Pages

Monday, November 24, 2014

Bukan hari yang indah

Entah kenapa, bulan November ini rasanya seperti inversia dari kejadian-kejadian baik. Saya tetap berusaha untuk berada dalam kerangka baik sangka atas kejadian-kejadian ini. Workshop yang terganggu kuliah, harta yang hilang, jadwal yang tidak ramah, anak sakit, sampai bikin lecet mobil orang dan saya harus mengganti kerugiannya itu. Semuanya campur aduk membentuk suatu sistem yang memiliki dampak sistemik pada pola hidup saya. Hehehe..

Seperti yang terjadi hari Senin ini. Harusnya saat ini saya duduk manis di ruang workshop IMF mencermati paparan mereka mengenai financial account. Asal tau saja, saya sangat menanti-nanti workshop ini karena selain undangannya terbatas, saya masih penasaran dengan data financial account yang dirilis hasil kerjasama antara BI dan BPS. Selain itu, saya memang sedang menimba ilmu dari seorang teman di sana. Tetapi, alih-alih mendengarkan paparan IMF dan BI, saya malah tergolek di ruangan, tak berdaya, kelelahan, dengan otak yang stuck pada blog. Inginnya sih menumpahkan semua kekesalan pada tulisan ini, tapi kok sayang ya energinya..

Jadi, kira-kira apa hal lain yang bisa melengkapi hari yang tidak indah ini? Jawabannya adalah sosial media.
Social media sepertinya berkonspirasi dengan alam untuk membuat hari ini menjadi semakin tidak indah. Yang sedang happening saat ini adalah perang posting dan re-posting antara haters dan lovers. Saya hampir-hampir tidak mengenali lagi teman-teman saya di dunia maya (walaupun memang dari awal saya tidak terlalu mengenal mereka, tapi ini yang dulunya kenal jadi merasa aneh membaca postingannya). Biasanya mereka sharing yang ringan dan positif, malah kadang-kadang bisa membuat hari saya jadi lebih berwarna. Tapi saat ini, baik itu facebook maupun twitter sangat parah. Dan tidak, saya tidak men-stalking akun-akun itu. Kecakepan..hehehe

Hari ini saya datang terlambat satu jam dari jadwal kerja yang ditetapkan. Bukan karena saya bangun kesiangan. Saya tetap bangun jam 3 pagi dan berangkat tetap jam 5.30. Tapi semesta memang mendukung untuk membuat hari ini menjadi tidak indah. Belum lagi masuk tol, saya sudah terjebak kemacetan yang luar biasa saat mengantar anak saya sekolah jam 6 pagi tadi (biasanya jam 6.15 saya sudah sampai di sekolah anak saya). Baru bisa terbebas dari kemacetan jam 7.30. Akhirnya saya memutuskan untuk naik commuter line karena saya baca di timeline, tol dalam kota macet parah. Ini hikmahnya jadi komuter, jadi mahir membuat keputusan berdasarkan informasi dari sosial media.

Hari ini memang bukan hari yang indah. Tapi hidup memang tidak selalu indah. Mungkin ini adalah salah satunya. Semoga ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari hari yang tidak indah ini. Dan semoga juga, saya bisa membalik kembali inversia ini menjadi hari yang indah.

Friday, October 17, 2014

Introduction to CGE.. again

Dilanjutkan lagi CGE nya ya..

Penjelasan pareto dalam tulisan ini adalah kondisi sederhana dan fokus pada kasus satu konsumen, dua faktor produksi dan dua komoditas

Keseimbangan Produksi
Dalam teori produksi dijelakan produsen berada dalam keseimbangan bila MRTSu = w1/w2 dimana w1 adalah harga faktor L (tenaga kerja) dan w2 adalah harga faktor K (modal). Jika ada dua perusahaan yang menghasilkan barang/komoditas yang sama (kita sebut saja x1 dan dan x2), keseimbangannya bisa dijelaskan melalui Edgeworth Box (ini ada di microeconomics-nya Nicholson).

Keseimbangan Konsumen
Pareto optimum pada konsumen, didekati dengan konsep Marginal Rate of Substitution (MRS). MRS menunjukkan kesediaan seorang konsumen untuk menukarkan satu unit terakhir dari suatu barang untuk mendapatkan beberapa unit barang lainnya. MRS sama dengan harga relatif kedua barang yang akan dikonsumsinya untuk mencapai kepuasan yang optimal.

Keseimbangan Sektor Produksi dan Konsumsi
Keseimbangan produksi dan konsumsi tercapai pada saat MRTPTu = MRS = P1/P2.
MRPT adalah tingkat transformasi suatu produk terhadap produk lain. MRS menunjukkan sejauh mana konsumen mau menukarkan suatu komoditias dengan komoditas lainnya. Keseimbangan terjadi jika transformasi produksi sesuai dengan tingkat substitusi konsumsi (Nicholson, 1994)

Asumsi
Ok, semua model pasti memiliki asumsi. Nah, selain memenuhi asumsi pasar persaingan sempurna dan efisiensi pareto, terdapat beberapa asumsi lain dari model CGE (Gilig dan Carl, 2002), yaitu :
1. Pada pasar komoditas dan pasar input, total permintaan = total penawaran
2. Pada tingkat harga keseimbangan keuntungan perusahaan = nol
3. Pendapatan rumah tangga = Pengeluaran rumah tangga
4. Penerimaan pemerintah = pengeluaran pemerintah

Dari asumsi tersebut bisa dilihat kalau model CGE adalah model ekonomi yang melihat ekonomi sebagai suatu sistem yang komplit. Model CGE dibuat pada level makro (agregat) tapi dengan memasukkan level mikro lebih rinci dengan adanya keterkaitan antara aktor ekonomi. Seluruh pasar secara jelas telah mencapai keseimbangan dan memiliki struktur tertentu yang didasari pada formula keseimbangan. Pasar mencapai keseimbangan jika memenuhi syarat : non negatif, homogen dan memiliki harga yang unik, tidak terjadi excess demand, dan efisiensi pada harga pasar.

Model CGE memiliki dua karakteristik, dioperasikan dengan harga relatif dan memenuhi hukum Walras dan numeraire (harga seluruh barang merupakan harga relatif terhadap suatu harga). Jadi tidak bisa dengan harga absolut. Model CGE terdiri dari banyak persamaan, yang solusinya menggambarkan keseimbangan umum. Persamaan-persamaan ini menggambarkan perilaku mikroekonomi yang umumnya merupakan persamaan nonlinier. Model CGE umumnya menggunakan closure makroekonomi. Suatu closure merefleksikan ketepatan asumsi dalam model. Closure menyediakan pilihan variabel-variabel yang menjadi variabel eksogen dan variabel endogen. Juga digunakan untuk menentukan simulasi berkenaan dengan skala waktu jangka panjang dan jangka pendek dengan mensubstitusi variabel eksogen dengan variabel endogen.

Jumlah variabel dalam model biasanya elbih besar dari persamaannya, sehingga harus ada variabel-variebel endogen dan eksogen. Variabel ensogen adalah variabel yang nilainya ditentukan dalam model. Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya ditentukan di luar model.

Mudah-mudahan ini bisa jadi pengantar untuk memahami CGE. Mengenai teknis penghitungannya.. mungkin nanti kalau ada kesempatan saya coba tulis disini. Tapi ga janji..

Sunday, September 28, 2014

Introduction to CGE

Acara seminar dan sidang skripsi sudah hampir dua minggu berlalu. Kesibukan kedua acara tersebut melebihi sibuknya artis yang syuting secara striping untuk acara sinetron kejar tayang. Pokoknya hectic banget..

Dari beberapa sidang skripsi mahasiswa, semua menggunakan model ekonomi yang sama, yaitu model ekonometrika. Entah itu dengan data panel, time series atau dengan cross section yang pakai RLB. Saya kurang mengerti, apakah memang harus menggunakan model ekonometrika untuk dapat menjawab tujuan yang kebanyakan adalah menganalisis dampak variabel-variabel ekonomi. Karena ada model lain yang juga menggunakan statistik yang bisa menjelaskan fenomena ekonomi secara lebih komprehensif. Contohnya saja yang sudah diajarkan adalah model IO, model SNSE dan yang saat ini sedang happening adalah model CGE (Computable General Equilibrium).

