu saya tanya prosedur pengurusannya, si petugas me'refer' ke seorang calo.
Ups, saya tidak bermaksud mengeluhkan pelayanan publik. Hanya saja, saat ini memang pelayanan publiknya belum standar. Tidak perlu jauh-jauh ke ketepatan waktu dan lain sebagainya. Calonya saja masih eksis. Suka tidak suka harus saya akui memang tidak mudah memulai ini semua. Tapi kalau tidak dimulai kapan ada hasilnya.
Ah sebentar lagi nomor antrian saya dipanggil. Saya harus sudahi postingan ini. Padahal wifinya sedang kenceng-kencengnya. Layanan free wifi ini jadi poin positif pelayanan publik. Ya, apapun mungkin di dunia ini untuk berubah lebih baik..
Sunday, February 3, 2013
Bukan Komoditas Biasa
Ketika sedang mengisi bbm di SPBU dekat rumah, hubby secara tidak sengaja bicara mengenai minyak yang merupakan komoditas dengan karakteristik yang khusus. Katanya dibandingkan komoditas lainnya, minyak (sebutan yang lebih sederhana) memiliki serentetan peristiwa yang banyak. Minyak adalah komoditas energi. Karena minyak lah maka terjadi perang, inflasi, perubahan asumsi, dan menarik minat politikus.
Seperti komoditas lainnya, misalnya jagung atau emas, minyak (dan gas alam, yang memiliki kaitan erat dan perilaku yang sama) merupakan sebuah aktiva yang dapat diperdagangkan di pasar future, dan harganya naik turun mengikuti naik turunnya permintaan di pasar. Namun komoditas energi berbeda karena dua alasan utama.
Pertama, energi merupakan elemen penting bagi negara sehingga politikus cenderung memandangnya sebagai masalah keamanan nasional. Dan jika politikus sudah terlibat dalam sesuatu, maka asumsi yang biasa berlaku mengenai penawaran, permintaan dan harga cenderung tidak bisa lagi diterapkan.
Kedua, harga energi merefleksikan biaya jangka panjang terhadap kumpulan polusi. Membakar bahan bakar fosil menghasilkan campuran gas yang terkait dengan pemanasan global. Dampak tidak langsung semacam ini dari sebuah aktivitas, yaitu ketika tindakan seseorang dapat menimbulkan bahaya atau kerusakan besar terhadap orang lain yang tidak bersalah tanpa disertai keharusan membayar atau bertanggung jawab untuk itu adalah sesuatu yang disebut eksternalitas oleh para ekonom.
Yang membuat saya tersenyum adalah ketika hubby merefleksikan minyak ke dalam puisi yang jadi aneh kalau dibaca. Tapi saya ga akan menyampaikannya, karena ini bukan komoditas biasa..
Saturday, February 2, 2013
Detik
Detik itu aneh, kadang dia seperti FLASH yang berlari cepat dan membuatku tak bisa mengejarnya, tapi kadang seperti KURA-KURA! Lambat!
Kadang detik itu tak suka menunggu, tapi suka sekali membuatmu menunggu
Kadang, detik juga suka membawa pisau, semakin kau melewatinya, semakin dia mengiris-iris hatimu. Perih.
Kadang, detik juga suka membawa bunga, setiap kau melewatinya, perasaanmu menjadi berbunga-bunga. Dan di saat itu, kau tak ingin cepat berlalu.
Kadang ada detik yang membawa balon dan jarum. Dia akan meletuskannya saat kau melewatinya. Kau kaget dan deg-degan. Jantung berdegup kencang.
Kadang ada detik yang tak membawa apa-apa, kau hanya melewatinya, itu saja.
Tapi detik itu menyiapkan kejutan untukmu.
...sadgenic, p62
Di kotaku
Di kotaku,
Hujan dijadikan cindera mata. Boleh kau bawa pulang.
Tapi buat sendiri pelanginya.
Di kotaku,
Pelangi itu seperti gulali. Kalau mau beli
Cukup dengan senyum dari hati.
Di kotaku,
Senja itu seperti sofa. Aku duduk disana
Menunggu terbenam dalam rasa.
Di kotaku,
Kabut berwarna merah muda.
Aku menembusnya ketika menuju senyum darimu.
Di kotaku,
Bintang-bintang bertebaran di laut. Kalau kau mau ucap permintaan, kau pancing saja. Pakai kail doa.
Di kotaku,
Awan jadi pohon. Aku menaikinya. Merebah pada satu rantingnya. Mencuri pandang dari sana.
Mau pindah ke kotaku?
Sebaiknya jangan, nanti populasinya meningkat..
...sadgenic - Rahne Putri, modified