CGE merupakan model struktural. Artinya, model ini dibangun dengan dasar-dasar teori mikroekonomi dan makroekonomi dimana perilaku agen-agen ekonomi dijelaskan secara spesfik dan detail dalam bentuk persamaan (behavioral equation). Oleh karena itu, model CGE dapat menjelaskan interaksi antara agen-agen yang berbeda pada suatu wilayah (bisa berupa negara atau daerah).

Sebenarnya, ada beberapa model ekonomi yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisis dampak perubahan variabel-variabel ekonomi, yang paling sering digunakan adalah model ekonometrika dan model CGE. Model lainnya adalah model keseimbangan parsial (partial equilibrium), yang salah satu aplikasinya adalah equilibrium displacement model, Input-output Model (Model IO) dan Social Accounting Matrix atau Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE).

Model ekonometrika didasarkan pada analisis regresi dengan jenis data yang digunakan bisa berupa data cross section, time series, dan panel yang merupakan gabungan antara data cross section dan time series. Sehingga diperlukan series data yang cukup untuk melakukan estimasi parameter dan ada asumsi-asumsi yang harus dipenuhi terkait dengan regresinya. Ketersediaan series data dan konsistensinya seringkali menjadi masalah bila ingin menggunakan model ekonometrik pada data negara sedang berkembang.
Sementara itu, model CGE hanya mengacu pada tahun tertentu (particular benchmark years). Model CGE juga dapat melakukan analisis dan dampak pada tingkat mikroekonomi dan makroekonomi. Hal ini berbeda dengan yang terjadi bila menggunakan model ekonometrik yang biasanya hanya dapat melakukan analisis di tingkat makroekonomi.

Konsep dasar CGE adalah Efisiensi Pareto atau Pareto Optimum pada setiap agen ekonomi (produsen, konsumen, investor dan pemerintah). Dalam teori mikroekonomi, efisiensi dalam perekonomian dikenal dengan efisiensi pareto yang menjelaskan kondisi dimana satu pihak tidak dapat menignkatkan kepuasannya tanpa mengurangi kepuasan pihak-pihak lainnya. Konsep efisiensi pareto mencakup tiga jenis efisiensi :
1. efisiensi alokasi sumber daya (keseimbangan produksi)
2. efisiensi kombinasi distribusi komoditas (keseimbangan konsumsi)
3. efisiensi kombinasi produk (keseimbangan sektor produksi dan konsumsi)

Sebelum menggunakan model CGE, harus dipastikan dulu si pembangun model memiliki ilmu matematika (terutama kalkulus lah ya untuk optimasi), mikroekonomi (untuk menjelaskan efisiensi pareto), makroekonomi (untuk analisis dampaknya), plus komputasi (karena ini bukan model ekonometrika yang biasa pake eviews, jadi akan sangat membantu bila si pembuat model memahami algoritma komputasi karena software yang digunakan biasanya open source yang mengandalkan penguasaan syntax-syntaxnya).

...to be continued

Tuesday, September 16, 2014

puisi tanpa judul

Puisi ini ditemukan di laptop saya yang memang suka dipakai juga oleh anak-anak.
Entah siapa yang menulis ini di salah satu file berekstensi doc.
Entah apa puisi ini ditulis asli oleh salah satu anak saya atau hasil copas dari internet
Yang jelas, ketika saya membaca ini, dalam hati saya berkomentar "keren banget"
Nah, ini puisinya :

sebanyak limit.

setiada nol.

aku tahu, aku bukan tentang segalanya ketika ia memanggangku dengan sinar matanya hingga aku mengabu tak bersisa.

wahai, pemilik sebentang rasa penuh dusta dilema yang berani-beraninya menyelupkan diri dalam lautan pikiran, menyeruak di jeda senyap malam, dan mengabur ketika aku berusaha memecahkan persoalannya.

aku cuman sebutir rinai hujan,
ketidakinginan untuk pergi, kecewa, juga gelisahku pada awan selalu kubungkam.


Wednesday, August 27, 2014

Simple note from seminar

Ceritanya kemarin saya habis seminar di Bandung. Judul seminarnya Seminar Nasional Statistika, Matematika dan Aplikasinya. Temanya Statistika dan Matematika untuk kemajuan dan kesejahteraan umat. Penyelenggaranya Universitasa Islam Bandung. Kenapa saya bisa ikut seminar seperti ini? Itu gara-gara disemangati oleh pimpinan supaya bisa menulis di jurnal ilmiah. Kemudian, saya yang entah dapat pencerahan darimana lalu menulis ulang sebagian dari tesis saya untuk disubmit ke panitianya. Eh ternyata diterima dan diacc. Jadilah saya berkewajiban untuk menjadi pemakalah di seminar itu yang diselenggarakan secara pararel.

Yang menarik dari seminar tersebut adalah pembicara utama yang berasal dari ITS yaitu Prof. Nur Iriawan. Beliau adalah wakil rektor ITS. Pembicara utama lainnya adalah Prof. Sri Wahyuni, Kajur Matematika UGM. Dimana-mana, yang saya cermati kalau sudah prof prof gitu, biasanya sederhana dan bahasanya membumi serta jauh dari notasi-notasi rumit. Justru mereka menyederhanakan persoalan sehingga mudah dipahami.

Makalah Prof Nur Iriawan misalnya, beliau membahas statistika dalam konteks kehidupan. Banyak yang kurang menyadari bahwa bumi, langit dan isinya dalam alam semesta ini diciptakan Allah penuh dnegan keteraturan yang menyertainya, yang sebenarnya dihadiahkan untuk manusia sebagai khalifah untuk ditafakuri. Kejadian satu dengan lainnya dalam keteraturan tersebut dapat diamati, diukur dan dicatat sehingga menjadi data dan fakta sebagai proses perbaikan hidup manusia. Itulah sebabnya kita harus aware dengan keadaan di sekeliling kita. Bisa merekam jejak data yang ditinggalkan pada kejadian yang ada di sekitar kita. Yang ujung-ujungnya adalah bisa melakukan analisis terhadap rekaman data tersebut untuk kemaslahatan umat.

Klasik vs Bayesian

Dalam bidang statistik, ada dua mahzab yang saat ini hits bingits. Pertama adalah mahzab Klasik yang berusaha membawa data ke bentuk distribusi normal, supaya estimasi parameternya bisa menggunakan OLS dan seterusnya. Kedua adalah mahzab Bayesian... Profesor disini menyebut penganut mahzab ini homo bayesianis, hehehe. Bayesian sering juga disebut data driven, artinya data yang diperoleh dilihat dulu mengikuti distribusi apa kemudian dilakukan serangkaian analisis data yang sesuai dengan term and condition datanya, berbeda dengan klasik yang melakukan transformasi data agar data bisa dianalisis secara normal. Biasanya akan timbul pertanyaan mana yang lebih baik, klasik atau bayesian?

Ok, aliran klasik biasanya diajarkan pada mahasiswa undergraduate seperti D4 dan S1. Nah kalau sudah S2 dan S3 biasanya sudah merapat ke bayesian. Bayesian, selain harus fasih statistik matematika, juga harus fasih statistik komputasinya. Kenapa? Karena untuk estimasi parameternya memang tidak ada paket program untuk aliran bayesian. Jadi, paling tidak seorang bayesianis menguasai bahasa program semacam R atau Python. Saya belajar phyton dulu itu juga karena terkendala tidak ada paket software yang mengakomodir pengolahan tabel I-O. Jadi terjebaklah saya bersama Python ini. *eh curcol, padahal sekarang sudah banyak yang lupa karena jarang dipakai*

Klasik atau Bayesian masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan sendiri. Ini seperti menentukan apakah menggunakan lunar system atau solar system pada almanak atau kalender. Jadi, menurut saya tidak perlu diperdebatkan secara lebih tajam. Misalnya saja, data ekonomi tentu akan berbeda karakteristiknya dengan data sosial. Prosedur analisisnya tentu juga perlu tools yang sesuai.

Oh ya, kalau yang saya tangkap dari presentasi ITS, mereka beraliran sangat bayesian karena menganggap data itu adalah sunatullah. Belajar statistika dalam konteks kehdupan memberikan khazanah belajar statistika yang riil. Statistisi seharusnya berposisi sebagai pecinta dan pengawal keamanan catatan sunatullah, bukan pelawan takdir dengan memposisiskan sebagai pengubah dan pemanipulasi data. Semakin manusia sadar akan manfaat data, semakin banyak pelajaran kehidupannya dan disjamin semakin baik kehidupannya ke depan

Dari seminar ini, saya seperti dapat enlightment dan semacam kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi ini haruslah sangat berarti. Hubby bilang saya tidak salah untuk berada di sisi ini. Yeah, I can live with it..

Monday, August 18, 2014

A note from workshop

Tidak terasa, usia negara yang tinggali, Indonesia, sudah 69 tahun. Kalau manusia, dia pasti sudah sangat tua dan harusnya sih sudah punya pengalaman yang banyak. Nyatanya, Indonesia memang punya pengalaman yang mungkin cuma negara kita ini saja yang mengalaminya. Indonesia, negara kepulauan dengan segenap persoalan yang membebaninya, bukan tidak mungkin menjadi new emerging country in the world, karena dari serangkaian persoalan tersebut pasti banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Saya jadi teringat waktu ada acara workshop penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional tanggal 11 Agustus lalu. Yang jadi narasumbernya adalah Pak Gindo Tampubolon, seorang doktor dan juga researcher fellow dari The University of Manchester. Beliau tinggal di Inggris (Manchester tepatnya)dan pulang ke Indonesia setahun dua kali untuk memberikan workshop di universitas-universitas dengan alasan MALU. Iya, beliau malu karena Indonesia, negara yang punya banyak persoalan ini, ternyata jarang belajar dari masalah yang dihadapinya. Ini ditandai dengan sedikitnya orang Indonesia yang menulis untuk jurnal internasional. Bila dilakukan perbandingan dengan negara ASEAN yang formasi awal (ada lima negara: Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Indonesia), negara kita termasuk negara yang tertinggal jauh dalam hal rasio orang yang menulis untuk jurnal internasional. Singapura adalah negara denan jumlah penduduk yang paling banyak menulis untuk jurnal internasional. Rasionya 1 dibanding 600-an. Artinya, dari sektiar 600 orang Singapura, ada 1 orang yang menulis untuk jurnal internasional. Indonesia berada pada posisi paling akhir, dengan rasio 1 dibanding 107 ribu. Jadi dari 107.000 orang ada 1 yang menulis untuk jurnal internasional.

Bagaimana? miris ya. Padahal, Indonesia memiliki segudang masalah untuk diteliti. Sebagai gambaran, Indonesia sering masuk top ten untuk indikator kesejahteraan yang buruk seperti tingkat kematian ibu (yang melahirkan), wabah penyakit, kesehatan masyarakat dan lain-lain. Tidak hanya itu, negara kita ini juga menanggung masalah yang sifatnya alami atau bencana alam. Misalnya saja, Indonesia merupakan ring of fire, yang sudah pasti akan rawan dengan gempa bumi dan gunung meletus, juga banjir. Nah, dari semua masalah yang dialami Indoneia, harusnya kita mengevaluasi diri, mencari solusi dari semua permasalahan tersebut. Tetapi nyatanya, orang dari negara lainlah yang menulis tentang semua masalah yang kita alami. Dan hasil penelitiannya teraebut digunakan untuk "menjajah" kita dalam bentuk lain.

Ketika berbicara di auditorium, Pak Gindo menggunakan bahasa Inggris karena beliau terbiasa mengutarakan pemikirannya dalam bahasa tersebut. Ada dua hal yang menarik dan bermanfaat dari apa yang disampaikan Pak Gindo terkait dengan bagaiamana trik menulis untuk jurnal internasional. Pertama, how to make an introductory paragraph for international journal, kedua adalah how to make a discussion on your paper.

Introductory paragraph atau Pendahuluan adalah hal krusial dalam sebuah tulisan, terutama untuk jurnal internasional karena sang reviewer dan writer tidak saling mengetahui. Maka, komunikasi yang dibangun pertama kali adalah melalui introductory paragraph. Writer harus bisa menarik minat reviewer dari kalimat pembukanya, supaya dibaca lebih lanjut. Kalau tidak, tulisan kita akan segera tersingkir, karena banyak sekali tulisan yang masuk ke meja reviewer untuk dibaca. Jadi dia tidak akan mensia-siakan waktunya dengan membaca tulisah yang tidak menarik. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat pendahuluan yang menarik? Salah satu dosen menuliskannya apa yang disampaikan Pak Gindo pada milis dosen. And I would like to share this to you..

First, making an introductory paragraph for international journal is a hard work due to we have to read more books. Why? Because, Making a general statement in the first paragraph that can persuade, can attract should be supported by reading alot. We have to know our research's position in the world of research and science. One question from Ibu Ari was talking the fact that more than 150 papers/journals sholud be read in order to success in publishing her paper in the international journal.

Second, an introductory paragraph for international journal has its own standard. We should follow the tight rule that described by Pak Gindo in the first session. Three part of a good introductory paragraph for international journal namely (1) a general background, (2) a reserch gap, and (3) a research question have to become our consideration when writing. --> Pak Gindo mengibaratkan ini seperti bentuk corong yang lebar di awal tetapi mengerucut.

Third, like an introductory paragraph for international journal, discussion at the end of journal has its own standard as well. Discussions should have several main things such as our research compared by other researches, the clarity of what we have done related to the research goals, the limitation of the research. In this issue, a question from Pak Bagyo was an interesting issue as well. Many of us tended to make an introductory paragraph in a bombastic promise but lack in the implementation. So that's why, Pak Gindo suggested to mention in the paper our research limitations in the disscusions.

Last but not least, we have to communicate each other as Pak Gindo said "Science is a communication". Based on this statement, I really agree on what Pak Monang said at the opening of the workshop, if we intend to be said as an Expert, we have to write our research and publish it; not just teaching, eventhough the teaching activity is our bussiness as usual.



And...

direply-reply sama rekan lainnya.. ada profesor yang bilang kalau tidak ada batasan jumlah bacaan tertentu seperti angka 150 itu. Menurut saya itu memang relatif, karena untuk mengambil post doc memang kuncinya harus banyak membaca. Bukankah perintah pertama buat umat Islam dalam Al-Qur'an adalah iqro atau membaca.

Apa yang disampaikan Pak Gindo pada workshop tersebut cukup membakar bara yang tadinya lembab. Buktinya, tidak berapa lama muncullah undangan call paper dari universitas lain, terus beredarlah semacam panduan menulis untuk jurnal internasional dari ITB itu. Sebenarnya, ketika menuliskan ini saya sedang menyiapkan full paper saya untuk workshop minggu depan. Jadi, mumpung semangatnya masih semangat kemerdekaan, sebaiknya segera saya rampungkan paper tersebut.. wish me luck.

Friday, August 8, 2014

Statistician is the sexiest job in the world..

Jum'at pagi ini adalah hari pertama kegiatan non lecture di kampus dimulai. Acara yang diadakan adalah semacam seminar yang dberi judul The Role of Statisticians in Personalized Medicine: An Overview of Statistical Methods in Bioinformatics. Yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Peran statistisi dalam pengobatan personal: Sekilas tentang Metode Statistik Bioinformatika. Judulnya menarik, setelah mengikuti seminarnya, ternyata isinya memang sangat menarik.

Oh ya, yang membawakan presentasi pada seminar itu adalah Pak Setia Pramana. Saya suka bingung ini namanya Setio Pramono atau Setia Pramana sih, soalnya orang-orang yang sudah lama kenal dengan beliau memanggil dengan nickname Tio, terus di akun slideshare-nya setio pramono. Jadi saya menduga ini darah Jawa yang jadi Sunda, atau Sunda yang jadi Jawa..hehehe ga penting di bahas ya... skip aja.. Saya sendiri tidak begitu mengenal beliau walaupun bekerja di tempat yang sama. Maaf..

Pada seminar tersebut, Pak Setia menjelaskan terlebih dahulu latar belakang data bioinformatika yang ternyata berasal dari informasi yang diberikan oleh gen manusia. Bioinformatika sendiri menurut wikipedia adalah "an interdisciplinary scientific field that develops methods and software tools for storing, retrieving, organizing and analyzing biological data." Beliau cerita bagaimana gen itu menjadi semacam kode yang memberikan informasi mengenai kondisi tubuh seseorang. Ini mirip di film-film sci-fi yang cerita tentang kloning, stemcell sampai ke spiderman segala.. Nah, dari informasi tersebut terkumpulah data mengenai gen seseorang yang digunakan untuk membuat suatu alat untuk menguji dan jenis pengobatan serta treatment yang tepat untuk pasien. Nah, untuk sampai ke "membuat alat dan obat' itu, tentunya ada proses rancangan percobaan (experimental design), signal summarization, normalization, data analysis, network sampai interpretasi biogologisnya seperti apa.

Cerita kemudian berlanjut pada stage dimana seorang statistisi berperan dalam suatu riset di bidang bioinformatika. Ternyata, ilmu statistik lanjutan seperti analisis regresi dan teman-temannya (analisis data kategorik, multivariate, time series dan lain-lain) tiba-tiba menjelma menjadi alat yang ampuh untuk mengambil keputusan dalam bidang ini lengkap dengan asumsi yang menyertainya. Kira-kira jadinya keren gitu..

Kemudian, Pak Setia yang lulusan post doctoral dari Belgia ini menjelaskan ke peserta seminar bagaimana seorang statistisi itu punya peran penting dalam suatu riset. Terutama kalau sudah mendapatkan data untuk dianalisis. Katanya seksi.. hehehe.. Menurutnya statistician is the sexiest job in the world karena perannya yang sangat penting dalam suatu riset.. Bagiamana menurutmu?

Tuesday, August 5, 2014

No Ponsel No Cry

Ada yang terasa kurang pas hari ini. Tanda-tanda ketidakpasan itu diawali dengan bangun tidur. Pertama kali saya membuka mata pagi ini, langsung terdengar sayup-sayup orang mengaji pertanda sebentar lagi adzan Subuh. Ketika saya lihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 WIB. Artinya saya terlambat 1 jam 30 menit dari jadwal rutin saya. Sejak kuliah dulu, saya terbiasa bangun jam 3 pagi (kadang-kadang lebih sedikit dan kadang juga tidur lagi setelah subuh hehehe). Bangun tidur, benda yang pertama kali saya cari adalah ponsel saya, karena ponsel itu adalah benda yang paling bertanggung jawab atas telatnya saya bangun. Seharusnya benda itu mengeluarkan suara gitar genjrang genjreng yang selalu membangunkan saya, dan kalau saya cuekin, dia akan genjrang genjreng 5 menit berikutnya. Setelah dicari-cari, samsung S3 (FYI, ini ponsel umurnya udah 2 tahun, die hard dan saya belum bisa move on dari benda ini) ketemu dalam kondisi mati. Pantas saja saya tidak mendengar nada genjrang genjrengnya.. *sigh*

Walaupun bangun telat, the show must go on. Jadi saya segera ke dapur, masak untuk sarapan dan bekal ke kantor, bikin kopi (untuk saya sendiri) dan beres-beres sambil menunggu adzan subuh. Pekerjaan domestik seperti ini sudah rutin saya kerjakan sejak saya tidak pakai asisten rumah tangga lebih dari satu tahun. Sebelumnya, ketika punya asisten rumah tangga, saya punya me-time yang berlimpah dan cenderung mubazir. Ngulet aja bisa 15 menit, leyeh-leyehnya bisa 30 menit.. ga produktif lah hehehe.

Dampak dari bangun yang telat itu adalah saya tidak bisa nonton tv. Karena biasanya saya masih sempat nonton tv sambil minum kopi :) Ok, saya pikir saya akan minum kopi saya di mobil nanti, jadi saya masukkan ke dalam tumbler. Karena harus bergegas ke kantor, saya segera mengemasi buku-buku yang semalam saya baca ke dalam tas sambil menyemangati hubby (menyemangati = teriak-teriak supaya cepat berangkat)karena waktu sudah 5.45. Saya berharap kondisi tol cikampek ramah dan baik dengan saya.

Kira-kira sebelum mencapai gerbang tol bekasi barat, saya baru sadar kalau saya tidak membawa ponsel. Biasanya saya memantau kondisi lalu lintas melalui ponsel dengan aplikasi waze, atau mantengin timelinenya lewatmana dan ntmc plus mendengarkan jakfm. Kenyataan hari ini saya tidak membawa ponsel tidak membuat saya terlalu gimanaa gitu. Lalu lintas tadi pagi lancar-lancar saya. Kehidupan sosial media saya juga aman-aman saja. Satu-satunya yang berat dengan tidak adanya ponsel adalah saya tidak leluasa menghubungi rumah karena harus pinjam telepon kantor :)

Thursday, July 31, 2014

Rasa bersalah yang tak kunjung hilang

Selepas subuh tadi pagi, saya menunaikan kewajiban saya untuk memeriksa hasil ujian mahasiswa saya. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat karena berbagai alasan yang bisa saya buat sebanyak mungkin, karena harusnya ini sudah selesai disubmit ke BAAK hehehe. Memang memeriksa hasil ujian bukanlah cara terbaik untuk menghabiskan liburan lebaran, tapi ini kewajiban jadi ya selain harus ditunaikan juga memiliki efek multiplier yang panjang.. nantilah lain kali saya akan cerita efek multipliernya.

Yang membuat saya kemudian memposting tulisan ini adalah jawaban salah satu mahasiswa saya yang membuat saya tidak berhenti merasa bersalah. Ceritanya, tadi pagi itu saya lagi memeriksa ujian satu dari empat kelas yang saya ajar. Semua berjalan lancar-lancar saja karena tidak ada yang mendapat nilai dibawah 50. Malah beberapa ada yang mendapat nilai di atas 90. Sebagai informasi, saya bukanlah pengajar yang senang melihat mahasiswa saya kelimpungan mengerjakan soal ujian. Jadi, kalau mereka mendapat nilai yang bagus itu bahagianya disini..*nunjuk dada* hehehe

Sampai kemudian, ketika dari 34 mahasiswa itu, tinggal 14 lagi, saya memeriksa jawaban seorang mahasiswa yang membuat hati saya terasa kecut. Dia tidak bisa menjawab satupun dari soal yang diberikan. Malah, di akhir lembar jawaban itu dia menulis seperti ini "maaf bu bukan maksud saya meremehkan mata kuliah ini, tapi semalam saya sudah belajar. Mungkin ini pelajaran bagi saya karena kurang memperhatikan ibu mengajar di kelas. Dan saya seharusnya belajar lebih giat lagi kedepannya untuk memperbaiki semuanya."

Duh, kalimat itu sanggup meruntuhkan semua rasa percaya diri saya selaku pengajar. Kalimat itu mampu merusak mood saya memeriksa hasil ujian. Bagiamana tidak, seketika itu juga saya seperti ditimpa rasa bersalah yang kalau dikuantifikasi bisa beribu-ribu ton jatuh tepat di atas kepala saya. Jleb..

Nak, tahukah kau betapa sedihnya kalau seorang pengajar itu tidak bisa mentransfer ilmu yang dipelajarinya kepada mahasiswanya. Tahukah kau kalau seorang pengajar itu mempersiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelumnya. Dan tahukan kau kalau sekarang jamannya sosial media, sehingga bila kau merasa enggan dan segan untuk datang ke ruangan untuk bertanya dan meminta penjelasan, kau bisa memanfaatkan semua sarana komunikasi dan sosial media yang disediakan institusi supaya yang seperti ini tidak kejadian. Banyak teman-temanmu yang mungkin ketika di kelas enggan atau segan untuk bertanya, mereka bertanya melalu email, sms, pm, dm, wasap.

Hari ini, saya terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama ke diri saya, apa yang salah sampai ada yang tidak bisa seperti ini. Saya tidak menemukan jawaban yang pas karena yang mendapat nilai di atas 90 itu banyak. Masya Allah..

Mau tau kenapa saya terus dilanda rasa bersalah? Hey, saya juga seorang ibu, saya tahu persis seperti apa harapan orangtua mahasiswa saya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bagian dari tidak terwujudnya harapan orang tua kalian. Jadi, persiapkan diri kalian sebelum ujian sebaik mungkin. Bertanyalah kalau kurang jelas. Diperlukan usaha lebih dan mungkin sedikit ribet agar harapan orang tua kalian terwujud.

Monday, July 21, 2014

Ramadhan yang luar biasa

Ramadhan tahun ini sungguh luar biasa.. sangat berbeda dengan Bulan Ramadhan yang sudah-sudah. Di bulan ini, saya dihadapkan pada banyak sekali pengumuman. Pasalnya, ada dua anak saya yang akan bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Caca tahun ini lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi, Ali lulus SMP dan akan masuk ke SMA. Anak ketiga sih naik ke kelas 2 SMP. Untuk pengumuman masuk SMA saya harus memantau PPDB online dan membuat berbagai skenario supaya anak kedua saya bisa masuk di SMA favorit. Di Kota Bekasi, jenis SMA yang menggunakan sistem PPDB online ini ada 3, pertama adalah sekolah model (SMA 1 dan SMA 5), kedua sekolah standar nasional (SMA 2 dan SMA 4), ketiga sekolah reguler (sisanya). Untuk mendaftar sekolah model, calon siswa harus melakukan verifikasi nilai rapot. Anak saya memilih di SMA 1 dan lulus verifikasi, tapi pada saat seleksi PPDB onlinenya tidak diterima. Hal itu membuat saya ketar-ketir kalau dia tidak diterima di sekolah standar nasional. Alhamdulillah akhirnya dia lolos di seleksi untuk SMA 2. Saya mendaftarkannya hanya 9 menit sebelum closing PPDB Online. Stressful..

Berbeda dengan anak kedua saya, anak pertama saya lebih membuat saya stres lagi. Gara-garanya saya tidak menginginkan dia kuliah di PTS. Pilihannya adalah PTN, PTK atau Ronin alias mengulang lagi tahun depan. Putri sulung saya ini tidak mau mendaftar di STIS walaupun sudah dipaksa-paksa. Dia juga dengan sangat terpaksa mendaftar di STAN karena saya marah-marah sama dia hehehe.. Alhamdulillah dia lulus di STAN untuk ujian tahap pertama. Euforia pastinya.. tapi itu cuma bertahan satu minggu, karena ternyata dia juga lulus sbmptn dan diterima di matematika IPB. Alhamdulillah.. Dan seperti yang diduga, dia lebih memilih matematika IPB ketimbang STAN. Sebenarnya masih ada satu tes lagi yang dia ikuti, yaitu SIMAK UI. Dia ambil matematika dan fisika. Katanya kalau dia diterima di matematika UI, dia akan memilih UI ketimbang IPB. Saya cuma bisa stres..

Selain itu, di Bulan Ramadhan ini juga, ada yang namanya Piala Dunia untuk sepakbola. Jujur, saya bukan penggemar bola, tapi juga bukan anti mainstream kalo urusan Piala Dunia. Jadi, rasa penasaran saya cukup kuat untuk mengetahui siapa juara piala dunia tahun ini. Rasanya saya seperti mengulangi kebodohan saya lagi dan lagi dengan menjagokan Belanda yang hanya bisa juara 3 pada piala dunia kali ini. Dalam sejarah sepakbola dunia, Belanda tidak pernah menang, paling sering runner up. Bahkan saat ini, ketika performa mereka terlihat luar biasa. Nonton tim Belanda dengan hasil menang atau kalah buat saya selalu worth enough.. Mungkin suatu saat nanti Belanda akan mematahkan statistik dengan memenangi piala dunia. Mudah-mudahan saat itu terjadi saya tetap menjagokan Belanda hehehe..

Berikutnya adalah Pilpres. Ah ya, yang satu ini benar-benar membuat media sosial saya menjadi sampah visualisasi. Indonesia terbagi menjadi dua kubu dengan pendukung garis keras pula. Sosial media saya semacam facebook dan twitter pun jadi tempat para pendukung ini nyampah di linimasa. Untuk yang satu ini saya tidak pernah ikut-ikutan baik itu memasang status maupun berkomentar. Pernah saya pasang status di facebook ketika quick count sedang heboh, "how to lie with statistics" dan responnya begitulah... Tiba-tiba sosial media menjadi sangat sensitif. Saya membuat status seperti itu karena teringat akan buku kuno dengan judul how to lie with statistics. Buku itu menjelaskan bagaimana menyampaikan hasil statistik yang 'jelek' supaya kelihatan 'bagus' dan acceptable. Dan saya dengan keluguan anak balita mengasosiasikan judul tersebut dengan fenomena quick count. Awalnya, saya pikir status-status nyampah akan hilang atau setidaknya berkurang ketika selesai pencoblosan. Tapi ini politik yang permainannya terus berkembang, jadi tampaknya ekspektasi saya itu berlebihan. Kalau antara ekspektasi dengan kenyataan tidak sama, maka yang timbul adalah masalah. Maksud saya, di statistik itu varian adalah jumlah kuadrat dari selisih x dengan ekspektasi x, dibagi n-1. Jadi semakin besar perbedaan antara kenyataan dengan harapan, semakin besar variannya. Kalau variannya semakin besar, semakin tidak efisien estimatornya. Ini ga baik untuk masa depan bangsa.. hadeuh.. rempong.. Saat ini, saya lagi menunggu pengumuman siapa Presiden Indonesia ketujuh.

Pelajaran besar yang diambil dalam pilpres adalah budaya surat-menyurat yang mungkin sudah lama ditinggalkan. Banyak sekali surat terbuka yang berasal dari kedua kubu. Isinya macam-macam, ada yang mempertanyakan, ada yang menuduh, ada yang menghujat dan banyak lagi.
Kedua, muncul seleb sosmed yang baru.. ini jumlahnya buanyak bangets.. Para seleb sosmed ini bagaikan pejuang tangguh yang siap membela capresnya dengan status-status yang melebihi tulisan analisis mahasiswa saya ketika ujian. Luar biasa..
Ketiga, quote-quote dari para capres itu bener-bener deh.. beberapa terdengar asal dan beberapa lagi aneh. Saya tidak pernah suka politisi, jadi kalau ada kata-kata yang keluar dari politisi dan menjadi quote dimana-mana.. itu sesuatu.
Keempat, quick count. Gara-gara QC ini, tiba-tiba teman-teman sealumni saya yang memang darahnya sudah darah statistik (saya menggunakan istilah statistician by default) menjadi semakin tertantang. Ilmu yang selama ini kami pelajari tiba-tiba menjadi terlihat menarik di mata orang awam. Tidak sedikit yang bertanya soal ini ke saya, terutama teman-teman SMA saya. Ya tentu saja ini membuat saya merasa lebih keren karena belajar statistik hehehe..

Hal lain yang membuat Bulan Ramadhan kali ini terasa luar biasa adalah SK fungsional saya keluar..yeay! Finally.. Saya pikir saya harus buat semacam deklarasi kemenangan atas SK ini :) Doakan saja semoga saya bisa berbuat yang terbaik untuk orang lain, terutama untuk keluarga dan mahasiswa saya. Membuat pikiran mereka lebih open minded, membuat mereka lebih pintar dan membuat mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Oh, kenapa ini jadi seperti janji-janji capres ya?

Sebentar lagi bulan suci ini segera berakhir, dan saya sudah merindukannya sebelum ia benar-benar berakhir. All and all semoga tahun depan saya bisa bertemu lagi dengan Bulan Ramadhan.. Aamiin..

Thursday, July 3, 2014

Telepon itu..

Kemarin sore, saya sedang berjuang melawan kemacetan tol Cikampek yang diakibatkan volume kendaraan berjenis truk dan kontainer dalam jumlah besar. Ya, tol Cikampek sore itu memang macet luar biasa karena perusahaan ekpedisi sedang kejar setoran supaya supply barang sampai di tempat tujuan sebelum 5 hari menjelang hari raya. Biasanya H-5 itu tol cikampek sudah steril dari truk dan container karena arus mudik pasti sangat besar.

Lagi struggling dengan kemacetan tiba-tiba ponsel saya berbunyi. Tadinya saya pikir mahasiswa, ternyata orang lain. Si penelepon mengaku berasal dari perusahaan ekspedisi yang akan melakukan pengiriman ke tempat saya. Kaget tentunya... Saya merasa tidak memesan barang apa pun. Dia serius menanyakan alamat jelas saya. Ketika saya tanya barang apa yang mau dikirim ke rumah saya, katanya mobil. Hampir saja saya tertawa karena mengira ini semacam penipuan. Tetapi orang itu terdengar sangat memerlukan petunjuk saya. Akhirnya saya tanya siapa yang memesan, katanya dari BPS Prop. Jawa Barat. Jujur, saya tidak tahan untuk tidak tertawa, jadi ya saya tertawa saja sambil mengatakan kepada si penelepon kalau itu salah sambung. Telepon pun ditutup setelah dia meminta maaf. Kemacetan yang tadinya membuat bete perjalanan jadi tidak terlalu bete karena insiden kecil tadi.

Hari ini, ketika sedang mengajar, saya melihat ponsel saya menyala tanda ada telepon masuk. Saya tidak mengenali nomornya, jadi saya abaikan. Selain itu juga saya dalam posisi sedang mengajar. Setelah selesai mengajar, di ruangan saya tiba-tiba nomor yang sama juga memanggil-manggil di ponsel saya, lalu saya angkat. Si penelepon menanyakan alamat BPS Kota Bekasi karena mau mengirim barang. Saya menanyakan barang apa yang akan dikirim (saya berpikir akan mengirim dokumen pencacahan), lalu dijawab si penelepon kalau dia mau mengirim mobil. Halah..

Kemudian saya memberi petunjuk kepada si penelepon arah ke BPS Kota Bekasi, mantan kantor saya.
Saya tidak habis pikir, sudah setahun lebih, kenapa nomor ponsel saya ada di vendor-vendor..
Saya cuma berharap semoga pengiriman mobil ke kantor BPS Kota Bekasi adalah teaser pengiriman mobil ke rumah saya... he he he

Thursday, April 3, 2014

Sebuah kunjungan

Saya tidak tau ada keajaiban apa dengan hari Rabu kemarin. Pertama saya bangun kesiangan, tapi berangkat ke kantor tidak sampai telat banget karena malamnya saya ga sengaja sudah menyiapkan semua keperluan pagi (sudah seperti feeling aja). Terus, lalu lintas pagi itu lancar jaya, jadi sampai kantor pun masih jam 7.00 barengan dengan mahasiswa dan cleaning service (padahal harusnya cleaning service harus datang lebih pagi). Lalu, tidak lama kemudian ada bbm dari teman seangkatan yang mau datang. Dan bertemulah kita setelah belasan tahun ga ketemu. Dan ternyata hebohnya masih belum berubah hehehe..

Jadi ceritanya, teman seangkatan saya itu lagi kuliah S3 di IPB dan sekarang memasuki tahun ke-3, seru lah ya denger cerita kuliahnya itu (asli bikin iri), secara dulu kita sama-sama dari Jakarta dan punya masa-masa sulit untuk beradaptasi dengan sistem perkuliahan kedinasan ini. Biasa lah bayangan kita dulu itu kuliah ga seperti begini. Apalagi saya sebelumnya sudah sempat kuliah sebulan di tempat lain. Beda.. jauh berbeda, tapi thanks God akhirnya kita bisa beradaptasi dan ga sempat jadi mutant (looh?..).

Itu kunjungan yang pertama, di sore hari, ada lagi teman yang datang dari kantor lama saya. Sebenarnya sih dia datang karena ada urusan administrasi dengan baak, tapi sekalian bertemu saya. Nah ini membuat saya jadi teringat masa-masa perjuangan bekerja di tingkat II yang perlu kesabaran tingkat dewa. Terus berceritalah dia tentang kondisi di kantornya, personelnya, bagaimana ketatnya jadwal survei yang seolah seperti air bah datang ga kenal waktu, kegiatan yang saling tumpang tindih... ya ya ya saya mengerti sekali yang kayak begini dan parahnya saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu selain mendengarkan..

Jujur, kalau dikunjungi teman lama itu rasanya senang. Bisa cerita-cerita pengalaman masing-masing, memberi kabar baik (yang buruk ga perlu lah) dan bikin kita semangat lagi. Walaupun sebenarnya, dengan era sosial media saat ini, semua itu bisa dilakukan dengan kelincahan jari-jari di atas smartphone atau komputer, tapi kalau bertemu langsung rasanya beda aja. Energi positifnya dapet. Kalau terus-terusan dapat energi positif bisa sehat terus kan.. Mungkin memang benar kalau menyambung silaturahmi itu bisa memperpanjang usia. Jadi, siapa lagi teman yang akan mengunjungi saya? Atau saya akan berkunjung ke siapa nih..

Thursday, March 27, 2014

Moving out

Sejak mendapat jatah.. eh tugas mengajar 4 kelas selama semester ini, Saya mulai merasa kewalahan yang luar biasa. Bukan karena kewalahan mengajar, tapi karena harus menghandle pekerjaan administrasi di BAAK. BAAK itu akronim dari Bagian Akademik dan Administrasi Kemahasiswaan. Ya, saya masih merangkap-rangkap begini karena SK pindah saya masih di BAAK. Pekerjaan di BAAK itu tidak sulit cuma menguras waktu aja. Saya cuma memonitor perkuliahan yang diselenggarakan. Tapi.. yang namanya perkuliahan itu itemnya banyak, mulai dari absensi, ketersediaan dosen, jadwal sampai mengurus permintaan spesial mahasiswa dan dosen kalau ada dispensasi dan sebagainya. Tapi saya kan tidak didesain untuk mengeluh dengan kondisi yang ada.

Kemudian tibalah saat itu..
Pagi itu, ada email masuk yang meminta 7 orang calon fungsional dosen di BAAK pindah ke ruangan dosen di gedung 2. Hehehe akhirnya tidak lagi mengerjakan pekerjaan administrasi dan bisa fokus pada perkuliahan. Dalam hati sih yes yes yes, tapi tampang tetep dipasang sekalem mungkin.

So, we're officially moving out to Gd2 lt2 201-202 on Wednesday, March 26th 2014. Perlu diketahui, sebenarnya ruangan ini belum layak sekali untuk dosen. Pertama, it's not fully furnished a.k.a ga ada lemari, ga ada komputer, ga ada listrik.. cuma meja dan kursi aja, itu pun barang second hahaha... Kedua, yang namanya gedung 2 lantai 2 itu kotornya luar biasa.. pantry-nya, toilet-nya, lantai-nya haduh.. Untung aja kreativitas saya lagi ga bagus, kalo ga sudah buat syuting film horor.. karena kondisinya mendukung.

Anyway, apapun itu harus disyukuri.. bukankah kalau kita bersyukur maka akan ditambah...
Saya bersyukur akhirnya bisa fokus baca dan bimbing skripsi anak-anak cerdas ini, baca proposal PKL dan membimbing mereka membuat kuesioner dan buku pedomannya. Ok, ini pencitraannya sudah keterlaluan.. Yang jelas, you kids will never find me again in BAAK, I'm moving out..

Thursday, February 13, 2014

On the right track..

Sambil mendengarkan Creed nyanyiin lagu My Sacrifice, saya sesekali melirik ponsel yang pagi ini rajin berbunyi karena grup baru dari temen-temen seangkatan waktu masih di akademi. Ceritanya lagi pada nanya-nanya sekarang posisinya dimana, sudah jadi pejabat apa, anaknya berapa dan seterusnya. Sesekali bertukar cerita mengenai kondisi di daerahnya (saat ini beberapa teman yang tinggal di sekitar Kediri sedang resah karena kondisi Gunung Kelud yang statusnya waspada). Hal-hal seperti ini sangat tipikal untuk orang-orang yang berasal dari latar belakang pendidikan yang sama (baca: se-alumni).

Setelah agak bosan, kemudian saya membuka file presentasi dan tugas mahasiswa-mahasiwa saya sambil mengingat-ingat kembali presentasi mereka di kelas. Apa yang saya bahas di kelas, dielaborasi lebih jauh lagi oleh mereka. Keliahatan sekali usahanya ketika saya meminta mereka untuk menyertakan beberapa data dan melakukan analisis secara sederhana. Waktu membacanya, rasa itu muncul. Rasanya apa ya? Bangga, ketawa, seneng, campur aduk. Jujur, mereka semua melebihi ekspektasi saya ketika saya memberikan tugas-tugas itu. Menurut saya mereka menyelesaikannya dengan sangat baik. Bahkan beberapa memberikan presentasi yang excellent. Momen-momen seperti itu priceless!

Sebenarnya, yang membanggakan itu adalah ketika saya melihat cara mereka mempresentasikan tugasnya. Out of the box! Cara berpikir mereka sekarang jauh lebih terbuka dan ga kaku seperti 6 bulan yang lalu ketika pertama kali saya bertatap muka dengan mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa saya terus saya rekam dalam benak saya. Ketika ada yang mengalami kemunduran, saya mencari tahu apa penyebabnya. Dan ketika mereka kembali membaik, rasanya senang. Setelah belasan tahun kerja, merasakan hal yang seperti ini tuh rasanya luar biasa. I feel on the right track.

Wednesday, February 12, 2014

A little thing called Supply and Use Table (SUT)

Seharusnya, hari ini saya mensubmit soal untuk ujian IO, SUT dan Nesparnas. Tapi entah kenapa sampai detik ini belum ada chemistry ke arah itu. Terus, saya teringat untuk memposting sesuatu di blog ini. Supaya saya ada chemistry dengan pembuatan soal itu, kenapa tidak saya bahas saja sekalian sedikit cerita tentang bagian kecil dari kuliah itu, Supply and Use Table atau Tabel Penyediaan dan Penggunaan.

Sebenarnya tema SUT ini pernah saya bahas beberapa tahun yang lalu disini, jadi ini cuma perluasannya saja. Apa ya istilahnya? Menggali lebih dalam mungkin ya...

Oke, pengetahuan dasarnya dulu ya.. Yang namanya SUT itu terdiri dari dua tabel, yaitu tabel supply dan table use. Supply Table: menggambarkan penyediaan barang dan jasa dalam perekonomian. Barang dan jasa dicatat pada baris yang dikelompokkan sebagai komoditi. Pada sisi kolom menjelaskan produksi dari ‘industri’ berupa komoditi barang dan jasa. Use Table: menggambarkan pengeluaran konsumsi untuk ‘industri’ dan final demand terhadap komoditi barang dan jasa. Pada sisi baris mencakup komoditi-komoditi dan pada kolom menunjukkan pengeluaran ‘industri’ dan final demand. Pada use table terdapat pula susunan input primer. Bagi yang belum tau input primer itu apa, silakan baca lagi SNN dan IO-nya. Input primer itu terdiri dari balas jasa faktor produksi.

Gambar tabel SUT itu kira-kira seperti begini

SUT sebenarnya masuk ke dalam neraca lainnya. Jadi di dalam dunia per"neraca"an itu, sebenarnya ada 3 neraca besar, yaitu Neraca Barang dan Jasa (the goods and services account), Rangkaian Neraca (sequence accounts), Neraca lain dalam SNA (other accounts of the SNA). Nah, kalau kita biasa dengan PDB, itu sebenarnya adalah neraca berjalan (current account) yang masuk di dalam rangkaian neraca (sequence accounts) bersama-sama dengan neraca akumulasi dan neraca akhir tahun (balance sheet). SUT sendiri masuk di dalam other accounts of the SNA.
SUT mencatat bagaimana penyediaan barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik dan impor serta bagaimana penyediaan dialokasi untuk memenuhi permintaan antara, permintaan akhir, dan ekspor. Tabel ini terkait dengan penyusunan neraca produksi dan neraca pendapatan untuk industri, di mana datanya diperoleh dari sensus atau survei industri.

Kegunaan SUT
Pertama, kegunaannya adalah untuk untuk menjabarkan tabel input-output. SUT menyediakan kerangka kerja akutansi dalam menyusun neraca nasional, di mana total penyediaan dan penggunaan harus diseimbangkan satu dengan yang lainnya secara sistematis. Tabel penyediaan dan penggunaan juga menyediakan informasi dasar yang rinci guna menyusun tabel input-ouput, yang dapat digunakan untuk tujuan analisis ekonomi dan proyeksi. Yang kedua, SUT juga digunakan sebagai alat kompilasi, karena mempunyai fasilitas kerangka kerja yang menyeluruh (data checking/reconciliation; gap filling). SUT mengidentifikasi ketidakkonsistenan sumber data dasar, menginformasikan perbedaan dalam penghitungan sebagai dasar untuk estimasi gap filling, cross-check dan rekonsiliasi untuk meningkatkan konsistensi dan kelengkapan estimasi, sebagai dasar benchmarking penyusunan neraca nasional

Keseimbangan SUT
Mengikuti prisip neraca, maka SUT harus seimbang. Maksudnya antara kedua tabel tersebut terdapat keseimbangan. Total input harus sama dengan total output (it's so 'neraca'!). Kira-kira gambar keseimbangannya itu seperti ini :


Oke, mudah-mudahan gambar di atas bisa memberikan framework 'neraca' nya itu ya.
Apa lagi ya? Oh iya, data yang dikumpulkan untuk dikompilasi dalam SUT itu harus diperhatikan lho. Karena prinsip neraca lainnya adalah segala sesuatunya itu diukur dalam ukuran currency atau uang, maka output dan input (yang masih dalam quantity), harus dikalikan dengan harganya. Nah, masalahnya, harga itu ada macam-macam.

Valuasi SUT
Setidaknya ada tiga harga yang harus kita tahu di neraca. Pertama harga dasar (basic price), harga ini tidak mencakup TTM (Trade and Transport Margin/ Margin perdagangan dan biaya angkutan) dan pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product), Kedua, harga produsen yang tidak mencakup TTM, tapi termasuk pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (Value Added Tax / PPN inclusive of non-deductible). Ketiga, harga pembeli. Nah ini adalah harga mencakup TTM, pajak dan subsisi neto atas produk (taxes and subsidies on product) dan yang dapat dikurangi dari VAT (inclusive of non-deductible VAT)
Use table menggunakan harga pembeli, sedangkan supply table menggunakan harga dasar. Nah ini tantangannya.. memisahkan TTM itu tidak mudah lho.

Persamaan SUT
Masih mengikuti prinsip neraca, persamaan SUT pun demikian.
Total Output = Total Input
Dimana :
Total Output = Output + Impor
Total Input = Intermediate Consumption + Konsumsi akhir + PMTB + Perubahan inventory + Ekspor
Coba deh perhatikan, total input itu mirip apa? Yup! Itu adalah PDB menurut penggunaan. Artinya, SUT bisa digunakan untuk mengecek PDB Penggunaan yang sudah dibuat.

Sebenarnya, sepintas kalau dilihat SUT itu mirip dengan Tabel Input Output. Bedanya, kalau matriks di IO (kuadran 1) itu square, sedangkan di SUT tidak square. Kalau di SUT valuasi nilainya menggunakan dua harga, yaitu harga dasar (supply table) dan harga pembeli (use table), maka di IO transaksinya itu dinilai dari harga produsen dan harga pembeli. Yang paling khas adalah beda baris dan kolom. Bila di IO baris dan kolom menjelaskan hal yang sama (sektor), di SUT baris menjelaskan komoditi, kolom menjelaskan industri.

Ya, kira-kira begitulah a little thing called Supply and Use Table. Nanti kalau saya ada galian yang lebih dalam lagi, akan saya sampaikan he he he

Monday, January 20, 2014

A little thing about neparnas

Cuaca memang sedang tidak mendukung. Sudah seminggu ini hujan turun terus menerus seolah menuntaskan rindunya pada bumi. Hehehe hujan itu sanggup membuat orang jadi ber-melow ria ya. Hujan juga sanggup membuat aktivitas yang rutin dijalani tiba-tiba berubah 180 derajat dari posisi awalnya. Bayangkan, lalu lintas arah Jakarta dari Bekasi yang biasanya sudah macet jadi lebih macet lagi karena hujan yang turun membuat genangan di beberapa tempat, sehingga kendaraan yang lewat harus menurunkan kecepatannya. Ya bukan salah hujannya juga sih, salah manage kota aja.

Hari ini saya tidak masuk kantor. Bukan karena hari ini ga ada kuliah. Bukan juga karena hujan yang turun terus dari sejak saya bangun pagi ini, tetapi karena putri sulung saya lagi sakit karena selama seminggu terakhir selalu terkena hujan kalau berangkat atau pulang dari sekolah. Lha wong hujannya kalo ga pagi ya sore, jadi kena terus deh. Karena ga masuk, officially, I become Stay At Home Mom. Enak juga ternyata. Apalagi sebelumnya weekend, jadi ini seperti extended weekend hehehe. Tapi baru juga jam segini, saya mulai merasa bosan karena semua pekerjaan rumah sudah selesai. Ckckck tipikal working mom banget ya... padahal barusan saya bilang jadi stay at home mom, eh sudah rindu jadi working mom.

Jadi, akhirnya saya mulai menulisi blog ini, yang sudah sering saya PHP-in bahwa saya akan selalu konsisten menulis di blog apapun yang terjadi. Cih! Palsu banget ya.. Sebenarnya, sebelum menulis di blog ini, saya abis baca-baca materi untuk kuliah saya besok. Rencananya sih besok ngasih materi Neparnas, Neraca pariwisata nasional.

Yang menarik dari neparnas ini konsep supply-demand nya itu. Maksudnya begini, kegiatan pariwisata itu kan kegiatan yang kesannya santai, rileks, ga mikir macem-macem, menyenangkan diri dan seterusnya. Ternyata dibalik kegiatan yang terkesan ga ada apa-apanya itu tersimpan potensi ekonomi yang wuihh... besar dan punya dampak yang luar biasa terhadap penciptaan output di sektor lainnya. Nah, kalau mau dibawa ke teori ekonomiya, bisa diawali dari konsep supply-demand.

Apa sih yang jadi demand-nya pariwisata? Secara keseluruhan ada konsumsi wisatawan, investasi, dan promosi. Wisatawan yang datang ke Indonesia pasti akan melakukan konsumsi dong. Mereka kan perlu makan, tempat tinggal, beli oleh-oleh dan sebagainya. Nah, konsumsi itu bisa menjadi pemicu peningkatan output di sektor terkait, seperti hotel dan restoran.

Demand selanjutnya investasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Begini, karena adanya wisatawan, dan mereka perlu akomodasi, terciptalah yang namanya investasi. Ini pula yang menjadi supply untuk pariwisata, yaitu penyediaan sarana dan prasaran pariwisata

Terus, pertanyaan berikutnya, kenapa sih harus repot-repot menyediakan data pariwisata? Ternyata pariwisata itu memberikan devisa buat negara yang lumayan wow. Buktinya pariwisata merupakan empat kontributor tertinggi kepada devisa. Jadi, ini penting dan harus diurus yang benar supaya bisa memajukan perekonomian kita.

Data yang bisa disajikan dalam neparnas itu meliputi dua hal; pertama, data tenaga kerja dari kegiatan dunia usaha yang terkait dengan kegiatan pariwisata, kedua data pengeluaran dunia usaha untuk pariwisata. Selain itu bisa dilihat dampak pariwisata terhadap perekonomian dengan memanfaatkan tabel Input Output.

Dari situ, bisa dibuat kebijakan-kebijakan yang bersesuaian supaya bisa meningkatkan perekonomian negara. Pyuuh.. bayangkan, untuk membuat satu kebijakan kecil saja, perlu data yang detail. Iya, itu harus dilakukan kalau negara kita mau maju..

Friday, January 3, 2014

Random thought of my lecture

Aktivitas pagi ketika menuju ke kantor adalah minum kopi, makan cemilan seperti roti, biskuit kadang-kadang bawa nasi lengkap dengan lauk on the spot (semacam lauk seadanya hehe), dengerin Ronal dan Tike siaran di JakFM, trus ngajak ngobrol Aa yang lagi nyetir. Kalau dipikir-pikir udah kayak nyonyah ya. Satu lagi yang sering dilakukan adalah stalkingin timeline-nya @lewatmana kalau lagi macet, juga akun mahasiswa-mahasiswa saya..(abis ini akun mereka langsung digembok deh hehe). Kata anak saya jadi dosen tuh ga boleh kudet harus update.

Tapi, hari itu ada yang beda. lalu lintas hari itu sangat lancar jaya. Akibatnya saya sampai di kantor jam 6.30. Untuk ukuran komuter seperti saya itu wow aja. Karena ga biasa kepagian, akhirnya saya punya waktu yang cukup lama untuk berbengong-bengong ria..hehehe ga lah.. untuk menyiapkan bahan ajar pastinya (ini agak sedikit pencitraan). Hari itu topik yang akan saya bahas adalah urbanisasi dan migrasi. Sebenernya untuk urbanisasi dan migrasi ini butuh waktu satu semester sendiri untuk mendalaminya. Tapi di kelas saya hanya satu kali pertemuan. Tapi saya ingin lebih menekankan pada model migrasinya Haris-Todaro yang agak lebih matematis.

Apa itu model urbanisasi Haris Todaro? Model ini menjelaskan tentang fenomena ekonomi yang membawa seseorang untuk melakukan migrasi. Asumsinya, migrasi dari desa ke kota dipicu oleh pertimbangan ekonmi yang rasional. Rasional yang dimaksud disini disadari sendiri oleh pelaku migrasinya lho ya. Artinya dia sadar kalau dia melakukan migrasi maka akan ada biaya-biaya migrasinya, keuntungan dari migrasinya dan lain-lain. Asumsi pertama ini perlu untuk proses selanjutnya.

Asumsi kedua adalah keputusan untuk bermigrasi itu tergantung pada selisih antara tingkat pendapatan yang diharapkan di kota dan tingkat pendapatan aktual di pedesaan. Sengaja di bold, karena besar kecilnya selisih pendapatan itu sendiri diteukan oleh dua variabel pokok, yaitu selisih upah aktual di kota dan di desa, serta besar atau kecilnya kemungkinan mendapatakan pekerjaan di perkotaan yang menawarkan tingkat pendapatan sesuai dengan yang diharapkan.

Asumsi ketiga, kemungkinan mendapatkan pekerjaan di perkotaan berkaitan langsung dengan tingkat lapangan pekerjaan di perkotaan, sehingga berbanding terbalik dengan tingkat pengangguran di perkotaan. Asumsi ini nanti akan membawa kepada sektor informal dan formal. Jadi, karena untuk mendapatkan tingkat pendapatan yang diinginkan maka diperlukan kualifikasi keahlian dan ketrampilan tertentu dari para migran. Nah, karena persaingan itulah maka mereka yang melakukan migrasi ada yang bisa survive, ada juga yang terpaksa bekerja di sektor informal daripada menjadi pengangguran untuk bertahan hidup. Untuk sektor informal ini akan dibahas kemudian ya..

Oke, asumsi terakhir adalah laju migrasi desa-kota bisa terus berlangsung walauapun telah melebihi laju pertumbuhan kesempatan kerja. Maksudnya begini : karena adanya perbedaan ekspekatasi pendapatan yang sangat lebar yang membuat para migran pergi ke kota untuk mendapat tingkat upah yang lebih tinggi, maka terjadi lonjakan penggangguran di perkotaan. Ya iya kan karena supply tenaga kerjanya jadi berlimpah.

Oh ya, sebelumnya untuk memahami ini sebaiknya pahami dulu teori lewis-nya. Beberapa asumsi yang ada di teori lewis itu relevan juga untuk teori ini. Misalnya ada dua sektor yaitu industri yang ada di perkotaan dan pertanian di pedesaan, asumsi full employment. Terus terjadi surplus tenaga kerja di pedesaan dan seterusnya dan seterusnya.

Nah, masalahnya adalah ketika tingkat pendapatan di sektor industri/perkotaan ditentukan oleh pemerintah, bukan oleh mekanisme pasar. Maka yang menarik adalah berapa peluang para migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Nah itu, sama saja dengan tingkat upah di desa (inget ya kalau dibilang tingkat itu maksudnya dalam persentase, peluang juga dalam persentase lho ya..).

Berapa peluang seorang migran mendapatkan pekerjaan yang diinginkan? Itu sama saja dengan rasio antara tenaga kerja yang terserap di industri (perkotaan) dengan total angkatan kerja di desa. Bingung? Baca lagi bukunya..